13

Sungguh, hati ini terasa gundah, mendengar teriakan keras dari seorang pahlawan tanpa jasa. Dia melempar semua kertas yang berada di genggamannya. Nilai-nilai indah melayang dengan lunglai terbawa angin kasat mata. Aku, bukan, kami, kami seluruh kelas terdiam, menatapnya dengan perasaan berdebar tak terkendali.

"Lihat ini, kelas ini masuk urutan ke lima dari lima kelas yang memiliki siswa-siswi taat aturan!" teriaknya dengan gagah, kami menunduk diam.

Kemarin, sekolah mengumumkan peringkat-peringkat kelas yang memiliki murid-murid ter-taat. Ya, kelas kami menepati peringkat terakhir, yang berarti kelas kami adalah kelas terburuk. Aku tak terlalu mendengarkan beliau, menurutku itu hanya angin lalu. Masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Namun terlihat, gadis-gadis di kelas ini diam menunduk dan ada sebagian yang menangis.

"Rizky, kau dengar itu?" tanya beliau dengan suara meninggi.

Aku mengangguk, walaupun jujur aku tidak mendengar apa yang dimaksudnya.

Suara bel berbunyi di tengah keheningan kelas yang sepi. Segera mengambil ranselku dan berlari menuju pintu luar. Aku lega bisa keluar dari itu semua, dari sekolah yang menyebalkan, dan guru-guru yang selalu menuntut. Menuntut ini dan itu, mereka tak pernah puas. Apalagi wali kelasku, bu Hanin, bisakah dia diam. Mengapa dia harus marah padahal KepSek tak marah dengan aksiku ini?

***

Esok hari aku datang paling awal. Murid-murid lain tak terlihat selama aku jalan memasuki area menjijikan ini. Aku melangkah dengan santai, dengan sekali-sekali terdengar hentakan  dari sepatu hitamku.

"Kamu saya tugaskan sebagai wali kelas untuk memperbaiki murid-murid! Tapi ini apa? Merokok?" gertakan dari kepala sekolah terdengar di balik tembok.

Kemarin, saat pulang sekolah aku dan temanku memang sedang duduk santai di pinggir jalan. Adit, menyalakan rokoknya, sedangkan aku hanya duduk santai dengan kaki yang kuangkat satu. Aku tak menyangka ini bisa terfoto.

Lama kudengar Kepala Sekolah memarahi wali kelasku. Aku terdiam, apakah aku sudah salah sangka? Guruku terlalu baik untuk memperlakukanku sebagai anak berandalan. Aku tak pernah dipukul ataupun terkena serangan fisik lainnya.

"Rizky? Kamu sudah datang?"

Aku ternyum dan mengangguk.

"Ya udah, ibu pergi dulu ya."

"Bu!"

Bu Hanin menoleh, dia masih tetap tersenyum walaupun telah dimarahi oleh Kepala Sekolah habis-habisan.

"Maaf."

Drabble Write by @the pen of happiness

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top