Chapter 1

Happy reading....


• SENIN, 13 APRIL 2020

Senin. Hari yang mungkin menyebalkan bagi sebagian orang. Ya, kurang lebih seperti itu. Sebab segala aktivitas dimulai pada hari ini dan biasanya akan terasa sangat membosankan. Hari Senin selalu dianggap sesuatu yang mengerikan seakan-akan hal buruk akan segera terjadi jika hari ini tiba. Entah bagi para pekerja maupun anak sekolah.

Pagi itu, mentari telah muncul kembali setelah semalam bersembunyi dan enggan menampakkan diri. Sepertinya cuaca akan terik nantinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Caca yang telah mengenakan seragam putih abu-abu tengah duduk di teras rumahnya sembari memainkan ponsel.

“Ayo, Ca!!” teriak Jefri dari teras rumahnya yang berada tepat di sebelah rumah Caca.

Caca menengok, gadis itu pun segera berlari kecil untuk menghampiri sahabatnya itu. “Tumben, biasanya lama.”

“Sekarang gue udah bisa bangun pagi, Ca. Gue udah bosan dicubit, disiram, dipukulin pake bantal, hm ... apa lagi, ya?” Jefri mencoba mengingat berbagai macam cara Caca untuk membangunkannya seminggu kemarin. Pagi-pagi sekali Caca sudah menelepon Bi Ani—asisten rumah tangga Jefri—agar membukakan pintu rumah Jefri untuknya. Caca sudah lelah menjadi siswa bandel yang sering terlambat hanya gara-gara Jefri.

“Tapi ada manfaatnya, kan? Gue udah berhasil menghilangkan kebiasaan buruk lo yang susah bangun pagi itu. Gue keren, kan?” Caca membanggakan diri.

“Iya iya,” jawab Jefri sembari naik ke atas motornya. “Ayo cepetan, nggak usah banyak bacot!”

“Iya, bawel lo ah!” Caca segera memasang helm dan naik ke atas motor ninja merah milik Jefri itu. Mereka pun mulai menyusuri kompleks perumahan yang masih terbilang sepi.

“Lo udah ngerjain PR Biologi?” tanya Jefri ketika motor sudah keluar dari kompleks.

“Udah,” jawab Caca singkat.

“Oh, kirain lo lupa lagi kayak waktu itu. Lupa ngerjain PR karena sibuk nulis diary, ha ha ha,” ledek Jefri.

Caca memanyunkan bibirnya. “Nggak usah bahas itu, Je!”

“Ha ha ha....” Cowok jangkung itu malah melanjutkan tawanya tanpa peduli dengan ekspresi Caca yang mulai kusut.

Jefri Dirtanata. Caca biasa memanggilnya Jeje. Seorang siswa SMA berusia tujuh belas tahun yang telah menghabiskan separuh hidupnya dengan gadis bernama Marsyana atau yang biasa disapa Caca. Cowok jangkung berkulit putih itu selalu menganggap Caca sebagai gadis ‘aneh’. Bagaimana tidak? Gadis berambut hitam sepunggung itu sangat cerewet di depan Jefri. Selain Jefri, juga di depan Atika, teman dekat Caca di kelas. Namun, saat berhadapan dengan orang lain selain dua makhluk itu, Caca berubah menjadi sosok yang sangat pendiam, tak banyak bicara. Aneh, bukan? Tidak hanya itu, di zaman yang sudah modern ini, Caca masih setia menulis diary. Suatu kebiasaan yang Jefri anggap kuno. Namun, apa pun yang Caca lakukan, Jefri menyukainya. Jefri tak ingin Caca menjadi orang lain, cukup menjadi diri sendiri.

***

Suasana riuh gempita terdengar dari kelas XI MIA 3 tatkala bel istirahat menggema sampai ke sudut ruangan. Pelajaran matematika yang mengerikan bagi sebagian besar siswa, akhirnya diinterupsi oleh bel istirahat. Para siswa merasa merdeka seketika.

“Makan, yuk!” ajak Jefri.

“Ayo!” sahut Caca semangat. Gadis itu kemudian melirik Atika. “Ayo, Tik, ke kantin,” ajaknya.

Atika menggeleng sambil tetap fokus menulis. “Duluan aja, gue mau nyalin PR dulu,” jawab gadis dengan kuncir kuda itu. Jefri dan Caca pun hanya geleng-geleng kepala menyaksikan ulah Atika.

“Makan bakso, ya?” pinta Caca.

Jefri mengangguk cepat. “Okay.”

“Lo nggak nungguin Jessy dulu?” tanya Caca sembari memasukkan buku tulis ke dalam tasnya.

“Males, gue lagi berantem sama dia,” jawab Jefri santai.

Caca langsung menghentikan gerakannya, lantas menatap sahabatnya itu. “Berantem? Kenapa?”

Jefri hanya mengangkat bahu, terlihat tak peduli.

“Je....”

“Nggak apa-apa, Ca. Udah, nggak usah dibahas, nanti juga baikan lagi.”

“Bukan berantem karena cemburu sama gue, kan?” Caca masih penasaran.

“Bukan,” jawab Jefri mulai kesal.

Melihat raut wajah Jefri yang mulai kusut, Caca akhirnya diam. Bukan tanpa alasan Caca bertanya seperti itu. Pasalnya, selama ini masalah dalam percintaan Jefri memang ada sangkut pautnya dengan Caca. Pacar Jefri sering kali cemburu pada Caca. Padahal, sebelum berpacaran, Jefri sudah sering menjelaskan bahwa dia memiliki sahabat perempuan, dan ‘calon pacar’ itu tidak boleh cemburu kepada sahabatnya. Ya, itu adalah syarat. Syarat yang menurut Caca sangatlah konyol, sebab Caca mengerti bahwa gadis mana pun pasti akan cemburu jika pacarnya memiliki sahabat perempuan. Syarat konyol itu bisa ada karena Jefri tak pernah menyatakan cinta lebih dulu, justru dari pihak perempuan yang memulai sehingga dengan seenaknya dia mengajukan syarat itu.

Namun, Jessy berbeda. Jefri yang memulai karena dia mengaku menyukai gadis berwajah oriental itu. Dia menyukai sosok Jessy yang ramah dan lemah lembut. Jessy juga merupakan gadis yang kuat dan tegar, bahkan dalam keadaan sakit parah. Setahun lalu, ketika berita berpacarannya mereka tersebar seantero sekolah, beredar gosip bahwa Jefri sebenarnya hanya kasihan sebab Jessy sedang sakit. Namun, dengan tegas Jefri membantah dan membuktikan bahwa dia benar-benar menyukai Jessy, sama sekali bukan sebab kasihan.

“Jessy berubah sekarang, nggak kayak Jessy yang gue kenal dulu,” curhat Jefri ketika menunggu pesanan baksonya. Caca yang duduk di hadapan Jefri hanya diam mendengarkan. “Udah setahun, mulai kelihatan aslinya,” lanjut cowok beralis tebal itu.

Baru saja Caca ingin menanggapi curhatan Jefri, matanya tiba-tiba tertuju pada gadis berambut pirang sepunggung yang sedang berdiri sambil memandang ke arahnya.

“Jessy ke sini, Je,” bisik Caca seraya menunjuk dengan lirikannya. Jefri pun mengikuti arah mata Caca. Benar saja, Jessy menghampiri mereka.

“Jefri!” Dari ekspresi wajahnya, Jessy terlihat sangat sebal. “Kamu kenapa nggak nungguin aku ke kantin? Kan, aku udah bilang tungguin aku!”

“Kirain masih marah,” jawab Jefri santai tanpa memandang wajah Jessy.

“Jadi, kalau aku marah, kamu cuma diam aja?” tanya Jessy dengan nada tinggi.

“Ya ... emangnya aku harus apa?” Jefri masih dengan sikap santainya. Membuat Caca tepuk jidat.

Bego! rutuk Caca dalam hati.

“Berusaha dong, biar aku nggak marah lagi!” sahut Jessy.

“Kamu juga marahnya nggak jelas!” Nada suara Jefri naik beberapa oktaf.

Jessy menyeringai. “Nggak jelas?” responsnya seakan tak percaya. Dia kemudian melirik Caca yang tentu saja tak tahu apa-apa tentang permasalahan dua sejoli itu.

Jefri menarik kursi di sebelahnya. “Duduk, Jes. Orang-orang lagi lihatin kita,” ujarnya pelan.

“Kenapa sih, kamu selalu mengutamakan Caca? Apa-apa Caca, semuanya Caca, kenapa, Jef?!” sungut Jessy tiba-tiba. Jefri dan Caca tercengang. Caca yang sedari tadi diam akhirnya terkena imbasnya juga. Baru kali ini dia melihat Jessy membentak seseorang. Selama ini, Caca mengenalnya sebagai gadis yang lembut. Jadi, ini aslinya Jessy yang Jeje bilang tadi?

Prak!!

Deg!!

Caca dan Jessy terperanjat ketika Jefri tiba-tiba memukul meja. Cowok beralis tebal itu berdiri dari kursinya dan menatap Jessy dengan tatapan yang sulit diartikan. “Gue udah capek ya sama lo. Mau lo apa, sih?!” Jefri mendadak mengubah bahasanya menjadi ‘lo-gue’.

“Jauhin cewek ini!” tegas Jessy seraya menunjuk Caca, seolah tak gentar dengan bentakan Jefri.

Caca meneguk ludah, diam terpaku. Tak mampu berbuat apa-apa, atau berkata apa-apa. Sementara seisi kantin sedang memandangi mereka. Mendapat tontonan gratis yang bisa menjadi gosip baru di sekolah. Bahkan ada beberapa orang yang merekam dengan ponsel. Seakan tak peduli apa yang akan terjadi, yang penting dalam rekaman eksklusif.

“Cukup, Jes, cukup! Lebih baik kita...,” Jefri menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya, “kita putus!”

Mata Jessy terbelalak mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Jefri. Bukan hanya Jessy, Caca pun sama. Tanpa menunggu tanggapan dari Jessy yang masih tertegun, Jefri dengan cepat menarik tangan Caca dan membawanya kembali ke kelas.

***

Caca masih shock dengan apa yang terjadi, sementara Jefri berusaha terlihat santai meskipun ekspresi wajahnya tak bisa berbohong tentang kekesalannya.

“Jeje...,” ucap Caca dengan suara gemetar ketika mereka sudah duduk di bangku kelas, “kenapa lo mutusin dia?”

“Santai aja, Ca, nggak usah panik gitu. Gue emang udah lama pengen putusin dia, nunggu saat yang tepat, dan tadi adalah saat yang tepat,” jawab Jefri yang telah duduk di samping Caca. “Gue udah nggak tahan sama sikapnya, apa-apaan sih bikin ribut di kantin!” lanjutnya dengan wajah yang terlihat merah padam.

“Tapi, Je, Jessy kan lagi sakit,” ucap Caca pelan.

Jefri menghela napas dengan kasar. Cowok itu kemudian menatap Caca lekat-lekat. “Ca, gue pacaran sama Jessy karena gue suka sama dia, gue sayang sama dia, bukan karena kasihan atas penyakitnya. Gue tau, dia lagi berjuang melawan kanker sekarang. Tapi ... ah, udahlah, males gue bahas ini. Lo yang paling tahu tentang gue, Ca.”

Caca cuma bisa diam kali ini. Dia tak tahu apakah yang Jefri ucapkan di bibir senada dengan isi hati. Dia juga tak mau lagi berkomentar. Apalagi melihat keadaan Jefri yang terlihat sangat marah. Caca rasa, untuk sekarang biarlah seperti ini. Semuanya pasti akan segera membaik. Pasti.

Ya, semuanya akan membaik, bukan?


❣❣❣

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top