empty

Aku memasangkan celemek berwarna cokelat dengan bordiran #AyoNgopi ke tubuh Alexandre. Tentu saja tindakanku ini mendapat protes keras dari pria itu. “Gue pelanggan pertama hari ini, bukannya ngasih diskon spesial malah lo jadiin babu! Nyesel gue dateng pagi-pagi ke sini!” gerutu pria itu.

“Udah sih nggak usah protes! Harusnya lo seneng karena pagi-pagi udah dapet limpahan pahala. Bantuin orang lain kan pahalanya gede, babe!” ujarku seraya mengedipkan satu mata menggoda yang membuat bibir bebek Alexandre semakin maju ke depan. 

Sampai saat ini aku memang belum mendapat pegawai baru, wawancara yang aku lakukan minggu lalu hanya meloloskan dua orang yang menurutku memenuhi syarat dan sesuai kriteria yang aku butuhkan. Mungkin nanti aku akan membuka loker lagi untuk menambah dua orang tambahan. Satu orang untuk kerja part time.

Meski awalnya Alexandre terus menggerutu, nyatanya pria itu kini membantuku dengan semangat. Saat ini ia sedang meluruskan meja agar semuanya berjejer sejajar.

“Lo butuh berapa karyawan lagi sih, Win? Emangnya pas wawancara kemaren nggak ada yang nyangkut?” tanya pria itu.

“Gue butuh 2 orang lagi, Lex. Kemaren gua cuma dapet 2 orang. Mungkin nanti gue bakal sebar banner loker lagi,” jawabku.

“Yaudah entar gue bantuin bikin banner-nya.”

Aku mengedipkan mata menggoda. “Thanks, pacar,” godaku yang sontak membuat pria itu menggelengkan kepalanya seraya terkekeh pelan.

Sejak kejadian 3 AM conversation di atap waktu itu, hubunganku dan Alexandre memang lebih mencair. Entahlah, tapi sedikit berbagi rahasia tergelapku kepada orang lain selain Mbak Hanum rasanya benar-benar membuat lega. Seperti cakar yang mencengkeram dadaku sedikit melonggarkan cengkeramannya.

Setelah semua siap akhirnya aku membuka Ayo Ngopi cabang Blok M untuk pertama kalinya dan dalam setengah jam kafe hampir terisi penuh. Di cabang terbaru Ayo Ngopi ini, aku memutuskan menjual dua produk baru yaitu roti bakar durian dan affogato.

Untuk pre-order hari ini aku juga memberikan diskon 50% dan beberapa makanan tester. Tidak lupa aku menyiapkan kotak saran dengan berbagai kertas warna-warni di pojok setiap meja. Setiap pelanggan bebas menulis kritik atau pun saran untuk menu baru Ayo Ngopi di sana.

Setelah membuat pesanan coffee art bergambar bunga matahari dan memberikannya pada pelanggan, aku segera menghampiri Devan dan Mbak Riani yang baru saja memasuki Ayo Ngopi. Lalu aku segera menggiring dua orang tersayangku itu ke meja yang tersedia.

“Hai, tuyul! Mau affogato rasa apa kamu?” tanyaku menggoda.

“Hai, Eyang Uti! Emangnya ada rasa apa aja?” tanyanya polos.

Aku mencubit pipi kiri Devan gemas. “Heh! Sembarang! Tante masih muda nan cantik gini kok dipanggil Eyang Uti!” protesku.

Keponakanku itu cengengesan. “Rambutnya abu-abu kayak eyang uti,” ledeknya.

Aku mengerucutkan bibir ke depan. “Yaudah affogato-nya nggak Tante kasih, nih,” ujarku pura-pura marah.

Devan merengek dengan wajah super menggemaskan. “Ah, aku mau es krim campur kopi, Tante. Please?” mohonnya.

Aku mencium pipi Devan gemas. “Ish, gimana mau kesel sama anak meng satu ini. Yaudah bentar ya, Tante bikinin dulu. Kalo lo mau pesen apa, Mbak?” tanyaku pada Mbak Riani. Mas Jodi tidak bisa datang hari ini karena harus melakukan operasi penting, tapi berjanji akan datang besok pagi.

Mba Riani memindai netranya di buku menu. “Mmm ... Gue mau coba roti bakar duren. Minumnya mocha aja.”

Aku mengacungkan jari jempolku. “Sip, bentar ya gue bikinin dulu.” 

Setelah mengatakan itu aku pun segera membuat pesanan Devan dan Mbak Riani. Mocha dibuat oleh Mila, sehingga aku mendapat bagian membuat affogato.

Umumnya affogato menggunakan es krim vanila karena vanila merupakan es krim yang paling netral. Tapi di Ayo Ngopi aku juga menyediakan affogato dengan es krim coklat dan stroberi. Nah, khusus untuk Devan aku menyatukan tiga es krim beda rasa itu dalam satu cangkir kaca berukuran sedang, lalu aku menyiramnya dengan espresso.

Setelah semua jadi, aku pun segera membawa pesanan Devan dan Mbak Riani ke meja mereka berdua. “Gimana? Enak nggak, Van?” tanyaku setelah sepupuku itu menyuapkan satu sendok es krim campur espresso itu ke mulutnya.

Devan menganggukkan kepalanya. “Enak, Tante! Nanti aku mau lagi, ya!” serunya dengan netra berbinar.

Mbak Riani mengelap pipi Devan yang belepotan es krim dengan tisu. “Besok lagi dong, Kak. Nggak boleh makan es krim kebanyakan nanti sakit, lho.”

“Tapi aku mau lagi, Ma,” rengek keponakanku itu.

Aku mengelus kepala Devan lembut. “Besok lagi dong, Van. Kan, Ayo Ngopi buka tiap hari. Jadi, kamu bisa ke sini kalo mau affogato-nya lagi," ujarku menenangkan.

“Janji ya, Tan?”

“Iya, Sayang.”

Karena setelah ini Devan ada lomba menggambar, jadinya keponakanku itu segera meninggalkan Ayo Ngopi begitu es krim yang ia makan habis. Setelah mereka pergi, aku pun kembali sibuk melayani pelanggan.

Kini semua meja penuh sehingga kami tidak bisa lagi menerima tamu. Sehingga aku dan Mila bisa lebih santai.

“Mbak, respons buat roti bakar durennya positif banget, lho. Banyak yang bilang enak!” info Mila dengan senyum super lebar.

Aku ikut tersenyum lebar. “Syukurlah kalo begitu.”

Obrolanku dan Mila sontak berhenti saat mendengar suara cekikikan dari meja samping. Meja tersebut berisi teman-teman kuliahku seperti Sila dan Sera. Sedangkan anggota Twogether ada di meja sampingnya.

“Ih, gila keren banget nggak sih Wina? Baru buka cafe dua tahun, eh, udah buka cabang tiga. Mana semuanya booming banget lagi,” ujar Rama yang merupakan satu-satunya pria di meja tersebut.

“Definisi nyata usaha nggak bakal mengkhianati hasil, Ram!” seru Denise.

Sontak Sila tertawa sinis. “Yoi, usaha emang nggak bakal mengkhianati hasil kalo lo punya luck dan privileges yang besar. Jadi, nggak usah iri si Wina bisa sukses secepet ini. Dia ‘Soebarjo’, boooo~"

Mila memutar bola mata malas saat mendengar ucapan Sila. “Coba tadi pas di depan lo, Mbak. Mbak Sila baik-baikin lo. Sekarang julidin lo gitu. Iri bilang bos!” kesalnya.

Aku menepuk bahu Mila dua kali bermaksud menenangkan. “Nggak papa, Mil. Lagian yang dibilang Sila benar, kok.” Lalu aku menghampiri meja anak-anak Twogether begitu melihat Dewi yang baru saja bergabung di sana.

Soal ucapan Sila tadi aku sama sekali tidak tersinggung. Karena ucapan gadis itu benar, aku bisa sukses secepat ini bukan hanya karena kerja keras yang aku lakukan saja, tapi juga  karena hoki dan privileges yang aku punya.

Coba saja kalau aku bukan seorang ‘Soebarjo’ aku pasti tidak akan mendapat utang tanpa bunga dari Mas Jodi untuk modal membuka kafe. Boleh dibayar kapan pun, dan dicicil berapa lama pun. Lalu coba kalau Melani Soebarjo bukan ibuku, pasti aku tidak akan kenal psikiater seperti Mbak Hanum dari rumah sakit super elit hingga akhirnya bertemu Ardhito Sahala yang suka endorse Queen Bakery dan Ayo Ngopi sukarela tanpa dibayar. Jadi, ya ... memang omongan Sila adalah sebuah kebenaran.

Lagipula punya privileges yang besar kan bukan sebuah dosa. Aku lebih suka menganggap ini sebagai salah satu anugerah dari Tuhan. Sebuah anugerah yang harus dibayar dengan sangat mahal. Karena ‘kedamaian batin’ tidak pernah bisa dibeli dengan uang.

“Favorit gue yang es krim stroberi, Mbak. Nggak tahu kenapa ini lebih enak daripada vanila yang rasa original,” ujar Saka.

Aku mengajak Saka bertos ria. “Favorit gue juga yang stroberi, Sak,” ujarku yang membuat kami terkekeh bersama.

“Thanks, udah dateng,” ujarku pada Siska.

“Kalo lo tahu diri, lo juga harus dateng ke acara gue minggu depan,” ujarnya datar.

“Kirimin aja tiketnya, nanti gue dateng,” tuturku yang hanya direspons dengan anggukan oleh adikku itu.

Lalu kami berempat  mengobrol santai dengan bahagia. Tentu saja yang heboh Om Rizaldi dan juga Saka. Siska hanya sesekali tersenyum saja. Jujur saja hari ini aku bahagia karena semua orang yang aku sayangi berkumpul di sini. Walau tanpa kehadiran mama.

But it’s weird, I’m happy but feel empty.

***

Sekarang baru pukul empat sore, tapi aku memutuskan untuk menutup Ayo Ngopi karena makanan dan minuman di cafe sudah habis. Normalnya sih cafe tutup jam sepuluh malam. Namun mungkin karena ini hari pertama buka, jadi pelanggan yang datang membeludak. Apalagi aku mengadakan diskon besar-besaran.

“Lo harus bayar gue mahal karena bikin gue kerja rodi hari ini,” tutur Alexandre seraya memijat bahu kirinya.

Aku menyerahkan secangkir affogato dengan es krim stroberi kepada pria itu. “Siap! Ini gue kasih DP-nya dulu. By the way, thanks, buat hari ini, Lexi.”

“Nggak, ya! Gue ogah cuma dibayar pake terima kasih!” ujarnya songong.

“Ish, iya entar gue bayar!” decakku seraya mengelap es krim di sudut bibir pria itu dengan jempolku.

Namun saat jari jempolku hendak menjauh Alex menahannya, lalu pria itu menjilat ibu jariku lembut. “Gue nggak mau DP gue terbuang sia-sia karena es krim ini bayaran kerja rodi gue seharian,” ujarnya yang sontak membuatku sesak napas.

Untungnya getaran dari ponselku membuat fokusku teralihkan. Tetapi pesan yang aku dapat justru semakin membuat pipiku semakin merona karena mengingat teriakkan Om Charles kemarin.

“Kenapa harus ruang kesehatan kantor saya? Semiskin-miskinnya kalian pasti masih bisa menyewa motel murah, kan!”

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top