Bab 8
------------------------------<<>>-------------------------------
"Bagaimana kalau kita saling bertemu keluarga dan masing-masing dari kita menunjukkan sisi terburuk yang kita miliki? Kita berusaha agar keluarga tidak menerima kita."
Gita memijit pelipis kepalanya yang mulai terasa berat. Saat itu juga ia berharap ia bisa menghilang dari dunia ini. Usul dari Sakti sebenarnya tidak terlalu buruk. Ia sudah lama dicap sebagai menantu pembawa sial. Bukan hal yang sulit menunjukkan itu di hadapan keluarga Sakti. Tapi bagaimana mungkin keluarganya bisa membenci Sakti?
-----------------------------<<>>-------------------------------
Setelah memastikan peta di Google maps beberapa kali, Gita akhirnya mematikan mesin sepeda motor yang dikendarainya. Ia menarik napas panjang dan mulai mengetik pesan.
Me :
Sudah sampai di pintu gerbang.
Sakti :
Tunggu di sana.
Setelah memasukkan ponsel ke dalam tas Gita melepas helm dan membuka kacamata hitamnya. Sementara masker belum dilepaskan, Gita merapikan beberapa anak rambut yang menempel di dahi menggunakan spion motor.
Suara gerbang yang dibuka mengalihkan perhatian Gita. Sesosok pria paruh baya berseragam satpam tampak menghampirinya.
"Mbak Gita?" tanyanya.
Gita mengangguk mengiyakan. Ia masih melirik ke balik gerbang berharap sosok Sakti muncul dari sana.
"Boleh saya minta kunci motornya, Mbak. Nanti saya yang parkirkan. Mbak Gita tinggal masuk aja ke dalam."
Kepanikan mulai menyerang Gita. Dalam bayangannya, ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa rumah keluarga Sakti berada di Puri Svarga Residence. Sebuah perumahan elit yang hanya memiliki 20 unit rumah. Perempuan itu mulai menyesali pilhannya yang menolak dijemput oleh Sakti.
Setelah Gita menyerahkan kunci motornya kepada satpam, ia mulai melangkah maju dengan kepercayaan diri yang mulai luntur. Sebenarnya ia lebih memilih untuk segera melarikan diri saat pintu gerbang itu terbuka. Namun, rasanya ia tidak siap jika harus dihantui oleh sosok Nyonya Dessy yang hampir setiap hari berkunjung ke tempat kerjanya.
Nyonya Dessy bukan sosok yang menakutkan. Bagi Gita, Dessy kelewat ramah terhadap seseorang yang hanya diakui 'pacar' oleh anaknya. Dan keramahan itu membuat Gita bergidik ngeri.
Sementara itu Sakti menunggu Gita di teras rumah. Ia sama seklai tidak menyangka dengan pilihan kendaraan yang dibawa oleh Gita. Ujung bibirnya tertarik saat melihat Gita tampak menggerutu tanpa suara sambil berjalan ke arahnya. Senym kecil itu menghilang kala mata Gita menatap tajam ke arahnya.
Gita mempercepat langkahnya. Saat sudah berhadapan dengan Sakti yang berdiri di teras sambil memasukkan tangna ke dalam saku celana, ia berujar pelan, "Bukannya kamu bilang rumah kamu di Andara Apartment. Saya syok waktu kamu malah shareloc alamat ini."
"Andara Apartment memang rumah saya. Tapi keluarga besar saya tinngal di sini." Sakti menjawab santai sambil berlalu masuk.
Gita segera mengikutinya. Ia mencoba untuk menyamakan langkah agar tidak tertinggal.
"Saya minta maaf kalau ini mnegejutkanmu. "
"Memang,' jawab Gita spontan.
Sakti melirik dengan ekor matanya. "Bukan tentang alamat rumah. Hanya saja Mami sepertinya antusias dengan kedatanganmu hari ini. Jadi beliau mengundang seluruh anaknya."
Langkah kaki Gita berhenti. Sakti juga ikut berhenti. Ia menatap Gita lama menunggu bagaimana reaksi perempuan itu. Berharap Gita tidak akan mencoba lari.
"Oke. Dimaafkan. Bukankah semakin banyak orang yang tidak setuju tentang kita, semakin baik. " Gita mengangkat kedua bahunya lalu melanjutkan langkahnya.
Sakti yang terdiam sebentar kemudia tersenyum dan segera menyusul Gita.
~~~
Berkenalan dengan keluarga laki-laki dan diperkenalkan sebagai seseorang yang spesial, bukanlah hal yang baru bagi Gita. Namun, tetap saj ia merasa gugup jika harus menghadapi banyak orang di satu waktu.
Saat Sakti bilang ibunya mengundang kakak-kakaknya untuk ikut hadir pada pertemuan santai ini, Gita tidak menyangka akan melihat ada empat keluarga yang berkumpul.
Karenanya ia benar-benar terhenyak kaget saat muncul di ruang keluarga. Sakti yang muncul dan berdiri tepat di belakangnya hanya berbisik, "Welcome to The Bachtiars."
"Aih... ini dia bintangnya sudah datang," sambut Dessy yang menyadari kehadiran Gita. Seketika kegiatan di ruang keluarga itu berhenti. Seperti dikomando semuanya langsung menghampiri Gita dan Sakti.
"Eh, sudah-sudah. Nggak usah bikin risih. Anak-anak biar pada main di kolan renang aja. Ayo Gita, ikut Mami yuk." Dessy langsung mengambil alih perintah. Beberapa babysitter tampak segera mengikuti intruksi dari sang nyonya rumah. Seketika suara riuh anak-anak mulai menghilang seiring dengan beranjaknya mereka menuju kolam renang di halaman belakang. Sementara Gita mau tidak mau mengikuti langkah Dessy.
"Aduh, Mami minta maaf ya. Kebetulan ini lagi pada ngumpul. Mami nggak nyangka kamu mau mampir ke rumah hari ini. Sakti juga ngasih tau Maminya tuh ngedadak."
Beberapa orang tampak menahan tawanya. Sementara Sakti yang menjadi tertuduh hanya memutar bola mata jengah.
Gita memperhatikan satu persatu orang yang kini mulai ambil tempat duduk di ruang keluarga itu. Keluarganya yang hanya tiga bersaudara membuat Gita sedikit takjub dengan keluarga Sakti.
"Saya yang minta maaf. Seharusnya saya nggak merusak acara kumpul keluarga ini. Mas Sakti juga nggak bilang apa-apa soal ini."
"Nggak perlu minta maaf. Kami justru senang kamu bisa hadir di sini pas semuanya lagi kumpul. " Seorang perempuan yang memakai gaun rumahan bermotif bunga menimpali kalimat Gita.
"Iya, soalnya kita penasaran perempuan seperti apa yang akan dikenalkan Sakti ke keluarganya." Tawa pun pecah di antara mereka.
"Biarin aja mereka mau ngomong apa. Nggak usah ditanggapi. Mereka ini kakak-kakaknya Sakti. Semuanya sudah berkeluarga. Bungsunya Mami ya, tinggal Sakti."
Gita meremas kedua tangannya. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Di saat seperti ini ia melihat Sakti yang tengah menatapnya. Gita yang duduk diapit Dessy dan kakak Sakti memandang Sakti yang berdiri jauh di ujung ruangan. Bersandar di dinding seolah berusaha untuk tidak berbaur dengan keluarganya.
"Oh, iya. Kenalkan. Saya Kakak pertama Sakti. Nama saya Lyra."
Selama setengah jam berikutnya, Gita dikenalkan dengan keempat kakak Sakti yang semuanya perempuan. Tidak ketinggalan dengan suami-suami mereka. Dan untuk pertama kalinya Gita dapat bertemu muka dengan Fajar Bachtiar. Ayah kandung Sakti yang juga seorang pengusaha terkenal di bidang properti dan retail.
Keluarga Bachtiar tampaknya begitu mencintai astronomi. Semua nama kakak Sakti adalah nama bintang yang cukup terkenal bagi pecinta dunia langit. Lyra. Vega. Carina. Astra. Bahkan nama lengkap Sakti adalah Bimasakti Bachtiar.
"Kamu kenal dengan Sakti dimana?" tanya Lyra penasaran.
"Di hotel," jawab Gita jujur apa adanya.
Seketika ruangan menjadi hening. Lyra pun tampak salah tingkah mendengar jawaban Gita.
"Gita sering jadi MC di acara yang diselenggarakan di hotel. Di sana aku ketemu Gita pertama kalinya." Sakti pun memberikan penjelasan yang masuk akal. Tidak sepenuhnya berbohong. Suara 'O' pemakluman terdengar secara berbarengan.
"Oh, iya. Pantas saja, rasanya saya familiar dengan wajah kamu. Kamu pernah jadi pembawa acara waktu Aquo Enterpreneur Awards kan?" Salah seorang kakak ipar Sakti bertanya.
Gita mengangguk membenarkan."Tapi acara itu sudah lima bulan yang lalu. Saya merasa terhormat masih ada yang bisa mengingat saya."
Suasana kembali cair dengan Gita yang tampak begitu mudah untuk berbaur. Sakti sedikit khawatir rencananya berantakan. Padahal dia berharap kakak-kakaknya tidak sewelcome ini.
"Kamu kok mau sih sama Sakti? Dia itu udah tua loh. Kamu kelihatannya masih muda."
"Saya malu dibilang masih muda. Usia saya sudah 30 tahun. Mana bisa dibilang muda?" elak Gita sambil tersipu malu.
"Ah, masa sih? Tapi kok kelihatan kayak masih 25 tahun. Sakti beruntung banget loh bisa nikah sama kamu nantinya. Punya istri yang awet muda."
Topik pernikahan sudah diangkat. Gita berdehem lalu berujar, "Saya rasa saya yang beruntung. Saya nggak tahu apa alasan Mas Sakti mau menikah dengan saya yang seorang janda."
Sakti mengembuskan napas. Boom sudah dikeluarkan oleh Gita. Ia melihat beragam ekspresi ditunjukkan oleh semua orang yang hadir di sini. Hampir sebagian besar menatap Gita tak percaya. Apalagi perempuan itu tetap menampilkan senyumnya setelah berkata jujur tentang statusnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top