26 - Bebas

Kata Hoodie nomor 1, alias Rehan, dia mengikut saja ketika ditarik Hoodie nomor 5, alias Iko.

Seperti kata PBM, dua orang itu benar-benar berteman dengan cara mereka sendiri.

"Dan kalian mau ikut aku masuk ke dalam Terra begini?!"

Batu raksasa itu berdebam, kehilangan kaki-kakinya, ketika kami berdiri di hadapan "mulut" yang terbuka sampai tanah serupa pintu kuil batu di tepi tebing.

"Keadaan di atas terkendali," ujar RI. "Deha yang atur, dan semuanya punya kegiatan buat asyik sendiri."

"Memang, apa yang kaulihat 'di dalam' Terra?" Iko mendesakku. "Katanya kamu pingsan habis itu."

Aku yakin Iko sudah mau berkomentar lemah, tetapi sepertinya ia menahan diri. Baguslah.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum masuk. Sepertinya, aku akan berkisah saja. Sementara aku berjalan, cahaya di tanganku berpendar.

"Apa kalian tahu asal-usul kalian sebenarnya?"

Tidak ada yang menjawab.

"Semua punya masa lalu, semua orang punya kisah, sebelum tiba-tiba terdampar di sini, 'kan?" Aku menatap tanganku sambil tetap berjalan. "Dan apa pun yang terjadi sebelumnya, itu yang membentuk kalian sekarang."

"Sekian tahun mengenalmu, aku masih enggak paham kamu maunya apa," gerutu Rehan. Sejak tadi, ia berjalan dengan pedang "listrik" terhunus di tangannya.

"Oh, Rehan, apa kamu bisa summon BZ?" tanyaku. Dipikir-pikir, sedikit sekali interaksiku dengan BZ sekarang ini.

"Entah. Aku cuma bisa memastikan ini." Reha menunjuk pedangnya.

"Jangan tanya aku, aku enggak punya senjata, apalagi khodam." Iko mengangkat tangan. "Aku cuma mau menyelamatkan si muka kantong kertas itu."

"Menyelamatkan ...." Aku menggumam. "Memang dia kenapa?"

"Ha, kau sendiri yang dorong, kau juga yang denial?"

Aku melirik garang. Ternyata, Iko sudah keder duluan karena Rehan mengarahkan mata pedang ke lehernya.

"Ingat alasanku mengajak kalian semua pergi, saat ini?" Aku lanjut bicara. Sebenarnya, aku tidak peduli mereka menyimak atau tidak. "Aku ingin melihat aneka alur yang belum–atau tidak–terjadi, hanya untuk pergi sebelum hal itu memicu hal yang lebih buruk."

Apa aku memang mengajak mereka? Entah. Rasanya, aku memanggil ... alias summon mereka.

"Tapi, aku terkesan memberi harapan, ya?" Aku tertawa pelan. "Padahal, apa pun yang tidak terjadi, tidak akan pernah menjadi hal yang lebih baik dari takdir. Tapi!"

"Kenapa? Apa ada mbakku?" tanya Iko tak acuh.

"Weh." Rehan melirik Iko. "Sister complex lu?"

"Bukan gitu!"

Aku menghela napas, mengabaikan perseteruan mereka. "Kalau dengan kuajak ke sini, kalian bisa merasakan pengalaman baru, juga menenangkan hati dari perasaan yang berkecamuk di masa lalu ... apa yang kulakukan ini berguna?"

Aku bicara apa, sebenarnya?

"Aku bukan memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. Takdir yang sebenarnya tidak akan bisa diubah. Aku hanya memberikan jeda untuk menata hati, supaya kalian ... dan aku, bisa lebih siap menjalani hari nanti."

Aku menengadah. Apa ini benar-benar Terra? Di dalamnya, tidak segelap yang kulihat. Dan ... yang jelas, aku tidak melihat gerigi putih di antara merah. Di sini benar-benar hanya batu dan satu jalan.

"Oi, Tare." Rehan menyejajari langkahku sambil menggeret pedang di lantai batu. Bunyinya menusuk telinga, ditingkahi pula dengan desisan listrik statis. "Memang, apa yang menungguku nanti?"

"Enggak tahu. Mungkin ceritamu sudah usai. Mungkin juga belum, kalau kamu merasa harus melakukan sesuatu." Aku melirik Rehan. "Kamu tahu peranmu, 'kan?"

"Ya, aku cuma sampingan."

"Kenapa nada suaramu menyedihkan begitu?!"

Rehan angkat bahu. "Aku ... dan keluarga angkatku, enggak pernah ke mana-mana. Kami selalu di sini. Abi dan Umi penjaga, Kakak juga. Aku yang enggak terikat apa-apa ini bebas berkeliaran. Kiprahku di kenyataan usai, di sini pun enggak ada apa-apa."

"Kamu juga penjaga, Reh." Aku menatap mata Rehan lurus-lurus. "Kamu selalu memegang kunci keamanan di sini. Kamu juga, Ko."

"Ya?" Iko yang sepertinya tidak mau terlibat langsung mengangkat tangan.

"Kenapa posemu menyerah begitu, sih?"

"Soalnya tahu-tahu ditodong."

Ampun, kenapa para lelaki ini aneh semua.

Aku lanjut berjalan. "Aku enggak bisa selalu mengawasi kalian, tahu? Ada alasan kenapa aku lebih bisa membaur dengan cewek-cewek. Aku 'kan juga cewek!"

"Oh, jadi itu kenapa kita harus menemukan PBM sekarang," gumam Rehan. "Jadi—"

Belum sempat Rehan menyelesaikan kalimatnya, Iko tiba-tiba berlari dan hilang entah di ujung mana. Namun, RI yang sejak tadi mengawasi kami tampak baik-baik saja. Ia malah menatapku, seolah berkata, kenapa? Kaget?

Dan tak butuh waktu lama, sampai Iko muncul lagi sambil menyeret seseorang. Hanya kantong kertas di kepalanya yang tampak koyak, sisanya baik-baik saja.

Benar, itu PBM.

"Hah!" Aku terlalu kaget sampai sulit bereaksi, sementara PBM mengangkat tangan kanan sambil mengacungkan dua jari.

"Aku baru tahu kalau orang luar bisa sekuat itu."

Orang luar yang dimaksud PBM pasti Iko. Apa yang terjadi barusan?

Iko sendiri, dia merunduk sambil bertumpu ke kedua lutut, terengah-engah. "Kuat apaan? Cuma narik aja!"

"Aku enggak bakal mati, Bro. Tapi makasih sudah menarikku dari sana. Kalau enggak, aku enggak bakal bisa keluar." PBM lalu menoleh ke arahku. "Dan ... yang bisa membuat mereka ini masuk kemari, pasti cuma kamu."

"Aku yang dorong kamu!" seruku. "Dari mana kamu? Tempat apa itu, yang bisa menahan seorang pecahanku?"

"Bukannya kamu yang bilang?" tanya PBM. Lagaknya santai sekali. "Suatu hari nanti, yang membuat Hayalan—duniamu ini—rata dengan tanah, yang menghancurkan semuanya, adalah Terra."

Aku terdiam.

"Sepertinya, aku paham maksudnya, juga kemungkinan caranya. Tapi, itu bukan sesuatu yang mau kamu bahas, 'kan? Sekarang, ayo keluar."

Dasar dia ini, benar-benar nonchalant.

Kali ini, yang memimpin jalan adalah RI dan Rehan, karena mereka berdua yang bersenjata. Rehan tidak berkata apa-apa lagi sampai kami keluar, sampai "mulut" Terra tertutup lagi, dan kami kembali.

"Kenapa kamu ngotot banget menyelamatkan dia?" Akhirnya Rehan buka mulut, langsung bertanya pada Iko.

"Kenapa? Soalnya, dari awal Tare nyeret aku ke sini, dia yang disuruh 'mentorin' aku," jawab Iko sekenanya.

Aku tersenyum kecil. Memang benar, PBM yang kusuruh buat memperkenalkan para 'anak baru' soal seluk-beluk keadaan di sini, biar enggak semua-muanya aku.

"Hoo, pantas." Rehan manggut-manggut. "Terus, Tare, kamu masih bakal narikin orang ke sini?"

"Mungkin?" Aku pun tidak yakin. Karena mereka yang kupanggil ke sini adalah mereka yang ... ingin kulihat interaksinya di luar cerita, ingin kuajak bicara, ingin kumintai tolong ...."

"Tare-centric," celetuk RI.

"Enggak salah," sahutku.

Rasanya salah, tapi mau bagaimanapun aku menganggap mereka rekan, teman, dan yang lainnya, aku tetap mastermind di sini. Apa pun yang terjadi, semua terjadi karena aku. Bahkan hal-hal yang membuatku sendiri kaget juga pada akhirnya kurancang sedemikian rupa hingga bisa kuarahkan sesuai kemauanku.

Seolah, apa pun kemauanku, mereka akan selalu bilang, "Siap, Master."

....

Aku jadi takut.

Tapi aku tidak bisa kabur.

[until next chapter]

****

Tema: Pilih satu Music Video favoritmu (artis bebas, dari negara mana saja) lalu buat cerita yang diinspirasi dari Video tersebut.

Tare ga ada ide dan jarang nonton MV jadi ini saja:

&list=RDLeK0WZqC-As&index=3

GAMBARNYA MEN CHEFKISS

Terus kaitannya apa? Ya intinya "manggil" karakter yang punya masa lalu (they're heroic spirits tho) untuk diberi "kerjaan" di masa sekarang. I won't elaborate further.

Dan wow akhirnya untuk pertama kalinya di DWC ini aku ngetik sampe 1000 kata.

Sepertinya aku harus menampilkan gambar ini, lupa udah pernah apa blm, awal-awal PBM "menjinakkan" Iko dan disuruh ngasih salam ke saya. (Maap Iko, saya jajing)

Jkt, 26/4/26
zzztare

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top