14. Broken Mood
Selamat Membaca!!!
💌💌💌
“Oke, terima kasih buat penjelasannya, Jihan. Sekarang, Tiara ....” Bu Retno langsung menoleh ke arah Tiara.
“Iya, Bu,” jawab gadis itu dengan jantung yang berdegup cepat.
“Apa benar yang dibilang sama Jihan tadi? Kamu yang jambak dia duluan?” Tiara terdiam sesaat dan menarik napas panjang. Setelah mengembuskannya perlahan, barulah ia mulai berbicara.
“Iya, Bu. Saya memang menjambak dia duluan, tapi ...,” ujar gadis berambut gelombang itu dengan menyelipkan kata ‘tapi’ dengan terburu-buru sebelum dirinya disela.
“Tapi, Jihan yang mulai duluan, Bu. Dia memancing emosi saya. Padahal, saya cuma mau masuk kelas dengan tenang, tapi dia malah menuduh saya macam-macam. Saya sudah memperingati Jihan untuk berhenti memancing emosi saya, tapi dia keras kepala. Saya nggak akan marah kalau dia nggak mulai duluan, Bu,” sambung Tiara. Setelah itu, ia langsung ngos-ngosan karena telah berbicara panjang lebar tanpa henti.
Bu Retno tampak bergeming sesaat. Sepertinya beliau sedang berusaha mencerna ucapan dari murid yang ada di hadapannya ini. Di sisi lain, Tiara mulai berharap cemas pada guru BK-nya.
Akan tetapi, gadis itu terpaksa harus menelan pil pahit setelah mendengar balasan dari Bu Retno.
“Terus, kenapa kamu harus mengambil tindakan dengan menjambak, Tiara? Apa kamu mengira perbuatan yang kamu lakukan itu benar?” Mendadak saja gadis itu menjadi geram. Terlebih lagi saat melihat reaksi kemenangan dari Jihan.
“Tidak, saya bukannya membela Jihan. Kalau memang benar Jihan yang memancing emosi kamu, saya nggak membela Jihan kalau dia salah, tapi kamu juga salah, Ti. Seharusnya kamu abaikan saja, atau berpikir dengan kepala dingin. Bukan main hakim sendiri seperti ini. Yang ada, masalahmu bukannya selesai, tapi malah semakin panjang, kan?” tutur Bu Retno. Tiara spontan menundukkan kepala.
Jujur, ia sebenarnya merasa kesal dengan guru yang ada di hadapannya ini. Akan tetapi, apa yang Bu Retno ucapkan barusan memang ada benarnya.
“Memangnya apa yang sudah dilakukan Jihan, kok, kamu marah sama dia?” Tiara sontak bergeming. Jujur, ia agak takut spill up pada gurunya ini. Tiara takut kalau nanti dia malah keceplosan membahas pekerjaan mamanya. Sebab, foto tak berakhlak tersebut sangat berkaitan dengan sang mama.
“Tiara? Kok diam?” Gadis itu langsung tersentak.
“E—eh itu ... anu ..., Bu.” Mendadak saja Tiara kehabisan kata-kata, dia bingung harus mengucapkan apa kepada Bu Retno.
“Anu apa, Ti?” kejar Bu Retno yang membuat keringat dingin Tiara mulai berlomba-lomba mengaliri pelipisnya.
“I—itu, Bu ....”
💌💌💌
Tiara berjalan dengan perasaan sebal setelah menjalani hukuman dari Bu Retno. Di belakangnya, Jihan pun ikut berjalan dengan perasaan kesal.
Gara-gara Tiara tidak bisa berbicara jujur pada Bu Retno, alhasil ia membuat guru BK-nya memiliki spekulasi bahwa sebenarnya Tiara berbohong untuk membuat alibi supaya dirinya tak dihukum karena telah menjambak Jihan terlebih dahulu. Namun, lagi-lagi gadis berambut gelombang itu seolah tak mampu menyangkal spekulasi Bu Retno.
Entah mengapa, Tiara sendiri juga tak paham. Itulah yang membuatnya sebal saat ini.
Awalnya Jihan mulai tersenyum penuh kemenangan. Namun, semua itu luntur saat Bu Retno berkata untuk mengakhiri persidangan dengan Jihan dan Tiara.
“Baiklah, sekarang kalian berdua menyapu lapangan. Ibu akan awasi kalian berdua.”
Jadi, tak salah mereka berdua kembali ke kelas masing-masing dengan muka kusut dan tertekuk. Jihan sempat protes dan menyatakan bahwa dirinya adalah korban. Akan tetapi, Bu Retno tak peduli dan tetap menyuruh mereka melaksanakan hukuman.
Rupanya kelas XI IPA 3 sedang jam kosong saat Tiara masuk. Sontak, semua pandangan siswa-siswi di kelas mengarah ke Tiara. Namun, hanya sesaat, selepas itu mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Awalnya Tiara heran, tetapi dalam hati bersyukur juga. Sebab, teman-temannya tak ada yang membahas pertengkaran antara dirinya dan Jihan.
Karena pertengkaran mereka tadi cukup ramai ditonton oleh banyak orang.
Saat ia duduk dan meletakkan tas, Ardit yang duduk di sebelah kiri gadis itu langsung mendekati Tiara dengan wajah cemas.
“Ti, kamu tadi dipanggil BK, ya? Kamu nggak apa-apa?” Tentu saja Tiara mendengus kesal.
“Kamu nggak lihat wajahku sekarang, hah? Masih kurang jelas nggambarin perasaanku?” Sontak Ardit tertawa melihat reaksi sebal dari Tiara, yang membuat gadis itu semakin keki.
“Aduh, jangan marah, dong, Ti. Oke, gini, deh. Nanti pulang sekolah, aku sama anak-anak mau makan bareng buat ngerayain suksesnya perform kita waktu itu. Awalnya rencana makan-makan ini malam Minggu kemarin, tapi nggak jadi. So, mereka berencana maunya pulang sekolah nanti makan-makannya. Kamu ikut, ya? Biar nggak manyun aja, tuh, bibir.”
Setelah mendengar ucapan Ardit, bukannya senang, Tiara justru merasa semakin sebal.
“Nggak, ah, males. Makan aja sendiri sama anak-anakmu.” Ardit nyaris saja menyemburkan tawanya jika tak ingat bahwa Tiara masih dipenuhi perasaan sebal.
Padahal, ‘anak-anak’ yang dimaksud Ardit adalah teman band-nya.
“Yah, Ti. Kok ngambek, sih? Ayo ikutan,” bujuk Ardit lagi.
“Nggak. Pokoknya nggak! Aku mau langsung pulang nanti, mau langsung tidur.”
Sejujurnya, Ardit sejak tadi ingin tertawa. Akan tetapi, dengan sepenuh tenaga ia menyimpan rasa ingin ngakaknya.
Sebab, jika ia menyemburkan tawanya begitu saja, bisa jadi gadis yang sedang kesal ini langsung mencabik-cabiknya dengan ganas.
💌💌💌

Poor Tiara, wkwkwk. Yang sabar, ya, Neng. Jangan marah mulu. Kasian Si Ardit jadi korban keganasan terus 🤣
Ardit be like:

Have a nice day.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top