Bab 16


------------------------<<>>--------------------------

Sakti segera berbaring di sofa setelah mengucapkan kalimat itu. Sementara Gita masih terduduk di tempatnya. Ia menatap Sakti penuh haru. Kemudian barulah ia naik ke ranjang. Dua handuk angsa yang cantik ia pindahkan ke sisi kanan. Kelopak-kelopak mawar yang semula tersusun rapi akhirnya berantakan ketika perempuan itu beringsut ke arah bantal.

Gita menggeraikan rambutnya. Ia mulai menarik selimut hingga ke dada. Sambil bersedekap perempuan itu menatap langit-langit kamar. Dengan bantuan bernapas pelan, Gita mulai memejamkan mata. Sudah saatnya beristirahat. Ia sudah cukup lelah melalui hari yang cukup panjang. Alam bawah sadarnya perlahan mulai membawanya ke satu kenangan yang paling ingin dihindarinya. Air mata pun mengalir.

-------------------------<<>>---------------------------

Gita tersenyum malu-malu. Gadis itu keluar dari kamar mandi sambil berjalan perlahan. Laki-laki yang sedang bersandar di sofa tampak memejamkan mata. Raut kelelahan nampak jelas terlihat di wajahnya.

Senyum kecil terukir di wajah Gita melihat laki-laki yang baru beberapa jam lalu menjadi suaminya itu nampak menikmati istirahatnya meskipun masih mengenakan kemeja resepsinya. Ia menepuk pipi suaminya lembut. Erangan kecil terdengar dari mulut laki-laki itu.

Dengan gemas, Gita duduk di sebelah laki-laki itu. Ia menyandarkan kepala di bahu suaminya lalu berguman, "Raja sayang."

Laksana mantra pemanggil mata lelaki itu terbuka. Ia menoleh ke arah kirinya lalu senyum terkembang. Raja mencium kening Gita.

"Hai, sayang. Maafin aku. Aku ketiduran ya?"

Gita menggeleng lalu merangkul tangan suaminya. "Kamu pasti kecapekan, kan."

Raja melepas rangkulan istrinya lalu menatap istrinya. "Tadinya aku emang kecapekan. Tapi setelah melihat istriku yang cantik, capeknya hilang."

Gita tertawa kecil. Rona di wajahnya tidak menutupi rasa senangnya karena dipuji oleh sang suami. Dengan ringan ia membuka kancing kemeja Raja.

" Nggak usah gombal, kayak jaman sekolah. Sekarang mendingan kamu mandi dulu sana. Ganti baju. "

Raja menghentikan jemari istrinya yang tinggal membuka kancing terakhir. "Kenapa sih, kita harus mandi sendiri-sendiri? Kenapa nggak mandi bareng aja tadi? "

"Raja," pekik Gita gemas, "udah sana masuk kamar mandi."

Laki-laki itu tertawa bahagia berhasil menggoda istrinya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

Sementara itu Gita yang mengenakan piyama satin two piece mulai melonggarkan ikatan rompi satinnya. Ia melihat ranjang pengantin hotel yang tampak cantik dengan taburan kelopak bunga mawar dan bunga kamboja putih. Setangkai mawar yang diletakkan di atas bantal membuat Gita terheran-heran. Kelopak-kelopak mawar itu diatur lembar per lembar, sehingga sebarannya tampak merata. Handuk-handuk ditata agar menyerupai pita dan diletakkan di ujung ranjang. Menambah manisnya ranjang berbalut sprei putih itu. Tidak ketinggalan ada sebuah nampan dengan dua gelas piala di atasnya yang disimpan di atas stool. Selain kedua gelas piala tidak ketinggalan sebotol wine putih dan seloyang red velvet.

Gita tersenyum puas. Ia menanggalkan rompi satin dan meletakkannya di atas ranjang. Gadis berusia dua puluh tahun itu segera duduk di atas kursi rias. Ia pun mulai mengeringkan rambutnya yang basah sehabis mandi.

Raja keluar dari kamar mandi hanya dnegna mengenakan celana boxer dan kaus singlet. Ia terdiam sesaat di depan pintu kamar mandi. Gita yang sedang mengeringkan rambut tampak menawan walaupun hanya dilihat dari belakang. Dengan penuh kesadaran ia berjalan menghampiri istrinya.

Melalui pantulan cermin, Gita tersenyum melihat suaminya. Baru saja ia hendak membalikkan badan, Raja ternyata langsung memeluknya.

"Kamu wangi, " kata Raja sambil mencium leher Gita yang terbuka. Raja bersyukur dengan pilihan pakaian yang dikenakan istrinya.

Gita memalingkan wajahnya, ia mengecup bibir Raja dengan lembut.

"Aku tahu," kata Gita. Ia pun berdiri dan memeluk suaminya.

Tanpa banyak bicara Raja langsung mencium Gita dengan lembut dan intens. Sehingga membuat Gita merasa melayang. Pasangan yang dimabuk asmara itu saling berbalas ciuman yang lama. Gita yang pertama menyerah. Ia menjauhakan wajahnya karena kehabisan napas.

"Git, " panggil Raja dengan wajah memerah.

"Kita nggak akan nyicipin kue dan minum?" goda Gita sambil tersenyum nakal.

Raja segera menggendong Gita ala bridal style lalu berbisik, "Kamu lebih terlihat menggoda dibanding dua hal itu."

Di atas ranjang, Gita menelentang sambil tersenyum sementara suaminya mengenyahkan semua kelopak bunga. Raja lalu berbaring di sebelah Gita dan memeluknya. Berawal dari ciuman lembut berlanjut ke setiap sentuhan panas. Keduanya saling melengkapi. Saling mengisi. Gairah menyelimuti pasangan yang berbahagia itu.

"Kamu siap?" tanya Raja.

Gita mengangguk lemah. Bukan karena lelah. Ia terbuai dengan kenikmatan yang sudah diantarkan oleh setiap sentuhan dan cumbuan dari suaminya. Lalu semuanya berhenti dengan tiba-tiba.

"Aw." Pekik Gita.

"Kenapa, yang?" tanya Raja khawatir.

"Itu ... sakit." Gita menahan air matanya.

Raja memeluk istrinya dengan sayang. "Sstt... nggak perlu nangis. Orang bilang ini memang sakit awalnya. Cuma di awalnya. Nanti lama-lama juga nggak."

Gita memeluk suaminya erat. Bukan. Sakitnya terasa aneh.

"Kita coba lagi, ya, " pinta Raja sambil mengecup rambut Gita.

Melihat suaminya yang masih terselubungi gairah, Gita mengangguk. Ia sadar itu adalah kewajibannya untuk melayani suami. Dirinya sudah menjadi hak milik suaminya. Dan Raja berhak meminta dirinya kapanpun ia bersedia.

Namun, sayangnya kali kedua dan ketiga tetap saja gagal. Raja sendiri merasa ia seperti menabrak tembok besar.

Gita dan Raja akhirnya memilih untuk mengenakan kembali pakaian mereka.

"Ja," panggil Gita hati-hati. Ia takut sudah mengecewakan orang yang dicintainya.

Raja tersenyum galau. "Kenapa, Yang?"

"Maafin aku, ya." Gita menundukkan kepala. Ia merasa bersalah.

"Nggak apa-apa. Kamu kan nggak sengaja?"

Gita mengernyit dengan kalimat yang keluar dari mulut suaminya.

"A— aku emang nggak sengaja, Ja. Aku bahkan nggak tahu apa yang terjadi."

Raja memilih untuk segera berbaring di atas ranjang dan membelakangi Gita. "Udah malam, kita tidur aja. Istirahat. Kamu mungkin kelelahan."

"Kamu pikir aku sengaja?"

"Tidur, Git!" pinta Raja sambil memejamkan matanya.

"Kamu jahat!"

Seketika Raja bangun lalu memandang Gita.

"Aku percaya kamu nggak sengaja. Kamu mungkin Cuma merasa kurang nyaman. Atau kurang rileks."

"Kurang rileks? Tapi kan kamu sendiri tadi lihat, kalau aku udah siap. Kamu yang bikin aku melayang dan—"

"Kalau memang kamu udah rileks. Pasti nggak akan sesulit itu. Udahlah Git. Namanya juga malam pertama, nggak semua langsung bisa. Akunya juga mungkin kurang mahir foreplay. Atau justru kenikmatan yang kamu mau lebih dari yang aku mampu."

~~~

Gita terbangun dengan peluh membasahi punggungnya. Ia melihat sekeliling dan menyadari itu hanyalah mimpi. Sebuah kenangan, tepatnya. Dilihatnya ranjang yang terasa luas, kemudian ia melirik sofa, tempat dimana Sakti – suaminya sekarang – berbaring tidur. Setelah mengatur napas, Gita kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Sementara itu Sakti yang memejamkan mata mulai membuka matanya. Ia melirik Gita yang dilihat dari ritme napasnya sudah kembali terlelap. Bohong rasanya jika ia mengatakan belum sanggup untuk berhubungan badan. Sebagai laki-laki dewasa yang normal, Sakti tertarik secara seksual dengan Gita, terutama setelah ia selesai melantangkan ijab kabul. Baginya Gita terlihat lebih menarik dibanding sebelum akad nikah.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top