33

Entah kesunyian apa yang sedang menyiksa Yelena sekarang, tapi nihilnya suara secara tiba-tiba ini membuatnya sangat tersiksa. Sakit dan tercekik. Hanya bunyi kecipak air yang terdengar tak jauh dari kakinya, menjadi satu-satunya sumber suara di tengah kesunyian itu.

Monster itu ketakutan....

Seandainya Yelena tidak pernah melihat makhluk itu di masa lalu, ia tidak akan percaya kalau makhluk satu ini dan pemuda tampan di kelasnya adalah satu orang yang sama.

Sosok yang terduduk di pojok toilet itu sama sekali tidak mirip Manusia. Kulitnya abu-abu seperti warna makhluk pucat di laut dalam. Pinggangnya berupa ekor panjang nan besar membentang dari pinggang ke bawah. Sisik menutupi tubuhnya dari pinggang ke bawah, dan semakin bawah, semakin besar dan jelas sisik-sisik semi transparan itu. Setia lembar sisik itu memantulkan sinar lampu dalam kroma biru-emas yang pucat, tapi juga berkilau dalam cahaya putih yang teduh. Sirip di ujung ekor itu berkelepak di lantai seperti ikan yang kekurangan air. Yelena bisa melihat teksturnya yang semi transparan seperti helai sutra.

Tangan Yelena gemetar. Deja vu menghantamnya seperti ombak yang bergulung-gulung.

Ketika Yelena sibuk terdiam, Calya bereaksi jauh lebih cepat dengan langsung menggeram marah kepadanya. Mata bulatnya yang seperti permata, melotot seperti binatang yang terpojok. Yelena terkesiap dan terperangah.

"Rrraaahh!" Calya menggeram marah seperti binatang buas.

Cakar Calya yang tampak seperti bilah-bilah pisau, mencengkam tanah dengan kuat, Punggungnya turun, sirip di belakang punggungnya naik, seperti predator yang mencoba tampak mengintimidasi. Yelena melihat insang di leher dan pinggangnya berkepak membuka, membuat sosoknya tampak seperti binatang dan sama sekali tidak seperti manusia. Makhluk itu membuka mulut dan mendesis padanya, menampilkan sederetan taring seperti hendak menerkamnya jika ia berani mendekat.

Yelena seharusnya lari. Dia tahu itu.

Seperti lima tahun lalu, dia akan lari.

Tapi berbeda dari lima tahun lalu, kini lari adalah tindakan paling benar. Bukan lagi pelarian, tapi unsur untuk bertahan hidup.

Tapi apa ... memang benar begitu?

Langkanya membentur pintu keluar toilet dan mendadak saja ia termenung. Ia menoleh balik ke depan lagi. Kenangan saat dia terakhir kali ia bertemu dengan Temus lima tahun lalu, benaknya yang selalu bingung akan apa yang sebenarnya ingin dikatakan Temus di hari itu, dan fakta bahwa ledakan hebat itu terjadi ketika dia berlari pergi ...

Fakta bahwa dia berlari kabur di hari itu ketika Temus diteriaki monster, tidak akan berubah.

Jika ia pergi dari sini lagi, ia tidak akan mengubah apa pun. Hanya mengulangi kesalahan yang sama.

Tapi jika ia lari, mungkin saja ada yang akan menolong merfolk satu ini. Biar bagaimanapun ini bukan dunianya. Bukan urusannya. Jadi tidak akan ada yang menyalahkannya jika sampai lari. Malah, mungkin bagus jika dia lari. Lebih sedikit beban. Lebih sedikit masalah untuk ditangani. Lebih sedikit hal yang ia ketahui jadi orang-orang COAST tidak perlu mengawasinya setiap hari.

Benar.

Lebih bagus seperti itu.

Seandainya saja memang bisa seperti itu.

Tap bukannya lari, Yelena malah pelan-pelan membungkuk di tanah. Menyamakan posisi matanya dengan makhluk itu.

"Tenang..." Yelena bicara, seolah Calya masih bisa memahaminya, sebuah pertanyaan yang terlambat sekali ia pikirkan saat itu. "Aku nggak ... aku nggak ada niatan untuk..."

Calya masih tampak waspada dengannya. Ekornya yang besar mengepak, seakan ingin menyandungnya dan Yelena tersentak. Tapi ekor itu tak pernah menyentuhnya. Tak benar-benar menyenggolnya. Seperti sebuah gertakan.

Apa dia memang hanya menggertak? Yelena tak tahu. Jika Calya tidak serius ingin menyakitinya dan hanya ingin menkutinya-sesuatu yang munkin saja sedang ia usahakan sekarang-tidak ada alasan bagi Yelena untuk mengabaikannya. Tapi tentu saja, binatang yang terpojok bisa melakukan apa pun untuk bertahan hidup. Jika dia memberikan alasan bagi Calya untuk stres dan bertindak agresif, nyawanya bisa langsung hilang dalam sekejap, entah oleh cakar-cakar itu atau oleh giginya.

Yelena langsung menelan ludah dengan gugup.

Mendadak saja Yelena mempertanyakan keputusannya untuk membuat lehernya berada dalam jangkauan cakar makhluk itu: dengan merendahkan tubuhnya. Keputusan itu terasa sangat salah sekarang. Namun Yelena langsung menenangkan diri.

Tidak, tidak mungkin begitu...

Meski dia tidak tahu apa yang akan terjadi, setidaknya ia yakin, Calya bukan bukan makhluk yang asal sembaranngan menerkam. Setidaknya, saat dia tidak punya sirip.

Yelena melepas jaket almamaternya pelan-pelan, lalu melihat kran air yang menetes di salah satu bilik. Matanya bergerak cepat ke celah-celah pintu toilet lalu ke serpihan-serpihan baju yang berserakan di lantai. Dia langsung menatap Calya dan perlahan, menunduk, mengambil sisa-sisa baju yang berceceran di kakinya.

Tapi beberapa serpihan baju berceceran di dekat Calya.

Perlahan, tangan Yelena terulur. "Aku ... minta sisa bajumu yang sobek."

Ini pertaruhan, Yelena menyadari. Dia tidak tahu apa Calya akan bekerja sama atau bahkan memahami dirinya. Tapi setidaknya ... setidaknya dia tidak lari.

Benak Yelena kembali teringat hari itu, ketika monster itu-ketika Temus-mengulurkan tangann yang berwujud cakar tajam ke arahnya dari tengah kerumunan orang-orang yang panik- orang-orang yang mengatainya sebagai monster-Yelena sadar sekarang bahwa saat itu Temus bukan sekadar memanggilnya atau ingin meraihnya.

Temus meminta bantuan di hari itu.

Dan Yelena lari.

Yelena lari karena merasa itu bukan urusannya.

Setidaknya itu yang ingin ia takui. Tapi ia tahu, di dalam sebagian dirinya yang lain, saat itu Yelena merasa marah. Dia merasa meninggalkan Temus adalah hal yang sepatutnya dilakukan. Sepantasnya pemuda itu dapatkan, karena telah meninggalkannya.

Yelena telah bertindak kejam di hari itu dan lima tahun setelahnya, ia terus bertanya-tanya apa sudah melakukan tindakan yang tepat.

Jika saja ia bisa memilih pilihan berbeda hari itu, apa yang terjadi, akan berbeda juga?

Sekarang saatnya Yelena mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang menghantuinya bertahun-tahun itu.

Calya masih enggan. Dia masih terdiam, tapi sorot marah di matanya pecah. Retak dan menampakkan apa yang ada di baliknya: sosok jiwa yang sedang ketakutan.

"Aku nggak akan menyakiti kamu." Suara Yelena lebih mantap sekarang. "Aku mau bantu kamu. Dan aku ada ide."

Di lantai, air mulai menggenang dari dua kran air yang dibiarkan Yelena menyala sampai luber.

"Ayo, waktu kita nggak banyak." Yelena mencoba membujuk lagi.

Sayangnya, uluran tangannya tak pernah berbalas.

Yelena tak bisa menjelaskan rasa sakit apa yang mencubitnya ketika uluran tangannya tak bersambut. Ketika ekor itu membentur kakinya seperti hendak mengusir, Yelena tak bisa menahan rasa jengkel dan kesal. Dia berniat membantu, tapi ini balasannya?!

"Kamu emang selalu kayak gitu..." Yelena menarik tangannya lagi. Mengepalkannya kuat-kuat. "Selalu, selalu, dan selalu aja begitu..."

Tangannya kini terkepal di udara.

"Dan kayak orang bodoh, aku juga selalu aja ... nggak peduli berapa pun keulang, aku selalu aja jadi orang yang paling bodoh karena mengulurkan tangan..."

Ke orang yang bahkan nggak tau terima kasih...

Yelena tersenyum sinis.

"Hanya karena aku nggak bisa mengabaikan nuraniku sendiri..." Sambil menahan kekecewaan, Yelena mengambil sobekan baju sebisanya yang bisa ia dapatkan dan segera keluar dari toilet pria.

Dia melangkah ke dalam bilik sekilas sebelum tanpa ragu menutup pintu toilet sampai suara bantingannya menggema di lantai yang sudah sepi dari aktivitas.

***

Calya hanya menyaksikan gadis itu pergi dengan terbuur-buru. Dengan wajah kesal tentu saja. Dengan hanya seuntai janji: "Aku akan tunggu di luar" terucap. Satu-satunya yang tersisa. Lalu ia pun menyalakan dua kran air di kanan dan kiri blik toilet sebelum keluar dan tidak lagi kembali.

Calya menyipitkan mata pada dua kran itu, bertnaya-tanya kenapa ia menyalakan kran itu? Apakah Yelena ingin keberadaannya diketahui publik dengan kran air yang bocor ini?

Tentu saja

Calya tersenyum sinis.

Tentu saja itu yang ia mau. Dia beruntung saja datang ke tempat ini ketika dia sedang dalam keadaan rapuh dan setelah itu memanfaatkan kondisi ini untuk kepentingan dia sendiri. Semua manusia selalu seperti itu.

Seperti yang dikatakan Tiara dan semua duyung lain di lautan sebelum ia naik ke darat: "Manusia itu berbahaya dan perangai mereka menjijikkan."

Calya rasa, manusia satu ini pun tak ada bedanya. Mungkin karena itulah, ia menandai gadis ini di masa lalu. Bukan karena perasaan indah berbunga seperti kisah tragis di masa lalu. Dia mungkin dulu hanya tak sengaja menandai gadis itu ketika dia sedang sangat marah.

Sekarang aku harus pikirkan bagaimana cara menghentikan kran-kran air ini sebelum membanjiri toilet...

Calya menyaksikan dua bilik toilet meluber. Airnya menggenang sampai ekornya bisa berkecipak di atas permukaan air itu.

Dan segera saja dia bernapas lega. Tanpa sadar.

Calya terkejut. Kekuatannya kembali. Energinya kembali. Dia segar kembali. Dia bahkan tidak sadar dia kekeringan dan butuh air sedari tadi. Sekarang saat air mengalir ke kulitnya, rasanya seperti hidup lagi.

Jangan-jangan...

Pandangannya memelesat ke arah pintu ketika kain-kain baju menyelip di balik celah-celah pintu dan menyumbat setiap celah yang ada. Membiarkan air menggenang di dalam toilet. Calya memperhatikan kain-kain itu, menyadari kalau kain-kain itu adalah bagian dari pakaiannya yang tercabik. Pakaian itu kini digunakan untuk menyumbat dinding pintu, memberinya kesempatan untuk memulihkan diirnya sekali lagi dengan air yang melimpah. Memperpanjang nyawa hidupnya.

Calya mencelus dan nyaris tak bisa percaya. Tanpa sadar nama yang tadi setengah mati tak sudi ia ucapkan, kini justru terucap dengan nada tak berdaya dari bibirnya: "Yelena..."

***

Yelena merasa sangat tolol.

Di luar toilet, di lantai yang sepi, dia seperti orang gila. Satu tangannya sibuk menyumbati pintu toilet dengan potongan baju sekaligus baju almamaternya sendiri. Sementara tangan yang lain sibuk menghubungi nomor Blik Oktara yang entah kenapa tidak kunjung tersambung.

Panggilan selalu saja sibuk.

Yelena akhirnya terpaksa mengirim pesan suara karena sepertinya Bli Oktara masih aktif internetnya. "Bli, saya butuh bantuan di sini segera! Kondisi kritis!"

Tak lama, pesan suara balasan pun terkirim.

"Saya sedang mengusahakan secepatnya ke sana! Apa saja yang kamu butuhkan? Saya bisa bawa sekalian dalam perjalanan ke sana!"

Yelena mencoba berpikir apa saja yang ia butuhkan, tapi tidak banyak yang ia bisa pikirkan ketika pikirannya panik dan hatinya kesal setengah mati. "Saya nggak tau! Apa yang harus dibawa untuk gotong orang seberat hampir satu kwintal keluar dari kampus tanpa ketahuan?!"

Bli Oktara mengirim pesan lagi langsung setelah Yelena mengirim pesan: "Saya akan bawa semua yang saya bisa ke sana! Tapi mungkin saya nggak akan jadi yang pertama!"

Yelena baru saja ingin bertanya apa maksudnya, ketika air dari dalam toilet mulai bocor.

Yelena terkesiap dan langsung menahannya dengan kaki. "Astaga! Kenapa aku nggak bawa baju lebih banyakan aja, sih?!"

Gadis itu dengan kesal memberengut, mencoba membetulkan semua baju yang ia pasang untuk menahan debit air di dalam, tapi semakin lama, semakin sia-sia. Semakin banyak air yang bocor keluar. Dimulai dari tetesan kecil hingga sekarang aliran kecil terbentuk di bawah pintu.

"Hei, kamu yang di dalam! Kamu nggak bisa sedikit bantuin apa gitu?! Sumbat airnya, atau gimana aja, yang penting aku nggak kesusahan sendiri di sini!" Habis sabar, Yelena pun menghardik.

Tapi tentu saja, tidak ada jawaban terdengar.

Yelena menggeram kesal dan terus mengirimkan pesan suara Bli Oktara. "Dia sama sekali nggak bisa diajak kerja sama!"

Saat itu, Yelena luput menyadari satu pesan yang sudah dikirim lebih dulu oleh Sang lelaki. Satu pesan suara yang tidak ia baca.

Yelena pun memutarnya: "Kalau kamu lihat perempuan berbaju terusan putih dengan rambut dicepol dan topi lebar datang-di jidatnya ada tanda merah, percaya aja sama dia! Dia akan nanya nama kamu lebih dulu!"

Yelena mengerang frustrasi ke pesan suara yang ia kirim. "Itu sama sekali nggak membantu, Bli!"

Mungkin hardikan Yelena tadi agak keras sampai tiba-tiba langkah kaki terdengar di dekatnya. Yelena terkesiap dan menoleh ke arah lorong, tepat ketika salah satu OB kampus dengan seragam masih lengkap, menatap Yelena yang bersandar dengan cara mencurigakan ke daun pintu toilet pria yang tersumbat sekumpulan kain dari lantai sampai ke dindingnya.

"Gek, ngapain kamu masih di sini? Semuanya sudah pulang." Pria paruh baya itu menegur Yelena dengan alis berkerut-kerut. "Ngapain juga kamu di pintu itu?"

Seketika kerutan di dahi pria itu semakin dalam.

"Gek, itu toilet pria! Ngapain kamu di pintunya kayak begitu, hei!"

Yelena langsung merasa seluruh darah terkuras dari wajahnya.

Matilah aku!

***

Lantai toilet sudah tergenang air cukup banyak sampai Calya bisa bergerak di lantai, menyeret tubuhnya sendiri dan mematikan kran yang menyala. Sementra ia mematikan kran air, ia mendengkus pelan dan bergumam sendiri.

"Kenapa kamu nolongin aku? Ketika aku sama sekali tidak menunjukkan kebaikan apa pun ke kamu...?" Calya melihat kran terakhir. Dia mencoba menggunakan kekuatannya untuk membuat air di dalam bak berhenti meluber. Luapan air itu seketika terhenti dalam ruang tak terlihat di udara. Tapi pikiran Calya sama sekali tak terfokus pada perkembangan ini. Dia malah fokus memikirkan gadis yang menunggunya di luar sana. Meski ia tidak tahu apakah gadis itu sungguh menunggu di luar atau sudah kabur memanggil manusia lain untuk menyergapnya, sesuatu dalam dirinya seolah berkata bahwa gadis itu berkata jujur.

Bahwa ia sekarang masih menunggu di depan pintu, entah melakukan apa.

Calya mendengarkan dari daun pintu. Ada suara orang yang mengomel di depan sana. Ia tidak begitu mendengarkan dengan baik. Tapi suaranya jelas wanita dan ia sedang marah-marah. Calya termenung.

"Jadi kamu masih belum pergi? Kamu ... sungguh-sungguh menunggu di luar...?"

Kenapa?

Calya tak henti bertanya-tanya. Meski ia sudah memperlakukan gadis itu dengan sangat buruk, dia tetap kembali, tetap tinggal dan menolongnya. Seolah dia ... berharga.

Apa mungkin tanda itu ia berikan pada gadis ini ... bukan sekadar karena rasa marah seperti yang ia duga/

Calya tidak berani memikirkan lebih jauh. Jadi ia pun memanggil: "Yelena-

Tiba-tiba suara orang di luar terrdengar. Suara baru. Suara seorang pria. Calya langsung bergerak waspada.

Yelena!

***

Yelena merasa hampir mati kutu ketika salah satu OB menghampirinya dengan wajah cemas, bingung, dan heran yang semakin lama semakin berubah ke arah curiga. Jantung gadis itu berpacu cepat. Otaknya mencoba memikirkan alasan. Tapi sebaik apa pun alasan yang bisa ia berikan, tidak ada alasan yang bisa menjawab kenapa lantai toilet pria bisa sampai banjir dengan dia menahan pintu itu seperti pengawal setia.

Bapak itu menatap Yelena dan pintu toilet bergantian. "Ada orang di dalam?"

"Ng-nggak ada, Pak." Yelena memaki diri sendiri. Bahkan di telinganya, jawaban itu terdengar sangat payah!

Bapak OB itu tidak langsung percaya. Dia malah- "Coba buka pintunya. Ngapain disumbat begitu? Kamu lagi iseng ngurung orang di dalam, ya?"

Yelena hampir setengah menjerit ketika menjawab dalam hati. Kalau aku bilang aku mengurung siren di dalam, mana ada yang percaya?!

"P-Pak, sebentar aja, ya? Teman saya lagi di dalam, jadi nggak bisa-

"Nggak bisa. Itu ngapain teman kamu di dalam sampai banjir begitu? Buka pintunya, sebelum saya laporkan ke satpam di depan!" Bapak OB itu sudah memperingatkan dan Yelena tak berani melawan.

Jika sampai ada laporan dan namanya tercatut dalam laporan tak terpuji itu-

"Tutup telingamu, Yelena."

Mendenagr kata-kat aitu dari balik pintu, Yelena langsung menutup telinganya.

Dan tiba-tiba saja pria itu membeku. Mematung. Matanya terpaku ke pintu dengan bola mata yang membuka lebar tanpa pernah berkedip. Tapi tubuhnya tak bergerak. Sama sekali. Yelena samar-samar mendengar suara nyanyian, tapi dia tidak berani membuka telinga. Terlalu takut untuk mencoba.

Tapi melihat pria itu, Yelena jadi bertanya-tanya ... apa sekarang keadaan sudah aman? Apa dia sekarang baik-baik saja?

"Anak muda memang sukanya main buru-buru, ya."

Suara itu datang dalam bunyi yang mengingatkan Yelena pada denting lonceng angin yang berembus tiba-tiba kala angin berubah arah. Yelena mendongak, tepat ke arah perempuan berbaju terusan putih dengan topi lebar yang langsung membuka topinya di hadapan Yelena. Memperlihatkan rambut yang disanggul formal di balik topi itu, berikut dengan tanda merah di dahi yang mengingatkan sang gadis pada sosok penari tradisional.

"Selamat malam. Saya rasa ini pertama kali saya berkenalan, ya?" Suara wanita itu sama teduhnya seperti angin lembut di musim hujan. Sama berwibawa dan anggun. "Saya Aswin. Saya dengan beberapa hal soal kamu dari Bali Okta. Jadi saya rasa Bli Okta pun udah memperkenalkan saya sedikit ke kamu, Nona Yelena."

Yelena mengangguk kikuk. Ada sesuatu di dalam suara itu yang mengganggu Yelena. Mungkin cara wanita itu menatap tajam, atau mungkin juga fakta bahwa sang OB mendadak diam mematung di sisinya. Bukan sekadar melamun, tapi memang seakan waktu berhenti berputar untuknya. Rasanya seperti sedang bertemu versi bijak dan lebih anggun dari ibunya sendiri.

"Calya, kamu di dalam?" Wanita itu, Nona Aswin, bertanya. Dan sekali lagi Yelena hanya bisa mengangguk.

Tidak lama setelah itu, terdengar suara balasan dari dalam toilet: "Ya."

Sambil tersenyum penuh pengertian, wanita itu melihat pintu yang dijaga oleh Yelena, lalu menatap Yelena lagi. Senyumnya tak pudar dari Yelena. Tapi tampak semakin simpatik.

"Kamu menyumbat pintunya agar lebih banyak air tersimpan di sana, ya? Kamu pintar juga."

Wanita itu mengedip sebelah mata. Terdengar nada bangga yang tersirat di sana yang membuat Yelena merasa sedikit ... senang. Rasanya ketegangan yang membuat kot menyesakkan di dadanya lenyap seketika.

"Oke, kamu bisa tenang. Sekarang saya yang akan ambil alih dari sini." Aswin berkata dan dari balik tas jinjing yang ia kenakan, wanita itu menarik sebuah lonceng yang tampak kuno. Ada ukiran aneh di lonceng itu, tapi Yelena tak mengenali motifnya. Warnanya memudar dan ukurannya terlalu mini untuk sebuah lonceng biasa. "Sekarang kamu bisa pulang. Calya udah ada di tangan yang benar. Dan seharusnya Okta udah sampai di halaman dan siap antar kamu pulang."

Aswin tersenyum. Tapi Yelena masih syok. Satu denting lonceng terdengar dan Yelena langsung bangun. Entah bagaimana, tubuhnya kembali mendapat kekuatan untuk bangkit. Kepalanya jernih dan ia langsung menengok ke jaket almamaternya di celah pintu.

"Oh, astaga, jangan khawatir. Kami akan urus penggantinya," hibur Aswin tampak prihatin. Wanita itu menyesal juga pada kondisi jaket almamater Yelena. "Akan segera kami antarkan besok. Salah satu agen kami pasti akan mengaturnya. Nah, ayo, sekarang lekas pergi dari sini. Biar saya yang ambil alih."

Yelena tidak begitu paham, tapi melihat wanita itu begitu yakin, ia pun pergi, berlari dari tempat itu dan berharap semua memang baik-baik saja, sesuai kata-kata Aswin.

Di parkiran, Yelena menemukan mobil hitam familier dan wajah seorang pria yang tampak cemas langsung menyambutnya. Pria itu bukan ayahnya. Tapi seitdkanya ia cukup lega ketika memanggil nama pria itu dengan penuh pengharapan.

"Bli Oktara!"

***

Aswin menyerahkan satu botol cadangan lewat celah pintu. Air di dalam sana sudah ditahan oleh Calya sendiri. Aswin menunggu dengan sabar di luar pintu.

"Kondisi kamu udah pulih?"

"Sebagian besar," jawab Calya. "Tapi badan saya belum kembali jadi manusia."

"Maaf, stok yang habis di mana-mana ini sedang kami selidiki. Keteledoran seperti ini seharusnya tidak terjadi" Aswin menyahut dengan mudah, tapi juga tak bermain-main dengan rasa penyesalan yang menggerogoti nada bicaranya. "Meski kami juga punya pertanyaan pada konsumsimu yang tidak normal belakangan ini. Mungkin kita harus pertimbangkan tes aptitude kedua untukmu dan Tiara. Siapa tahu tingkat kompatibilitas kalian berdua lumayan berkurang setelah lama tinggal di darat-

"Nggak." Mendengar jawaban tegas itu, Aswin membelalak kaget.

"Hm, tumben. Baru kali ini aku dengar kamu menolak," komentar Aswin.

"Aku masih bisa. Masih kuat. Ini cuma insiden kecil yang nggak ada hubungannya sama kecocokan badanku di daratan." Calya menghela napas. "Udah sejauh ini, udah sedekat ini, mana mungkin aku mundur begitu aja...!"

"Tapi pacarmu kayaknya mau kamu mundur tuh..." Aswin bergumam sendiri. Lalu berdeham: "Kamu udah siap di dalam sana?"

"Sudah," jawab Calya. "Kamu bisa mulai sekarang, Aswin."

Aswin tersenyum. Di tangannya, lonceng kuno yang merupakan salah satu pusaka dewa, berdenting pelan. Dentingnya bergema dalam setiap alunan bait mantra yang Aswin katakan. Waktu seolah berhenti, dunia seolah terbagi, antara dirinya dan di dunia luar. Kini Aswin menjadi pusat dunai kecil yang retak dan membelah dari dunia inti.

Jiwaku mengabdi, lisanku memuja

Wahai lindungan tujuh Samudera

Dari denting lonceng itu, lampu-lampu kampus perlahan meredup dan mati. Tapi para penghuni kampus yang tersisa tak menyadari. Sementara di dalam bilik toilet, bayangan manusia yang terduduk di lantai, perlahan lenyap. Tergantikan oleh tanda merah yang menyala di sekujur tubuhnya dan perlahan, ia pun menjerit kesakitan.

Beriku gelap, beriku gulita

Sadha Astu Baruna!

Seketika seisi kampus diselimuti kegelapan. Dan cahaya bulan terlihat terang di tengah kegelapan itu. Waktu yang sempurna bagi seekor monster untuk merayap keluar dari tempat persembunyiannya tanpa ragu. Tanpa ada satu pun yang melihat.

Air di seluruh wilayah kampus terangkat untuk menutupi kepergiannya. Menghapus jejaknya di tanah dan menutupi aromanya yang persis darah dan kematian yang hidup, berjalan di tengah kegelapan. Hanya saat ia kembali menemukan jalan kembali ke laut, semua langsung kembali bersuara. Lampu-lampu kembali menyala. Orang-orang kembali saling mengobrol, seolah tak pernha terjadi apa pun.

Dan petugas OB yang bengong di depan toilet tadi kembali bergerak. Dengan Aswin di dekatnya, memberikan seulas senyum ramah, tak menyadari sejejak air yang mengalir seperti diseret dari dalam toilet pria yang membuka lebar.

***

Gianyar, di waktu yang sama

Seorang pemuda terkesiap di depan etalase apotek kecil di jantung Kabupaten Gianyar. Berlawanan dengan atmosfer jalanan yang ramai dan duntuk di tempat-tempat wisata, apotek kecil itu sepi pembeli selain daripada warga lokal. Tidak ada turis yang mampir, tapi sang pemuda bisa disalahartikan sebagai turis bagi yang baru saja melihat.

"Jadi, nggak ada sisa untuk obat yang saya mau ini?" Pemuda itu bertanya dengan keterkejutan yang sulit dibuat-buat. "Tapi ini toko ketiga yang saya datangi. Kata toko-toko sebelumnya, kalau di toko mereka habis, toko ini pasti punya."

"Ya, maaf, Bli." Gadis yang melayani pemuda itu meminta maaf dengan wajah menyesal yang tulus. "Kami terima kabar memang ada masalah di bahan bakunya. Jadi pengiriman bahannya agak terlambat dua sampai tiga hari ini. Besok lusa kemungkinan sudah sampai."

Pemuda itu tampak berpikir. "Bahan baku? Saya tidak dengar apa-apa, ya, soal masalah di bahan baku."

Pemuda itu lantas tersenyum. Lalu perlahan, dengan presisi seperti pemangsa yang terlatih, ia mencondongkan tubuh ke arah gadis yang ada di kasir. Satu tangannya beristirahat di kaca etalase toko. Dan ketika ia bersuara lagi ... suaranya terdengar jauh lebih merdu, syahdu, dan memikat.

"Saya butuh sekali obat ini, Gek. Tapi kalau tidak dapat, ya sudah, apa boleh dikata." Pemuda itu tersenyum penuh sesal. "Tapi bolehlah saya dengar ... kenapa bahan bakunya bisa bermasalah, Nona Cantik?"

Tidak akan ada yang sadar dengan perubahan suara itu. Mereka semua-seluru pengunjung di apotek itu-sudah terlena dengan pikatan sang pemuda. Dalam pesona yang memikat itu, tidak akan ada yang terasa salah. Tidak akan ada yang terpikir betapa ganjilnya seorang pemuda dapat memeras informasi dengan begitu mudah dari seorang pegawai apotek yang patuh dan teladan. Tidak akan ada yang berpikir betap salahnya situasi ini, karena semua orang telah tenggelam dalam lantunan nada mematikan dari lautan. Semua telinga ditulikan. Semua mata dibutakan. Hingga tidka ada yang sadar sederetan taring yang tersimpan di balik bibir yang tersenyum manis itu, pun dengan sepasang mata buas yang berkilat sesaat di mata pemuda itu, hanya sekilas, sebelum berganti kembali menjadi sepasang mata kecoklatan yang pekat dan membosankan.

Pintu berdenting ketika pemuda itu keluar toko dan mendebas. Dia menoleh ke samping kiri, tepat ketika seorang gadis berambut hitam pendek dan bergelombang seperti arus ombak, menantinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Kacamata persegi-nya menggantung di atas batang hidung. Dia tampak kesal. Tampak tahu. Tapi sang pemuda menepisnya dengan senyum manis seperti anak kucing jinak.

"Maaf, ya, ternyata stok di sini habis juga, Mira."

Wanita itu mendengkus sebelum membuang muka dan tampak terpekur. "Stok di Denpasar, Gianyar, bahkan di Badung, semuanya habis tanpa sisa sampai dua hari ke depan. Ini benar-benar nggak wajar. Aku udah minta jurnal dan laporan pembelian dari semua toko yang disediakan dan nggak ada nama yang ganjil. Semuanya residen yang terdaftar masuk ke darat secara legal."

Wanita bernama Mira itu langsung menutup ponselnya.

"Artinya masalah bukan di pembelian..." gumamnya.

Sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi, tapi dia tidak tahu apa dan kenapa penyebabnya. Sang wanita yang dipanggil Mira itu tampak berpikir dalam-dalam. Tapi kemudian ia melirik pemuda di sebelahnya. Dan tanpa peringatan, Mira langsung menyikut pria itu.

"Udah aku bilang, jangan sembarangan pakai nyanyian laut!" omel wanita itu.

Pemuda itu tertawa dengan ringan. "Itu namanya trik kecil, Mira Rekanku yang baik. Kalau kita pakai metode-mu, mungkin sampai Dewi Baruna bereinkarnasi ketiga kalinya, kita nggak akan dapat petunjuk apa pun."

Mira mendengkus pelan. "Tidak perlu sampai membuat orang terlena begitu. Itu tidak sopan."

"Asal tidak ada yang tahu." Pria itu menyahut dengan cuek. "Lagipula informasi kecil begitu, bisa saja dilupakan dalam hitungan jam."

Ketika Mira menembaknya dengan sorot menuduh dan wajah apa-maksud-kamu, pemuda itu hanya mengedikkan bahu.

"Saya hanya bicara fakta. Manusia punya daya ingat yang pendek. Sesuai dengan usia mereka," ujarnya santai.

Wanita itu terdiam, tak menyahuti kata-kata taamnya. Ketika pemuda itu melirik, gadis itu sedang termenung. "Kalau begitu kita harus mulai cari dari rantai idistribusi yang lebih dulu dari toko ini. Apa mungkin ada maslaah di sana juga...?"

Mendenagr gumaman panjang itu, tanpa bisa ditahan, pemuda itu pun tersenyum, lalu membungkukkan badan sedikit sampai bibirnya ada di depan telinga sang wanita.

"Kamu mau aku kasih tau intel yang menarik dari dalam dinding kaca barusan, Mira?" Dia tersenyum dan sekali lagi, wajahnya sebagai manusia luntur. Dan wajah licik di balik senyum polos itu kembali muncul. "Infonya mungkin kecil, jadi aku tidak akan minta bayaran yang mahal. Tapi ada kemungkinan info ini berguna buatmu, lho."

Mira melirik dan pemuda itu tersenyum. Merasa sudah menang.

"Bagaimana? Tertarik dengan penawaranku?"

"Nggak juga." Penolakan mentah-mentah itu membuat sang pria tertegun. "Masalahnya ada di bahan baku, ya, kan?"

Seketika saja senyum pria itu membeku. Meski masih tampak ramah, senyum tak lagi menyentuh mata pemuda itu. "Kamu benar-benar tidak seru."

Mira tersenyum tipis untuk dirinya sendiri, merasa bangga karena sekali lagi bisa mengungguli permainan pria itu di lahan keahliannya sendiri. Namun tak bisa dielakkan, wajah merajuk pria itu agak membuatnya risau.

"Tadi penawaranmu menarik, kok, tapi aku udah punya dugaan tajam ke sana." Mira tersenyum lalu merangkul sebelah lengan pria itu, mengaitkannya dengan lengannya sendiri. "Coba lagi. Siapa tahu kali ini aku akan tergoda."

Pria itu gantian mendengkus. "Apa kamu lagi minta ke aku, Mira? Kalau permintaan seperti itu, harganya lebih mahal lho."

Tangan Mira mengelus lengan pria itu dengan lembut. "Jangan merajuk dulu, Yufal. Ayo, kita masih harus melapor dulu ke COAST sebelum bergerak ke tempat selanjutnya."

Mira menarik lengan pemuda itu dan mengajaknya berjalan bersama.

"Sekarang? Padahal kita cuma agen lepas, kenapa kita jadi sangat patuh peraturan begini?" Yufal mendebas.

"Eufaldis..." Mira memanggil dengan nada memperingatkan.

"Ya, ya, aku dengar, Mira." Pemuda itu pun dengan berat hati, mengikuti ajakan sang wanita. Mereka menusuri jalan berdua dengan tangan saling bergandengan.

***

Mermaid jelita itu tersenyum di tepi kolam. Di dekat ekornya yang berkilau dalam kerlap-kerlip warna sisisk makhluk laut dalam, sekumpulan ikan berkumpul. Di bawah permukaan air kolam yang tenang, rasanya seperti ada jamuan yang akan terjadi.

Dengan lembut, duyung itu mengalunkan melodi yang memikat. Suara nyanyian lautan yang melenakan. Menarik para manusia ke kehancuran mereka, menenggelamkan kapal-kapal ke jurang karam mereka yang abadi, dan memusnahkan semua kisah cinta sia-sia yang akan terjadi.

Di dekat tangan bersirip mermaid itu, para ikan menelan sejumlah alga kecil berkilauan. Mereka lahap memakannya seperti sekelompok ikan barakuda yang kelaparan.

"Bukan hanya kami yang butuh. Alga Kalkasia ini juga bagus untuk pertumbuhan kalian, ya, kan?" Tangan sang duyung membelai ikan-ikan yang berenang. "Ini bagus untuk menetralisis racun limbah-limbah manusia di tubuh kalian. Nanti kalian akan bisa kembali berenang di laut dengan bebas dan sehat."

Mata tajam sang duyung beralih ke pria yang berdiri di tepi kolam. Di bawah bayang-bayang. Berlawanan dengan mata birunya yang keji, senyum gadis itu tampak menawan.

"Majulah..."

Pria itu maju keluar dari bayangan, menampilkan sosok pria manusia berpotongan rambut cepak dan berpakaian formal seperti pegawai kantoran. Wajahnya bersih dari rambut dan di mata sang duyung, dia cukup tampan. Ideal. Tidak terlalu kurus, tidak terlalu berisi. Dengan rambut hitam lurus pekat dan mata cerah yang memikat dan senyum yang menawan. Sayangnya, senyum itu mungkin tak akan lagi bisa ia lihat.

Tidak masalah. Ia bukan menyukai pria ini karena senyumnya.

Duyung itu tersenyum. Taring-taringnya yang setajam pisau tampak di balik bibirnya ketika berenang mendekat. Di belakangnya, ikan-ikan lain datang mengikuti. Semuanya tanpa suara. Tanpa riak air.

Duyung itu pun berhenti di hadapan pria manusia itu. "Kamu masih belum berubah pikiran tadi, Tuan yang Baik?" Suaranya lembut mengalun tanpa ada sedikit pun nada bengis.

Pria itu menunduk dengan gerakan lesu yang aneh. Matanya yang tadinya tak fokus, langsung berubah penuh binar cinta ketika bertatapan dengan sang duyung. "Ah, sayangku ... pasti. Aku tidak akan berubah pikiran. Aku masih mencintai kamu. Mana mungkin aku berubah."

Senyum wanita itu semakin menawan. Ekornya di bawah permukaan air bergerak dengan lembut. Sementara di balik permukaan air yang tenang, ratusan ikan menatap sang pria dengan mata kosong yang tak terbaca. Sang pria tidak tampak menyadari kehadiran ikan-ikan itu.

"Kamu masih mau melakukan apa pun untukku?"

"Tentu! Tentu saja masih!"

Duyung itu tersenyum. Lalu dia pun mengulurkan kedua tangan ke arah pria itu. "Kalau begitu, ayo. Ikut aku dan tinggal di sini. Selamanya."

"Ya ... aku mau. Aku mau bersama kamu ... selamanya..."

Tanpa ragu pria itu menceburkan diri ke dalam permukaan air. Rambut panjang dari duyung itu membelit tubuh sang pria dan menahannya tetap berada di bawah permukaan air. Tubuhnya serta merta berkelojota, kekurangan oksigen. Duyung itu menyaksikan pergulatan sang pria dengan senyum yang tak memudar. Lalu tepat-benar-benar tepat-sebelum gerakan sang pria berhenti sepenuhnya, sesaat sebelum nyawanya benar-benar lenyap, duyung itu menancapkan cakarnya yang tajam ke dada sang pria dan mencabut jantungnya.

Dengan hati yang gembira, duyung itu mengamati jantung berlumuran darah di tangannya. Tanpa ragu, ia menjilati darah itu.

"Terima kasih untuk makan malamnya." Duyung betina itu tersenyum. Tangannya membalik tubuh yang tak berdaya itu, membiarkan darahnya menarik lebih banyak ikan yang langsung mengerubunginya seperti segerombolan hewan buas. Sang duyung tertawa bahagia melihat pesta pora penuh darah di bawah permukaan air. "Ssh, tenang, ya, semua akan kebagian."

Sang duyung kembali bernyanyi dan ikan-ikan itu kembali tenang. Mereka masih makan dengan lahap, tapi tidak bringas dan tidak saling serang satu sama lain.

"Kalian aman di sini. Kalian tidak akan kelaparan. Dan kalian bisa kembali ke lautan kapan pun kalian mau." Sang duyung menatap rembulan yang bersinar di balik langit-langit kaca. Matanya berkilat dengan sebuah emosi yang asing dan jauh. Sambil menatap rembulan yang seolah diam mengejek, gadis itu mengunyah jantung di tangannya. Bibirnya yang berlumuran darah tersenyum. "Semuanya akan sangat sempurna jika malam ini abadi. Jika saja ... bulan ini tidak akan pernah tenggelam..."

Duyung itu tersenyum, menghabiskan santapannya dan kembali ke bawah permukaan air, tempat ikan-ikan kesayangannya melahap habis seluruh manusia itu, tanpa menyisakan tulang sama sekali. Hanya ada baju dan beberapa pakaian tersisa. Sesuatu yang dengan segera disingkirkan oleh duyung itu untuk dibakar nanti. Duyung itu langsung menyalakan saluran air yang dengan segera mengisi ulang kolam dan membersihkan semua darah yang tercecer di dalamnya.

Dia keluar ke permukaan air dan menikmati langit berbintang yang sunyi.

"Lihat, kan? Pratiwi tidak akan pernah kembali. Sekalipun aku memakan anak-anaknya sampai mati. Dia tidak akan pernah muncul." Tangannya melempar pakaian compang-camping itu ke pinggir kolam. Dengan pandangan mengejek, ia tertawa pada sisa-sisa darah di pakaian itu. "Sebodoh itulah dewi kalian."

Tanpa acuh, ia mengabaikan permukaan dan kembali ke kedalaman air yang perlahan kembali jadi jernih.

"Sulit sekali dibayangkan ... bagaimana bisa dulu seorang saudari kami jatuh cinta pada kalian dan rela kehilangan semuanya demi kisah cinta yang tidak berarti." Tangannya yang bercakar menatap ke arah permukaan air yang bersinar. "Aku akan pastikan kejadian yang pedih itu tidak akan terjadi lagi. Pada siapa pun."

Lautan hanya untuk lautan.

Duyung itu melihat ikan-ikannya yang sudah kembali jinak, datang menghampiri.

"Oh, asaga, Alga-nya habis? Kalian benar-benar pemakan rakus. Aku sudah kehabisan bahan baku ini selama dua hari." Duyung itu berkata dengan lembut. "Tapi pastinya teman-teman kita di COAST bisa menyediakan lebih banyak, bukan? Biar bagaimanapun, kita ini tamu-tamu istimewa Dewi Baruna. Tidak mungkin mereka mengabaikan kita."

Itu jika mereka tidak ingin ditenggelamkan oleh tsunami besar dalam satu malam...

"Akan aku coba hubungi mereka dulu" Tangannya menjentik kepala salah satu ikan. "Kalian bersabar, ya, anak-anak baik."

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dan duyung itu pun mendongak.

"Tiara? Kamu di bawah?"

Duyung itu tersenyum dan segera berenang ke atas sampai ke permukaan air. Menyambut kekasihnya dengan wajah ceria. Pada saat ia keluar, jejak-jejak darah terakhir telah lenyap terhisap sepenuhnya oleh saluran bawah kolam

***

Author's Note:

Dengan ini, Arc pertama di part 2 Drifted Away selesai dan "The Nameless Princess" alias Sang Putri Tanpa Nama dimulai. Kisah yang akan membawa kita lebih jauh ke masa lalu dua dunia. Di kisah ini juga, hubungan Temus dan Yelena akan semakin berkembang. Akan ada luka lama yang terbuka, masa lalu yang kembali datang, dan penghiburan dari tempat yang tak terduga.

Kalau di sini ada yang baca 2 shots "Splash" dan sadar kalau nama dua orang di bab ini sama .... yes, ini emang mereka. Ya, kisah mereka terjadi di satu universe yang sama. Splash adalah kisah Yufal dan Mira semasa SMA. Di sini mereka sudah dewasa dan bekerja bersama. Tapi kalau dilihat ya ... ehem, ehem, mereka lebih dari sekadar rekan kerja, ya? Ahai.

Seperti biasa, Calya masih menyebalkan. Tapi kita lihat chapter depan, apa dia akan meminta maaf ke Yelena? Dan gimana sikap Yelena setelah menolong Calya dan tahu rahasianya?

Akhir kata, silakan vote dan komentar. See you next chap!





Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top