Tea
Joker Game © Koji Yanagi
Tea © Yuzu Nishikawa [Y'z]
Pict mulmed © to Artist
( Tazaki x Reader )
Don't like, Don't read!
.
.
Kilatan cahaya disusul bunyi gelegar petir memecah konsentrasi seorang pemuda yang tengah membaca buku-buku diatas meja.
Tazaki 22 tahun, mahasiswa tingkat akhir menoleh kearah beranda di apartemennya. Kilatan cahaya dan petir masih bersahut-sahutan diluar sana, disusul derasnya guyuran air hujan yang mulai membasahi tanah. Pena yang berada ditangan kanannya ia letakan dekat buku-buku yang terbuka diatas meja itu. Tazaki berjalan kearah beranda, memastikan pintu kaca beranda apartemennya telah terkunci dan ia menarik gorden berwarna navy blue yang menjadi penutup pintu kaca dengan pemandangan luar apartemennya.
'Pantas cuacanya agak dingin ternyata hujan lebat.'
Tazaki melirikkan matanya kearah jam dinding yang menunjukan pukul 8 malam. Sudah lewat dari jadwalnya untuk makan malam karena ia terlalu sibuk mengerjakan tugas akhir yang belum juga selesai. Tazaki melangkah ke area dapur, hendak membuat makan malam sederhana yang tak membuang banyak waktu.
"Sial aku lupa berbelanja bahan makanan." umpatnya saat membuka lemari es yang kosong, hanya ada beberapa buah lemon dan sebotol madu yang hampir habis isinya. Ia menghela napas, apa yang dapat ia buat dengan lemon dan sedikit madu, jika ia ingin membuat lemon rendam madu itu memakan waktu lama dan juga madu yang banyak, sedangkan didalam botol hanya tersisa sedikit.
Cuaca dingin karena hujan, lemon dan sedikit madu membuat Tazaki sedikit mengingat suatu hal. Ia beralih ke rak tempat menyimpan bumbu-bumbu masakan serta rempah-rempah.
"Masih ada." ucapnya saat menemukan apa yang ia cari. Melihat bahan-bahan yang terkumpul mengingatkannya akan kejadian beberapa minggu lalu.
"Kau... Apa yang kau lakukan Tazaki." ucap seorang gadis saat membuka pintu rumahnya dan mendapatkan Tazaki basah kuyup karena kehujanan berdiri didepan pintu.
"Ah, saat ingat Kaminaga tengah ikut seminar diluar kota untuk beberapa hari dan hujan petir seperti ini tanpa sadar aku sudah berlari kearah rumahmu."
"Dasar bodoh! Hanya karena hal itu kau sampai datang disaat hujan petir seperti ini, setidaknya pakai payungmu. Kau basah kuyup seperti ini bagaimana kalau kau sa--" ucapan gadis tersebut teredam suara petir yang menggelegar serta cahaya kilat yang dapat ia lihat dari depan pintu rumahnya, membuat tubuh gadis itu terlonjak kaget dan refleks hendak memeluk Tazaki yang ada dihadapannya.
Tetapi refleks yang dimiliki Tazaki lebih cepat bereaksi dibandingkan dengan refleks gadis tersebut. Tazaki mengulurkan tangannya dan tak membiarkan gadis itu memeluknya dengan cara menahan wajah gadis tersebut seraya berkata, "walaupun aku sangat ingin kau memelukku tapi tidak untuk saat ini, karena bajuku basah dan aku tidak mau kalau kau sampai ikutan basah karena memelukku."
Gadis yang telah menjadi kekasih Tazaki sejak beberapa tahun lalu itu mundur selangkah melepas tangan Tazaki yang dengan tega menahan dirinya dengan cara menahan mukanya, ia mengerang kesal dan berkata, "kalau begitu cepat masuk dan tutup pintunya! Kau tau aku paling takut dengan petir."
Tazaki menggumamkan kata maaf dan masuk kedalam genkan lalu menutup pintu depan. Gadisnya menghela napas dan meminta Tazaki untuk menunggu di genkan karena ia hendak mengambilkan handuk dan tak butuh waktu lama kekasihnya itu kembali membawakan handuk untuk Tazaki.
"Kau mandi dahulu jangan sampai terkena flu dan bajunya pakai saja punya kaminaga-nii, aku akan menyiapkan sesuatu yang hangat."
Tazaki hanya menurut apa yang kekasihnya katakan, setelah mandi dan mengganti pakaian milik Kaminaga -kakak kekasihnya sekaligus sahabatnya- Tazaki menghampiri kekasihnya yang saat ini berada di dapur.
"Kau membuat apa, sweetheart?" tanya Tazaki seraya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
"Aku akan membuatkan Teh jahe lemon. Kau boleh melihatku membuatnya jadi sewaktu-waktu kau bisa membuatnya sendiri."
Tazaki memutuskan untuk duduk di meja pantry yang berhadapan dengan dapur. Memperhatikan gerak gerik kekasihnya menyiapkan bahan-bahan untuk membuat teh jahe lemon.
"Pertama kau rebus air terlebih dahulu dan selama menunggu airnya mendidih, parut jahe yang sudah kau kupas dan cuci."
Tazaki menumpukan sebelah tangannya diatas meja pantry, dan menahan wajahnya dengan tangan tersebut. Ia paling suka saat memperhatikan kekasihnya yang tengah memasak di dapur. Helaian rambut halus yang biasanya terurai kini terikat tinggi dengan rapi, hanya beberapa helai poni yang menutupi dahi gadisnya.
Tangan kecil gadis tersebut dengan lincah memasukan dua batang kayu manis ke dalam air mendidih.
"Setelah kayu manis masukan juga parutan jahe dan satu sendok teh hitam setelah itu tunggu beberapa saat sampai mendidih kembali."
Gerakan gemulai namun bertenaga membawa kedua tangan gadis itu untuk mengambil sebuah teko kaca yang tebal dan meletakan di meja samping kompor gas, lalu menaruh sebuah saringan diatas teko tersebut.
"Tuang teh jahe yang sudah mendidih jangan lupa di saring agar daun teh tidak ikut terminum nanti."
Gadis tersebut meletakan sebuah mug di hadapan Tazaki, menuangkan teh jahe lalu memasukan irisan lemon dan juga menambahkan satu sendok madu seraya berkata, "nah nikmati teh buatanku tuan."
Tazaki tersenyum kecil membalas senyum lebar kekasihnya saat menyajikan teh. Ia mengangkat mug tersebut, meniupnya beberapa kali sebelum menyesap sedikit teh jahe lemon buatan kekasihnya.
Rasa manis dari madu, sedikit rasa asam yang berasal dari lemon serta sedikit rasa pedas namun hangat dari jahe menyatu saat indra pengecap Tazaki berkontak langsung dengan teh buatan kekasihnya.
"Bagaimana?" tanya gadisnya dengan seringaian bahagia yang terpancar dari raut wajahnya.
Tazaki tersenyum sebelum membalas pertanyaan kekasihnya, "enak. Rasa manis dari madu terasa terimbangi dengan rasa asam dari potongan lemon, lalu rasanya tubuhku menghangat berkat campuran jahenya."
Kekasihnya meletakkan teko, potongan lemon di piring serta toples madu diatas nampan, dan membawanya ke ruang keluarga. Tazaki mengikuti dengan mug teh ditangannya, mengernyit heran saat melihat kekasihnya meminta Tazaki duduk didepan sofa yang diduduki oleh gadis itu. Namun tubuhnya secara refleks mengikuti apa yang diminta oleh gadis tersebut.
Handuk yang menyampir dibahu Tazaki diambil, lalu bunyi sebuah mesin terdengar membuat Tazaki menoleh dan melihat sebuah hair dryer ditangan kekasihnya.
"Kau tidak mengeringkan rambutmu dengan benar, jadi nikmati saja tehmu dan biarkan aku mengeringkan rambutmu."
Setelah mengeringkan rambut Tazaki, keduanya memutuskan untuk tidur karena malam mulai larut dan hujan tak kunjung reda. Tazaki memutuskan untuk berada disisi kekasihnya, sampai akhirnya mereka terlelap sampai hari menjelang siang dan bunyi bel yang membangunkan Tazaki saat itu.
Dirinya harus berhadapan dengan muka masam Kaminaga dipintu depan karena yang membukakan pintu dan menyambut pria yang baru saja pulang dari seminar bukan adik kesayangannya melainkan Tazaki dengan wajah setengah mengantuk.
Tazaki terkekeh saat mengingat kejadian tersebut, ia lalu mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat teh jahe lemon. Mengingat kembali hal yang di ajarkan kekasihnya saat itu dan tidak butuh waktu lama, teh jahe lemon buatannya siap dinikmati.
Tazaki menuangkan teh jahe kedalam mug dan menambahkan lemon serta madu lalu mulai menyicipinya. Ia kembali merasakan rasa hangat yang sama seperti teh buatan kekasihnya, tetapi ada hal yang berbeda saat ia meminum teh tersebut. Katanya rasa masakan tiap orang berbeda tergantung dari siapa yang membuatnya, apakah Karena bukan kekasihnya yang membuat teh tersebut makanya ada rasa yang kurang pas?
"Ah gawat, aku membuatnya terlalu banyak." gumam Tazaki saat menyadari dirinya membuat seteko penuh seperti yang kekasihnya buat saat itu. Ia lupa menyesuaikan porsi teh jahe lemon untuk dirinya sendiri.
'Apa teh ini bisa diminun untuk beberapa hari kedepan?' pikirnya dalam hati.
Sampai bel pintu apartemennya berbunyi, Tazaki melangkah kearah intercom dekat ruang tengah. Melihat siapa tamu yang membunyikan bel kamar apartemennya. Tak butuh waktu lama untuk Tazaki mengenali sosok gadis yang berdiri didepan pintu apartemennya. Secepat mungkin Tazaki berjalan kearah pintu depan, dan membuka pintu apartemennya.
Sesosok gadis dengan sebuah tas ditangan kanannya dan tangan kirinya yang menggenggam payung yg sudah tertutup namun terlihat bulir-bulir tetesan air hujan dipermukaan kainnya.
"Kau.... Apa yang kau lakukan, [Name]...." ucapan yang Tazaki dengar dari kekasihnya kini menjadi ucapan yang ia lontarkan saat melihat kekasihnya berada diposisi dirinya minggu lalu itu.
"Mengantar makan malam. Saat membaca pesanmu tadi sore kalau kau mau mengerjakan tugas akhir aku yakin kau pasti lupa waktu dan terakhir kali aku kesini kulihat lemari esmu mulai kosong bahan makanan. Jadi aku yakin sekali kau belum makan malam kan." jelas [Name] panjang lebar dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Hanya karena hal itu kau sampai datang di tengah hujan petir seperti..." Tazaki memutus ucapannya dan terdiam, kalimat yang ia ucapkan sama persis seperti ucapan kekasihnya saat itu. Ia tertawa kecil, kini ia tau bagaimana perasaan terkejut dan khawatir yang kekasihnya rasakan saat ia muncul secara tiba-tiba ditengah cuaca buruk.
"Uhm... Tazaki? Kau marah? Kenapa tiba-tiba tertawa seperti itu?" tanya [Name] mengeratkan genggaman tangannya pada tas yang berisi makanan.
"Maaf aku tidak marah. Aku hanya teringat kejadian beberapa minggu lalu saat aku datang tiba-tiba didepan rumahmu sweetheart, kini aku merasakan perasaan terkejut dan khawatir yang kau rasakan."
[Name] memekik pelan dan ikut tertawa kecil saat mengingat persamaan situasi yang ia alami saat ini dengan kejadian beberapa minggu lalu. Hanya saja peran mereka kali ini terbalik.
Tazaki menyadari hal kecil dari kekasihnya, saat berbicara tadi suaranya sedikit bergetar dan walau terlihat samar tetapi tubuh kekasihnya sedikit gemetar. Gadis tersebut pasti menahan rasa takut saat hujan petir diluar sana demi mengantarkan makanan untuknya. Ia tersenyum lembut lalu membuka lebar pintu apartemennya mempersilakan gadis yang menjadi pujaan hatinya untuk masuk kedalam, "masuklah. Kebetulan aku sudah menyiapkan sesuatu yang hangat untukmu."
[Name] mengalihkan pandangannya kearah tangan Tazaki yang menggenggam sebuah mug, ia kembali tertawa lalu berkata, "apa kehadiranku tidak menganggumu? Jika tidak aku sangat mengharapkan minuman hangat itu."
"Kehadiranmu tidak pernah menggangguku, dan aku bersyukur karena ada seseorang yang mau berbagi minuman hangat denganku."
Setidaknya minuman yang Tazaki buat malam itu kini bisa mereka habiskan bersama ditengah hujan petir yang sama seperti malam beberapa minggu lalu.
End
Kegabutan diriku saat di RS, maka terciptalah ide FF ini. Udah lama ga nulis jadi aku merasa kosakatanya agak sedikit kaku, maafkan wwww.
Thanks for reading!
Y'z
11'12'18
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top