• • Eclipse • •
Apa kalian percaya pada hantu?
Tidak?
Bagus, karena aku juga salah satu dari kalian yang tidak mempercayai hal-hal tidak logis seperti kehadiran makhluk ghaib dan sejenisnya.
Aku, Akaashi Keiji, mahasiswa muda yang hidup bersama dominasi pikiran rasional dan fisik yang sehat.
Aku hanya mempercayai apa yang aku lihat, mempercayai informasi yang ditangkap oleh syaraf retina mataku sendiri. Takhayul dan mitos-mitos jadul, itu sama sekali tidak masuk dalam kamus pikiranku.
Namun sekarang, aku harus merevisi kembali pendirianku sendiri.
Karena sekarang aku telah melihat apa yang seharusnya tidak pernah aku percayai sedari dulu.
Semua kegilaan ini membuatku hampir kehilangan waras, jika saja aku tidak berinisiatif untuk mencoba berpikir jernih dan menganalisa keadaan.
Yah kalian bisa menebaknya, apa yang sekarang bisa aku lihat.
Kalian boleh menganggapku gila, karena aku sendiri juga sudah lama menganggap diriku ini gila.
Karena sekarang aku bisa melihat hantu.
🌖🌗🌘🌑🌒🌓🌔
Sneakers hitam melangkah cepat menyusuri trotoar, Akaashi hampir kehilangan atensi. Jika saja ia tidak cepat bereaksi, mungkin tubuhnya sudah terbanting sejak tadi akibat tabrakan tidak terhindarkan dari sebuah sedan yang melaju cepat di hadapannya. Netra hijau yang berhiaskan bingkai kacamata berwarna hitam melirik resah tepat pada arah jarum jam sembilan.
Midi dress putih selutut, rambut hitam panjang, dan jangan lupakan topi lebar yang menutupi setengah wajahnya.
Akaashi hanya bisa melihat senyuman tipis yang ditampilkan oleh gadis misterius itu.
Tanpa bisa menatap mata, hidung, maupun bagian wajah lain.
Gadis itu nyaris tidak memiliki wajah, satu-satunya area yang tereskpos oleh mata Akaashi hanyalah bagian mulutnya yang selalu tersenyum.
Tidak ada seorangpun yang menyadari kehadiran gadis itu.
Tidak seorangpun selain Akaashi sendiri.
Perasaan tidak nyaman menyelimuti hati pemuda tersebut, lampu pejalan kaki berganti warna menjadi hijau membuat Akaashi tanpa basa-basi segera melintas. Enggan berlama-lama bersama 'Sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat'
Waktu berjalan lambat, dunia seolah enggan berotasi terlalu cepat. Akaashi bisa mendengar dengan jelas langkah seseorang yang tengah mengikutinya. Hal ini memang sudah membuatnya terbiasa karena ia telah diikuti sesuatu yang disebut 'Hantu' tersebut selama tiga hari berturut-turut.
Gadis itu tidak bicara, ataupun berusaha memberikan interaksi yang berarti. Hanya sebuah senyuman kecil setiap kali Akaashi melihatnya.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Entah sudah berapa kali Akaashi berusaha berkonsultasi dengan psikater maupun beberapa temannya yang mengambil kuliah psikologi. Tetapi tetap saja, jawaban yang diberikan selalu sama.
'Kelelahan'
Terlalu klise untuk bisa dipercaya.
Akaashi merasa bahwa itu bukanlah satu-satunya alasan yang membuatnya bisa melihat arwah-arwah gentayangan dan harus menjadikannya sebagai objek stalker seorang hantu wanita.
Akaashi sudah menamainya dengan sebutan 'Hantu Stalker'
Pemuda itu hampir frustasi memikirkan alasan kenapa ia harus terjebak dalam situasi pelik semacam ini.
Memang awalnya terasa mengerikan bagi pemuda 20 tahun sepertinya, yang bahkan tidak pernah mau percaya dengan hal-hal mistis sekarang harus menerima kenyataan bahwa ia bisa melihat hal tersebut.
Bagi Akaashi ini adalah sebuah ironi.
Gadis itu tidak menganggunya, begitupula dengan hantu lain yang bisa ia lihat. Tetapi tetap saja Akaashi merasa tidak nyaman harus melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
Rasanya sungguh tidak nyaman sekali.
Dan jangan lupakan perasaan tidak nyaman saat Kau selalu diikuti selama 24 jam penuh oleh 'Hantu Stalker.'
Menghela napas, hanya itu satu-satunya cara yang dilakukan Akaashi untuk melepas segala beban pikiran yang menimpanya.
🌖🌗🌘🌑🌒🌓🌔
Jarum jam berdetak lambat, matahari semakin sedikit mengeluarkan intesitas cahayanya. Akaashi selalu tidak menyukainya.
Saat waktu perlahan berganti menjadi malam.
Sejak kapan ia tidak menyukainya? Entahlah mungkin sejak dirinya mendapatkan kemampuan gila ini.
Mungkin besok Akaashi harus menemui seorang paranormal, jujur saja kehidupannya tidak lagi berjalan senormal dulu. Sekeras apapun Akaashi berusaha untuk bersikap normal.
Menjadi pribadi yang tenang disaat apapun ternyata adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dipertahankan.
Berjalan cepat, pemuda itu semakin memperlebar langkah menghindari langkah cepat 'Stalker' yang mengikutinya.
Ingin rasanya menegur, bertanya, dan mengusir, tetapi Akaashi terlalu takut untuk melakukan hal tersebut.
Sesuatu yang terlihat tidak berbahaya bisa menjadi sangat berbahaya bukan?
Hampir saja mengumpat dalam hati, kala manik hijau menatap arloji yang melekat pada pergelangan tangan. Akaashi bahkan sampai melupakan jam makan malamnya sendiri akibat terlalu sibuk dengan 'Dunia baru' yang bisa ia lihat.
Pemuda itu berpikir untuk mengambil jalan memotong, melalui jalan kecil sebuah kompleks pertokoan. Itu adalah salah satu alternatif yang selalu digunakan Akaashi setiap kali hampir terlambat memasuki kelas --meski sesungguhnya ini adalah pertama kali ia menggunakan alternatif tersebut.
"Kau yakin mau lewat sana?"
Sebuah suara sukses membuat bulu kuduk Akaashi berdiri, kaki baru saja hendak melangkah. Pemuda itu menoleh pelan keasal suara, berharap semoga yang baru saja menegurnya adalah seorang 'Manusia'.
Oh! Bahkan Akaashi hampir tidak bisa membedakan lagi mana 'Hantu' dan 'Manusia'.
Tidak ada seorang pun di tempat itu,
selain Akaashi sendiri dan...
'Hantu stalker'
Tanpa sadar saliva ditengguk pelan oleh mahasiswa desain interior tersebut.
Wanita itu tersenyum membalas tatapan 'tak terdeskripsikan' yang diberikan oleh Akaashi.
"Kau baru saja bicara?" Akaashi bisa mendengar suaranya yang agak bergetar.
'Kau yakin mau lewat sana?" Wanita itu mengulang pertanyaannya.
"Kau bisa bicara?" Akaashi balas bertanya, aneh sekali ia sama sekali tidak merasa takut. Tetapi siapapun yang melihatnya pasti sudah menganggap ia sudah gila karena telah bicara sendirian.
Akaashi masih belum bisa melihat seluruh wajah 'Hantu stalker' tetapi pemuda itu bisa menyadari hembusan napas yang dikeluarkan dari bibir pucat.
"Tentu saja, aku punya mulut dan pita suaraku masih berfungsi."
Akaashi merasa bodoh sendiri, tetapi hantu ini tidak bersikap seperti seorang stalker sungguhan. Apakah ia stalker elit? Abaikan, Akaashi pasti benar-benar sudah gila.
"Kenapa Kau melarangku lewat sana?" Akaashi menunjuk jalan masuk menuju kompleks pertokoan yang hampir saja ia lewati. Jujur, sedikit tercengang karena 'Hantu stalker' yang pendiam mulai bicara padanya.
"Kau akan segera tahu," Wanita itu tersenyum misterius, "Tapi jangan lewat sana Keiji."
"Tu-tunggu? Kau tau namaku?"
"Aku tau segalanya tentangmu."
Akaashi mengap, hantu ini benar-benar seorang stalker elit. Akaashi tidak habis pikir, membuat seorang hantu wanita tertarik dan mengikutinya adalah sebuah fakta yang cukup mengerikan.
🌖🌗🌘🌑🌒🌓🌔
.
.
Angin malam berhembus cukup kuat, kaki masih melangkah cepat menyusuri trotoar.
Pada akhirnya Akaashi memilih jalan biasa daripada jalan memotong. Pemuda itu juga terpaksa harus makan mie instan di minimarket sebagai makan malamnya kali ini.
Ekor mata melirik kearah kaca etalase sebuah toko. Akaashi bisa melihat bayangannya yang berjalan sendiri.
Namun Akaashi tau kalau sekarang ia tidak sedang sendiri. Menoleh kebelakang, 'Hantu Stalker' masih disana; tersenyum menatapnya dari balik topi lebar.
Pembicaraan mereka sebelumnya hanya berlangsung beberapa menit, seterusnya tidak pernah ada lagi.
Akaashi juga masih enggan untuk membuka pembicaraan. Terlalu tidak masuk akal, terlalu menakutkan.
Suasana ini terlalu hening, hingga sebuah keributan terjadi.
Sirine mobil pemadam kebakaran saling bersahutan memotong jalanan. Entah kenapa Akaashi merasa cukup tertarik untuk memperhatikan kemana gerangan arah tujuan para petugas penjinak api tersebut.
Netra hijau membulat kaget, asap hitam mengepul dari arah barat, kobaran api menerangi malam.
Tidak, Akaashi sama sekali tidak kaget saat melihat kebakaran itu.
Satu-satunya yang membuat pemuda itu syok adalah lokasi kebakaran.
Tempat yang seharusnya menjadi jalan pulang Akaashi hari ini.
Sebuah kompleks pertokoan.
Atensinya berubah cepat pada tempat 'Hantu stalker' berdiri. Wanita itu masih disana, seolah tidak tertarik dengan insiden yang tengah terjadi sekarang.
"B-" Tenggorokan Akaashi tercekat, suaranya seolah merasa takut untuk keluar menghadapi makhluk di hadapannya.
Memalingkan wajah, pemuda itu akhirnya berbalik dan berjalan cepat. Tidak perlu ditanyakan lagi, sekarang ia tahu alasan 'Hantu stalker' melarangnya melewati jalan memotong.
Sulit dipercaya, ia diselamatkan oleh makhluk yang tidak pernah ia percayai keberadaannya.
'Siapa Kau sebenarnya?'
🌖🌗🌘🌑🌒🌓🌔
Jalanan yang sepi bersama remang dari cahaya kuning keputihan pada lampu jalan. Derap langkah cepat seorang pria saling beradu bersama derap langkah pelan seorang wanita.
Akaashi tidak habis pikir, bumi terlalu kejam sampai harus membuatnya berada dalam arus rotasi yang lambat. Tidak bisakah ia mengajak kompromi sang waktu yang malah asik bermain bersama semesta sembari mentertawakan dirinya?
Langit menggelap bukan berarti hujan, tetapi supermoon sudah cukup menjadi pengganti barisan rasi bintang yang menghilang karena awan.
Ah ya, Akaashi ingat soal sesuatu.
Sejak tadi siang, Bokuto selalu heboh soal fenomena alam yang akan terjadi malam ini.
Gerhana bulan total yang hanya muncul setiap 152 tahun sekali.
Tunggu, apakah itu akan berlangsung malam ini? Akaashi tidak peduli, yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana cara mengembalikan kehidupan normalnya.
"Kau mau ditabrak?"
Akaashi hampir meloncat kaget, sejak kapan wanita ini berdiri di hadapannya? Sejak kapan ia jadi kehilangan fokus pada jalanan.
"Berhenti jalan sambil melamun," Wanita itu kembali bersuara. Akaashi tertegun, apakah sekarang ia sudah punya pelindung?
Ia bicara? Ia kembali bicara? Bisakah Akaashi juga ikut bicara? Ada sesuatu yang selalu mengganjal hatinya semenjak tadi.
"Siapa Kau sebenarnya?" Pertanyaan itu lolos dari mulut sang pemuda.
Wajah yang ditutupi topi lebar, Akaashi hanya bisa melihat sebuah senyuman yang sama.
Waktu seolah berhenti, saat malam tiba-tiba menjadi semakin gelap. Angin berhembus bersamaan dengan bayangan hitam yang perlahan menutupi wajah bulan.
Gerhana mulai terjadi, Akaashi mendongak menatap benda langit yang menjadi satelit alami bumi tersebut.
Tanpa menyadari kenyataan bahwa angin malam telah menerbangkan topi lebar milik 'Hantu stalker'.
Bulan yang memerah akibat umbra bumi berhasil menarik atensi Akaashi. Entah sudah berapa lama ia terpaku menatap langit. Gravitasi seolah menariknya kuat, bersama bumi yang enggan memberikan peluang bagi pemuda itu untuk beranjak pergi.
Saat menatap langit, Akaashi mulai merasakan sesuatu yang janggal.
Sesuatu yang telah lama mengusik hatinya; perasaan kehilangan, kesedihan, dan rindu.
Apa yang membuatnya merasa kehilangan?
Apa yang membuatnya begitu sedih sampai memunculkan keinginan untuk berteriak mencaci maki langit?
Apa yang begitu ia rindukan sampai harus membuatnya merasa ingin mengamuk dan menangis?
Ditengah gejolak perasaan kalut tersebut sebuah tangan tidak dikenal tiba-tiba menyentuh kulit pipi sang pemuda.
Akaashi menunduk menatap sang pemilik tangan yang telah berani menyentuh wajahnya sendiri.
Tidak mungkin kalau itu adalah Si Hantu stalker bukan?
Sayang sekali kenyataannya memang seperti itu.
"Akhirnya aku bisa menyentuhmu lagi, Keiji."
Jantung seolah berhenti berdetak, bumi yang —Akaashi tuduh berotasi lambat— seolah berhenti berputar.
Hanya ada bayangan samar bintang, gerhana bulan sempurna, langit yang memerah, dan angin malam.
Tiba-tiba saja Akaashi merasakan sakit luar biasa yang membuat kepalanya berputar seolah mau pecah. Tertegun, pupil mata melebar menatap lekat-lekat wajah yang selama ini bersembunyi dari balik topi lebar.
Akaashi bisa merasakan sekelebat cahaya putih muncul di alam pikirnya bersamaan dengan bayangan seorang gadis berseragam SMA yang tengah tersenyum.
Disusul oleh kenangan-kenangan lain yang memaksa pemuda itu bernostlagia.
Dimulai dari sebuah pertemuan manis hingga perpisahan yang menyakitkan. Tragedi yang selalu ingin dilupakan olehnya selama bertahun-tahun.
Bagai sebuah film lama, semua itu terekam ulang begitu saja di kepala Akaashi.
Segera ketika kesadarannya pulih, sebuah pelukan erat terhadap Sang 'Hantu Stalker' langsung dilaksanakan.
🌖🌗🌘🌑🌒🌓🌔
(F/n)
Jika saja Akaashi mengetahui identitas asli 'Hantu Stalker' ia pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengobrol dan memanfaatkan waktu dengan lebih baik lagi.
Apakah dunia sekeji itu?
Tidak, jika dunia memang keji maka Ia tidak akan memberikan kesempatan pada (Y/n) untuk menemui Akaashi.
Akaashi menyesal.
Ia kembali, gadis yang selalu dirindukan, kekasihnya dimasa SMA. Kekasihnya dari dulu hingga sekarang kembali dalam wujud yang tidak pernah Akaashi percayai.
Katakan kalau ia tidak sedang bermimpi.
Jika ini mimpi, tolong! Akaashi sangat ingin memohon untuk tidak terbangun selamanya.
Lutut pemuda itu lemas, membuat Akaashi jatuh terduduk seketika. Pelukannya pada (Y/n) masih belum dilepas.
Menenggelamkan wajah menghirup aroma sang kekasih, berusaha sekeras mungkin agar mereka bisa kembali bersenyawa. Akaashi menikmati tepukan tangan (Y/n) pada punggungnya.
"Maaf aku tidak mengenalimu," bisikan lirih yang terdengar seolah menahan tangis. Akaashi berusaha untuk tidak menjadikan ini sebagai pertemuan yang penuh air mata.
"Maaf meninggalkanmu tanpa mengucapkan apapun, maaf mengejutkanmu atas kehadiranku," (Y/n) balas meminta maaf. Gadis itu melepaskan diri dari pelukan Akaashi, memaksa menatap netra hijau dengan menempelkan dahinya pada dahi sang kekasih.
Tiba-tiba saja Akaashi kembali mengingat tragedi mengerikan yang membuatnya harus kehilangan (Y/n). Tubuh pemuda itu bergetar hebat tanpa sebab kala mengingat hari kelulusan, percakapan terakhir saat ia mengantar sang kekasih di sebuah halte bus.
Jalanan yang gelap.
Bus yang terguling dan meledak.
Tangisan para penumpang.
Sirine mobil polisi dan ambulans.
"Jangan pergi..."
(Y/n) hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan —atau mungkin terdengar seperti permohonan— dari sang kekasih.
"Gerhana akan pergi, dan aku juga akan pergi," tangan kanan kembali mengelus pipi Akaashi,
"hanya disaat seperi ini aku bisa menyentuhmu," tangan kiri saling berpegangan erat dengan tangan si pemuda,
"apakah caraku mengucapkan selamat tinggal ini terlalu baik?" air mata lolos membentuk sungai kecil di wajah sang gadis.
Sial! Akaashi berusaha untuk tidak menangis, namun gagal. Segera ia menekan bagian belakang kepala (Y/n) dan mempertemukan bibir mereka.
Itu hanyalah sebuah ciuman ringan dengan menempelkan kedua bibir. Tidak ada yang menggairahkan, ciuman itu hanyalah berasa air mata.
Bulan mulai mendapatkan sebagian cahayanya kembali, (Y/n) menutup kedua mata Akaashi sembari berbisik lirih.
'Kau tau apa permintaanku bukan?'
Akaashi menggeleng.
'Yang ditinggalkan harus menjadi lebih kuat. Jadilah kuat!'
Bagian bawah bibir digigit kuat hingga lecet, Akaashi terisak pelan.
'Selamat tinggal...'
Akaashi bisa merasakan sebuah kecupan singkat dibibirnya.
Bulan telah dapatkan seluruh cahayanya, kedua kelopak mata dibuka, Akaashi tersadar kalau ia hanya duduk sendirian di jalan layaknya orang gila.
Masih bertahan pada posisinya, Akaashi berusaha berpikir keras menganalisa kejadian yang baru saja dialaminya.
Ini semua benar-benar berada di luar akal sehatnya sendiri.
Lupakan, ia benar-benar telah kehilangan waras. Karena sekarang Akaashi –yang terkenal kalem dan bisa mengontrol emosi—harus menangis keras di tengah jalanan yang sepi sehabis gerhana seperti orang gila.
Bisakah mereka bertemu kembali?
Apakah 'Hantu Stalker' akan kembali?
Kapan gerhana berikutnya bisa berlangsung?
🌖🌗🌘-END-🌒🌓🌔
Kayaknya aing benar2 gak bisa beneran(?) berhenti nulis yak wwww
anggap aja ini cerita selingan yang ditulis saat aing udah mumet ngapalin rumus ekonomi lolol
Akaashi luv my pretty boy <3
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top