Chapter 3
Selamat malam 🥰
Akhirnya up lagi setelah sekian lama ehehe
Adakah yang masih nungguin cerita ini up? 👆🏻
Jangan lupa vote & komen yang rame ☺️
Happy reading 🌹
*****
Alana kembali meremas jemarinya. Gugup. Ternyata banyak sekali yang mendaftar untuk mengikuti eskul basket. Tidak heran, di sekolah mana pun, basket menjadi eskul yang paling populer. Apalagi Alana tahu, tim basket DHS sudah beberapa kali memenangkan pertandingan basket antar sekolah. Mungkin hal itu juga yang membuat peminat basket di DHS membludak.
Alana menunggu gilirannya seraya duduk di pinggir lapangan. Sinar matahari sangat terik siang ini. Sebetulnya, Alana bertanya-tanya dari tadi. DHS memiliki lapangan basket indoor. Namun, mengapa malah memilih lapangan outdoor saat cuaca sangat panas seperti ini?
"Pantes DHS sering menang. Seleksi masuknya aja susah begini," gumam Tata saat mengamati jalannya seleksi.
"Heem." Alana mengakui itu. Proses seleksi sangat ketat dan dimonitor langsung oleh pelatih basket DHS.
"Gue diterima nggak, ya?" tanya Tata.
"Jangan gitu, ih. Doa aja semoga kita berdua diterima," jawab Alana.
Tata menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ng ... Takutnya gue nggak diterima."
Alana geleng-geleng. "Ada-ada aja, lo."
"Giliran selanjutnya! Lilyana Martha, Maharani Utami Putri, Meila Pratista, Raden Roro Mustika, dan Arshavina Alana Seodibyo silakan masuk lapangan!"
Panggilan itu membuat tubuh Alana mematung. Aduh, gilirannya cepet sekali. Padahal ia berharap dipanggil terakhir, saat penonton sudah bosan. Namun, mengapa namanya harus dipanggil di round kedua ini? Mata penonton masih segar, pasti masih fokus melihat jalannya seleksi.
Alana menggelengkan kepalanya. Ah, masa bodoh saja lah! Yang terpenting, ia bisa menunjukkan skill di hadapan pelatih dan anggota basket lama, yang konon kakak kelas berkuasa di sekolah ini. Masuk eskul bergengsi, sudah jelas ia harus menyiapkan mental yang lebih berani, kan?
Hei, jujur saja. Jantung Alana berdetak sangat kencang saat mendapati Sonia dan Nina, yang disebut sebagai penguasa kelas XI duduk di dekat ring basket bersama anggota geng masing-masing. Sungguh, mengapa Alana tidak tahu bahwa kakak kelas yang ingin ia hindari malah berada dalam satu lingkup yang sama? Semoga saja dirinya tidak akan pernah terlibat urusan dengan mereka, meskipun itu sangat tidak mungkin karena mereka pasti akan bertemu dua kali dalam satu minggu saat eskul.
Alana mengenyahkan pikirannya. Ah, ia terlalu overthinking kali ini. Alana mengambil tempat, berdiri bersebelahan dengan Tata. Mereka berteman dekat, tetapi kali ini mereka menjadi saingan untuk mendapat kursi di dalam eskul basket. Alana sudah membuat janji dengan Tata, mereka tidak akan saling memusuhi jika salah satu dari mereka tidak berhasil masuk.
Di tengah jalannya seleksi, konsentrasi Alana sempat terganggu. Ia merasa, ada yang mengamatinya dari kejauhan. Sudah begitu, ada dua orang yang memanggil namanya cukup keras. Alana tahu milik siapa suara itu. Suara Sam dan Rendra, teman sekelasnya. Namun, ia berusaha cuek dan fokus pada kegiatan yang sedang dijalaninya. Ia sudah berusaha maksimal untuk mendapat poin tinggi. Three point terakhirnya, akan menjadi penentu skor akhir yang ia dapat.
Alana bersiap, berdiri di area three point. Ia beberapa kali melihat ring basket dan bola basket yang ada di dalam genggaman. Setelah siap, Alana memberi kode pada pelatih. Alana memejamkan mata sejenak saat peluit dibunyikan.
Satu ... dua ... tiga ...
Shoot!
Alana melempar bola basket itu sekuat tenaga. Tubuhnya mematung saat bola itu berputar di atas ring selama beberapa detik, dan ...
Masuk!
Alana melompat kegirangan. Three point menjadi poin paling tinggi untuk skor yang dipertimbangkan untuk masuk ke dalam eskul basket. Tata langsung menubruk tubuh Alana seraya mengucapkan selamat. Begitu juga sebaliknya, karena Tata juga berhasil meraih poin tinggi melalui tembakan three point. Yang mana, peluang mereka diterima akan semakin besar.
Sebelum kembali ke pinggir lapangan, Alana mendongak ke arah tribun. Benar saja, ada seorang cowok yang menatapnya, di tengah puluhan cowok di sana. Alana mengernyit. Kali ini dengan sebuah senyum ramah. Cowok itu tersenyum padanya? Setelah beradu tatap selama beberapa detik, Alana segera membuang muka. Ah, mungkin ia salah. Belum tentu cowok itu memperhatikan dirinya, mengingat ada banyak cewek yang berada di lapangan basket. Namun, mengapa wajah cowok itu terasa tidak asing?
***
Alana melangkahkan kaki secepat mungkin menuju ruang musik. Selain basket, ada satu lagi eskul Alana ikuti, yaitu musik. Kebetulan, Alana sudah memiliki formasi anggota band lengkap bersama teman sekelasnya yang ingin masuk eskul band. Ada Dimas si drummer, Dikta si basis, Ivan gitaris dan Ahmad yang akan mengisi posisi keybord. Tentu saja Alana beruntung, keempat cowok itu mau menerima vokalis cewek seperti dirinya.
Langkah kaki Alana terhenti saat ponsel di saku seragamnya bergetar. Pasti cowok-cowok itu sudah menunggunya di dalam studio musik sekolah, tempat mereka akan menunjukkan bakat mereka secara perdana setelah resmi menjadi anak eskul musik.
"Sabar, gue baru jalan ke sana. Tunggu, nggak ada tiga menit gue sampai," kata Alana begitu mengangkat telepon dari Ivan.
"Pak Marjono juga udah dateng. Buruan!"
Alana tidak menyahut ucapan Ivan. Ia segera menutup sambungan telepon dan berlari secepat mungkin. Alana sempat mendengar, persaingan antar grup dalam eskul musik sangat ketat. Dan hanya sedikit anak yang diterima, mengingat Pak Marjono hanya ingin kualitas terbaik untuk musik. Untuk saat ini, tahta tertinggi masih dipegang oleh pasangan duet dari XI IPS 2, Yola dan Jayanti. Terbukti, keduanya dipercaya oleh Pak Marjono selaku guru musik untuk menjadi pengamat saat seleksi beberapa hari yang lalu. Terlebih, Alana sudah melihat bagaimana kerennya kedua kakak kelasnya itu beraksi di atas panggung. Yola sebagai vokalis utama, ditemani oleh Jayanti yang mengisi backing vocal sambil memainkan piano. Jujur, Alana tidak berambisi untuk menggeser kedudukan itu. Bisa masuk ke dalam eskul musik bersama teman-temannya saja sudah cukup.
"Sorry ...," bisik Alana pada Dikta saat sudah masuk ke dalam studio musik.
"Padahal kalau lo telat, Ahmad udah siap coret nama lo dari daftar anggota. Kita dapet urutan pertama. Lo udah siap kan, Al?"
"Siap, lah. Gue udah banyak minum jahe panas dari kemarin biar suara gue bagusan dikit," ujar Alana.
"Emang ngaruh?" tanya Dimas yang sedang menyiapkan stik drum miliknya.
Alana tertawa. "Nggak tahu. Gue iseng-iseng aja coba minum jahe panas sebelum nyanyi. Semoga aja ngefek ke suara gue. Dilihatin semua anak musik, malu kalau suara gue ancur."
Obrolan mereka terhenti karena Pak Marjono meminta mereka untuk segera bersiap. Tentu saja semua sudah tidak sabar menonton dan menikmati permainan band yang baru saja bergabung dengan eskul musik.
"Halo, selamat siang semuanya! Perkenalkan, kami dari Unique Band kelas X. Kebetulan kami berada di kelas yang sama. Ada saya, Alana, lalu ada Dimas di balik drum, Ivan sebagai gitaris, Dikta sebagai basis, lalu terakhir ada Ahmad yang akan duduk di belakang keyboard. Baik, langsung saja kami alan membawakan lagu perdana tanda diterimanya kami sebagai anggota eskul musik. Lagu dengan judul Jadi Apa Yang Ku Inginkan, dari Vierra!"
Tepuk tangan meriah terdengar setelah Alana mengakhiri kalimatnya dan bersiap dengan mic-nya.
Alana mendekati Ivan, memberi tahu di mana kunci musik akan mulai dimainkan. Setelah Ivan siap, Alana menoleh ke arah Dimas dan mengacungkan jempol.
Kau tak sepenuhnya sendiri
Aku kan slalu ada di sini
Mengapa oh mengapa dirimu
Penuh dengan rasa bimbang
Tak perlu kau pergi
Tuk mencari
Mencari arti cinta
Aku sendiri di sini menunggu
Aku sendiri di sini menanti
Aku fak terbiasa untuk berharap
Berlari untuk mengejar dirimu
Dalam menggapai semua impiku
Smoga kau kan tetap
Jadi apa yang ku inginkan
Jangan pernah berubah
Dengan janjimu
Jangan pernah menghilang
Dari hatiku
Lagu itu berakhir dengan manis dan tepuk tangan meriah menggema di dalam studio musik. Alana mengalihkan pandangannya ke arah kaca studio, banyak anak cowok yang menonton penampilan band-nya dari balik pembatas ruangan yang terbuat dari kaca.
Kening Alana bertaut. Sejak kapan cowok-cowok itu beramai-ramai menontonnya? Namun, ada yang janggal. Ia tidak mengenal cowok-cowok yang terlihat bersemangat menontonnya, kecuali Sam dan Rendra.
Setelah membereskan peralatan band, Alana dan keempat cowok itu turun dari panggung kecil dan mengambil tempat duduk di dekat pintu studio.
"Al!" seru Sam setelah membuka sedikit pintu studio.
"Alana Soedibyo!"
Seruan dari Rendra kali ini mau tak mau membuat Alana menoleh. "Apaan?"
"Dicari Prass."
Alana melengos. Prass lagi, Prass lagi. Sepertinya ia sudah bosan mendengar nama Prass.
"Mana sih, Alana?"
"Yang mana? Yang mana?"
"Gue nggak kelihatan, nih!"
"Tuh, yang pake cardigan pink." Alana memutar bola matanya. Kesal. Sam memang informan sejati.
"Suruh hadap sini, dong!"
Alana benar-benar cuek. Ia tak ingin menatap cowok-cowok yang kini berdesakan ingin melihat wajahnya. Hei, memangnya dirinya selebriti sampai-sampai mereka semua berbondong-bondong ingin melihatnya?
"Al! Ssttt ... Al! Lo dapet salam dari Prass," kata Sam.
Alana tak bergeming sama sekali. Ia malah fokus menonton pertunjukan dari Maya, yang membawakan lagu sambil bermain gitar.
"Yah ... dicuekin, nih!" seru Rendra pada rombongan cowok itu.
"Bilang ke Prass, gih. Alana cueknya selangit!"
Masa bodoh! Seru Alana dalam hati. Mengapa kehadiran mereka sangat menganggu sekali dan membuatnya merasa tidak nyaman? Ingin rasanya ia kabur dari studio musik. Namun, bagaimana bisa kabur jika cowok-cowok itu berkerumun tepat di depan pintu studio? Semoga saja saat jam eskul musik selesai, cowok-cowok itu sudah pulang.
"Al, dapet salam, tuh!" bisik Dikta.
"Mau diajak kenalan sama Prass loh, Al," sambung Ahmad.
Alana mengangkat bahu seraya mendengkus. "Bodo amat!"
*****
Kata Alana: Mau lo apa sih, Prass? Lo sama temen-temen lo sama aja. Sama-sama bikin kesel! 🙄

Komen yang rame ya! ☺️☺️☺️
06-03-2022
With love, IU ❤️
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top