22. Hell
Brace yourself, this chapter is full of flashback
.
.
Naura keluar dari toilet 15 menit kemudian. Setelah mencuci muka dan berharap itu bisa menutupi mata sembabnya, dia kembali ke tempat Rafisqi. Angel dan Ratu masih disana, mengobrol dengan pria itu. Angel-lah yang pertama menyadari kedatangannya dan langsung memberi senyum penuh arti. Naura berusaha sekuat tenaga untuk tidak beradu pandang dengan gadis itu. Bisa-bisa pertahanan dirinya jebol lagi.
"Naura, kenapa lama-"
"Maaf. Aku duluan." Tanpa menunggu Rafisqi selesai bicara, Naura mengambil tasnya yang ada di kursi. "Permisi semuanya."
Setelah memaksakan sebuah senyum, dia melangkah buru-buru menuju pintu keluar.
Tadinya dia berniat mencari taksi dan langsung pulang. Bodoh amat dengan pesan Naufal yang melarangnya naik taksi sendirian malam-malam. Tapi mungkin karena sekarang memang hari sialnya, tidak ada satu pun taksi kosong yang lewat. Pasrah dengan keadaan, Naura memutuskan untuk pergi ke halte bus terdekat. Dia tidak mau ada di dekat restoran itu lebih lama.
Mau tahu kesialan selanjutnya yang menanti Naura? Sesampai di halte, bus yang ditunggu lewat begitu saja di depan matanya. Butuh sekitar 15 menit lagi sampai bus selanjutnya datang. Hal sial lainnya, tidak ada orang lain selain Naura di halte yang cukup gelap tersebut.
Naura menghenyakkan tubuhnya di bangku yang ada disana dan mencoba menghubungi Lesty. Tapi nomor yang dia tuju malah tidak aktif, hingga akhirnya dia memutuskan mengirim pesan.
Lesty.ayu
(19.46) Aku ketemu Angel dan Ratu
Tepat setelah pesan itu terkirim, Naura mendapat panggilan telepon dari Rafisqi. Dia memutuskan untuk mengabaikannya dan menyimpan ponselnya dalam tas.
"Kau memang sengaja mengikutinya kemana-mana 'kan? Dasar cewek murahan!"
Naura refleks memejamkan mata saat ingatan lain menghampirinya. Dia bahkan dapat mendengar suara-suara itu dengan jelas di pikirannya, seolah baru mendengarnya kemarin dan bukannya belasan tahun lalu.
"Tidak punya kaca ya di rumah?"
"Cewek gila!"
Dan Naura menyerah. Dia tidak punya tenaga lagi untuk sekedar menghindar dari kenangan.
***
"Eh, coba lihat cewek itu!"
"Yang pakai bendo ungu? Kenapa?"
"Dia yang 'itu' loh. Yang lagi heboh."
"Oh? Fans gilanya Kak Rafi?"
Naura terkesiap saat seseorang menutupi kedua telinganya dengan tangan. Dia mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk dan mendapati Lesty sedang menggeleng tegas.
"Cukup. Jangan dengar, Ra."
Naura tersenyum kecil. Tidak mungkin tidak dengar 'kan? Mereka membicarakannya tepat di meja sebelah, dengan suara keras pula. Seperti memang sengaja ingin didengar.
"Beritanya sudah menyebar ke seluruh sekolah," gumam Naura sambil mengaduk-aduk sotonya tanpa minat. "Bahkan guru-guru saja tahu."
"Ya terus kenapa?" Lesty terlihat semakin emosi. "'kan semua itu bohong!"
"Tapi semuanya pikir itu benar." Kali ini Naura menusuk-nusuk bakwan yang ada di mangkok sotonya. Dia membayangkan kalau bakwan itu adalah orang yang telah menyebabkannya mengalami semua ini. "Dibandingnya aku bukan siapa-siapa. Semua orang disini SAYANG Rafisqi. Semua pasti akan ada di pihaknya."
***
Berita itu beredar seminggu setelah kejadian waktu Rafisqi tidak sengaja mendengar pembicaraan Naura dan Lesty. Lebih tepatnya di awal-awal semester dua kelas dua SMP. Tanpa tahu siapa yang memulai, tiba-tiba saja tersebar kabar kalau ada siswi tidak tahu diri yang nekat menyatakan cinta ke Rafisqi. Sebenarnya berita tentang 'seseorang yang menyatakan cinta ke Rafisqi' adalah hal biasa di SMP Bhinneka. Bisa dibilang itu sudah jadi gosip sehari-hari disana yang akan hilang dalam hitungan hari.
Tapi berbeda dengan kasus Naura.
Gosip itu tetap bertahan hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan nahasnya... hingga satu setengah tahun kemudian.
Dan dia bahkan tidak benar-benar menyatakan cinta ke Rafisqi.
***
Sebenarnya sudah biasa bagi Naura untuk ikut rapat gabungan dengan OSIS satu kali sebulan. Dia menjabat sebagai sekretaris PMR dan memang sudah tugasnya untuk menemani ketua atau wakil ketuanya di rapat tersebut. Sayangnya, hal tersebut malah dipandang oleh teman-teman dan fans-nya Rafisqi sebagai tindakan tidak tahu malu. Mereka menganggap tujuan Naura ikut rapat itu untuk bertemu sang wakil ketua OSIS, alias Rafisqi.
Seakan itu belum cukup, Naura malah ditunjuk sebagai sekretaris acara Pensi. Pensi di sekolahnya merupakan tanggung jawab semua pihak, bukan cuma OSIS, dan kepanitiaannya dibentuk dari gabungan semua organisasi sekolah.
"Memang yang jadi ketuanya siapa?" tanya Naura pada teman di sebelahnya, beberapa detik setelah dia setuju untuk jadi sekretaris. Lebih tepatnya, dia terpaksa setuju karena tinggal dia satu-satunya siswa perempuan dari kelas dua yang belum dapat tugas.
"Ketiduran, ya?" Temannya menatapnya aneh dan kemudian memberi isyarat untuk melihat ke depan. "Tuh, lihat di papan."
Dan rasanya Naura ingin terjun saja dari lantai tiga waktu melihat nama Rafisqi tertera disana sebagai ketua pelaksana.
Sejak itulah semuanya mengira Naura akan melakukan apa pun agar berada di dekat Rafisqi. Padahal baik dia maupun Rafisqi biasa saja. Si Rafisqi tetap cuek dengan semua gosip yang melibatkannya dan Naura selalu berusaha bersikap profesional dengan bertugas dengan baik. Mereka berdua bersikap seolah kejadian pagi itu tidak pernah ada. Tapi Naura tetap saja memperoleh berbagai julukan baru, seperti: 'Fans Gilanya Rafi', 'Cewek murahan' dan 'Si tidak tahu malu'. Sebenarnya masih banyak julukan lain yang terus berkembang sesuai kreatifitas penggunanya, tapi Naura memutuskan untuk menulikan telinga saja.
***
Naura bisa saja bertahan dengan ejekan dan pembullyan verbal yang diterimanya. Toh, dia bisa bersikap seolah-seolah tidak dengar. Tapi dalam waktu singkat, level pembullyannya meningkat ke level fisik. Siswi-siswi, yang jauh lebih layak menyandang predikat 'Fans Gilanya Rafisqi', mulai melakukan tindakan yang pastinya mereka tiru dari sinetron-sinetron sesat di TV.
Bukan sekali dua kali Naura harus terkunci di toilet dan baru bisa keluar waktu ada orang lain yang kebetulan ingin pakai toilet itu. Pernah juga dia terkurung sampai jam pulang sekolah, sampai akhirnya diselamatkan oleh penjaga sekolah yang sedang patroli. Siraman air dingin, jambakan di rambut, bahkan tubuhnya yang didorong tiba-tiba hingga tersungkur, sudah jadi makanan sekari-hari bagi Naura.
Lalu memangnya Naura tidak melawan?
Di awal-awal tentu saja Naura melawan tindakan semena-mena itu. Mereka berteriak, dia balas teriak. Mereka menjambaknya, dia akan balas menjambak lebih keras. Mereka menguncinya di kamar mandi, dia akan langsung mengadu ke guru.
Tapi Naura belajar dari pengalaman kalau perlawanannya itu cuma akan memperburuk keadaan. Mereka akan membalasnya lagi berkali-kali lipat lebih parah. Hingga akhirnya Naura tidak punya pilihan lagi selain pasrah dan menerima saja perlakuan kasar yang dilakukan padanya.
Dan dia malah menyeret Lesty ke dalam masalahnya.
"Heh, jalang! Dasar Ratu ular! Malaikat iblis! Masih kecil sudah jadi preman? Mau jadi apa, hah?!"
Kalau sudah begitu, sedetik kemudian pasti terjadi perang. Lesty bahkan tidak takut sedikit pun walau ada empat orang yang mengeroyoknya. Meski masih SMP, sahabatnya itu sudah jadi atlet karate andalan kabupaten. Mudah saja baginya untuk mencengkram rambut Ratu dengan tangan kiri, memelintir lengan Angel dengan tangan kanan, dan menahan dua orang lainnya dengan kuncian kakinya.
Sementara Naura hanya bisa panik memikirkan dampak kejadian itu pada hidupnya esok hari. Angel, Ratu dan teman-temannya pasti akan menyerangnya lagi ketika Lesty tidak ada.
***
Terlalu lama mendapat perlakuan seperti itu membuat Naura menjadi pribadi yang tertutup dan pendiam. Rasa percaya dirinya menurun drastis dan dia selalu was-was tiap kali bertemu orang baru. Sekolah jadi terasa seperti siksaan dan Naura bersedia melakukan apa pun agar dapat meninggalkan tempat itu lebih cepat. Dia tidak bisa hidup di tempat, dimana semua orang adalah musuhnya. Hanya Lesty dan teman-teman sekelas yang masih ada di pihaknya.
Di luar itu adalah neraka.
Semua orang berbicara jelek dan berburuk sangka di belakangnya, tidak terkecuali para guru.
"Naura, ibu paham kok sama kehidupan ABG. Kau boleh saja suka seseorang. Tapi jangan sampai itu mengganggu sekolahmu."
Naura benar-benar makin terpuruk waktu tahu wali kelas sendiri termakan gosip itu.
"Dan juga, usahakan jangan ganggu Rafisqi. Sebentar lagi musim olimpiade. Dia harus fokus belajar. Ibu tidak mau semua keributan ini mengganggunya."
Setelah mendengar itu Naura cuma bisa menangis di depan Lesty.
"Ra, pokoknya aku akan lapor Uda!"
Naura menggeleng keras. Sebenarnya itu bukan pertama kalinya Lesty berniat melaporkan semuanya ke Naufal. Berkali-kali sahabatnya itu menyarankan hal yang sama, tapi Naura menolaknya.
Waktu itu adalah masa-masa Naufal disibukkan oleh skripsi. Udanya yang jenius itu selalu mengambil kelas akselerasi waktu sekolah dan memang berpotensi menyelesaikan sarjana sebelum umur 20 tahun. Selain kuliah dan skripsi, Naufal juga harus bekerja di perusahaan keluarga. Naura tidak tega mengganggu kakak laki-lakinya itu. Dia juga tidak mau membuat kedua orangtuanya yang ada di Inggris panik. Bisa-bisa dia disuruh pindah ke Inggris saat itu juga.
***
Seiring berjalannya waktu, pembullyan fisik tidak lagi separah biasanya. Tapi gosip buruk itu terus beredar sampai Naura berada di kelas tiga. Siswa baru yang tidak tahu apa-apa juga ikut termakan gosip dan mulai ikut bicara yang tidak-tidak tiap kali Naura lewat.
Semua tetap seperti itu sampai Naura lulus.
Lulus dari SMP itu terasa seperti nikmat dunia. Disaat sebagian besar teman SMP-nya memilih lanjut ke SMA Bhinneka yang yang masih satu yayasan, Naura memutuskan untuk pergi ke SMA yang jauh. Lanjut sekolah di SMA Bhinneka sama saja dengan memperpanjang masa hidupnya di neraka.
Neraka satu setengah tahun itu sudah lebih dari cukup bagi Naura. Semuanya terlalu berat untuk ukuran anak SMP manapun. Sementara itu, si biang keroknya malah pindah ke Amerika pada pertengahan kelas 3 tanpa peduli apa yang terjadi pada Naura.
Tanpa meluruskan kesalahpahaman yang berlarut-larut, Rafisqi menghilang begitu saja.
***
Naura tersadar saat mendengar bunyi klakson panjang dari kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Dia buru-buru menyeka air mata dan meraih ponselnya yang ternyata sedang bergetar menampilkan telepon masuk. Tadinya dia berharap itu telepon dari Lesty, tapi malah nama Rafisqi yang terpampang di layar. Panggilan itu berhenti tidak lama kemudian, dan kemudian di display ponsel terpampang pemberitahuan 11 panggilan tak terjawab dari nomor Rafisqi. Beberapa detik kemudian, masuk panggilan yang ke-12.
"Aku benci kau, Rafisqi."
Sekali lagi Naura terisak pelan dan membiarkan air matanya jatuh membasahi layar ponsel, yang masih berkedip-kedip menampilkan nama Rafisqi.
"Benci...."
"Heh, itu orang ganteng menelepon kok nggak diangkat sih? Masa' cuma dilihatin?"
Mendengar suara itu, Naura sontak mengangkat kepalanya dan langsung beradu pandang dengan Rafisqi. Pria itu berdiri tepat di depannya dengan sebelah tangan sedang menahan ponsel di telinga. Sedetik kemudian, ekspresinya berubah panik.
"Kau... kenapa?"
Naura buru-buru menunduk dan menyeka air matanya. Tapi Rafisqi malah berlutut di depannya dan berusaha untuk melihat wajah Naura.
"Baik-baik saja? Kenapa nangis? Naura?"
"Tidak kenapa-napa," jawabnya sambil menoleh ke samping, berusaha menghindari tatapan Rafisqi.
"Jangan menangis."
Dibilangin begitu Naura malah makin menangis sesenggukan. Karena tidak bisa lagi mengelak dari Rafisqi, akhirnya dia menangis sambil menutupi wajahnya dengan tangan.
Rasanya aneh. Menangis di depan orang yang menjadi penyebab dari semuanya. Tapi Naura sudah tidak tahan lagi. Ketakutan yang terus dia bawa dari SMP, malam ini kembali muncul ke permukaan. Selama ini Naura hidup tenang walau harus menyimpan trauma itu sendirian. Bahkan Naufal sekalipun tidak pernah tahu dia dibully. Yang tahu cuma Lesty, Della, Gilang, dan beberapa orang sepupunya. Sekarang tiba-tiba Angel dan Ratu kembali muncul, membuat Naura takut nerakanya masih belum berakhir.
Beberapa saat yang lalu dia memang bilang 'benci' ke Rafisqi. Tapi setelah melihat pria itu lagi, tiba-tiba datang menyusulnya kesini dan terus bertanya dengan tampang panik, entah kenapa Naura jadi mempertanyakan dirinya sendiri.
Sejak kapan membenci Rafisqi jadi tidak segampang biasanya?
***
Yaak, jadi begitulah :')
Sekarang udah pada tahu 'kan, kenapa Naura benci tingkat dewa sama Rafisqi?
Aku berusaha bikin biar gregetnya nyampe. Tapi maaf ya kalau ternyata gak se-greget itu 😅
Bagaimana pendapatmu tentang chapter kali ini?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top