9. Kena Getah

Selamat Membaca!!!

💌💌💌

Saat asyik dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba lengan Tiara ditarik kasar oleh seseorang. Sontak saja lamunan gadis itu langsung buyar. Tiara tentu saja mengernyit kesal karena aktivitasnya terganggu. Apalagi lengannya ditarik oleh seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. Orang itu benar-benar kurang ajar!

“Lepasin!” teriak gadis itu. Namun, sayang, pria yang menarik Tiara ini tampaknya berusaha menulikan telinga, seolah tak peduli dengan teriakan sekaligus teguran dari gadis berambut gelombang itu. Yang lebih menyebalkan lagi adalah, area halte tersebut masih sangat sepi sampai saat ini, sehingga tak ada yang menyadari bahwa Tiara telah dalam bahaya.

“Lepas, tolong lepasin!” mohon Tiara dengan sungguh-sungguh. Kini wajahnya mulai ketakutan, terlebih lagi saat melihat seringaian aneh dari pria tersebut. Bahkan, cairan bening mulai mengambang di pelupuk mata gadis itu, seolah ingin mendesak keluar dan mengaliri pipi. Akan tetapi, sekuat mungkin Tiara menahannya. Ia tak boleh tampak lemah di hadapan pria aneh nan menyeramkan ini.

“Tenang saja. Kamu akan kulepaskan kalau kamu mau ikut denganku,” ujarnya yang membuat Tiara bingung.

“Ikut ke mana?” tanya gadis berambut gelombang itu dengan polos. Pria tersebut semakin melebarkan seringaiannya.

“Sudah, ikut saja. Jangan banyak bertanya.” Namun, Tiara dengan sekuat tenaga berusaha menahan lengannya yang ditarik kasar oleh pria asing tersebut.

“Bapak mau bawa saya ke mana? Lepasin, jangan paksa saya ikut Bapak. Saya nggak kenal sama Bapak.”

“Kamu harus memuaskan nafsuku malam ini, aku nggak peduli. Pokoknya kamu ikut aku sekarang.” Degup jantung Tiara rasanya berhenti saat itu juga kala mendengar jawaban dari pria aneh dan agak—sebenarnya sangat—mesum itu. Tentu saja gadis berambut gelombang tersebut semakin berontak dan berusaha melepas genggaman pria itu di lengannya.

“Apa-apaan ini? Jangan kurang ajar. Aku bisa teriak kalau kamu masih belum melepaskanku.” Namun, betapa bodohnya Tiara, sebab setelah itu pria tersebut langsung membekap mulut gadis yang kini ada di dekapannya gara-gara ucapan Tiara tadi. Bukannya membantu, ungkapan spontannya tadi justru membuat Tiara semakin terpojok dan terkekang.

Tentu saja Tiara tidak menyerah begitu saja. Ia terus berontak dan berusaha melepaskan diri, sebab masa depannya akan menjadi suram jika ia putus asa. Akan tetapi, sayang usahanya sia-sia sebab tenaga Tiara tak sebanding dengan pria itu.

“Kamu anak dari Shafeeya, kan?” Gadis itu terbelalak saat nama sang mama tiba-tiba saja disebut. Menyadari perubahan ekspresi Tiara, pria tersebut langsung menganggap itu adalah jawaban ‘iya’.

“Mamamu ... sudah janji akan memenuhi keinginanku sebagai kliennya malam ini, tapi nyatanya, sampai sekarang dia belum datang. Padahal, kemarin aku sudah mentransfer sejumlah uang kepadanya. Jangan tanya bagaimana aku bisa tau kamu anak Shafeeya, karena aku bisa melacaknya.  Dan setelah kulihat-lihat, kamu cukup manis juga. Kalau aku sedikit menyentuhmu, pasti mamamu tak akan keberatan.”

Mata Tiara semakin terbelalak. Tak dapat dibendung lagi, air matanya mulai membasahi pipi dan tangan besar pria itu. Tiara berontak, berusaha melepaskan diri. Gadis itu tak ingin keperawanannya terenggut sedangkan ia masih memiliki impian di masa depan.

Tiara tak ingin masa depannya musnah gara-gara perbuatan sang mama. Mendadak saja, rasa benci gadis itu pada mamanya mulai bertambah berkali-kali lipat. Bukan hanya pekerjaan sang mama saja yang memalukan, tetapi Shafeeya bahkan membuat anaknya akan kehilangan masa depan yang cerah.

“Ayo ikut aku sekarang. Kalau kamu menuruti ucapanku dengan baik, tenang saja, aku akan menambahkan tip untukmu.”

Tentu saja Tiara tak terlalu tertarik dengan penawaran pria yang tak ingat umur itu. Sangat tak tertarik malah. Sekali lagi, ia berontak.

“Diamlah, jangan berontak dan ikut aku.” Perlahan, tubuh Tiara diseret paksa oleh pria tersebut. Gadis itu masih berupaya untuk melepaskan diri. Mungkin karena kesal, si pria akhirnya memukul pipi Tiara dengan keras. Gadis bergaun merah itu sontak terdiam saat merasakan gelenyar nyeri menjalar di pipinya.

“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidak berontak tadi? Aku bisa melakukan hal yang lebih parah kalau kamu tidak menurutiku.”

Tubuh Tiara mendadak lemas. Ia tak kuat meski hanya sekadar berontak. Matanya sejak tadi tak henti-hentinya mengeluarkan cairan bening. Dia menangis dalam diam, seolah pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tubuhnya mulai diseret semakin mendekati mobil berwarna hitam. Tiara hanya bisa menggeleng lemas. Ia benar-benar letih, tetapi ia juga tak mau menyerah begitu saja.

Sampai akhirnya, tubuh gadis itu tiba-tiba terdorong ke arah depan. Alhasil, dekapan pria tua tersebut di badannya langsung terlepas. Tentu Tiara terkejut. Gadis itu menoleh, melihat apa yang baru saja terjadi.

💌💌💌

Have a nice day.

©Surabaya, 19 April 2021

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top