Chapter 7
Happy reading 🌹
*****
Blind pass yang dilakukan Sonia dan Nina berhasil membuat mulut Alana menganga. Pertandingan basket senior yang dilakukan setelah materi eskul selesai sore ini sungguh menyita perhatiannya. Dari awal pertandingan ini, Alana banyak mengamati dan belajar. Sonia dan Nina. Dua nama yang paling ditakuti. Namun, saat berada di tengah lapangan basket mereka berdua merupakan partner yang luar biasa.
"Keren banget ya Al?" tanya Tata pada Alana yang duduk di sebelahnya.
"Banget! Kita bisa nggak ya kayak mereka?" Alana menekuk kedua kaki dengan tangan bertumpu di sisi kanan dan kiri.
"Son!" Suara Nina menggelegar terdengar hingga pinggir lapangan. Cewek itu mengoper bola saat melakukan serangan balik.
Sonia menerima lemparan bola dan men-drible bola berwarna oranye itu sampai di area three point.
"Shoot!" teriak Nina lagi.
Tanpa berpikir panjang, Sonia melayangkan bola dari area three point. Namun, bola dengan keras membentur ujung ring dan terpental ke sisi lain.
Alana terpaku. Teriakan-teriakan yang menyerukan namanya tidak lagi ia hiraukan. Ia melihat sebuah bola oranye melayang tepat ke arahnya. Ia ingin menghindar, tetapi tubuhnya seperti tidak bisa digerakkan. Yang bisa Alana lakukan kali ini hanyalah memejam. Kedua tangan yang tadinya bertumpu pada lantai konblok refleks terangkat menutupi wajah. Kedua tangannya mengepal erat. Bersiap terkena hantaman bola.
Satu detik, dua detik ....
Tidak terjadi apa-apa. Melainkan seseorang merengkuh tubuh Alana dari depan. Menaungi kepala mungil Alana dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya bertumpu pada lantai konblok, menjaga keseimbangan agar tidak menimpa tubuh Alana.
"Prass!"
Seruan itu berganti nama. Membuat Alana membuka mata secara perlahan. Cowok itu masih memeluk tubuhnya. Rasanya Alana seperti bunga yang rapuh dan harus dijaga agar tangkainya tidak patah.
Perlahan, pelukan cowok itu terlepas. Bola mata Alana bergerak menatap wajah cowok yang melindunginya dari bola barusan. Prass. Dengan mata sayu, ditatapnya Prass yang sedang meringis.
"Kak," lirih Alana. Ia tahu, bola itu pada akhirnya menghantam punggung Prass dengan keras karena beberapa saat yang lalu tubuh Prass tersentak saat memeluknya. Pantas saja Prass meringis seperti menahan sakit.
"Are you okay, Alana?" Prass mengamati wajah dan tubuh Alana dengan kening berkerut, seperti khawatir.
Alana terpaku melihatnya. Detak jantungnya bertambah cepat saat wajah tampan itu sangat dekat dengannya. Ia hanya bisa mengangguk kemudian.
Prass menghela napas lega saat Alana mengangguk dengan bola mata bergerak gelisah. Ia tahu, Alana terkejut akan kejadian barusan.
"Prass, lo nggak apa-apa?" tanya Nina dengan napas terengah.
Prass segera berdiri, lalu membantu Alana agar bangkit dari posisinya. Setelah memastikan Alana aman, Prass menatap Nina. Ia hendak menjawab, tetapi sebuah seruan ketus membuat cowok itu menoleh.
"Gila lo ya! Kalau punggung lo kenapa-kenapa, gue nggak tanggung jawab!" Sonia dengan berkacak pinggang berjalan mendekat. "Lagian ngapain sih lo ke sini?!"
Alana menunduk takut. Bagaimana jika terjadi pertengkaran hebat setelah ini karena Prass melindunginya?
"Yang pasti gue ke sini bukan karena mau ketemu lo."
Mendengar jawaban Prass, Alana mendongak. Sepasang matanya sontak menatap wajah Prass yang kini berada dekat dengannya. Bahkan, lengannya bersentuhan dengan lengan Prass.
Sonia melirik Alana sekilas, lalu mendengkus. "Oh, korban baru."
"Son, jangan pernah macem-macem. Gue udah ingatkan lo. Jangan campuri urusan gue. Kita udah nggak ada hubungan apa-apa."
Sonia tertawa sinis. "Buat lo, semua yang pernah terjadi nggak ada artinya. Tapi, buat gue, lo sangat berarti Prass."
"Son, udah," kata Nina saat suasana tegang.
Sonia mendengkus. "Lo masih mau main, Nin? Gue udah nggak mood. Mau balik aja. Biar anak baru aja yang main. Stamina sama skill mereka payah."
Setelah Sonia berbalik badan dan mengambil ransel untuk pulang, rasanya Alana ingin melakukan hal yang sama. Bagaimana tidak? Kebanyakan dari mereka mulai berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya secara terang-terangan. Oh, pasti dirinya menjadi obyek gosip di sekolah karena Prass:
"Nin," panggil Prass.
"Ya?"
"Ajak main gih!"
Kening Nina berkerut. "Ajak main siapa?" Setelah beberapa saat, Nina mengerti. Diliriknya Alana singkat. "Kelas berapa?"
Alana menatap Prass dan Nina bergantian, terlihat bingung. "Aku?"
"Ya lo. Siapa lagi?" tanya Nina seraya membetulkan ikatan rambutnya.
"Namanya Alana, Nin. Kelas X-C," jawab Prass.
"Ck. Gue nggak tanya sama lo," ketus Nina. Lalu, pandangannya beralih pada Alana. Mengamati sosok Alana dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Ajak temen-temen lo buat sparing sama tim senior. Kayak kata Sonia tadi. Kalian harus dilatih keras karena stamina dan skill kalian payah."
"Kak Prass," lirih Alana saat Nina kembali ke lapangan bersama timnya. Tentu saja minus Sonia.
"Ada apa, Al?"
"Masih sakit punggungnya?" Padahal gue nggak mau tanya itu!
Prass tersenyum. "Sedikit. Tapi nggak apa-apa kok selama kamu baik-baik aja," jawabnya. "Sana tanding dulu! Nanti dimarahin Nina."
Alana mengedipkan mata beberapa kali. Membayangkan dirinya akan dimusuhi kakak kelas yang kebih berkuasa jika terlambat memasuki lapanhan. No! No! Tanpa mengatakan apa pun pada Prass, ia segera berlari cepat memasuki lapangan basket dan memulai pertandingan bersama senior.
***
"Denger-denger, ada tragedi di lapangan basket kemarin sore!"
Ucapan Dikta menyambut Alana saat memasuki studio musik. Alana melengos, lalu meletakkan ranselnya di ujung ruangan. Ia segera mengikat rambut, bersiap untuk berlatih band siang ini bersama teman-temannya.
"Jadi, gimana Al? Enak nggak dipeluk Prass?" tanya Ivan.
"Kalian nggak usah bikin gosip aneh-aneh deh!" seru Alana kesal.
"Bukan kita yang bikin gosip, Al. Kejadian lo sama Prass udah jadi berita panas di anak-anak Battle."
Kening Alana berkerut seraya menatap Ivan, Dikta, Dimas, dan Ahmad secara bergantian. Sebetulnya, ia mencurigai sesuatu mengingat sering melihat mereka berempat akrab dengan Sam dan Rendra. Dan ini sepertinya saat yang tepat untuk menginterogasi mereka.
"Jujur sama gue," ucap Alana dengan wajah serius. "Kalian ikut Battle?"
Ahmad berhedam seraya mengusap bagian belakang lehernya. "Serius banget deh, Al!"
"Iya, Al. Kayak kita ada salah aja. Muka lo serem ah kalau begitu!" sahut Dimas.
"Then, tell me. Kalian gabung Battle? Oh ... atau Eskala?" tanya Alana seraya melipat kedua tangan di depan dada.
"Al, tapi kita bukan anggota aktif kok!" Ivan berusaha membela diri.
"Battle atau Eskala?" cecar Alana lagi.
Dikta menghela napas panjang. Seperti tanda menyerah dan pasrah. Tidak ada gunanya menutupi lagi dari Alana soal ini. Cepat atau lambat, Alana psti akan mengetahui.
"Battle, Al."
"Ya Tuhan!" Alana frustrasi. "Kenapa sih gue dikelilingi anak-anak Battle?! Nggak Prass, Sam, Rendra, ditambah kalian!"
"Sabar, Al. Sabar," ucap Ahmad berusaha menenangkan Alana.
"Rasanya gue masuk ke kubangan penuh buaya tahu nggak?" tanya Alana seraya mengambil stick drum milik Dimas.
"Al, mau ngapain?" tanya Dimas saat Alana memmberi kode agar dirinya beranjak dari balik drum.
"Minggir, Dimas! Gue yang pegang drum sore ini," sahut Alana seraya mendorong tubuh Dimas.
Mau tidak mau, cowok itu bangkit dari duduknya, memberi tempat pada Alana yang ingin melampiaskan emosinya.
"Stick drum gue jangan dipatahin ya, Al." Dimas memohon dengan tatapan tidak rela stick drum kesayangannya berada di tangan Alana. Satu yang Dimas sesali. Seharusnya ia tidak mengajari Alana bermain Drum minggu lalu.
"Van, lo jadi vokalis dulu. Biar Dimas pegang gitar. Sore ini kita mainin lagunya Kotak. Beraksi."
*****
7 Oktober 2023
With love, IU ❤️
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top