3. PMS


Sudah seminggu lamanya sejak pertemuan tempo hari. Aldyo datang setiap malam ke BobaMoza. Untuk bertemu dengan Anindya. Meski hanya memperhatikannya bekerja. Itu sudah membuat Aldyo bahagia. Sikap Anindya tetap sama. Tidak menghiraukan keberadaannya. Namun, bukan Aldyo jika harus menyerah. Sekali memutuskannya, itu yang akan dilakukan. Dikejar sampai dapat.

"Sorry, kafe mau tutup."

Anindya berlalu dari meja yang berada di dekat jendela. Di sana masih duduk Aldyo sejak jam 7 malam tadi. Itu berarti sudah tiga jam menunggu. Ya, menunggu sang kasir mau menyapanya. Dan ternyata hanya mendapatkan sikap jutek.

Aldyo berdiri, lalu berjalan menuju pintu keluar. Tidak pulang, tapi menunggu di depan mobilnya.

Anindya yang ditunggu pun datang. Ada perasaan kesal melihat cewek itu tertawa kepada dua pegawai cowok BobaMoza. Mereka tampak gembira. Bersenda gurau. Sedangkan padanya tak sedikit pun Anindya mau tersenyum apalagi tertawa seperti itu.

Rasa kesal pun tak terbendung lagi. Aldyo segera mencegat Anindya. Membuatnya tampak kaget.

"Lo ngapain masih di sini?" tanya Anindya.

"Ngapain lagi kalau bukan nungguin lo."

Kedua pegawai cowok yang bernama Hovendra Witjakmatha alias Hovawk dan Ganggara atau lebih sering dipanggil Gangga-tapi Anindya lebih suka memanggilnya Aga-saling berpandangan. Mereka tetap diam. Sepertinya hanya mau menonton saja. Mungkin juga berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada Anindya.

"Kalian bisa pulang. Gue yang anter Anin," ucap Aldyo pada Hovawk dan Gangga.

"Enggak bisa gitu, Bro. Anin tuh cewek. Ini udah malam. Kita berdua bertanggung jawab atas keselamatan dia." Hovawk menoleh pada Gangga. Dan Gangga mengangguk tanda setuju.

"Lagian bos Any malah nyuruh Anin nginep. Katanya biar kita berdua enggak usah ngunci pintu lagi. Gara-gara sempet lupa." Bibir Gangga masih basah saat satu tendangan mengenai tulang keringnya. Dia pun meringis. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Anindya yang sedang mendelik tajam padanya.

Bisa-bisanya boba & coffe barista-nya BobaMoza bercanda di saat seperti ini. Meski seharusnya Anindya tidak perlu kaget karena mengingat sifat Aga yang receh.

Wajah Aldyo tampak kaku. Sepertinya dia merasa tersinggung dengan ucapan Hovawk tadi. "Gue bakal anterin Anin sampai ke rumahnya dengan selamat. Lo berdua ngerti kan kalimat gue!"

Terjadi ketegangan di antara Aldyo dengan kedua pegawai cowok BobaMoza.

Sementara itu, orang yang diributkan malah berlalu tanpa kata. Anindya sudah begitu kesal. Dia hanya ingin segera sampai di kosan. Tubuhnya terlalu lelah, meski itu hanya untuk bertengkar.

"Gue enggak mau ribut." Aldyo menatap tajam pada Hovawk. "Emang lo siapanya Anin? Berani menghalangi gue."

Kening Gangga mengerut. "Bukannya malah gue yang harusnya bertanya kayak gini?"

"Bentar. Ini si Anin-nya ke mana?" Hovawk celingukan. Mencari keberadaan Anindya. "Lah, dia malah ngeloyor gitu aja."

Maka, pandangan Aldyo, Hovawk, dan Gangga pun kini berpindah pada sosok Anindya yang mulai menjauh.

"Kampresito emang si Anin. Kita belain malah ninggalin," gerutu Gangga.

"See. Anin enggak mau, kan?" Hovawk memperlihatkan senyum kemenangannya.

"Lagian lo ngapain mau nganterin dia pakai mobil segala. Kosan Anin tuh di belakang sana." Gangga menunjuk jalan gang yang Anindya lalui dengan telunjuk tangannya. "Cuma butuh sepuluh menit dari sini."

Hovawk menghela napas. Memutar bola matanya, lalu berkata setengah berbisik, "Ngapain lo kasih tau?"

Gangga tampak kaget. "Waduh. Keceplosan."

Aldyo yang tadinya kesal dan marah, jadi lebih tenang. Satu informasi yang didapatnya. Bahwa Anindya tinggal tidak jauh dari BobaMoza. Itu berarti akan semakin mudah untuk bertemu dengannya.

Hari ini mungkin belum bisa mengobrol dengan Anindya. Namun, informasi ini cukup membuatnya senang. Jalannya akan semakin mulus.

"Oke. Thank's for your information."

Lalu, Aldyo pun masuk ke dalam mobil. Beberapa menit kemudian mobilnya sudah melaju di jalanan.

"Bang, lo jangan ngomong kalau gue yang boccorin ke si Anin soal tempat kosan dia. Bisa digantung gue." Gangga menatap Hovawk dengan ekspresi memohon.

"Gue enggak ikutan. Tanggung sendiri."

***

Keesokan harinya, Anindya bangun kesiangan. Padahal semalam dia langsung tidur. Namun, ternyata tidurnya seperti orang pingsan. Dan parahnya perut Anindya terasa melilit. Ternyata ini memang sudah masuk dalam siklus bulanannya.

"Mules banget." Anindya meringis saat keluar dari kamar mandi.

Bukannya bersiap untuk pergi bekerja, dia malah kembali berbaring dengan posisi meringkuk. Menahan sakit yang membelit di bagian perut hingga ke pinggang.

Anindya masih dalam posisinya ketika suara ponsel terdengar. Diabaikan. Sampai pada dering ketiga masih tak kunjung diangkat. Jangankan untuk menjawab telepon-letak ponselnya berada di atas meja samping tempat tidur-bergerak sedikit saja tidak mau.

Ingin tidak mengacuhkan suara berisik dari benda persegi tipis itu, tapi semakin lama samakin mengganggu. Terpaksa Anindya pun beringsut, meraih ponselnya.

"Ha-"

"Nin.... belum ke sini? Kunci kafe kan di lo. Buruan. Bang Hovawk mau bikin resep pastry baru. Bos Any sendiri yang nyuruh."

Anindya menjauhkan ponsel dari telinganya. Teriakan dari seberang sana sudah membuatnya hampir merasa di tengah pasar. Berisik.

"Lima belas menit lagi gue sampai," ucap Anindya yang langsung memutus sambungan telepon.

Sebenarnya, hari ini Anindya ingin sekali tinggal di dalam kamarnya. Berbaring. Tanpa harus melakukan apa pun. Apalagi berkerja. Tubuhnya lemas.

Namun, mana mungkin bolos bekerja. Baru saja seminggu masuk, masa harus bolos lagi? Walaupun Any pasti mengerti dengan alasannya. Akan tetapi, Anindya tidak mau memanfaatkan kebaikan bos sekaligus temannya itu. Dia harus tetap bersikap professional,

Jadinya, Anindya pun segera bersiap untuk berkerja. Semoga saja cepet baikan.

Dari waktu 15 menit yang dijanjikan Anindya pada Gangga, nyatanya molor sampai 25 menit. Anindya baru sampai di BobaMoza.

"Yeuuu yang ngomomg lima belas menit," sindir Gangga ketika melihat kedatangan Anindya. "Mana?' telapak tangannya terulur.

Tanpa bicara, Anindya pun menyerahkan kunci pintu pada Gangga. Lantas dia duduk di kursi yang berada di bagian outdoor.

Sementara Gangga sedang sibuk membuka pintu kafe, Hovawk yang merasa aneh dnegan sikap Anindya pun melangkah mendekatinya. "Sakit, Nin? Muka lo pucat."

Anindya meringis "Biasa, Bang. Siklus bulanan."

"Duh, gue mana ngerti begituan, Tapi, kalau liat dari muka lo sih kayaknya sakit baget. Cuti aja gih. Takutnya makin parah."

Anindya menggeleng. "Enggak. Masa baru seminggu masuk sudah cuti lagi. Gue kuat kok. Ada paracetamol enggak, Bang?"

"Lo yakin kuat? Kalau udah enggak tahan, ngomong aja. Kayaknya ada di kotak obat."

Satu anggukan kecil Anindya berikan.

Dan akhirnya mereka bertiga pun masuk ke dalam BobaMoza untuk mulai berbenah. Jam sudah menunjukkan angka sepuluh. Ini berarti hanya tinggal satu jam lagi sebelum kafe dibuka.

Hari ini, terasa berjalan lambat bagi Anindya. Rasa sakitnya tak kunjung hilang. Beberapa kali dia terlihat memegang perut. Keringat pun mebasahi keningnya. Padahal AC di dalam ruangan sudah terasa cukup dingin.

"Kamu sakit?"

Satu suara ini sudah berhasil mengagetkan Anindya. Dan akibatnya piring yang berada di tangannya meluncur bebas ke lantai. Hancur. Pecah berkeping-keping.

"Ngapain sih lo ngagetin aja?"

Anindya tampak kesal. Dia tidak memedulikan ekspresi Aldyo yang tercengang karenanya. Berlalu ke bagian belakang kafe. Kembali lagi dengan membawa sapu untuk memberesihkan pecahan piring yang berserakan di lantai.

"Aku bantu." Aldyo mencoba mengambil sapu yang berada di tangan Anindya.

'Enggak perlu." Anindya menepis kasar tangan Aldyo. "Minggir."

Meskipun ucapan Anindya tergolong kasar, Tapi Aldyo tidak merasa sakit hati. Dia masih setia berdiri tidak jauh darinya. Memperhatikan Anindya dengan tatapan penuh arti.

Namun, belum juga selesai membersihkan pecahan piring, tiba-tiba tubuh Anindya oleng. Hampir terjatuh. Untung saja Aldyo sigap menangkapnya.

"Kamu beneran sakit? Kita ke dokter ya!" Aldyo tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.

"Enggak usah lebay deh. Gue cuma cape aja." Anindya malah menanggapinya ketus.

"Nin, kamu boleh saja kesal, benci, atau marah ke aku. Tapi, saat ini simpan dulu semua itu. Tubuh kamu sakit. Butuh istrishat dan mungkin juga obat!" tegas Aldyo

"Jangan sok tau!" Anindya kemudian terdiam. Merasakan kepalanya yang mulai terasa pusing. Pandangannya pun sedikit berkunang-kunang. Perutnya semakin tidak karuan. Keringat dingin sudah sejak tadi membanjiri punggungnya.

Tiba-tiba Hovawk datang. "Perut lo masih sakit, Nin? Istirahat saja. Gue udah bilang ke Bos Any tadi. Lo boleh pulang katanya."

"Enggak, Bang. Gue baik-baik aja kok," tolak Anin.

Hovawk menghela. "Bebal." Kemudian melirik pada Aldyo. "Lo bujuk nih cewek keras kepala buat pulang. Dia lagi dapet. Makanya tanduknya makin runcing."

Aldyo hanya diam mendengar ucapan Hovawk. Akhirya dia tahu apa yang sedang Anindya alami. Namun sekaligus membuatnya bingung harus bangaimana. Kemudian dia pun teringat sesuatu.

"Lo tunggu di sini. Aku enggak akan lama."

Setelah mengatakan itu Aldyo pun setengah berlari keluar dari kafe.

Anindya menggerutu, "Memangnya mau ke mana? Gue kerja di sini. Dasar enggak jelas!"

Sore ini BobaMoza lengang. Gerimis turun. Mungkin ini penyebabnya tidak begitu banyak pengunjung. Cuaca sulit untuk ditebak padahal sudah bulan Juli yang seharusnya memasuki musim kemarau. Namun ternyata hujan masih turun.

Di kursi yang berada di sudut kafe, Anindya duduk menyandarkan punggungnya. Memejamkan mata. Di atas meja depannya ada satu gelas air putih hangat yang tinggal setengah. Katanya saat sedang nyeri datang bulan harus banyak minum dan salah satunya minum air putih hangat yang bisa meredakan rasa nyeri.

Bagian kasir sudah di-handle Gangga. Kali ini cowok itu tampak ikhlas menjalaninya, setelah Hovawk memberitahu keadaan Anindya yang sebenarnya.

"Coba minum ini. Kata pelayan mini market bagus buat redain nyeri."

Anindya membuka mata. Menatap Aldyo yang sudah berada di hadapannya. Ada Satu kantong keresek putih di tangannya.

"Lo beli ini buat gue?' tanya Anindya tak percaya.

Aldyo mengangguk. Dia duduk di dekat Anindya. "Minum itu. Kata si mbak-nya sih emang bagus."

Anindya mengeluarkan botol jamu datang bulan dari dalam kantong keresek. Lalu membuka tutupnya, lantas menimumnya. Selama itu juga dia mengabaikan tatapan mata Aldyo padanya.

Setelah meminum jamu tersebut Anindya menoleh pada Aldyo. "Lo enggak kedinginan? Baju lo basah. Lagian nagapain coba pakai hujan-hujanan segala."

Aldyo menjawabnya dengan senyuman. Ada rasa senang mendengar kalimat terakhir yang Anindya ucapkan. Seakan di dalamnya tersyirat perhatian untuknya. Mseki hanya sedikit, tapi itu sudah cukup untuk saat ini.

"Malah senyum enggak jelas. Lo emang aneh." Anindya pun meninggalkan Aldyo yang masih mengembangkan senyum di bibirnya.

"Aku rela basah kuyup demi kamu, Nin," gumam Aldyo.

Tak lama kemudian Anindya pun kembali membawa handuk kecil di tangannya serta segelas hot lemon tea. "Keringin rambut lo. Gue nggak mau kalau nanti disalahin gara-gara lo masuk angin atau flu. Minum juga ini buat hangatin badan."

Tentu saja ini membuat senyum Aldyo semakin lebar. Segera dia menerima handuk tersebut. Kmeudian menggosokkan perlahan ke rambutnya. Mengeringkannya. Setelah itu mengambil gelas yang berisi hot lemon tea, lalu menyeruputnya. Dia tampak sangat menikmatinya.

Sungguh, Aldyo tidak tahu jika pemilik dari handuk tersebut sedang misuh-misuh di dekat meja kasir.

Gangga memandang tidak suka pada Aldyo. Dia terus menggerutu karena Anindya meminjamkan handuk punyanya tanpa izin. Ingin marah pada Anindya atas perbuatannya, tapi itu sama saja dengan mencari mati. Gadis itu akan memarahinya habis-habisan. Apalagi saat ini sedang datang bulan. Bisa bertambah parah.

Hanya bisa menahan rasa dongkol di hati itu yang bisa Gangga lakukan.

Anindya kembali duduk di tempatnya tadi. Rasa mulas masih terasa. Begitu mengganggu. Dia pun memijat perlahan perut bagian bawahnya.

Apa yang dilakukan Anindya, terus Aldyo perhatikan. "Di dalam keresek ada minyak essensial. Sekalian gue beli tadi. Kamu oleskan di perut. Katanya lumayan bisa meredakan nyeri."

Anindya menoleh. Berhenti memijat perutnya. "Tau dari mana? Sepertinya lo emang tau banyak soal nyeri datang bulan."

Alyo tersenyum. "Sepupuku pernah ngomongin ini."

"Oh." Hanya satu kata singkat yang keluar dari bibir Anindya. Kemudian dia mengambil minyak essensial yang dikatakan Aldyo tadi. Hendak mengoleskannya ke perut. Namun, keburu ingat jika Aldyo masih ada di dekatnya. Dan dia sedang berada di dalam kafe. Bukan ruang ganti.

Maka, Anindya pun segera pergi ke bagian belakang BobaMoza. Tempat ruang ganti berada. Niatnya hanya untuk mengoleskan minyak essensial saja, tapi ternyata dia ketiduran di kursi yang berada di sana. Hari ini benar-benar melelahkan baginya.

Sementara itu Aldyo masih setia duduk di tempatnya. Hot lemon tea sudah tandas. Matanya sesekali menengok ke arah belakang kafe. Berharap Anindya keluar. Namun, setengah jam sudah berlalu. Dan yang ditunggu tak juga muncul.

Aldyo sudah mau pulang, ketika tiba-tiba seorang gadis berserangam Megantara High School mendatanginya.

"Ehm, permisi ... mau nanya, nih. Kakak mantannya kak Piyur, ya?" tanya gadis bernama Peachia. Ini tertera dari name tag yang terpasang di blazernya.

Aldyo mengernyit. "Piyur?"

Peachia alias Cia berdecak sambil memutar bola matanya. "Itu, tuh, kasir BobaMoza yang super duper judes kalau pas nagih utang."

Kerutan di kening Aldyo semakin dalam. "Lo tau dari mana?"

Cia mencebik. "Yeu, ngeremehin Cia. Taulah, pokoknya," ujarnya yang duduk di dekat Aldyo tanpa permisi. " Lo first love-nya dia, kan? Alumnus Megantara High School. Terus lagi lanjut di Megantara University. Ngapain ngeliatain kak Piyur mulu? Mau celebek, ya?"

Aldyo semakin penasaran dengan gadis di dekatnya ini. Dari ucapnya sudah bisa ditebak jika Cia tahu banyak tentang dia. Bahkan hubungannya dulu dengan Anindya. Memang beberapa kali dia melihat interaksi Cia dengan Anindya dan beberapa gadis lainnya. Aldyo menebak jika mereka semua berteman baik.

Namun, ada yang lucu dari Cia. Gaya bicara dan kalimatnya yang terdengar aneh di telinga Aldyo.

"Celebek?' tanya Aldyo. Dia benar-benar tidak mengerti apa maksuda dari kata ini.

Cia malah menepuk keningnya. "Ce-El-Be-Ka. Ealah, gitu aja enggak paham."

Bibir Aldyo membentuk huruf O. "Terus .... Apa urusannya sama gue?"

Satu dengusan cukup keras terdengar. "Galak amat. Pantesan klop. Lo butuh bantuan enggak?" tanya Cia yang membuat Aldyo naikkan sebelah alisnya. "Gue Cuma nawarin aja gitu. Sebagai teman sekaligus adik angkatnya kak Piyur, gue tuh peduli sama dia. Pengen dia bahagia. Awas aja kalau lo mainin dia kayak mantannya kemarin. Tak hih, lo!"

Ada rasa terkejut mendengar penuturan Cia di dalam hati Aldyo. Kemudian dia pun bertanya, "Memangnya Anin pernah disakitin?"

"Bukan cuma disakitin. Tapi dikhianati."

Bukan Cia yang menjawab, tapi temannya yang tidak tahu sejak kapan sudah berada di dekat Aldyo dan Cia. Orchidia adalah nama yang tertera di name tag-nya.

Orchidia alias Cicit yang baru datang ke BobaMoza langsung menuju Cia dan Aldyo. Dia penasaran akan apa yang sedang menjadi bahasan keduanya. Tampaknya seru. Dan Cicit langsung saja menyambar pembicaraan.

"Ho'oh. Mana kan tadinya mau merit," tambah Cia yang diangguki Cicit.

Cicit terkejut. Tangannya menjitak kepala Cia. "Tuh mulut. Kenapa dikasih tau? Kalau kak Piyur ngamuk kan berabe."

Kedua mata Cia membola. "Eh, lupa. Mulut gue belom kesumpel boba soalnya."

Selanjutnya, Cia dan Cicit sibuk debat. Lupa akan kehadiran Aldyo di tengah-tengah mereka berdua.

Dan Aldyo pun mendapatkan suatu ide di dalam otaknya. "Lo berdua udah kenal lama sama Anin?"

Ucapan Aldyo berhasil membuat Cia dan Cicit kembali menyadari kehadirannya.

Mereka berdua pun menjawab serempak, "Mayan."

Aldyo mengangguk pelan. Ada senyum aneh tercipta di bibirnya. Dia pun mencondongkan tubuhnya. Berbicara dengan volume rendah. "Lo berdua boleh pesan apa saja. Gue yang bayar. Asal ... mau jadi informan gue."

Cia dan Cicit saling berpandangan. Kemudian kembali menjawab serempak. "Oky doky, rebeeesss."

Dan, terjadilah rapat dadakan antara Aldyo, Cia, dan Cicit. Kini mereka bertiga sudah tergabung dalam partner in the crime.

Sementara itu, Anindya terlonjak kaget menyadari jika dia sudah ketiduran. Buru-buru mengecek jam di ponselnya. Satu jam lamanya dia tertidur di ruang ganti. Dan anehnya tak ada yang membangunkannya, baik itu Hovawk ataupun Gangga.

"Duh, malah ketiduran segala," gumam Anindya.

Segera merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, lalu melangkah menuju pintu keluar ruang ganti. Akan tetapi, belum juga sampai di depan pintu, ada dua notifikasi masuk di ponselnya. Anindya memelotot ketika memeriksa notifikasi tersebut. Hampir saja dia berteriak marah karenanya.

Siapa pelakunya? Awas saja!

Altez.dyo mulai mengikuti Anda.
Altez.dyo menandai Anda dalam sebuah kiriman.

Tbc
Enchanted, pureagiest ©2020
All right reserved | 19 Juli 2020 | 21.00 WIB

Hallo, apa kabar?
Masih Setia nungguin?

Terima kasih banyak.
Semoga suka ya.

Jika penasaran akan notifikasi ponsel yang Anin terima, pantengin aja terus kelanjutan kisahnya minggu depan.

See you next week. 💙

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top