7. Unexpected Truth

🎶🎶 Tujh Mein Rab Dikhta Hai - Cover by Shreya Karmakar

Seberapa banyak usahaku untuk melupakan, sebanyak itu pula semakin merindukan.

-Aldyo Altezz Verdianto


"Ngapain pelukan? Enggak ajak-ajak gue juga!"

Anindya langsung menghambur ke arah Aeri, Any, dan Cicit yang sedang berpelukan. Dia tidak perlu bertanya penyebabnya. Karena bisa dipastikan jika Any dan Cicit sudah berbaikan kembali.

Akibat insiden kecoak tiga hari lalu inilah yang menyebabkan terjadi kesalahpahaman di antara Any dan Cicit terjadi. Dan malam ini semuanya sudah terselesaikan. Satu beban masalah terangkat. Bahu Anindya terasa sedikit ringan.

"Wah, oleh-oleh dari Paris." Anindya bersorak gembira menerima oleh-oleh dari Aeri. "Makasih, KaAer. Isinya apa'an nih?"

Anindya pun segera mengeluarkan isi paper bag. Ketika tahu isinya, bibir Anindya mengerucut. Ada bedak, lipstick, dan juga minyak wangi. "Ish, kenapa enggak ngasih tau kalau mau ngasih ini? Mungkin gue enggak akan beli itu." Telunjuk Anindya menunjuk ke arah dua paper bag dibawanya tadi. Tas kertas itu masih berada tak jauh darinya.

Any, Aeri, dan Cicit serempak melihat ke sana.

"Lo abis borong skincare sama make up, Nin?" tanya Aeri.

"Enggak. Gue abis kesurupan tadi. Huhu ... duit gue." Anindya semakin menyesali sudah membeli barang-barang tersebut.

"Baguslah. Muka lo bakal lebih cerah dan kinclong." Aeri terkikik melihat ekspresi Anindya yang masam ketika mendengar ucapannya.

"Gue enggak butuh skincare yang mencerahkan kulit, tapi butuh skincare yang bisa mencerahkan masa depan."

Sontak saja Any dan Cicit tertawa lepas mendengarnya. Begitu pula dengan Aeri.

Mereka berempat pun mengobrol. Ada yang kurang. Si bungsu Cia tidak hadir. Padahal kalau formasi lengkap, bisa dipastikan malam ini BobaMoza akan semakin semarak dengan gelak tawa mereka berlima.

Anindya memutuskan untuk menyimpan oleh-oleh dan barang-barang yang dibelinya tadi di dalam loker. Tidak akan dibawa pulang. Lagi pula BobaMoza ini sudah menjadi rumah keduanya. Tunggu saja sampai Any membuatkan kamar khusus untuknya. Anindya pasti akan pindah ke sini.

Tidak perlu lagi repot-repot kos.

Ketika keluar dari ruangan loker, di ambang pintu Anindya bertemu dengan Ino. Sepertinya dia habis menerima telepon.

"Baru nyampe?" Ino menyapa lebih dulu.

"Heem." Anindya tampak lesu.

"Kalau capek, kenapa bela-belain ke BobaMoza? Dari muka lo kayaknya belum ngambil keputusan dari pembicaraan kita tempo hari?" Ino menatap Anindya intens.

Anindya menarik napas. "Ada waktu?"

"Kenapa selalu nanyain gue ada waktu atau enggak gitu sih, Nin?" Ino tampak tidak terlalu suka mendengar kalimat Anindya. "Anytime," sambungnya.

Anindya menghela. "Aap mau jemput gue."

Kedua alis Ino bertaut. "Aap?"

"Aprian. Adik gue." Sepertinya Ino lupa panggilan adik Anindya. "Mau jemput buat pulang ke Bandung kalau dalam 2 minggu gue enggak ngasih keputusan." Diucapkan dalam satu tarikan napas.

Ino menyandarkan punggungnya ke dinding. "Lo masih belum mau balik?"

Anindya mengangguk. "Kayaknya gue enggak bakal balik. Sudah ketebak juga apa yang bakal terjadi nanti."

"Terus, lo mau ngapain?" tanya Ino.

"Nyari tameng buat enggak pulang," jawab Anindya yang membuat Ino langsung menegakkan kembali tubuhnya.

"Tameng gimana? Enligten me."

Anindya berpikir sebentar. Kemudian menatap Ino dari atas ke bawah, lalu kembali lagi. Seperti sensor yang sedang memindai sesuatu. "Pacar? Mungkin."

Ino mengerjap. Mulai paham arah permbicaraan Anindya. "Enggak ya. Gue enggak mau dijadikan tameng." Dia menggelengkan kepala.

Terdengar suara tawa Anindya. Sudah menduga jika Ino akan menolak ide gilanya ini. "Lo itu milik bersama," ujarnya yang berujung Ino memutar bola matanya.

Kemudian Ino mengatakan sesuatu yang tidak terduga, "Bukannya mantan lo waktu SMA itu datang nyamperin lagi?"

Tawa Anindya menghilang. "Tau dari mana? Siapa nih yang suka bergosip?"

Ino berusaha menahan tawa. Eskpresi kaget Anindya tampak lucu. "There are ears everywhere."

Bibir Anindya mencebik. Hanya sesaat. Wajahnya kembali serius. "Terus, gue kudu gimana? Enggak mau balik." Mimik memelas tampak jelas. "Enggak ada tameng juga. Masa iya minta tolong bang Hovawk? Kalau si Aga sih enggak mungkin banget. Lo punya solusi?"

"Ada. Selesaikan dengan jujur. Solusi gue enggak berubah, Anindya. Lagian, apa bagusnya bohongin orangtua sendiri? Lo kan tau gimana rasanya dibohongi. Kalau enggak mau pulang juga, harus jelasin keberatan lo tuh di mana. Call them at least," tutur Ino panjang lebar.

"Emang gitu bisa?" Anindya masih bimbang.

Ino mengangguk tegas. "Why not?"

Anindya narik napas dalam-dalam. "Oke. Makasih, No. Lo emang selalu bisa diandelin dibandingkan yang lain."

Setelah itu, Ino pamit pulang. Dia pulang bersama Aeri. Sedangkan Any mengantar Cicit. Ini sudah jam sepuluh lebih. BobaMoza pun tutup.

Anindya sendiri tidak bersiap pulang, malah memilih duduk di teras samping BobaMoza. Menghadap ke area outdoor. Tampak lampu kelap-kelip menghias pohon yang berada di sana.

Tak sepenuhnya perhatian gadis 23 tahun ini tertuju pada pemandangan di depannya. Karena pikirannya justru melayang entah ke mana. Hingga Anindya pun tidak menyadari kehadiran seseorang yang duduk di sampingnya.

"Lo belom mau balik?"

Kaget. Iya. Namun, tidak seperti biasanya. Kali ini Anindya hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap ke depan. Membiarkan Ganggara melakukan hal yang sama dengannya.

"Lo abis shopping? Sendiri atau-"

"Sendiri."

Aneh.

Tak ada kalimat tajam. Wajah jutek. Ataupun gebukan. Anindya menjawab singkat dengan nada lemah pula. Seperti semua energinya habis.

Gangga melirik. Meneliti wajah gadis yang duduk di sampingnya. Wajah galak nan jutek menghilang. Menyisakan gurat lelah dan sedih yang terlihat meski samar.

"Gue lelah. Pengin berhenti. Menghilang." Anindya menghela napas. Memejamkan matanya.

"Mau curhat? Gue siap nampung," ujar Gangga.

Anindya kembali menoleh. Tersenyum sekilas. Kemudian mendongak. Menatap langit malam. Hitam kelam, tertutup awan. Mungkin sebentar lagi hujan. Tanpa tahu jika efek dari senyumnya tadi membuat Gangga memalingkan wajah. Menyembunyikan perubahan di wajahnya.

"Gue boleh pinjem bahumu kan, Ga?"

Gangga belum sempat menjawab ketika kepala Anindya sudah terlebih dulu berada di bahunya. Terpaku.

"Hidup gue, kenapa gini banget? Sampai gue sendiri enggak tahu tujuan hidup tuh buat apa. Semua yang sudah direncanakan kandas. Terus yang tersisa cuma bikin sakit kepala." Anindya memejamkan kembali matanya.

Bagi Anindya skinship seperti ini tidaklah masalah. Gangga sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Teman bertengkar yang selalu membuatnya emosi. Walaupun begitu, dia sangat menyayanginya. Apalagi mengetahui latar belakang dari pemuda 20 tahun ini.

Namun, justru canggung yang sedang menyerang Gangga. Tak ada lagi godaan yang biasa dia lakukan untuk memancing omelan Anindya. Tersisa debaran jantung yang hampir membuatnya frustrasi.

Menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya. Seperti itu yang Gangga lakukan. Beberapa kali. Dan sudah sukses membuat Anindya menatap heran padanya.

"Lo kenapa?" tanya Anindya masih dalam posisinya.

"Gue lagi nyontohin yang harus lo lakuin saat ini," jawab Gangga. Sebenarnya dia sedang berkilah. Apa yang dilakukan ini semata-mata untuk mengatur debaran jantungnya yang sudah seperti bertemu dengan maling. Ya, maling hati.

Anindya tertawa kecil mendengar ucapan Gangga. Kembali duduk tegak. Menyerongkan tubuh. Menghadap Gangga. Kemudian tanpa terduga kedua tangannya mencubit pipi Gangga. Gemas. "Duh, gue beruntung banget punya temen kayak lo."

"Apa'an sih? Gue bukan anak kecil." Gangga menepis pelan tangan Anindya dari pipinya.

"Lo tuh adik kecil gue di sini. Hatur nuhun*)." Sekali lagi tanpa terduga Anindya membuat Gangga membeku. Pelukan tiba-tibalah penyebabnya.

Sungguh Anindya tidak tahu jika Gangga sedang berusaha meredam sesuatu di dalam dadanya. Mencoba untuk terlihat seperti biasa. Meski tetap saja ada yang beda.

"Lepas. Ngapain peluk-peluk gue. Lo tuh belum mandi. Bau keringet." Gangga pura-pura menutup hidungnya.

Anindya menggerutu. Bergeser menjauhi Gangga. "Mana ada gue bau. Tadi sempet nyobain tester minyak wangi. Nih, baunya masih nempel." Dia kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Gangga.

Sedangkan Gangga malah menghindar. "Lo tuh enggak akan bisa nyium bau keringat sendiri. Percaya sama gue."

"Percaya sama lo?" Anindya melihat Gangga mengangguk. "Enggak! Percaya mah sama Tuhan. Percaya sama lo itu namanya musyrik."

Bibir Gangga mencebik. Dia tidak membalas ucapan Anindya. Karena memang tadi itu bohong. Apa yang dilakukan hanya untuk menyelamatkan jantungnya. Jika diteruskan mungkin besok harus pergi ke poli jantung.

"Ngomong-ngomong si Aldyo kok enggak keliatan lagi." Gangga memancing pembicaraan.

"Ngapain lo tanyain dia?" Anindya menatap Gangga tidak suka.

"Penasaran aja. Kan biasanya setia banget tuh nungguin sampai berjam-jam."

"Cukup. Enggak usah bahas dia." Ucapan Anindya sudah menyiratkan jika dia kesal dengan topik ini.

"Si berondong juga enggak keliatan. Gue salut sama lo yang punya banyak penggemar." Gangga mencoba mengganti topik pembicaraan.

"Siapa bilang? Seharian dia ngintilin gue. Sampai depan sana malahan." Telunjuk Anindya mengarah ke depan BobaMoza.

Gangga tidak bisa menutupi rasa kagetnya. "Busyet. Udah jadi stalker juga tuh bocah."

"Pusing gue. Kenapa yang suka sama gue tuh enggak ada yang normal?" Anindya mengembuskan napas kasar.

"Kalau gue yang suka sama lo, gimana?"

Tiba-tiba kalimat ini meluncur begitu saja dari mulut Gangga. Dia sendiri tidak menyadarinya dan langsung kaget karenanya. Menatap waswas wajah Anindya yang tak kalah kagetnya.

Namun jauh dari dugaan. Bukan omelan atau gerutuan yang keluar dari bibir Anindya. Melainkan tawa..

"Enggak gimana-gimana juga. Itu urusan lo. Lagian soal suka menyuka kan enggak ada larangannya. Cuma," Anindya menjeda, "gue enggak bisa balik suka sama lo."

Debaran tadi berganti denyutan. Ini yang Gangga rasakan. Tidak ingin terlihat aneh, dia pun ikut tertawa. "Bercanda. Gue enggak suka cewek galak. Bisa habis kalo jadian sama lo tuh. Dikit-dikit dimarahin. Dikit-dikit kena tendang."

Anindya memolotkan matanya. Mulutnya pun sudah terbuka. Siap menyemburkan kata-kata pedasnya, tapi kehadiran Hovawk, membatalkan niatnya.

"Kalian berdua mau nginep di sini? Gue pulang duluan."

"Tungguin gue, Bang. Jangan tinggalin. Ini macam betina siap nyakar."

Gangga berlindung di balik tubuh Hovawk. Menghindari Anindya yang mengamuk. Lebih baik menggodanya sehingga seperti ini. Daripada mencoba untuk membuatnya peka.

🍁🍁🍁

Anindya baru saja selesai berpakaian setelah mandi, ketika pintu kamar kosnya ada yang mengetuk. Tanpa berpikir panjang, dia pun segera membukanya.

Tampaklah seorang perempuan paruh baya, bertubuh subur dengan make up tebal. Dia Bu Mirna. Pemilik kosan ini.

"Ada yang mencarimu tuh, Nin," ujar Bu Mirna.

"Siapa, Bu?" Anindya mengerutkan keningnya. Mencoba menebak siapa gerangan yang mengunjunginya di pagi ini.

"Enggak tau. Tapi ganteng loh. Pacar baru kamu ya?"

"Di depan kan, Bu? Makasih sudah dikasih tau." Anindya tidak menjawab pertanyaan ibu kosnya ini. Tidak mau juga terlibat pembicaraan lebih jauh, yang sudah bisa diduga jika akan mengarah pada segala sesuatu tentang tamunya. Siapa yang tidak tahu dengan Bu Mirna. Si bigos. Biang gosip.

Tunggu saja sampai gosip tentang Anindya menyebar. Bisa dipastikan akan membuat panas telinga.

Kosan tempat Anindya tinggal itu berupa rumah dua lantai dengan banyak kamar. Di setiap kamar terdapat kamar mandi. Ini yang membuat Anindya betah. Tidak harus berebut kamar mandi. Dan Anindya menempati kamar di lantai dua.

Penghuninya beragam. Dari anak sekolah, mahasiswa, sampai yang sudah bekerja seperti Anindya. Semuanya perempuan. Kosan khusus putri. Ada satu aturan yang melarang setiap penghuninya untuk menerima tamu laki-laki di dalam kamar. Kecuali itu keluarga. Seperti ayah, kakak, atau adik. Selain itu harus menunggu di luar.

Jadi Anindya pun segera turun ke bawah. Menuju terasa depan, tempat biasanya tamu menunggu.

"Ngapain ke sini?"

Tak ada sambutan hangat.

"Aku kangen kamu."

Aldyo berdiri dengan senyum tercetak di bibirnya. Tamu Anindya pagi ini adalah Aldyo. Justru orang yang sedang tidak ingin dia temui.

Sosok pemuda 23 tahun yang memiliki tinggi 178 cm ini tampak gembira bertemu dengan Anindya. Pagi ini dia memakai jaket denim yang melapisi kaus biru. Dipadukan celana jeans hitam, ditambah sepatu sneakers putih. Ganteng. Seperti kata bu Mirna.

Berbanding terbalik dengan Anindya yang memasang wajah tak bersahabat, Aldyo terus mengembangkan senyum. Betapa rindunya dia pada sosok gadis yang berdiri depannya ini.

"Ini buat kamu." Aldyo mengangsur sebuah buket bunga pada Anindya.

Namun, tangannya tak bersambut. Anindya membiarkan tangan Aldyo menggantung di udara. Membalas senyuman dengan kerutan kening.

"Buat apa? Gue bukan hantu yang doyan makan kembang. Mending lo ngasih bubur ayam kek, nasi uduk, atau roti buat sarapan."

Bukannya marah mendapat cibiran seperti ini. Aldyo malah terkekeh pelan. Ucapan Anindya diartikan sebagai kode untuk mengajak sarapan.

"Ini sudah jam 8 loh, Nin. Kamu belum sarapan?" tanya Aldyo meyakinkan.

"Pake nanya segala." Anindya memutar bola matanya. Pagi ini emang perutnya belum sempat terisi apa pun. ALdyo datang sesaat setelah Anindya selesai berpakaian. Dia bahkan belum sempat mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas. Terlihat dari sisa air yang menetes ke baju dari rambutnya.

"Kita sarapan bareng aja, yuk. Aku tau tukang bubur ayam yang enak dekat sini."

Tanpa persetujuan, Aldyo meraih tangan Anindya. Mengajaknya untuk sarapan. Melupakan jika Anindya bisa saja menolaknya dengan kasar.

Dan itulah yang terjadi. Anindya mengempaskan tangan Aldyo. "Apa-apa'an sih lo? Enggak. Siapa bilang gue setuju sarapan bareng?!"

"Tapi kamu bilang belom sarapan tadi. Aku datang kepagian, ya? Maaf." Raut wajah Aldyo tampak merasa bersalah.

Anindya hanya diam. Tak ingin membantah atau menyela. Apa yang Aldyo katakan memang benar. Perutnya juga sudah mulai ribut minta diisi. Akan tetapi, gengsi membuatnya bersikukuh untuk menolak.

Hati boleh saja mencoba untuk menyangkal, tapi kadang tubuh mengiakan. Ini yang terjadi dengan Anindya. Ketika hati dan tubuhnya tidak sejalan. Cacing di perut meronta. Ringisan pun tercipta.

"Kamu lapar kan, Nin? Mending sarapan dulu. Habis ini kamu boleh marahin aku lagi. Yang penting kamu enggak sakit gara-gara aku yang datang mengganggu pagi-pagi kayak gini." Aldyo membujuk Anindya agar mau sarapan.

Luluh. Karena perut menolak diajak kompromi. Akhirnya, tanpa kata Anindya menuruti ajakan Aldyo. Berakhirlah dia berada di dalam mobil mewah milih mantan pacarnya ini.

Sekali lagi Anindya kesulitan memasang sabuk pengaman. Kali ini dia tidak membiarkan Aldyo membantunya. Bergerutu pelan. Anindya melakukan hal yang membuat Aldyo menganga sekaligus berusaha menahan tawa.

"Beres!" Anindya tampak senang karena sudah berhasil memasang sabuk pengaman. Tepatnya mengikatkan sembarangan.

Aldyo pun menyalakan mesin mobilnya. Segera menuju tempat yang dia katakan pada Anindya tadi. Tidak terlalu jauh hanya sekitar 10 menit dari BobaMoza.

Sesampainya di tempat tujuan, Aldyo tidak langsung mengizinkan Anindya turun. "Pakai ini, Nin." Dia membuka jaket yang dipakainya, lalu diulurkan pada Anindya.

"Buat?" Anindya tidak mengerti.

"Baju kamu agak basah. Itu jadi ...."

Aldyo tidak melanjutkan kalimatnya. Memilih untuk memalingkan wajah. Berharap Anindya segera paham akan maksudnya.

Namun dasar Anindya. Harus berpikir dulu. Meneliti baju yang dikenakannya. Setelah itu baru menyadari sesuatu. Langsung menyambar jaket Aldyo. Buru-buru memakainya.

Kenapa gue baru sadar? Malu!

Apa yang terjadi? Air yang menetes dari rambut Anindya membuat baju bagian atasnya basah. Sehingga pakaian dalamnya tampak jelas. Dan Aldyo yang menyadarinya tak ingin Anindya malu. Melindunginya mata lelaki hidung belang.

Nice. And so sweet.

Di dalam hati Anindya berterima kasih sekaligus kesal. Perlakuan Aldyo begitu manis, tapi menjengkelkan. Kenapa? Karena ini sudah membuatnya mulai risih, galau, dan canggung. Bagaimana mungkin, sikap mantan pacarnya masih sama seperti 6 tahun lalu.

Tidak berhenti sampai di situ. Aldyo memperlakukan Anindya bak seorang putri. Ketika masuk ke dalam warung bubur ayam, dia mencarikan tempat duduk, membersihkan kursi yang akan Anindya duduki, sampai mengelap meja juga dengan tisu yang tersedia di sana.

Anindya tahu jika Aldyo memang tidak suka kotor, tapi ini membuatnya tidak nyaman. Beberapa orang pengunjung memperhatikan apa yang Aldyo lakukan sambil berbisik-bisik.

Hanya menghela napas yang Anindya lakukan. Sudah telanjur setuju. Dan saat ini dia harus bersabar. Aldyo tidak akan membiarkannya pulang. Lagipula Anindya lupa membawa ponsel apalagi uang.

"Makannya pelan-pelan. Masih panas," ucap Aldyo ketika pesanan bubur sudah datang.

"Kok cuma satu?" tanya Anindya ketika hanya ada semangkuk bubur ayam di atas meja.

"Aku udah sarapan tadi. Masih kenyang."

Menyandarkan punggung di sandaran kursi. Kedua tangan bersedekap di depan dada. Serta pandangan lurus ke depan. Anindya pun berkata, "Lo sedang mempermainkan gue? Katanya sarapan bareng. Ini mah cuma gue aja kali yang makan. Enggak. Gue mau pulang. Pinjemin duit."

Aldyo terkekeh. Tingkah Anindya sungguh menggemaskan. Awalnya marah dan ujung-ujungnya malah meminjam uang.

"Jangan ketawa. Gue minjem bukan minta. Lo enggak liat gue ke sini cuma pake kaos sama celana pendek. Ditambah sandal jepit pula. Mana lupa bawa hape sama duit lagi. Terus gue pulang gimana? Pinjemin duit!" Anindya semakin garang menatap Aldyo. Dan orang di hadapannya ini malah tertawa.

"Kamu makan saja dulu. Enggak usah khawatir. Aku bakalan anterin kamu pulang, kok. Dengan selamat. Suer." Aldyo mengangkat dua jarinya. Sebagai tanda janji.

Ternyata memang benar, kalau sedang lapar kadang otak susah berpikir. Anindya pun kalah. Dia mulai menyuapkan bubur ayam ke dalam mulutnya. Melupakan dulu kekesalannya.

"Enak?" tanya Aldyo.

Anindya tidak menjawab. Dia sudah mengangkat kembali sendok yang berisi bubur ayam, tapi Aldyo tiba-tiba menarik tangannya. Sehingga satu suapan bubur ayam pun masuk ke dalam mulut Aldyo.

"Enak. Boleh minta lagi?" ujar Aldyo dengan nada menggoda.

Anindya yang baru sadar dengan apa yang terjadi langsung menaruh kasar sendok di mangkuk. Kemudian mendorong mangkuk berisi bubur ayam ini ke hadapan Aldyo. "Abisin aja semuanya."

"Yaaahhh, kok marah. Aku kan cuma bercanda." Aldyo tersenyum. "Nanti kalau aku sakit, suapin kayak tadi ya."

Ingin mengomel. Ingin marah. Ingin mencubit sampai merah.

"Gue mau pulang. Anterin atau pinjemin duit?"

"Aku anterin. Tunggu sebentar."

Aldyo membayar dulu bubur, lalu kembali ke meja Anindya.

"Kamu masih lapar kan?" Aldyo bertanya lagi. Memastikan jika Anindya berubah pikiran. Bubur ayam di mangkuk masih tersisa setengah.

"Gue bisa makan mie, atau nanti minta dibuatin roti sandwicth sama bang Hovawk." Anindya berdiri. Sudah tidak ingin berlama-lama di tempat ini.

Aldyo tampak tidak senang mendengar kata terakhir dari kalimat Anindya. "Siapa itu Hovawk?"

Anindya tidak mengacuhkan pertanyaan Aldyo. Dia berjalan terlebih dulu menuju mobil Aldyo. Berdiri di samping pintunya. Menunggu pemiliknya datang.

Di dalam mobil pun Anindya tidak ingin berbicara dengan Aldyo. Dia membiarkan cowok berkulit putih ini berbicara sendiri. Sama sekali tidak tertarik dengan bahan obrolannya. Sampai pada satu kalimat yang Aldyo katakan.

"Kemarin, aku seperti melihatmu di bandara. Apa aku salah lihat, ya?"

Anindya sontak saja menoleh.

"Enggak kok. Aku nggak habis ke mana-mana. Cuma nganterin sepupu jauh saja. Nasha mau ke Korea dan dia tidak punya teman di Jakarta. Jadi aku yang nganterin ke bandara. Selama di sini juga dia nginep di rumahku. Papah yang suruh," tutur Aldyo.

Oh, jadi nama cewek itu Nasha.

Aldyo seakan tahu yang ada di dalam pikiran Anindya. "Aku enggak salah lihat? Bener kan kemarin kamu di bandara?"

Rem mendadak.

"Lo ngapain ngerem mendadak?" Anindya memegang dadanya. Kaget tentunya ketika mobil ini tiba-tiba saja berhenti.

"Jawab dulu?" Aldyo mematikan mesin mobil. Menatap Anindya penuh selidik

"Iya. Puas?!" jawab Anindya kesal.

"Ngapain?"

"Kepo banget sih lo."

Aldyo masih belum kembali menyalakan mesin mobilnya. "Nin, segitu bencinya kamu sama aku? Dulu bicaramu tidak seperti ini?"

"Setiap orang bisa berubah bahkan tanpa mereka sadari." Anindya enggan menatap Aldyo.

"Apa kesalahanku begitu besar? Sampai kamu enggan memaafkan." Lirih penuh sedih. Aldyo mengalihkan pandangannya ke depan.

Hening sejenak.

"Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Apa aku juga bisa dapatkan itu?"

Kali ini tatapan mata mereka berdua bertemu. Namun, Anindya yang memutus kontak terlebih dulu.

"Kesempatan apa? Buat bikin gue sakit hati, merasa dipermalukan, dan nangis semalam, gitu?" Bibir Anindya bergetar. Kilasan bayang masa lalu kembali berputar. Segores perih tercipta di hatinya.

"Aku bisa jelasin semuanya. Jika butuh bukti akan kuberikan juga-"

"Enggak perlu. Buat apa mengingat yang sudah berlalu. Stop ngomongin itu. Atau lo jangan muncul lagi di hadapan gue." Anindya memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.

"Baiklah. Tapi," Aldyo tertunduk lemas, "kamu harus tau setelah kejadian itu ada alasan, kenapa aku enggak bisa temuin kamu. Buat jelasin semuanya."

Ucapan Aldyo terdengar lemah. Anindya pun menolehkan kembali kepalanya pada Aldyo. Hatinya berdesir melihat wajah muram mantan pacarnya ini.

"Waktu itu aku sudah mencoba menghubungimu berkali-kali tapi tidak bisa. Aku juga datang ke rumahmu dan ternyata kosong. Tetangga bilang kamu dan keluargamu pergi ke luar kota. Kamu harus tau jika paniknya aku saat itu. Sampai hilang akal sehat. Aku coba buat nyusul kamu. Dan ya kamu tau sendiri jika ngebut di jalan itu ujungnya pasti gimana."

Aldyo mengangkat wajahnya. Menatap lekat Anindya. Sorot matanya sendu. Dia pun melanjutkan bercerita. Inilah saatnya untuk mengungkapkan kebenaran di balik apa yang terjadi. Kesalahpahaman dulu harus diluruskan

"Kecelakaan. Seminggu di UGD. Tiga minggu di rumah sakit. Dua bulan proses penyembuhan. Papah membawaku ke Jakarta. Dan tepat saat itu hubungannya dengan keluarga di Bandung memburuk. Ini yang membuatku harus pindah sekolah. Dan menetap di Jakarta."

Tak ada kebohongan yang bisa Anindya temukan di wajah Aldyo.

"Mau lihat bekasnya?" Kalimat ini diucapkan dengan disertai senyum.

Namun dampaknya bertolak belakang bagi Anindya.

Tak percaya. Tak mampu berkata kata. Hampir menangis. Hanya menutup mulut menggunakan sebelah tangan. Itu yang terjadi dengan Anindya ketika Aldyo memperlihatkan bekas luka di bagian dahi kirinya yang tertutupi rambut serta lengan sebelah kanan.

Anindya membayangkan jika luka yang diderita Aldyo dulu cukup parah. Terbukti dari bekasnya. Di dahi tampak garis luka sepanjang tiga senti. Meskipun tidak sejelas dan sepanjang di lengan kanannya, tapi bisa dibayangkan jika luka itu menimbulkan rasa sakit cukup hebat dan mengeluarkan banyak darah. Mungkin juga masih ada lagi bekas luka lainnya di tubuh Aldyo.

"Setelah sembuh. Aku bukan tidak pernah mencoba untuk menemuimu. Tapi, selalu saja banyak halangan. Keluargamu juga melarang aku mendekatimu lagi."

Penuturan Aldyo ini telah menggoyahkan Anindya. Mungkin saja selama ini justru bukan dia yang terluka, tapi Aldyo. Tidak. Tetap saja sakit hati masih bisa dirasakan.

"Jadi, mau nyalahin gue atas apa yang sudah menimpa lo?"

"Enggak sama sekali. Ini takdir. Aku juga sudah sembuh total. Saat ini cuma mau meluruskan kesalahpahaman dulu. Aku mau mengungkapkan apa yang terjadi dulu. Waktu itu-"

"Stop. Gue sudah bilang enggak mau denger lagi. Buat apa ungkit masalah dulu. Lo mau puter waktu? Enggak mungkin. Gue enggak mau terjebak di masa lalu." Anindya memutus kontak mata.

"Jadi kamu maafin aku?"

"Jauh sebelum lo minta maaf, gue udah maafin lo."

Aldyo melepaskan sabuk pengamannya. Mengubah posisi duduk jadi sedikit menyamping. Menghadap Anindya. Menggenggam kedua tangannya, lalu berkata, "Sekarang, bisakah kamu nerima aku lagi?"

Andai move on itu semudah menggoreng telur. Cukup tiga menit sudah jadi. Mungkin gue bisa menerima lo lagi.

Foot note:

*) Terima kasih.

Tbc

ENCHANTED, pureagiest ©2020
All right reserved | 16 Agustus 2020 | 20.05 WIB

Hallo, ketemu lagi.
Apa kabar semua?
Semoga sehat selalu.

Anindya kembali menyapa.
Ada yang kangen si kasir galak ini enggak?

Nah, setelah baca ini apa pendapatmu?

Semoga suka ya.
Salam sayang dari jauh.
Saranghae yeorobun 💙

Jangan lupa follow Ig aku @pureagiest_
Follow juga Ig Anindya @piyuranindya

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top