prolog
PROLOG
"Do you have any idea how much fasts it beats when it sees you?"
"BAHAGIA sekali kamu, Rei?"
Suara Della menyapa indera pendengaran Reinald yang baru saja masuk ke dalam klinik kantor. Reinald dapat melihat jelas Della tengah duduk di atas kursi plastik kecil dan di depannya terdapat baskom kuning terang berisi air.
Della segera berdiri kemudian duduk di balik meja prakteknya. "Siapa wanita tadi? Sudah lama sekali aku tidak melihat kamu berdekatan dengan wanita selain klien dan Maria setelah kepergian sahabatku sekaligus istrimu."
Reinald hanya diam, mengamati ekspresi wajah Della yang terlihat kecewa.
"Aku tahu benar, dia sudah lama pergi dan sudah saatnya bagi kita semua yang ditinggalkannya untuk bergerak maju. Bahkan logikaku juga mewajarkan tindakanmu dalam mencari wanita baru yang bisa membuatmu bahagia...." Della memberi jeda panjang dalam kalimatnya untuk menghela napas kasar yang terdengar sangat frustasi. Setelah beberapa menit berlalu, Della mengangkat wajahnya.
Reinald dapat melihat jelas kedua bola mata Della yang berkaca-kaca serta berubah warna kemerahan. "Namun hatiku belum rela. Aku belum bisa mengikhlaskan kebahagianmu di atas duka kita karena kepergiannya," lanjut Della. Kedua tangannya bergerak menghapus air mata yang mulai mengalir.
Terdengar isakan kecil yang lolos dari bibir Della. Della menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, kemudian bahunya mulai bergetar. "Maafkan aku, Rei. Maafkan aku yang bertingkah egois."
Reinald benar-benar hanya diam. Reinald berdiri dengan kedua kaki yang terkatup rapat dan kaku, berusaha untuk tidak goyah. Reinald mewajarkan tindakan Della karena dulunya mereka bertiga adalah teman baik. Dirinya, istrinya, dan Della menghabiskan seluruh masa kuliah mereka bersama meskipun Della berada di jurusan yang berbeda.
Della jugalah saksi kisah percintaan mereka mulai dari; masa pendekatan, masa pacaran, masa pernikahan, kelahiran Christopher, dan bahkan Della juga ada saat istrinya dimakamkan. Della menangis paling kencang dan paling merasa kehilangan.
Reinald mengangkat tangannya, kemudian menepuk pundak Della dengan lembut.
"Apa kamu masih memikirkannya seperti aku?" tanya Della.
"Tentu," jawab Reinald pilu. "Dia selalu ada di sini," Reinald menunjuk dadanya. "Tidak ada orang di dunia ini yang bisa melupakannya."
"Apa aku boleh tahu alasanmu yang telah memutuskan untuk mulai membina hubungan baru?"
Pandangan mata Reinald menatap kea rah dinding, namun terlihat kosong, seperti tengah mengingat sesuatu. Telapak tangannya meremas kemeja yang ia gunakan di bagian dada kiri, "Karena jantung yang sudah lama tidak berdegup kencang ini, tiba-tiba kembali berdegup kencang saat aku melihatnya dipertemuan pertama kami."
"Bahkan hanya dengan membahasnya... jantung ini tetap berdegup dengan sangat kencang. Wajahnya juga terbayang-bayang dalam pikiranku," lanjut Reinald, kali ini ia menatap Della sambil tersenyum.
"Kalau begitu, kamu juga harus mulai terbiasa dengan bantahan-bantahanku."
Tiba-tiba Reinald teringat dengan kalimat yang diucapkan oleh Celine. Kalimat yang memintanya untuk terbiasa dengan bantahan-bantahan Celine di masa yang akan datang.
"Semua kekeras kepalaannya... betapa dia mencoba untuk kuat dalam menghadapi dunia yang sangat kejam ini sendirian, perlahan tapi pasti mulai menarik perhatianku. Dia yang menghidupkan jantung ini kembali. Secara tidak sadar, dia juga menerangi duniaku yang berubah kelam semenjak Mama Chris tiada," aku Reinald diiringi dengan senyum tipisnya.
***
selengkapnya bisa dibaca di karyakarsa: lyanchan
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top