34
Jeno mendesah keras, ia menahan nafasnya begitu mata pisau itu mulai menyentuh pipinya secara perlahan. "Kenapa?"
Jaehyun mengerutkan keningnya, meski seringaian terus terpatri pada wajah rupawannya. "Hm?"
"Kenapa lo ngelakuin ini semua?!" sentak Jeno, mencengkram pergelangan tangan Jaehyun yang memegang pisau. "Gue sama Eric bahkan selalu baik sama lo, bang! Tapi feedback yang lo kasih ke kita kenapa kayak gini?!"
Kedua alis Jaehyun menukik tajam. "Emangnya kapan gue bilang mau lo berdua bersikap baik sama gue?"
Jeno melebarkan matanya, tak percaya bahwa lelaki di depannya ini akan mengatakan hal seperti itu. "Tapi..., kenapa? Kenapa lo ngelakuin ini sedangkan lo tahu sendiri gimana selama bertahun-tahun hidup gue sama Eric gak pernah tentram?!"
Jaehyun menegakkan punggungnya, terlihat memutar-mutar pisau lipat itu pada jemarinya. Ia menjeda jawabannya beberapa saat, sebelum mengambil tempat di tepi ranjang. "Mau gue ceritain kenapa gue bisa kayak gini? Yakin, lo gak bakal nyesel?"
"Gak usah ngulur wakru, brengsek!"
Jaehyun tertawa sarkas. "Haha, tidak sabaran sekali. Baiklah-baiklah, gue harap lo pasang telinga lo baik-baik karena gue gak bakalan ngulang alasannya."
—
Saat Jaehyun menginjak umur sepuluh tahun, sang ibunda pergi meninggalkannya bersama seorang ayah bertempramen tinggi. Ia selalu saja dimarahi oleh pria paruh baya itu, padahal ia hanya meminta untuk dibelikan sebuah bola basket agar dapat bermain bersama teman-temannya.
Jaehyun kecil merengek pada ayahnya, berharap sang ayah akan luluh padanya. Tapi tetap saja, ayahnya itu seakan buta dan tuli tak ingin mendengar permohonannya. Beliau malah memukulnya dan mengatakan kalau keuangan mereka sedang tidak baik-baik saja. Padahal Jaehyun tahu, ayahnya itu sering berpergian dan pulang dengan bau alkohol menguar dari tubuh tambunnya itu.
"Ayah, Jae mau mama baru!"
Di suatu siang, Jaehyun tiba-tiba saja berseru seperti itu. Mengejutkan sang ayah, hingga membuatnya tersedak. Pria paruh baya itu memarahi Jaehyun karena berbicara waktu keduanya tengah menyantap makan siangnya.
"Aku mau mama! Aku sakit dipukuli ayah terus!" rengek Jaehyun sambil menarik ujung kemeja ayahnya. "Kenapa ayah tidak ambil dari klub yang biasa ayah kunjungi? Bukankah disana banyak wanita?"
Plak!
Sang ayah menampar Jaehyun cukup kencang, hingga rasanya dunia lelaki kecil itu sempat berputar dan tak stabil. Pria itu membawa Jaehyun masuk ke kamarnya, kemudian segera menguncinya selama berhari-hari tanpa makan.
Tubuh Jaehyun lemas, ayahnya sudah mengunci dirinya seminggu lebih dan tidak kunjung membukakan atau sekedar memberinya makan. Tubuh kecilnya terbaring lemah di atas ranjang, binar pada matanya meredup seiring titik-titik hitam mulai menutupi pandangannya.
Disaat-saat terakhir kesadarannya, telinga Jaehyun mendengar suara pintu yang dibuka disusul pekikan seorang pria asing menyerukan namanya. Jaehyun tidak kenal suara itu, yang jelas begitu ia sadar, ia sudah berada di sebuah ruangan asing bernuansa putih.
Kepalanya tertoleh, mendapati seseorang tertidur disebelah brankarnya dengan tangannya menggenggam jemari kecil Jaehyun. Sempat ia berniat untuk melepas genggaman pria asing tersebut, tapi malah membuatnya terbangun dan menerbitkan senyum hangatnya.
"Halo, Jaehyun," sapanya lembut. "Apa masih ada yang sakit? Ingin bunda panggilkan dokter?"
Kening Jaehyun mengerut. "Bu—bunda?"
Pria itu melebarkan senyumannya. "Iya, bunda. Sekarang saya resmi menjadi bunda kamu, kamu senang?"
Kepala Jaehyun langsung mengangguk cepat, kedua sudut bibirnya pun tertarik begitu Jacob menariknya ke dalam pelukan hangatnya. Jaehyun kecil tidak tahu harus mengatakan apa, tetapi yang jelas adalah ia senang bahwa ayahnya baru saja mengabulkan permintaannya.
–
Beranjak dewasa, Jaehyun baru menemukan sebuah fakta baru tentang bunda Cobi. Pria hangat itu ternyata pernah memiliki suami dan dua anak tiri yang ternyata kembar.
"Bunda," panggilnya begitu melihat Jacob tengah duduk santai sambil menyeruput secangkir tehnya.
"Iya, Jaehyun?"
"Bunda kenapa nggak pernah nemuin Jae sama anak bunda yang kembar? Jae 'kan ingin teman, bunda! Jae bosan sama anak-anak disini, mereka cuman mau harta ayah," keluh Jaehyun sambil mengerucutkan bibirnya gemas.
Jacob mengisyaratkan agar anak tirinya itu mendekat, kemudian menariknya untuk duduk di sebelahnya. "Kalau waktunya tiba, bunda ajak kamu buat ketemu mereka, ya. Tapi untuk sekarang ini, kamu cukup main sama temen-temen disini dulu."
Jaehyun mengangguk dengan semangat, mengetahui bahwa ia akan segera mendapat teman baru membuatnya tanpa sadar melompat kegirangan. Ia sempat mencium pipi Jacob sebelum berlari keluar rumah dan menghampiri beberapa anak yang tengah bermain di dekat rumahnya.
Beberapa bulan berlalu, tapi Jacob sama sekali belum pernah membawa atau mengenalkan Jaehyun pada kedua anak kembarnya itu. Padahal 'kan Jaehyun penasaran, bagaimana rupa sepasang anak kembar. Apakah fisik mereka mirip? Atau malah hanya sifat mereka yang mirip?
"Bundaa, kapan ingin mengenalkan Jae dengan anak bunda!" rengek Jaehyun, menarik-narik ujung pakaian yang dikenakan oleh Jacob.
Jacob merunduk, menepuk puncak kepala Jaehyun. "Sabar, ya. Mereka sedang sakit hari ini, mungkin lusa? Bunda bakal ajak kamu segera, janji." Ia tersenyum menenangkan membuat Jaehyun mau tak mau menurut saja.
Hingga pada akhirnya hari itu tiba. Hari dimana Jacob mengajak Jaehyun ke salah satu rumah mewah di pinggir kota, menuntun tangan mungilnya memasuki rumah tersebut. Ia belum melihat keberadaan anak kecil lainnya saat masuk ke rumah besar itu, hanya ada seorang pria paruh baya dengan cerutu terjepit di antara kedua belah bibirnya.
"Mau apalagi kau kesini?"
Suara bariton dari pria itu terdengar menyapa gendang telinga Jaehyun, menggetarkan kakinya sejenak karena tatapan tajamnya. Lelaki kecil itu sempat merinding, apalagi perlahan Jacob menariknya mendekati pria asing tersebut.
"Aku ingin mengambil Eric dan Jeno, dimana mereka sekarang?" Jacob bersuara tegas, menginterupsi atensi Jaehyun dari pria menyeramkan itu. "Aku ingin merawat mereka, cepat beritahu dimana kau sembunyikan mereka!"
Jaehyun tersentak, bundanya itu tidak pernah berteriak atau membentak seseorang sejak tinggal di rumah bersamanya. Jaehyun hanya pernah melihat bundanya menangis pada malam hari, bukan marah-marah seperti ini.
Sangyeon tertawa sinis. "Ingin kau apakan? Mereka sudah rusak, apa yang ingin kau selamatkan?"
Bugh!
Tiba-tiba saja Jacob menghantamkan bogem mentah pada rahang Sangyeon. Matanya menatap nyalang pria urak-urakkan di hadapannya ini, sementara Jaehyun sudah bersembunyi dibalik tubuh tinggi Jacob. Jaehyun ketakutan, ia kembali teringat bagaimana dahulu ayahnya sering memukulnya seperti itu jika ia tak sengaja berbuat kesalahan.
Baru Jacob ingin kembali menghajar Sangyeon yang kini terkapar di lantai, suara nyaring berasal dari lantai dua disertai suara langkah kaki menuruni tangga menghentikan aksinya. Senyum Jacob terbit, melihat dua bocah laki-laki berlari menghampirinya.
"Bunda Cobi!" seru keduanya bersamaan, kemudian melompat ke dalam pelukan Jacob.
—
26 Juni, 2020
takut kepanjangan euy, dibagi dua aja kali ya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top