I Explained Something
Fast Enough
||Kambe Daisuke x Katou Haru||
.
.
Warning: Modern AU, Typo, BxB, Yaoi, Shounen-ai.
.
.
Rate: T
.
.
Fugou Keiji Balance Unlimited by
Taku Kishimoto
'I Explained Something'
Daisuke mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah, dibukanya perlahan dan memperlihatkan isi kotak kecil itu pada Haru serta tak lupa mengatakan sebuah kalimat yang tak pernah Haru duga sebelumnya.
"Will you Merry me?"
"UWAAAHHHH!!!!!!"
Para reporter yang ada disana ribut sendiri, mereka benar-benar tak menyangka akan melihat adegan secara live putra sulung Kambe yang melamar seorang pemuda yang ia bawa tadi.
Para kameramen berfokus mengarahkan kamera mereka pada sosok Katou Haru yang terdiam di hadapan Daisuke. Nampak rona merah yang sangat ketara terlihat di wajahnya, membuat dirinya menjadi lebih manis daripada sebelumnya.
Semua menanti jawaban pemuda abu-abu itu, dengan jantung berdegup kencang seolah mereka lah yang merasa. Perlahan wajah itu terangkat, pandangan mata keduanya terkunci satu sama lain.
Di mata Daisuke, Haru dapat melihat kesungguhan dalam mata kelam itu, ada banyak perasaan cinta dan kasih sayang yang terpancar dari sana membuat Haru merasakan rasa senang serta terharu di dalam relung hatinya.
Bibirnya melengkung ke bawah membentuk sebuah senyuman, anggukan yang disertai jawaban yang di nanti mereka semua meluncur dengan mulus dari bibir kissable tersebut.
"Yes, I do"
Daisuke tak dapat menahan senyumnya, dia bangkit berdiri dari posisi berlututnya kemudian menyimpan kotak cincin itu dan menarik Haru ke dekapannya.
"Terima kasih, aku janji akan membuatmu bahagia selalu" Bisik sulung Kambe tersebut lembut, bibirnya tak berhenti memberikan kecupan di pucuk kepala pemuda abu-abu tersebut.
Aura yang ia keluarkan begitu bahagia dan senang. Dia benar-benar bahagia sekaligus bangga bisa mendapatkan istri seperti Haru.
"Permisi, Tuan Muda Kambe.. Kami ingin mewawancarai kalian berdua, boleh?" Tanya salah satu reporter dengan mata berkilat senang.
Keduanya menatap satu sama lain sebelum mengangguk bersamaan. Wanita tadi dengan segera menarik tangan Haru dan memulai acara wawancaranya secara live begitu pula dengan Daisuke yang saat ini sudah diberi berbagai pertanyaan oleh beberapa kru reporter dari saluran televisi yang berbeda.
Bahkan Masumi tak luput dari berbagai pertanyaan yang terus dilontarkan. Dia bahkan sampai geleng-geleng sendiri karena tingkah Daisuke yang blak-blakan pada publik.
****
"Hahhh.... " Haru menghela nafasnya panjang, dia saat ini sedang membaringkan tubuhnya diatas ranjang king size milik Daisuke.
Jam dinding telah menunjukkan pukul 9 malam dan baru beberapa menit yang lalu mereka berdua selesai di wawancarai secara eksklusif.
Pemuda Katou itu baru saja akan memejamkan matanya sejenak, jika saja suara milik Daisuke tak mengusiknya.
"Kau tak mau mandi?"
Haru berdecih lirih, dia membuka matanya enggan dan menatap Daisuke yang sudah menyelesaikan mandinya dan keluar hanya dengan selembar handuk yang menutupi area privasinya.
Tetes-tetes air jatuh dari rambutnya yang basah kemudian turun ke leher kokohnya terus meluncur ke bawah melewati dada bidang yang terpahat sempurna menuju perut dengan hiasan 8 kotak yang menggoda iman dan berakhir terserap kain handuk.
Haru menelan salivanya susah, pikiran kotor entah mengapa bermunculan di otaknya. Menginvasi kendali dirinya yang membuatnya memerah tanpa sadar seraya terus menatap tubuh sempurna pemuda Kambe.
Daisuke yang mengerti arah pandang Haru menyeringai tipis, mengerti bahwa kekasihnya sendiri kagum pada bentuk tubuhnya yang seperti dewa Yunani tersebut.
Dia berniat menggoda Haru sedikit, "Berniat menggodaku hm? Kau ingin aku makan sekarang sebagai ganti malam pertama kita nanti hm?" Dia mendekat ke arah Haru, mengangkat dagu tersebut sehingga mereka berdua bertatapan.
Bibir bawahnya ia jilat dengan sensual, tatapan tajam menggodanya mencoba untuk menghipnotis Haru yang sepertinya masih ada di ambang batas kewarasannya.
Dia berniat mendekatkan wajahnya, ingin melihat reaksi lain dari Haru jika ia seperti itu.
"Hu-huh?! A-APA YANG KAU LAKUKAN KAMBE!!!!"
PLAKK
"Sshh... Itu sakit" Ringis Daisuke seraya mengusap kepalanya yang baru saja di pukul oleh kekasihnya.
Wajah Haru memerah total, bahkan telinganya pun memerah karena perlakuannya tadi. Dia dengan tergesa pergi ke kamar mandi dan membanting pintu tersebut cukup kuat.
"KAMBE SIALAN! KAU MEMBUATKU MALU BODOH!" Maki Haru dari dalam sana, hal tersebut membuat Daisuke terkekeh kecil. Dia segera berdiri dari posisinya dan mencari baju yang hendak ia pakai.
Pintu kamar mandi di buka perlahan, Iris cokelat mentahan itu melirik keluar. Menerka-nerka apakah ada sosok Daisuke disana. Dia menghela nafas lega saat tak menemukan sosok tersebut.
Dengan sangat pelan, pintu ia buka lebih lebar lalu di ikuti oleh dirinya yang keluar dengan keadaan telanjang dengan beberapa tetes air jatuh dari tubuhnya.
Dia lupa membawa handuk dan juga handuk di dalam sana tak tersisa satupun. Sepertinya pelayan rumah tersebut lupa menaruh lagi handuk bersih di sana.
Iris milik Haru berbinar saat melihat handuk milik Daisuke yang masih ada di atas ranjang. Dengan segera ia mengambilnya dan mengusap tubuhnya agar kering.
"Haru, a-"
Pintu terbuka dan masuklah sosok Daisuke dengan membawa satu setel pakaian bersih ke dalam. Dia kira Haru sudah menunggunya dengan jubah mandi yang membungkus tubuhnya, namun yang terjadi malah hal lain.
Dia melihat Haru yang masih telanjang membelakangi dirinya seraya menggosok tubuhnya. Pemuda Katou itu nampaknya tak menyadari jika Daisuke telah masuk ke kamar.
Dia terlalu terhanyut dengan lembutnya handuk tersebut sampai tak menyadari sosok lain memperhatikan dirinya yang sedang mengeringkan tubuhnya.
Daisuke sendiri cukup terperangah oleh bentuk tubuh Haru yang terekspos jelas dihadapannya.
Punggung mungil yang putih dan nampak enak di gigit itu sedikit bersinar lalu bahu sempit serta leher jenjang yang sangat menggoda untuk ia gigit dan hisap. Lalu pinggang ramping yang selalu pas di pelukannya tersebut, pinggul yang tak begitu besar dan terakhir dua bongkahan yang bergerak sana-sini membuat seringai mesum Daisuke terlihat.
Tangannya sedari tadi sudah gatal untuk menampar bokong bulat menggoda milik Harunya yang terus bergerak sana-sini. Membayangkan sensasinya saja membuat Daisuke meringis kecil saat merasakan ada sesuatu yang terbangun dibawah sana.
Haru berbalik, hendak menaruh handuk itu kembali namun matanya membulat terkejut saat melihat Daisuke yang ada di belakangnya dengan sebuah seringai sedang memandangi dirinya.
Sontak saja, kedua kakinya merapat serta kedua tangannya menyilang menutupi dadanya, jangan lupakan wajah memerahnya yang sangat terlihat.
"DAISUKE MESUM!!!!! APA YANG KAU LIHAT SAMPAI SERINGAI LAKNATMU TERLIHAT HAH?!!! KAU BERPIKIR MACAM-MACAM DENGAN BOKONGKU KAN?! KELUAR KAU DAISUKE MESUM!!!!"
Alhasil karena teriakan tersebut, Daisuke tersadar dan segera keluar kamar. Takut calon istrinya ngambek dan tak memberinya jatah malam pertama. Eh.
****
"Aku sudah selesai, masuk lah"
Daisuke membuka pintu, kali ini dengan Haru yang telah berpakaian dengan pakaian yang ia bawakan tadi. Dia menghela nafas kecil, antara rela dan tak rela saat melihat tubuh mungil itu kembali terbalut oleh fabrik kain.
Dia masih ingin melihat tubuh polosan milik calon istrinya itu, dia ketagihan dengan bentuk tubuh Haru yang ehemsemokehem.
Haru menatap garang Daisuke saat melihat pria itu mendekat ke arah dirinya, "Dasar Daisuke mesum! Cabul! Hentai! Kau kira aku tak malu apa kau lihat sedemikian intens seperti tadi?!"
Dalam hatinya, Daisuke meringis kecil. Tak menyangka bahwa Haru akan memarahinya seolah dia baru saja membuat dirinya tak perawan lagi. Eh.
"Maaf, lagipula bukannya kau sudah kukatakan untuk memakai jubah mandi yang ada?" Dahinya mekerut sedikit saat melihat Haru malah mendengus kasar.
Kedua tangan ia simpan di depan dadanya lalu membuang mukanya, persis gadis jika sedang merajuk pada kekasihnya.
"Tak ada satupun disana, aku sudah mencarinya!" Sungut Haru marah.
Daisuke hanya diam menatapnya, mengingat jika ia harus mengatakan pada pelayan untuk menaruh kembali handuk serta jubah mandi di kamar mandi miliknya.
Daisuke membaringkan tubuhnya di ranjang, tangan panjangnya dengan segera menarik pinggang ramping itu untuk ikut tiduran bersamanya.
Kini punggung Haru ada di dada Daisuke membuat Haru bisa merasakan debaran jantung yang terasa samar di punggungnya.
Itu...
Entah mengapa membuatnya nyaman.
Tubuhnya kembali dibalik sehingga kini berhadapan dengan leher kokoh Daisuke yang ada di hadapannya. Tangannya mengusap pelan punggung Haru dengan satu tangan mengelus rambut abu-abu tersebut penuh kelembutan.
"Kau gelisah" Lirih Daisuke tanpa menatap ke arah Haru, tatapannya kini hanya berfokus pada surai yang ia elus saat ini.
"Aku takut... "
Pelukan Daisuke semakin erat, membuat keduanya tak memiliki jarak apa pun. Kepala yang sedari tadi ia taruh di atas kepala Haru kini menunduk untuk melihat ekspresi Haru.
Pria bersurai abu-abu nampak memilin kancing kemeja Daisuke dengan gugup, sesekali irisnya bergerak kesana kemari.
Pony yang menutupi dahinya digeser dengan lembut oleh Daisuke, dia ingin melihat dengan jelas Iris kekasihnya yang bergetar seolah siap untuk menangis.
"Jangan menangis" Lirih Daisuke, menangkup satu pipi Haru.
Haru menggeleng, tangan Daisuke yang ada di pipinya ia genggam seraya berusaha menampilan sebuah senyuman.
"Aku tak mau... Kau pergi.. Bersama wanita.. Lain" Gumam Haru agak terbata. Dia mendongak menatap wajah Daisuke.
"Aku takut... " Tanpa sadar, dia mencengkeram tangan itu pelan. Mengisyaratkan bahwa dirinya benar-benar ketakutan.
"Ada hal yang harus kau tahu" Tutur Daisuke bangun dari tidurnya. Melihat itu Haru pun ikut untuk bangun dan duduk di sebelah Daisuke.
Tatapannya menatap lekat ke arah Daisuke yang menunjukkan wajah datarnya. Dia menoleh ke arah Haru dan menangkup pipi Haru dan menunjukkan senyumnya.
"Ayo, kuajak untuk menemuinya" Ajak Daisuke lalu berdiri.
Dia mengenggam lembut tangan Haru, menariknya prlahan menuju pintu. Keduanya berjalan di lorong yang gelap, menuju sebuah pintu lain yang jaraknya agak jauh dari kamar Daisuke.
Tangan sang dominan mengetuk pintu pelan, "Suzue, bisa kau keluar sebentar?"
"Ya, Nii-sama"
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan keluarlah sosok gadis dengan wajah yang mirip dengan Daisuke. Dia memiliki rambut hitam panjang dan Iris yang sama seperti Daisuke dan Masumi.
"Dia adik kandungku, Kambe Suzue"
Suzue mengulurkan tangannya ke depan Haru dengan sebuah senyum anggun, "Salam kenal Haru-nii"
Jantung Haru berdetak kuat, suara wanita itu sama persis seperti yang ia dengar di telpon milik Daisuke waktu itu.
Dengan agak canggung, Haru menerima uluran tangan tersebut dan membuat senyum simpul. Walau hal itu tak menyembunyikan ekspresi kagetnya sama sekali.
"A-ah, iya. Salam kenal juga Su-suzue. Aku Katou Haru"
Suzue terkekeh kecil melihat reaksi Haru, dia menatap sang kakak yang masih diam. Bertanya lewat tatapan mata apa yang di inginkan kakaknya.
"Jelaskan"
Seolah paham maksud Daisuke, Suzue pun mengangguk dia menatap Haru dengan ekspresi bersalah.
"Haru-nii, gomen ne. Karena aku kalian menjadi salah paham" Ujar Suzue lalu membungkuk 90° di hadapan Haru.
Kebingungan terlihat jelas di raut wajah Haru, dia melirik Daisuke yang masih acuh dengan situasi yang terjadi.
"Sebenarnya, aku lah yang menelpon Nii-sama saat kalian berdua makan siang saat itu. Aku bilang merindukannya karena aku belum bertemu dengannya selamat 6 tahun dan soal anak itu, yang kumaksud adalah harimau putih pelihara milik Nii-sama. Kuharap Haru-nii paham dengan situasinya, sekali lagi aku minta ya Haru-nii" Raut bersalah jelas tergambar di wajah Suzue, dia benar-benar tak tahu jika yang menerima panggilan kala itu adalah kekasih kakaknya.
Dia berpikir bahwa itu adalah kakaknya karena kakaknya jarang sekali membuka kata, jadi dia beranggapan bahwa Haru adalah Daisuke yang menerima panggilan.
Kali ini Haru yang merasa malu sendiri, dia sudah berpikir aneh-aneh tentang Daisuke. Dia juga meruntuki pemikirannya yang selalu negatif jika menyangkut Daisuke.
Ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi untuk mengubur rasa malunya. Lihat saja! Bahkan Daisuke pun terkekeh kecil saat melihatnya memerah.
Dia sangat malu!
"A-ah, iya. Ma-maafkan aku juga karena telah berpikir yang bukan-bukan" Dia menunduk mencoba menyembunyikan rona merahnya.
Dan saat itu pula lah, tawa kecil Daisuke keluar dari bibir tipisnya membuat Haru ingin sekali melempar sandal rumahan miliknya ke wajah Daisuke.
Karena hari ini, hari yang bahagia maka saya pun membuat suasana di cerita ini bahagia:)
Akhirnya setelah 3 tahun saya belajar di SMP hari ini saya dinyatakan lulus :")
Alhamdulillah, perjuangan saya tidak sia-sia saat mengerjakan portofolio rasa skripsi selama hampir 3 bulan lebih:)
Sampai bertemu di chapter selanjutnya :D
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top