Prolog
Kesiur angin sore itu menggelopak kamboja. Kelopak matinya berdansa di udara lalu jatuh di kepala dan sebagian pundak seorang pria. Seharusnya ini menjadi tangkapan indah, kalau pemilik pundak itu bukan laki-laki yang saat ini kedapatan terpaku gugup di tempat. Menatap Alba seolah-olah Alba akan menyedot keluar pankreasnya
“N-nayalba Mukarim!” sebutnya tergagap-gagap. “Nyamuk!”
Satu dasawarsa, kuping Alba tidak disapa akronim ini. Sejumlah kenalan, berapa lapis relasi, hanya satu orang yang gemar mengasosiasikan Alba dengan serangga pengisap darah. Siapa sangka, reuni kebetulan dengan orang ini, berlangsung di kuburan.
“Apa kabar?” Dia mulai tersenyum ala Humpty Dumpty; aneh, sekaligus membuat orang lain merasa dangkal karenanya.
“Anak kondom bocormu sudah besar?” Pria itu membuat capitan dengan telunjuk dan jempol. Seolah tengah mencapit sekubit gula. “Sudah segini?” Lalu, jemarinya membentuk cincin kasatmata. “Segini?” Sekarang, dia bahkan menakar tinggi manusia imajiner setara dagu. “Atau setinggi ini?”
“Baru segini,” balas Alba, mengacungkan jari tengah. “Tapi, bisa saja segini.” Gantian jari manisnya terangkat. Membuat sang lawan bicara tersenyum.
“Kamu masih ingat ternyata, tentang jari manis.”
“Kenapa? Masih takut dengan jari manis perempuan?”
Dia mengabaikan pertanyaan sebelumnya, dan malah berujar, “Nggak nyangka kita ketemu di sini. Ziarah ke makam siapa, Al?”
“Makam anak kondom bocormu. Kamu nggak mau ziarah sekalian?”
Alba senang bisa membalikkan keadaan cukup dengan kejenakaan. Humpty Dumpty hilang dari wajah si pria, berganti ekspresi gugupnya. Kesempatan itu digunakan Alba untuk menyerang, “Arah pukul dua, yang nisannya paling jelek karena nggak pakai granit. Anak kondom bocormu di situ.”
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top