16. Impossible Gift
"Oke selesai." Naura menggantungkan tabung infus yang masih penuh itu di bagian atas tiang. "Sudah saya ganti ya, Bu. Apa ada lagi yang lain?"
Seorang wanita berjilbab yang sejak tadi berdiri di sebelahnya menggeleng. "Makasih, Suster."
Naura membalas senyum wanita itu. "Jangan lupa bangunkan Eki sejam lagi ya, Bu." Pandangan Naura tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang tertidur pulas di atas dipan rumah sakit. "Dia harus minum obat."
"Baik, Suster. Terima kasih."
Setelah itu Naura bilang permisi dan keluar dari ruang rawat inap. Ponselnya bergetar tepat setelah dia menutup pintu dan Naura terkesiap saat mendapati nama "Rafisqi" muncul di layar.
Sejak kejadian malam itu, Naura dan Rafisqi nyaris tidak saling bicara dengan satu sama lain. Keesokan harinya, pada hari Minggu, Dharma mengumumkan kalau waktu liburan mereka terpaksa diperpendek karena Balqis ada urusan mendadak. Mereka terpaksa kembali ke kota pagi harinya, bukan sore hari seperti rencana semula.
Untuk kali ini, Naura bersyukur liburan berakhir lebih cepat. Dia tidak sanggup berada di dekat Rafisqi lebih lama. Pria itu memang tidak menunjukkan tanda-tanda akan marah atau pun membalas perbuatannya. Rafisqi tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa, sementara Naura dengan sejuta rasa bersalahnya malah bingung harus bersikap bagaimana. Seharusnya dia minta maaf 'kan? Tapi gimana Naura bisa minta maaf kalau memulai bicara dengan Rafisqi saja dia tidak berani?
Dan sekarang, tiba-tiba saja Rafisqi meneleponnya, dengan bertubi-tubi pula. Naura baru mengangkatnya pada panggilan yang keempat.
"Halo?"
"Lama amat jawabnya," balas Rafisqi dari seberang telepon. "Sedang apa sih?"
"Aku? Baru selesai mengurus pasien," jawab Naura canggung. Setelah itu dia terdiam cukup lama karena tidak tahu harus bicara apa lagi.
Kau sedang bicara dengan SATU-SATUNYA orang yang pernah kau TAMPAR.
Hatinya tidak bisa mengindahkan fakta tersebut.
"Kenapa? Kau merasa bersalah padaku?" tanya Rafisqi santai, terlalu santai malahan.
"Eh?" Sementara Naura yang tidak menduga datangnya pertanyaan tepat sasaran seperti itu malah semakin kehilangan kata-kata.
"Satu atau dua tamparan tidak ada pengaruhnya padaku, kau tahu? Aku tidak akan mengadu ke Papih, lalu merengek minta perjodohanku dengan gadis bar-bar sepertimu dibatalkan. Kau salah besar kalau berpikir begitu." Pria itu menutup kalimat panjangnya dengan kekehan menyebalkan.
"Kalau begitu... sayang sekali." Seulas senyum tipis terukir di bibir Naura tanpa permisi. Artinya dia tidak perlu merasa bersalah lagi 'kan? Naura lega, tentu saja. Dia tidak pernah menyangka seorang Rafisqi bisa memberinya perasaan positif seperti 'lega'.
"Jadi benar kau merasa bersalah?" goda Rafisqi di seberang telepon.
"Berisik!"
Rafisqi mulai bersikap menyebalkan seperti bisa. Naura malah merasa bodoh karena sempat-sempatnya merasa bingung untuk memulai percakapan dengan pria itu.
"Lalu kenapa tidak balas chat-ku?"
Naura menarik napas dalam-dalam. "Rafisqi, mau mati, ya? Kau lupa siapa yang melempar ponselku ke laut?" Saat ini Naura menggunakan ponselnya yang lama, yang kameranya hanya 1 MP, tanpa kamera depan, tanpa layar touchscreen dan tentunya tanpa aplikasi chatting. Tapi setidaknya ponsel yang ini akan tetap nyala walaupun Naura melemparnya ke kepala Rafisqi berkali-kali.
"Kau bicara seperti aku sengaja melakukannya! Aku tidak sengaja tahu!"
Yang begitu namanya tidak sengaja?
Naura betul-betul heran dengan pria yang satu itu. Padahal 'kan jelas sekali Rafisqi melempar ponselnya dengan sekuat tenaga.
"Terserah apa katamu. Yang jelas ponselku tewas di tanganmu! Titik!" Naura sadar dia bicara terlalu keras ketika beberapa orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit melirik ke arahnya. "Sudah. Aku mau siap-siap pulang." Dan dia memutus sambungan telepon tidak penting itu.
Tentu saja, Rafisqi kembali menelepon beberapa detik kemudian.
"Hm," jawabnya malas-malasan.
"Aku sedang di rumah sakit tempat kerjamu."
Naura sontak berhenti di tengah jalan. "Hah?"
"Kutunggu, oke? Beres-beres sana."
Sekali suka seenaknya akan tetap suka seenaknya sampai kapan pun. Sekali lagi Naura tidak mengerti kenapa bisa-bisanya dia merasa bersalah pada orang seperti Rafisqi. Sekarang dia malah merasa kalau satu tamparan sama sekali tidak cukup.
"Ngapain? Pulang sana!" usir Naura.
"Aku sedang jalan ke gedung rawat inap anak-anak."
"Jangan!" Naura langsung panik. "Oke. Oke. Tunggu di parkiran saja. Jangan masuk! Pokoknya jangan masuk!"
Naura tidak ingin ambil risiko rekan-rekan kerjanya mengetahui eksistensi seorang Rafisqi. Mengingat sikap Rafisqi, pria itu pasti hanya mengatakan hal-hal yang akan menyulitkan Naura nantinya.
***
Setelah berkemas dan berganti pakaian dengan terburu-buru, Naura langsung menuju ke parkiran rumah sakit. Setelah melirik ke segala penjuru demi memastikan tidak ada rekan kerjanya yang melihat, dia cepat-cepat masuk ke mobil Harrier hitamnya Rafisqi. Pria itu masih dalam balutan pakaian kerja dengan dasi yang terikat longgar di leher dan lengan kemeja yang digulung sampai sebatas siku. Naura mengasumsikan kalau Rafisqi baru saja dari kantornya.
"Hm? Cepat juga. Tidak sabar ingin bertemu denganku?" Rafisqi segera memasukkan persneling dan menjalankan mobil begitu Naura menutup pintu. "Kalau begini, aku tidak keberatan sering-sering ditampar."
Naura melempar tatapan tajam kepada pria itu. Sejujurnya dia cuma tidak mau Rafisqi bertindak nekat dengan datang ke tempat kerjanya. Tapi Naura memutuskan untuk tidak mengatakan alasan sebenarnya. Dia tidak ingin memberi pria itu ide untuk membuat hidupnya lebih sulit.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Tentu saja menjemput tunanganku," jawab Rafisqi seolah itu hal yang wajar dan seharusnya Naura tidak perlu bertanya lagi.
"Turunkan aku. Sekarang," perintah Naura yang mulai meragukan keputusannya untuk menemui pria itu. Satu-satunya yang dia syukuri saat ini hanyalah hubungan mereka yang sudah kembali seperti sebelumnya.
"Sudah makan siang?" tanya Rafisqi tiba-tiba. "Kalau pun sudah, kau tetap harus ikut sih. Setidaknya menemaniku makan."
Ini orang maunya apa?
"Dasar jomblo."
"Kau bilang apa, Sayang?"
"Tidak ada apa-apa kok," balas Naura semanis mungkin. Padahal dalam hatinya dia sudah melancarkan rutukan beruntun.
Jomblo. Sok ganteng. Menyebalkan. Jones. Diktator.
***
Dan untungnya Naura memang belum makan siang. Tadi jadwalnya mengantarkan makanan dan kunjungan rutin ke kamar-kamar pasien, sehingga belum sempat mengisi perutnya sendiri. Selain itu, makan bareng Rafisqi itu sama saja dengan ma-kan gra-tis se-pu-as-nya. That goes without saying. Sudah hukum alam. Bukannya Naura matre. Dia hanya senang membuat pria itu susah. Sesederhana itu.
Well, memang seperti inilah seharusnya hubungan antara Naura dan Rafisqi. Tidak perlu ada yang namanya kecanggungan dan rasa bersalah.
"Memangnya tidak ada teman sekantor yang bisa diajak makan apa? Sekretaris atau siapa gitu? 'Kan lumayan sambil PDKT. Siapa tahu jodoh. Kalau seperti ini 'kan jelas sekali jomblonya."
"Kau sudah mengataiku 'jomblo' dua kali!"
"Memang iya?" jawab Naura tidak peduli dan meneruskan memakan makan siangnya dengan khidmat.
"Kalau mau, aku bisa dapat perempuan mana pun yang kuinginkan." Rafisqi memberikan pembelaan diri yang sama sekali tidak ada artinya bagi Naura.
"Tapi kau tetap jomblo tuh."
Tapi seandainya Rafisqi memang benar-benar mendapatkan gadis lain, Naura juga yang senang.
"Sendirinya juga jomblo," debat Rafisqi.
"Setidaknya aku tidak menutup hati secara permanen."
Beberapa detik selanjutnya tidak ada kata-kata balasan yang dilontarkan Rafisqi dan Naura mulai sadar kalau dia sudah bicara terlalu jauh.
Dia berdehem pelan demi memecah suasana canggung tersebut.
"Jadi, kenapa tiba-tiba mengajakku makan siang?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. "Aku senang saja sih ditraktir. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, rasanya mencurigakan. Seperti ada hal mengerikan yang akan terjadi padaku. Kayak cuaca tenang sebelum badai."
"Berprasangka buruk padaku sudah jadi hobimu?" sinis Rafisqi
Tentu saja Naura langsung tertawa mendengarnya. "Aduh, Rafisqi ngambek," godanya. "Tidak. Aku tidak punya hobi yang tidak berfaedah begitu. Anggap saja mekanisme pertahanan diri."
Tawa Naura terhenti waktu Rafisqi mengangsurkan sebuah tas kertas kecil ke arahnya tanpa memberi penjelasan apa pun.
"Apa ini?" tanyanya penasaran. "Hadiah?" Pemikiran mengenai 'Rafisqi memberi hadiah' tiba-tiba saja terasa mengerikan bagi Naura. Tanpa menunggu jawaban, dia membuka tas tersebut dan menemukan sebuah kotak putih di dalamnya. Sedetik kemudian dia ber-oh pelan. Rafisqi memberinya sebuah ponsel.
"Setelah ini stop mengungkit ponsel yang rusak di laut," seru Rafisqi pada akhirnya.
Naura membuka kotak tersebut. Ponsel yang ada di dalamnya terlihat lebih mahal dan juga lebih canggih dibanding ponselnya yang lama.
"Seharusnya kau cukup ganti dengan tipe yang sama," komentar Naura. "Tapi, yaa... Makasih. Dan kau kumaafkan." Terakhir dia memberikan cengiran lebar untuk pria itu.
"Good to hear that," balas Rafisqi datar, sama sekali tidak terlihat senang seperti yang dikatakannya. Dia lebih sibuk makan dibanding menanggapi ucapan 'terima kasih' setulus hati Naura.
Naura menyadari hal lain saat dia mengeluarkan ponsel itu dari kotaknya. Sebuah gantungan hiasan berwarna ungu menggantung di pinggir ponsel. Beraneka ragam manik-manik berkilauan berbentuk kerang, ikan, ubur-ubur dan bintang laut menghiasi gantungan ponsel tersebut.
"Itu idenya Mbak Balqis kok," sela Rafisqi sebelum Naura sempat berkata apa-apa. "Aku tidak mungkin membeli benda norak kekanak-kanakan seperti itu."
"Cantik," puji Naura bersungguh-sungguh. Jujur saja, di matanya gantungan tersebut sama sekali tidak terlihat norak. "Makasih."
"Dan berhubung aku tidak mau dikatai sebagai pria jahat yang bahkan tidak memberi hadiah ulang tahun untuk tunangannya... anggap itu hadiah."
"Ini pertama kalinya aku bahagia jadi tunanganmu." Naura tertawa karena perkataannya sendiri.
"Karena ponselnya atau gantungannya atau orang yang memberikannya?"
"Karena gantungan 'norak'mu ini," jawab Naura blak-blakan. "Karena kau bilang ini hadiah dan karena aku tidak menyangka kau kepikiran untuk memberi hadiah. Intinya gantungan ini seperti ketidakmungkinan yang ternyata mungkin. Katakan, Rafisqi. Kau mulai jatuh cinta padaku?"
Dan Rafisqi langsung terbatuk-batuk karena tersedak makanannya.
"Well, guess not," imbuh Naura cuek begitu melihat reaksi pria itu.
"Itu ketidakmungkinan yang selamanya akan tetap tidak mungkin!" bantah Rafisqi yang baru saja menghabiskan air satu gelas penuh. Wajahnya memerah. Sepertinya dia benar-benar tersedak parah.
"Iyaa. Tahu kok."
"Lagian kau aneh. Dikasih ponsel bagus malah fokus ke gantungannya."
"All about this is perfect." Naura mengangkat ponsel itu di depan wajah dan fokus pada manik-manik di gantungannya yang berkerlap-kerlip ungu ketika tertimpa cahaya. "Ya, kecuali orang yang memberikannya."
"Menyindirku juga jadi hobimu?" protes Rafisqi tidak terima.
Naura mulai mengotak-atik ponsel barunya setelah sebelumnya menyisipkan kartu sim-nya yang lama. "Anggap saja begi- Tunggu. Apa ini?"
Wallpaper yang muncul ketika ponsel dinyalakan berhasil membuat Naura mengernyit tidak suka.
"Kenapa malah fotomu?!"
"Kenapa? Tampan ya?"
Foto itu pastinya bukan diambil di Indonesia. Disana ada Rafisqi dalam balutan long coat hitam dan syal merah tua, dengan latar belakang pepohonan dan daun-daun yang berguguran. Kedua tangannya dimasukkan ke saku, rambut hitam legamnya agak berantakan karena tertiup angin dan dia tertawa ke arah kamera.
Hmm.. Tampan sih. Sayang itu seorang Rafisqi. Tampan pun tidak akan ada nilainya bagi Naura.
"Nggak," putusnya tanpa ragu.
"Bohong. Kau sampai memandangi fotoku seserius itu."
"Cuma mencoba menemukan dimana letak tampannya. Ternyata memang tidak ada."
Tadinya Naura ingin langsung menggantinya dengan wallpaper bawaan ponsel yang ada di galery. Tapi sebuah panggilan telepon masuk membuatnya menunda niatnya. Terlebih ketika dia melihat nama 'Ditya' terpampang di layar.
Dengan penuh antisipasi, dia melirik Rafisqi sekilas. Menyadari tampang tidak peduli pria itu, Naura merasa bodoh karena sempat ragu-ragu. Tidak mungkin si Rafisqi bakalan merusak ponsel yang baru dibelikannya ini 'kan?
"Halo, Naura?" Suara Ditya. "Sedang apa? Kenapa chatku tidak di read?"
"Lagi makan siang. Maaf ya, ponselku kemarin bermasalah."
"Nanti sore ada acara? Bisa ketemu?"
Naura lagi-lagi merasa jantungnya berdebar cepat bukan pada tempatnya.
Tahan diri! Tidak boleh baper!
"Rencananya mau pulang ke rumah," jawabnya, berusaha tidak terdengar gugup. "Kenapa?"
"Bisa datang ke café? Sebentar saja kok."
Salahkah Naura karena mulai berspekulasi macam-macam?
Ditya sudah punya Arin! Berhenti berpikir aneh-aneh!
"... Boleh."
Tidak ada salahnya 'kan datang sebentar?
"Oke." Suara Ditya terdengar lebih ceria. "Kutunggu ya. Dah, Naura."
"Dah."
"Siapa?" Rafisqi bertanya begitu Naura mematikan telepon.
Naura memberikan jawaban teraman yang semoga saja bisa menjauhkan ponsel barunya dari bahaya.
"Teman."
Untung Rafisqi tidak melakukan tindakan apa-apa.
***
Thanks for reading ^^
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top