8 - Bunga Kenangan

Sampai menjelang aku tidur tadi, aku masih melihat berkas cahaya di tanganku. Lalu tiba-tiba aku merasa begitu mengantuk, dan aku tertidur ... lalu bermimpi.

"Bukankah aku tidak perlu menanggung semua ini?"

Aku tidak bisa bergerak, tetapi kata-kata itu seperti terlintas begitu saja dalam benakku.

"Maaf mengecewakan kalian, Ummi, Abi ... tapi, aku benar-benar enggak sanggup. Aku hanya ingin mempertahankan ini saja ... tahun-tahun ketenanganku ...."

"...."

".... Kak ...."

"Kakak!!!!!!"

Suara denging membuatku hilang fokus beberapa saat. Kemudian, aku mendengar yang lain.

"Ya, aku akan jadi Tuan Putri." Itu suara Risa. Terdengar mantap. Aneh, padahal dia tidak pernah ingin naik takhta dan selalu kabur dari acara resmi.

Suara lain saling timpa.

"Kalau aku jadi dokter ...." Kali ini suara Edi. "Aku akan kembali ke sini dan menemuimu lagi, kalau perlu menghadap Baginda Raja langsung."

Penjaga Bunga Kenangan tidak pernah ada, karena mereka tiada. Mereka mati tanpa ada yang memperjuangkannya.

Aku merasa napasku memendek. Hei, aku bahkan heran kalau ini bisa disebut napas. Aku ... entahlah, aku ini apa? Mengapa aku seperti ini?

"Rumah Bukit terbakar habis ...."

"Maafkan Ayah, maaf, Lia, Tora, harusnya Ayah pergi untuk mencegah hal ini ... sekarang, tanah ini bukan milik kita lagi ...."

Sesak.

"Gerald, kamu enggak membencinya? Padahal dia yang bikin gara-gara! Dia cepu!"

".... Maaf, Len. Aku tahu, kamu enggak akan goyah meski sendirian."

"Iya. Kamu enggak perlu sok peduli sama aku. Sana, pergi, sama teman-temanmu yang lain."

"...."

"Anya, kenapa kamu mengikutiku? Aku ini jahat."

"Kamu enggak boleh sendirian, Len ...."

"Jangan ikuti aku."

".... Kita berdua sesama orang yang dikucilkan. Mengapa enggak bersama aja?"

Tiba-tiba, aku merinding. Aku tidak tahu apa wujudku. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Namun, aku merasakan tatapan tajam, dan tiba-tiba aku bisa membuka mata.

Anyelir yang menatapku.

"Ini enggak benar," ujarnya. Tidak ada codet di matanya, itu berarti ini sebelum kejadian itu. "Harusnya enggak begini."

"Hah?" Leana, dengan rambut ikat duanya tanpa pita biru, mengernyit.

"Kamu akan sadar." Anyelir menjentikkan jari, dan tiba-tiba pemandangan di hadapanku berubah.

"Aku ini anak sial." Suara Nera. "Apa untungnya bagimu dekat-dekat denganku?"

"Enggak ada. Tapi, apa salahnya berteman dengan anak sial?" sahut Heza bersikukuh. Namun, detik berikutnya, semua lenyap dari pandangan, menyisakan isakan yang menyebut nama, Heza.

Masa dia mati?

Pemandangan kembali berganti. Kali ini, aku melihat Aufa—bukan, Lyra. Ia duduk diam sambil mengelus seekor bayi naga.

"Aku menolak tanggung jawab," gumamnya. "Ini bukan salahku. Semuanya bukan salahku. Meski aku mati di sini ...."

"Aufa!" Suara Fatan bergema, tanpa wujud, dari pelantang entah di mana. "Bertahanlah! Aku akan membantumu!"

"Sudah terlambat," bisik Lyra. "Mereka sudah tahu tempatku. Aku akan diburu ... dan ...."

Pernahkah kalian membayangkan kecerdasan buatan dengan boosting kecerdasan manusia?

Lyra tetap di sana, sementara listrik mengaliri tubuhnya, melumpuhkan seluruh sarafnya.

Sebenarnya, apa yang terjadi?

"Aku menerima." Itu suara Sonya. "Aku akan mewarisinya, selamanya."

"Kamu akan membersamainya sampai akhir, dan kamu berkewajiban memenuhi tuntutannya. Jangan lupakan hal itu."

"Baiklah. Lagipula, Iko akan membantuku. Ya 'kan, Iko?"

Ini apa?!

"Aku—"

"Tare!"

Aku tergagap. Lagi-lagi mataku membuka.

Itu Ven.

"Sejak kapan kamu berubah jadi Bunga Kenangan?!"

"Hah ...."

Detik berikutnya, aku bisa melihat diriku sendiri. Utuh. Bertangan dan berkaki, diiringi tatapan menghakimi dari RI.

Sepertinya, aku baru saja dikutuk jadi Bunga Kenangan. Dan yang kulihat adalah sekumpulan what if mengerikan jika alur cerita tidak berjalan sesuai dengan yang akhirnya kutulis.

Jadi ... yang kutulis untuk mereka itu sudah yang terbaik?

[until next chapter]

****

​​Tema: Buat karakter kalian terbangun menjadi sebuah bunga.

Tema yang menarik karena kalau aku jadi Bunga Kenangan, aku tidak akan sanggup.

8/4/2026
zzztare

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top