O7

Matahari sudah kembali ke peraduannya beberapa menit lalu, kini Jeno, Eric beserta seorang lain lagi tengah menikmati makan malam. Ketiganya memilih keheningan menguasai, hanya terdengar dentingan entah itu garpu ataupun sendok menyentuh permukaan piring.

Jeno berdeham saat mereka sudah menyelesaikan makan malamnya. "Abang tumben pulang?" Arah tatapan Jeno dan Eric langsung terarah pada seorang lelaki yang terlihat lebih tua daripada keduanya.

"Kangen aja."

Eric menaikkan sebelah alisnya. "Sejak kapan lo bisa ngomong kayak gitu?"

"Sejak lo berdua memilih buat tinggal di apartemen," jawab lelaki itu cepat, sambil matanya menatap gantian antara Jeno-Eric.

Eric diam. Sama halnya dengan Jeno, hingga lelaki tersebut memilih untuk kembali membuka suara.

"Lo berdua nggak mau pulang? Bunda kangen," ujarnya lirih, dengan kepala sedikit tertunduk.

"Bang Jae–"

Namun ucapan Jeno disela Eric cepat. "Bang Jae kesini cuman mau bahas itu? Mending abang pulang aja," sarkas Eric dengan tatapan tajamnya.

Lelaki itu, Jaehyun mengangkat pandangannya dan langsung bertemu tatap dengan Eric. "Ada yang lain–"

"To the point aja, bang." Jeno mendengus pelan.

Jaehyun menghela nafas panjang. "Okay, bunda sakit. Beliau tadi pagi masuk rumah sakit."

Keheningan seketika kembali menguasai, ketiganya saling memalingkan wajah dengan Eric yang diam-diam meremat ujung hoodie-nya.

Juyeon mengusap wajahnya secara kasar, dengan terpaksa ia langkahkan kakinya keluar dari rumah karena perintah mamanya untuk membeli beberapa kebutuhan di minimarket setelah makan malam.

"Aku pergi!" pamitnya, yang dibalas seruan tak jelas dari kembarannya, Minho.

Kedua kaki jenjangnya menelusuri trotoar seorang diri, tangannya ia masukkan ke saku jaketnya agar tidak merasa kedingingan. Baru Juyeon ingin berbelok masuk ke minimarket, mata sipitnya menangkap sosok yang dikenalnya tengah berdiri dengan kepala tertunduk di halte seberang jalan.

Sempat melirik antar orang tersebut dan minimarket, sebelum akhirnya pilihannya jatuh pada seseorang tersebut. Juyeon menoleh ke kanan-kiri, memastikan tidak ada kendaraan yang akan melintas.

Saat dirinya semakin dengan orang tersebut, langkahnya melebar. "Eric," panggilnya pelan, sambil berdiri di hadapan orang itu, Eric.

Eric yang tadinya tengah menunduk dengan air mata mengalir, segera mengusap genangan air tersebut secara kasar. "Ka-kak Juyeon," lirihnya sambil menengadah. "Kenapa bisa disini?"

Juyeon menaikkan sebelah alisnya. "Ini jalan umum, Ric. Wajar kalau gue bisa disini," jawabnya, kemudian mengambil tempat di sebelah adik kelasnya itu.

Eric bergeming, kepalanya kembali ia tundukkan diiringi helaan nafas panjangnya. Melihat gelagat Eric yang sepertinya sedang memiliki beban itu Juyeon dengan cepat buka suara.

"Are you okay?"

Eric mengangkat pandangannya, menemukan matanya dengan milik Juyeon. "Nope."

Menarik nafas dalam-dalam, lelaki Lee itu kembali bersuara. "Mau cerita? Siapa tahu bebannya berkurang." Diakhiri senyum dan tatapan teduhnya yang mengarah pada Eric.






12 Juni, 2020

ada yang ngerasa aneh, kayak alurnya kecepetan?

btw, checkmate candu banget ternyata huhu 😭 terus tadi sempet masuk chart melon dong, 61 dan tbz langsung rajin up sama live. sesederhana itu ya definisi bahagia 🙂

bonus penyegaran mata ~

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top