Bab 13
Tatapanku jatuh pada Seol-ah dan Hyemi. Aku tersenyum tipis, tipe senyum yang tidak mencapai mata. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk berseberangan dengan mereka awalnya aku akan kembali ke kamar tapi entah kenapa aku penasaran mau apa mereka datang kemari. Jadi, kami duduk bertiga seperti ini sedangkan Yunho membawa Jungkook untuk tidur siangnya yang hampir tertunda.
"Jaejoong, apa kau tidak terluka terlalu banyak?" Seol-Ah bertanya sarkas, iya menyembunyikan senyumnya saat menyesap minuman di balik gelas.
"Tertawa saja tidak perlu sembunyi-sembunyi," ucapku sambil meringis menyentuh pipiku yang masih dipenuhi memar. "Kau tahu mungkin saja hal seperti ini bisa menimpamu kalau kau berani macam-macam denganku.."
Seol-Ah tertegun sejenak, mungkin saja dia sudah merasa takut dengan ancaman kecil itu atau juga tidak karena dia malah memicingkan mata seolah menggeram kesal padaku.
Berbeda dengan Hyemi yang malah tertawa kecil sambil meliriku dan Seol-Ah seolah kami baru saja bergurau dengannya.
"Apa kamu menganggap ini lucu?" Aku bertanya dingin padanya. Tatapanku terkunci pada manik matanya yang tenang. Hyemi orang terdekat Yunho. Wanita lain selain Seol-Ah yang selalu paling di benci 'si pemilik asli.' Dia mungkin milik pria lain tapi, Yunho cukup bergantung padanya tidak hanya karena urusan kantor tapi hal-hal lain tentang diri Yunho yang membuat Jaejoong yang dulu cemburu.
Hyemi meletakkan cangkirnya tanpa suara. "Bukan lucu, Jaejoong-ah. Hanya saja... aku tidak menyangka kau akan membiarkan dirimu terluka seperti ini hanya untuk memancing perhatian Yunho. Bukankah itu terlalu dramatis? Jangan melakukan hal bodoh seperti ini lagi...sayangi tubuhmu."
"Memancing perhatian?" Aku terkekeh, meski rasa perih kembali menyengat. Geli mendengar kata-kata perhatiannya yang penuh kepalsuan, jelas-jelas dia menertawakannya puas melihat kondisinya saat ini. " Aku tidak butuh perhatiannya lagi sekarang, Kalau kalian menginginkan perhatiannya ambil saja sana ?! Sayang sekali kalau aku harus merusak wajahku hanya demi pria sepertinya. Memangnya tak ada pria lain yang lebih baik darinya?!"
Seol-ah mendengus. "Kau serius mengatakannya begitu, haah?? Seorang Kim Jaejoong yang tidak bisa bertahan seharipun tanpa mencari perhatian dari Yunho ... Hyemi, apa aku baru saja salah mendengar?? Oh, aku akan sangat senang sekali kalau dia bicara serius... "
Hyemi tersenyum menenangkan, mengambil tisu saat menyadari sudut mulut Seol-Ah basah. "Bersihkan wajah dan jangan tertawa senang begitu jelas..." Mata wanita itu menoleh padaku. "Ini tentang pernikahan mereka jangan asal ucap, Seol-Ah. Jaejoong sangat menyedihkan, jelas dia tak akan bisa hidup tanpa Yunho selama ini dia sangat mencintainya."
Aku tersenyum miring, lalu menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan yang tajam dan jernih. "Oh, ya, kenapa tidak?! Baiklah karena aku baik hati, kuumumkan saja sekarang kabar gembira yang kupunya untuk kalian berdua karena sebentar lagi... aku akan menceraikan Jung Yunho."
Detak jam dinding di ruang tamu mansion yang megah itu mendadak terdengar seperti dentuman drum. Seol-ah terperangah, matanya berbinar dengan binar kemenangan yang tidak bisa ia sembunyikan. Sedangkan Hyemi, untuk pertama kalinya, kehilangan ketenangannya—alisnya bertaut tipis, seolah sedang menghitung ulang strategi barunya.
"Jaejoong! Apa yang kau bicarakan?!" suara Yunho menggelegar di tengah keheningan yang sesaat itu.
Yunho melangkah maju, wajahnya merah padam, rahangnya mengeras hingga urat lehernya terlihat jelas. Ia tampak seperti gunung berapi yang siap memuntahkan lahar. "Jangan dengarkan omong kosongnya, kami tidak akan bercerai. "
Aku menatap 'si Beruang galak' ini dengan kening berkerut. Setengah tidak percaya kenapa dia terus menyangkal hal yang sudah ada di depan mata, jelas-jelas kami akan bercerai bukankah harusnya dia senang jika, aku bicara jujur dengan wanita-wanita kesayangannya jadi, dia punya kesempatan untuk bersama mereka sepenuhnya. Apa yang salah dengannya kali ini?!
"Kalian pergilah sekarang!?" Perintah Yunho pada Hyemi dan Seol-Ah. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang tidak bisa dibantah.
Kedua wanita saling melirik, ragu untuk beranjak pergi di tengah drama yang sedang memuncak ini. Bagi mereka, ini adalah tontonan yang jauh lebih menarik daripada sekadar kunjungan basa-basi.
Seol-ah tiba-tiba berdiri, wajahnya berseri-seri penuh harapan palsu. "Yunho-ya, jika Jaejoong memang ingin pergi, kau tidak bisa memaksanya, kan? Mungkin ini memang yang terbaik untuk semua orang... terutama untukmu, Jaejoong bukan orang yang untuk terus bersanding denganmu."
"Aku bilang, pergi!" bentak Yunho, kali ini lebih keras hingga membuat kedua wanita itu terperanjat.
"Seol-ah, ayo. Kita beri mereka waktu," ajak Hyemi yang seakan sedang bersikap bijak, sambil menarik lengan sepupunya yang masih enggan beranjak. Meskipun suaranya lembut, matanya menatapku dengan tatapan menyelidik—seolah sedang menilai apakah aku benar-benar serius atau hanya sedang memainkan manipulasi tingkat tinggi yang baru.
Begitu pintu besar mansion itu tertutup dengan debuman berat, suasana berubah menjadi lebih mencekik. Yunho berbalik ke arahku, napasnya memburu. "Apa yang kau bicarakan dengan mereka, Jaejoong?"
Aku bangkit berdiri perlahan, mengabaikan rasa pening yang sesekali berdenyut di pelipisku. "Aku hanya bersikap jujur. Apa lagi? Kenapa kau semarah ini? Bukankah itu yang kau inginkan juga?"
"Siapa yang menginginkan perceraian?!" tanya Yunho geram. Nada bicaranya penuh dengan intimidasi dan penindasan, seolah-olah dia adalah hakim yang tidak boleh dibantah.
Aku tidak takut lagi dengan sikapnya yang begini. Alih-alih mundur, kupastikan wajahku tepat didepan matanya. "Kau ... Kau yang menginginkan perceraian ini sejak awal!! Apa perlu aku ingatkan seberapa seringnya kau mengancamku dengan kata 'cerai' itu setiap kali kau merasa aku mengganggu hidupmu? Atau perlu aku membawamu ke rumah sakit lagi untuk memeriksa otakmu? Aku khawatir ada yang konslet di sana sampai kau lupa ingatan begini."
Yunho tertegun, rahangnya mengeras hingga berbunyi. Dia tampak ingin berteriak, namun kata-kataku seolah menyumpal kerongkongannya
**
Di dalam mobil mewah yang melaju menjauh dari Mansion Jung, Seol-ah masih meledak-ledak. Ia membanting tasnya ke kursi kulit dengan geram.
"Kenapa Yunho tampak berbeda?? Kenapa dia marah saat Jaejoong akan bercerai dengannya, bukannya itu bagus untuknya?" Seol-Ah terus saja menggerutu kesal karena diusir Yunho dan dibentak pria itu.
Di sampingnya, Hyemi hanya mengangkat bahu pelan, matanya menatap lurus ke jalanan kota yang sibuk. Perasaannya tidak nyaman. Meskipun selama ini dialah yang paling sering menasihati Yunho untuk "bersikap lebih baik" pada Jaejoong, melihat Yunho benar-benar bersikap protektif dan kehilangan kendali seperti tadi... itu di luar rencananya.
Hyemi ingin Yunho bersikap baik hanya agar Jaejoong tetap menjadi "pajangan penurut" yang tidak mengganggu posisinya di perusahaan juga di hati Yunho.
"Mungkin Yunho hanya kaget, Seol-ah. Kau tahu sendiri dia benci sesuatu yang di luar kendalinya," ucap Hyemi lembut, namun jemarinya meremas setir mobilnya dengan kuat.
"Hahh... tapi tetap saja aku tidak suka dengan sikap kasar Yunho. Apa gunanya dia mempertahankan Jaejoong sekarang!"
Hyemi menoleh pada Seol-ah, senyum tipisnya kembali muncul. "Tenanglah, Seol-ah. Yunho marah karena Jaejoong yang bilang ingin menceraikannya bukan, sebaliknya. Tentu saja Yunho sepertinya jadi, marah. Bukankah selama ini yang memegang kendali hubungan mereka itu Yunho. Sudahlah, di sana mereka pasti sedang bertengkar besar lagi. Semakin serius Jaejoong dengan ucapannya, semakin besar peluangmu ...bersama Yunho."
"Bagus, Dan saat Jaejoong benar-benar pergi, di situlah aku bisa masuk sebagai 'penenang' bagi Yunho, bukan?!"
Hyemi mengangguk setuju dengan senyum manis yang dipaksakan tapi dalam hati ia juga mencibir. 'Yahh, lakukan saja kalau kau mampu Seol-Ah... Coba saja kau mengambil hati dan lihat apa yang bakal terjadi. '
****
Di ruang kerjanya yang gelap, Yunho duduk terdiam. Bayangan Jaejoong yang menantangnya tadi terus berputar di kepalanya. Kata "cerai" itu... kenapa rasanya lebih membuatnya tak nyaman padahal dulu ia sering mengucapkannya dan ingin melakukannya meski, tak pernah dilakukannya.
Karena keberadaan Jaejoong baginya seperti tameng yang harus ada dan dimiliki tapi, tak sepenuhnya diperlukan. Dan, kini tameng itu ingin melarikan diri karena sering ia gunakan untuk menghadapi ucapan-ucapannya sendiri.
Yunho memutar kursi kerjanya, menatap pemandangan kota dari balik jendela kaca besar yang dingin. Pikirannya kusut. Ia teringat betapa mudahnya dulu ia melemparkan kata "cerai" setiap kali Jaejoong melakukan kesalahan kecil atau saat ia sedang merasa muak dengan perhatiannya yang berlebihan padahal, dalam kontrak mereka jelas tak perlu ada cinta atau semacamnya.
"Tapi, kau selalu melakukan apapun yang tidak kuperintahkan?? Kubilang untuk tidak mencintaiku tapi, kau tetap mengejarku sampai gila!! Sekarang... Kau meminta bercerai. Apa yang harus kulakukan denganmu, Kim Jaejoong!!"
Tiba-tiba saja, pintu ruang kerja terbuka pelan. Bukan Jaejoong yang masuk, melainkan Jungkook yang menyeret selimut dinosaurusnya dengan mata sembab.
"Daddy... Papa mana?" tanya suara kecil itu, bergetar. "Cookie mimpi buruk. Cookie mau Papa..."
Yunho terpaku. Ia baru sadar, bukan hanya hidupnya yang bergantung pada "tameng" itu, tapi juga hidup anaknya.
"Papa sedang istirahat, Cookie," jawab Yunho pelan, menghampiri putranya dan menggendongnya.
"Papa mau pergi ya, Dad? Papa bilang... Papa mau bebas. Bebas itu apa? Apa Cookie nggak boleh ikut?"
Yunho memeluk Jungkook, menepuk punggungnya pelan. "Tenang saja, Papa tidak akan bisa pergi ke manapun tanpamu Cookie. Daddy juga tidak akan membiarkan Papa bebas sesuka hati..."
To be Continued ...
'310326'
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top