Chapter 15
"Mommy, I want to sleep by myself, can I?"
Anna cukup kaget mendengar pernyataan putrinya itu. Selama ini putrinya selalu mencarinya di saat malam hari. Ia jelas tahu kalau Annie masih takut untuk sendirian.
"I'm sorry, Annie. But you can't. You must sleep with Mommy," jawab Anna sambil menatap sayang anaknya.
"But, I want to learn, Mommy," mohon Annie dengan matanya yang berkaca-kaca. Membuat Anna tidak tega.
"But..."
"Annie will sleep with me."
Semua mata tertuju pada sang nenek yang duduk di bagian paling depan. Anak-anaknya tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Begitu juga cucu-cucunya. Termasuk Leon dan Anna.
"Tidak apa, Ahma. Annie bisa tidur bersama kami," jawab Leon tanpa mengurangi rasa hormat dan dengan berbahasa Mandarin. Tujuannya agar membuat Ahma merasa lebih nyaman.
"Apa kau pikir aku akan mencelakakan cicitku sendiri?" tanya Ahma penuh sarkasme.
"Bu.... bukan begitu, Ahma," kata Leon berusaha membela diri.
"Jadi apa masalahnya? Biarkan dia tidur denganku. Aku juga berbagi waktu dengan cicitku. Kemarin memang belum sempat karena sibuk dengan pernikahan kalian,"
"Apa Ahma yakin?" tanya Leon lagi.
"Kenapa memangnya? Sudahlah! Aku lelah, aku ingin kembali ke kamar dan mempersiapkan ranjang untuk cicitku Bawalah Annie ke kamarku 1 jam lagi."
Setelah berkata demikian, Ahma pun pergi meninggalkan ruang makan diiringi oleh asistennya. Meninggalkan suasana hening yang tercipta hingga akhir makan malam. Meninggalkan keputusan yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk orang tua dari satu-satunya gadis kecil di ruangan itu. Gadis kecil yang menjadi awal mula perdebatan.
***
"Annie, kalau kamu mau cari mommy, ingat untuk kasih tahu nanny," peringat Anna sambil menunjuk salah seorang wanita paruh bayah yang katanya sengaja dipanggil untuk menjaga putrinya selama mereka di sini.
"Yes, Mommy,"
"Good Girl. Sekarang Mommy ke kamar dulu ya," pamit Anna setelah memberikan kecupan selamat malam.
Malam itu lampu kamar belum mati juga. Ada Anna yang terus berjalan kesana kemari. Sedangkan suaminya, entah dimana keberadaannya. Namun Anna tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya putri semata wayangnya itu.
Masih teringat dalam benaknya ekspresi putrinya saat akan ia tinggalkan tadi. Jelas ia takut meski masih berusaha tersenyum. Meski khawatir, bolehkah Anna sedikit berbangga atas keberanian putri tercintanya itu? Bahkan di tengah ketakutannya, Annie masih memikirkan orang lain, khususnya kedua orang tuanya. Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Annie.
"Sepertinya robot vacuum saja kalah rajin dari kamu,"
Ada suaminya di dekat pintu sedang memperhatikannya. Entah sejak kapan dia masuk. Di tangannya terdapat 2 cangkir masing-masing berwarna merah dan biru.
"Ayo duduk. Aku buatkan sesuatu untuk kamu," kata Leon sambil menuju ke tempat duduk.
Anna pun mengikuti suaminya menuju ke meja kecil di sudut kamar. Ada 2 kursi juga di sana. Saat ia duduk dan melihat apa yang ada di dalam cangkir tersebut, ia mengerutkan keningnya. "Tea?"
Mendapatkan respon demikian, Leon hanya tersenyum kecil. "Yup. It's tea. Chamomile tea to be more precise."
"You know I'm not a fan of tea?"
"Iya. Aku tahu. Tapi cobalah dulu. It's my favorite and good for relaxation," tawar Leon lagi.
Meski awalnya enggan, pada akhirnya Anna setuju untuk mencoba teh chamomile tersebut. Sudah lama sekali sejak Anna meminum teh. Terakhir kali ia meminum teh sepertinya saat umur 10 tahun dan ia tidak menyukainya.
Teh chamomile yang dicobanya tidak terasa kuat di lidah. Meski demikian, tepat seperti kata Leon, teh tersebut dapat memberikan perasaan menenangkan dan membuatnya lebih relaks. Sepertinya ia akan lebih sering mengonsumsinya.
"Tehnya enak," jawab Anna setelah mencobanya. "Thank you,"
"Minumlah lebih sering. Kamu butuh lebih banyak istirahat," balas Leon menenangkan.
"Yes. Sepertinya aku akan lebih sering meminum teh ini," balas Anna lagi. "Dan untuk apa yang kamu lakukan saat makan malam tadi. Also, thank you," lanjutnya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan," kata Leon singkat sambil menyesal tehnya.
"Tapi tetap saja. Kamu bisa memilih untuk diam, but you don't,"
"Kalian adalah tanggung jawabku. Sudah seharusnya aku melindungi kalian, bahkan dari para orang tua sekalipun,"
Hati Anna menghangat ketika mendengar kalimat tersebut. Meski pun hubungan mereka sedang dalam kondisi tidak baik, namun Leon masih berusaha untuk melakukan tanggung jawabnya. Mungkin ini hanya sekedar tanggung jawab, namun Anna tetap senang melihat apa yang Leon lakukan, khususnya untuk Annie.
"Belle, don't worry too much. She'll be fine,"
Anna tahu kemana arah pembicaraan Leon. "I hope so," katanya sambil terus mengamati cangkir merah di tangannya.
"Dia bersama nenek. Ga mungkin nenek mau mencelakai anak kecil," jawab Leon lagi.
Anna hanya tersenyum kecil mendengar kalimat Leon. Lagipula tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti permintaan sang kepala keluarga. Jadi ia hanya berharap malam ini tidak terjadi apa-apa pada putrinya dan sang nenek.
"Sejujurnya aku ga terlalu peduli soal suka atau tidaknya mereka padaku. Kamu juga ga usah terlalu memikirkan aku. Hanya saja, aku senang lihat kamu membela Annie di depan mereka. Aku harap kamu bisa lebih dekat lagi dengan putrimu. Biar bagaimanapun, dia sangat mencintai kamu sebagai ayahnya."
"Belle," panggil Leon begitu Anna menyelesaikan kalimatnya. Matanya memandang Annie lekat dan dalam, seolah ingin menyampaikan isi hatinya. "Annie, anak itu... Sebenarnya bagaimana kondisinya?"
"Annie... She's not in a good condition," jelas Anna memulai kalimatnya. Ia pun mulai menceritakan awal mula pertemuannya dengan Annie, bagaimana ia mengetahui apa yang dialami gadis kecil itu, hingga alasannya membawa Annie pergi.
Anna dapat melihat perubahan ekspresi Leon ketika ceritanya bergulir. Dari ekspresi serious, kaget, hingga kegetiran yang meliputi wajahnya. Sungguh Anna tak tega memberitahu suaminya. Namun Leon harus tahu. Toh suaminya itu yang bertanya secara langsung, jadi inilah saat yang tepat untuk menceritakannya.
"Itulah kenapa aku bawa Annie kabur. Karena kamu sama sekali ga ada respon," begitulah Anna mengakhiri ceritanya.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Leon. Namun emosi yang tertahan sangat jelas terlihat. Annie tahu apa yang dirasakan suaminya itu.
Leon yang sedang keras berpikir merasakan genggaman pada kedua tangannya. "Anyway, semua sudah berlalu, Leon. Jangan menyalahkan diri kamu. Aku tahu kamu sendiri juga ga menyangka ini akan terjadi. Sekarang kita harus fokus pada masa depan, bukan lagi masa lalu."
"Thanks, you're always so calming," balas Leon. Sepertinya pria itu benar-benar membutuhkan support. Apalagi setelah ketidakhadirannya dalam 5 tahun kehidupan putrinya.
Saat tangan Leon hendak menyentuh wajahnya, Anna agak sedikit kaget dan menghindar. Ia langsung bangkit berdiri dengan senyum kikuknya dan berkata, "I think it's time to sleep now. Besok kita harus bangun pagi-pagi kan?"
Anna pun segera beranjak menuju tempat tidur, meninggalkan Leon yang jelas wajah kecewanya. Sesampainya disana, ia pun langsung melingkupi dirinya dengan selimut, kecuali kepalanya. Anna pikir Leon akan menyusulnya ke tempat tidur. Nyatanya pria itu malah beranjak hendak membuka pintu kamar.
"Kamu mau pergi kemana malam-malam begini?" tanya Anna kebingungan.
"Keluar mencari udara segar. I need to have a nightwalk sometimes," jawab Leon ratu.
Bukannya tidak peduli, Anna justru menepuk-nepuk sisi ranjangnya yang kosong. "Come here and sleep. Kamu juga perlu istirahat Leon," katanya tersenyum lembut. "It's ok. Cepat sebelum aku berubah pikiran. "
Tanpa berpikir panjang Leon langsung berjalan ke arah ranjang. Anna tidak lagi melihat apa yang Leon lakukan karena dia sendiri sudah berbalik arah untuk menutupi rona merah di wajahnya. Sejujurnya ia sendiri pun sangat gugup. Meski tanpa ia sadari, manusia di sampingnya sedang memperhatikannya dengan senyumnya yang menawan.
***
Sudah 3 hari berlalu. Tepat seperti kata bibi Leon dan juga neneknya, mereka berdua memang sangat sibuk. Mulai dari pertemuan keluarga hingga pertemuan bisnis, semuanya mengharuskan Anna untuk menemani suaminya, sekaligus memperkenalkan dirinya sebagai Ny. Wiryadinata.
Khusus malam ini, Anna dan Leon diundang ke pesta pernikahan salah satu kolega bisnis Leon. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 dan Leon sudah menunggu di ruang tamu. Namun pasangannya malah belum juga memunculkan batang hidungnya. Jika malam sebelumnya Anna yang gelisah. Maka hari ini adalah kebalikannya. Justru Leon yang panik setengah mati karena mereka hampir terlambat.
"Tenanglah Leon, istrimu sebentar lagi juga akan selesai. Kami para wanita sangat mementingkan penampilan karena apa yang kami pakai akan mewakili nama baik suami dan keluarga kami. Sabarlah sedikit lagi," kata Ahma yang justru merasa lucu melihat kepanikan Leon. Ada Annie disampingnya yang juga ikut tersenyum melihat kepanikan daddy-nya.
"Ini sudah terlambat 30 menit dari waktu yang mereka janjikan, Ahma. Designer-designer ini sangat tidak menghargai waktu," kesal Leon.
"Sabarlah. Ini semua demi kebaikan kalian," balas Ahma lagi berusaha menenangkan.
Tak lama kemudian, justru ocehan Leon berhenti ketika melihat sosok yang sedang melangkah turun dari tangga. Anna tampak sangat menawan dengan gaun silvernya, rambutnya yang disanggul sedemikian rumah, serta choker silver yang terasa sangat cocok dengan leher jenjangnya. Tanpa ia sadari istrinya itu justru sudah berada di depannya dengan wajahnya yang jelas sekali sedikit memerah.
"How do I look?"
Pertanyaan itu justru baru saja menyadarkan Leon. Membuatnya menjawab tergagap dan Salah tingkah. "Ekhem... k-kamu cantik sekali," jawabnya gugup.
"Thankyou," balasnya malu-malu.
"You look so pretty, Anna," seru bibi yang sejak tadi juga bergabung bersama mereka. "Right, Annie?" tanyanya pada sang cucu ponakan yang dibalas dengan anggukan. Mata Annie benar-benar memandang penuh kekaguman pada mommy-nya.
Setelahnya Anna pun langsung memanggil Annie untuk menghampirinya. "Annie, sweety, be a good girl, ok? Mommy and Daddy ga akan lama," katanya. Lalu Anna pun membisikkan kalimat selanjutnya. "Nanti kami pasti akan laporan sama Annie waktu sampai ke rumah," tutupnya sembari memberi kecupan singkat pada kening putrinya.
"So shall we?" tanya Leon sambil menyodorkan lengan kirinya, yang tentu saya langsung diiyakan oleh Anna.
Sungguh, mata Leon sepertinya tak akan pernah lepas dari wanita di sampingnya ini. Tak akan ia biarkan siapa pun untuk mendekati istrinya. Hanya ia yang paling berhak.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top