Bab 15
Di sisi lain kota, Mansion Jung bukan lagi simbol kemewahan, melainkan katedral yang runtuh. Keheningan yang biasanya elegan kini berubah menjadi sesuatu yang hidup—dan menakutkan.
Yunho duduk di lantai kamar utama yang gelap. Jasnya masih melekat, tapi dasinya sudah terlepas entah sejak kapan, menjuntai layu seperti harga dirinya. Ia bersandar pada sisi ranjang, tepat di bekas tempat koper Jaejoong diletakkan sebelum dibawa pergi.
Kosong. Sama seperti rongga dadanya.
Tangannya menggenggam sebuah robot kecil—mainan Jungkook yang tertinggal di bawah kolong tempat tidur. Barang remeh, namun di jemari Yunho, benda itu terasa lebih berat dari tumpukan saham perusahaannya.
“Kau benar-benar pergi…” bisiknya lirih pada kegelapan.
Tidak ada jawaban. Hanya gema suaranya sendiri yang terdengar asing. Bayangan Jaejoong saat menutup koper terus terputar seperti kaset rusak di kepalanya. Senyum itu... bukan senyum pahit atau marah, tapi senyum lega. Dan itu jauh lebih menghancurkan daripada makian apa pun.
Selama lima tahun, Yunho pikir dialah sang pengendali. Jaejoong hanyalah pelengkap—pajangan indah yang akan selalu ada di sana, tidak peduli seberapa dingin ia memperlakukannya. Namun sekarang, pajangan itu berjalan pergi dengan kakinya sendiri, membawa cahaya yang baru Yunho sadari adalah sumber kehangatan rumah ini.
___*
Satu minggu berlalu, dan mansion itu tak lebih dari sebuah museum tak bernyawa. Yunho masih pulang larut, bukan karena sibuk, melainkan karena ia takut menghadapi kenyataan bahwa tidak ada lagi langkah kecil Jungkook atau .... tak ada Jaejoong yang menyambutnya.
Dalam keadaan yang sunyi, ia melangkah masuk ke kamar Jaejoong. Tangannya membuka laci meja rias—tempat yang dulu ia anggap penuh dengan barang-barang "tidak penting". Namun, di sana ia menemukan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit.
Bukan diari cinta yang mendayu. Isinya adalah catatan keuangan, analisis saham, dan rencana bisnis dengan judul tebal: "Platform Edukasi Anak Berbasis Digital."
Yunho tertegun. Di halaman terakhir, ada tulisan tangan yang sedikit berantakan, seolah ditulis saat emosi sedang meluap:
"Jika suatu saat aku pergi, aku harus memastikan Jungkook tidak kekurangan apa pun. Aku harus kembali menjadi Kim Jaejoong yang hebat… bukan hanya bayangan Jung Yunho."
Deg. Sesuatu di dada Yunho terasa jatuh. Bukan marah, tapi penyesalan yang terlambat. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan Jaejoong mulai membangun jembatan untuk meninggalkannya.
***
Sementara itu, apartemen baru Jaejoong dipenuhi aroma roti panggang. Sederhana, tapi nyata. Bagi Jaejoong, tujuh hari tanpa Yunho terasa seperti bernapas kembali setelah hampir tenggelam. Ia merasa bebas seperti dirinya yang dulu meskipun, sekarang ditambah kehadiran Jungkook.
" Pa, mau ke mana?"
Tiba-tiba saja bocah gembul itu datang menghadang, sepertinya dia melihatku yang sudah akan keluar apartemen sambil menjinjing kantong sampah.
"Hah, Cookie kau buat kaget Papa saja. Papa hanya mau buang sampah—"
Belum aku selesai, Jungkook langsung menyela dengan melambaikan tangannya dengan seruan. "Ikuttt!"
Aku hanya bisa menghela napas, mengangguk pasrah. "Baiklah, Cookie ... tapi jangan lari-lari, ya."
"Okey!"
Namun saat pintu dibuka, dunia yang ia bangun runtuh dalam satu detik. Koridor apartemennya ramai oleh pria berjas hitam dan koper-koper mahal. Dan di tengah hiruk-pikuk itu, berdiri Jung Yunho.
Jaejoong membeku. “...Yunho-ssi?”
Yunho menoleh, memberikan senyum tipis yang berada di antara hangat dan dingin—jenis senyum yang membuat Jaejoong seketika waspada.
“Selamat pagi… tetangga,” ucapnya ringan, seolah-olah menyewa apartemen di sebelah mantan prianya adalah hal paling normal di dunia.
“Daddy!” Jungkook berlari tanpa ragu, memeluk kaki Yunho. Ia tampak terkejut sekaligus senang.
Yunho berjongkok, mengangkat anak itu, dan mencium pipinya dengan lembut. “Daddy tinggal di sini sekarang,” katanya pada Jungkook, namun matanya terkunci pada Jaejoong.
“Apa-apaan ini?!” Jaejoong melangkah maju, matanya menyala. “Kau gila? Kau sengaja mengikutiku?!”
“Kenapa kau pikir begitu?” jawab Yunho tenang. Terlalu tenang.
“Kau bahkan tidak tahu daerah ini!”
“Sekarang aku tahu.” Yunho melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Jaejoong bisa mencium aroma parfum maskulinnya. “Apa ada larangan yang melarangku untuk tinggal di tempat ini?!”
Bulu kuduk Jaejoong meremang. "Kalau begitu tinggallah di tempat lain, jangan tinggal berdekatanku. Kita sudah berpisah kan?"
“Akan... Jaejoong. Putusan belum dibuat," balas Yunho sambil tersenyum lebar dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Jungkook di gendongannya.
Jaejoong menggeram. " Lihat saja jika kau macam-macam... aku bisa laporkan kau ke polisi!” ancam Jaejoong dengan suara bergetar."
“Silakan,” sahut Yunho cepat. “Sekalian beritahu mereka… aku ini Daddy dari bocah gembul yang manis ini... Cookie, Daddy sangat merindukanmu."
"Cookie juga rindu Daddy." Mata bocah gembul itu sudah berkaca-kaca dengan bibir bergetar imut. Keduanya berpelukan erat, melihat pemandangan seperti ini hati siapa yang tidak akan ikut terhanyut...
Yah, itu aku!!
“Sialan…” bisiknya. Aku membenci fakta bahwa di balik kemarahannya ini, ada yang lebih berharga yaitu kebahagiaan Jungkook. Anak yang tidak bersalah.
***____***
Pagi berikutnya, aku bangun dengan satu keputusan sederhana: mengabaikan Jung Yunho. Sesederhana itu. Atau, setidaknya aku mencoba meyakinkan diriku kalau itu mudah. Namun, ternyata aku terlalu meremehkan pria itu.
Begitu pintu kubuka untuk mengambil susu, langkahku langsung terhenti. Di depan kesetku, berdiri sebuah vas kristal berisi buket bunga Daffodil kuning cerah. Aku membeku. Untuk beberapa detik, aku hanya menatapnya tanpa mampu berkedip. Tidak ada kartu, tidak ada nama. Tapi aku tidak bodoh. Aku tahu bunga ini bicara atas nama siapa.
“Sangat berisik…” gumamku pelan, mencoba meredam degup jantungku sendiri. Aku merasa takut.
Bunga itu terlalu mencolok untuk lorong apartemen minimalis ini. Terlalu personal. Tanganku sempat terulur, lalu berhenti di tengah jalan. Aku menarik napas, lalu sengaja melangkah melewatinya seolah buket itu hanya sampah dekorasi yang tidak berarti.
Aku langsung masuk kembali dan menutup pintu dengan bantingan kecil, seolah bunga-bunga itu bisa mengejarku masuk.
Aku sibuk di dapur, mencoba mengalihkan pikiran dengan telur dan roti. Hal-hal mekanis yang tidak melibatkan orang itu. Namun, indra penciuman ini mengkhianatiku. Aroma itu datang perlahan, hangat, pahit, dan sangat familiar.
*Blue Mountain Coffee.*
Tanganku berhenti bergerak di atas talenan. Tidak mungkin salah. Ini bau kopi mahal. aku hafal aromanya setelah beberapa bulan tinggal di mansion.
“Papa…” suara Jungkook memecah lamunanku. “Ada Daddy!!”
Benar saja. Aku menggenggam sudip lebih erat hingga buku jariku memutih. “Kenapa ada Daddy di sini, Cookie?” tanyaku lembut penuh hawa kematian. Enggan berbalik, aku tidak percaya jika, bocah ini bisa membawa masuk Yunho tanpa bantuanku. Pintu apartemennya dikunci,kan??
Akhirnya, perlahan aku berbalik karena tak mendengar jawaban bocah itu. Dan, benar saja Jungkook sedang tersenyum polos dan di sampingnya tentu saja Yunho yang berdiri santai sambil memegang cangkir kopi paginya.
"Aaaakhh!!"
**
Ini sudah saat waktunya mengantar Jungkook ke sekolah, aku sudah bersiap layaknya di medan perang. Aku mengecek lubang intip. Satu kali, dua kali, tiga kali. Kosong. Bagus. Aku membuka pintu, menggenggam tangan Jungkook, dan berjalan cepat menuju lift.
Namun, begitu pintu lift terbuka, dunia seolah berhenti berputar. Dia sudah di dalam. Seolah sudah tahu jadwal keberangkatanku. Seolah dia memang menunggu.
Jung Yunho berdiri santai, bersandar ringan di dinding lift. Kemeja putihnya rapi, lengan digulung sampai siku—terlalu kasual untuk seorang CEO, tapi tetap terlihat mendominasi.
“Pagi,” katanya. Singkat. Tenang. Seperti tidak ada badai yang ia ciptakan semalam.
Aku tidak menjawab. Aku hanya masuk, menarik Jungkook ke sudut terjauh, dan berdiri membelakanginya. Seolah jarak dua meter ini cukup untuk melindungiku dari radiasi kehadirannya.
“Kau tidak punya kantor?” tanyaku dingin pada pantulannya di pintu lift yang mengilap.
“Punya.”
“Lalu kenapa masih di sini?”
“Aku CEO. Aku bisa bekerja dari mana saja.”
Jawaban yang sama. Nada yang sama. Menyebalkan. Aku mengatupkan rahang, berjanji pada diri sendiri untuk tidak terpancing. Namun, Yunho tidak lagi menyerangku secara langsung. Dia beralih pada titik lemahku.
“Cookie,” suaranya melembut saat memanggil Jungkook. “Daddy antar Cookie bareng Papa, ya?”
Jungkook langsung mendongak, matanya berbinar. Mengangguk lucu. "Papa, Daddy mau antar kita, ya,ya"
Hening sesaat terasa lebih berat dari tarikan gravitasi lift ini. Aku tahu Yunho sedang menatap tengkukku sekarang.
“Jaejoong-ah,” kata Yunho akhirnya. Ada nada manja yang tertahan di sana. "Boleh, yah? Kita ini orang tua Jungkook sekaligus, tetangga baru yang tidak tahu jalan disekitar tempat ini."
Aku hampir mendengus. Tetangga? Kalau dia definisi tetangganya, maka aku lebih memilih hidup di rumah berhantu dan apa? Tidak tahu jalan?? Mata dan otaknya selama ini dipakai apa?
Lift terus bergerak turun dan ruang sempit ini terasa semakin sesak. Aku bisa merasakan tatapannya menyapu punggungku, mencari celah, menunggu reaksiku.
Tepat saat pintu lift terbuka, Jungkook tiba-tiba melepaskan tanganku. “Daddy ikut!” katanya ceria. Dan tanpa menunggu persetujuanku, dia menggenggam tangan Yunho.
Satu tangan kecil itu kini menghubungkan kami berdua. Aku membeku. Langkahku tertahan. Untuk satu detik yang terasa abadi, kami bertiga berdiri di sana. Terikat dalam jarak yang tidak bisa kuhindari. Aku terpaksa mengangkat wajah dan akhirnya, menatap matanya.
Tatapannya langsung menangkapku. Dalam, tenang, dan entah kenapa... jauh lebih berbahaya daripada kemarahan yang pernah ia tunjukkan.
“Ayo, Papa,” kata Jungkook polos, menarik tanganku sementara tangan lainnya menggenggam Yunho.
Aku tidak punya pilihan. Aku melangkah bersamanya, bersama *mereka*. Dan saat itu, aku menyadari satu hal yang paling menakutkan: Yunho mungkin sedang rencanakan sesuatu. Aku hanya berharap dia tidak sedang memaksaku kembali padanya.
To be Continued
'080426'
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top