02
14.30.
Hujan lagi.
Rencana Dhirga hari ini adalah latihan basket bersama teman-temannya. Cowok berpostur tubuh tinggi, tegak dan kurus itu mengacak rambut jambul hitamnya gemas karena hujan membuatnya gagal latihan lagi. Ia dan teman-temannya masih memakai seragam sekolah---celana motif kotak-kotak biru muda atasan kemeja putih plus rompi tanpa lengan yang serasi dengan motif celananya. Sebagian dari mereka membawa kaos basket milik tim kebanggaan mereka.
"Gimana, nih?" tanya Tara---teman Dhirga. Melihat kondisi awan masih menurunkan butiran air hujan disertai kilatan guntur membuat mereka menatap langit yang berubah menjadi hitam.
"Kayaknya bakalan lama kalau kita nunggu," gumam Dhirga. "Latihan ditunda besok setelah pulang sekolah, kumpul di lapangan basket," putusnya, selaku kapten tim basket.
"Ga pulang lo, bro?" tanya Tara. "Hati-hati disini banyak gituan," lanjutnya, sedikit menyindir dan menakuti Dhirga.
"Rese, lo!" jawab Dhirga, seraya melempar bola basket ke arah Tara.
Tawa Tara meledak. "Yaudah, gue duluan, bro," katanya, berjalan menjauh meninggalkan Dhirga.
Sekarang Dhirga sendiri. Masih di depan kelas X-2. Ia berniat mendengarkan musik sambil menunggu hujan. Pintu kelas X-2 terbuka lebar. Dhirga seperti melihat seperti ada orang yang berjongkok dengan menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya disana.
Langkah Dhirga terhenti tepat di depan sosok aneh itu.
Dhirga berlutut untuk menjajarkan dirinya dengan sosok aneh itu. "Hey?" sapa Dhirga. "Lo siapa?" tanyanya, melihat sepasang bola mata cokelat, terlihat garis hitam di bawah kantung matanya, wajahnya sedikit pucat, dan rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai, gadis itu manusia.
"Lo kenapa?" tanya Dhirga. Gadis itu hanya mendongak dan menggelengkan kepala, menatap Dhirga ketakutan. Dhirga mengulurkan tangannya berniat membantu gadis itu untuk bangun, tetapi gadis itu tetap menggelengkan kepalanya.
"Di luar hujan," kata gadis itu. "Aku benci hujan," katanya kembali.
Dhirga mengernyit. Cewek aneh, batinnya.
Dhirga mengambil tangan gadis itu untuk ikut dengannya. "Hujannya sudah reda. Ayo, berdiri," Dhirga menarik tangan gadis itu dengan lembut.
"Thanks," katanya.
"No problem," sahut Dhirga. Dhirga melihat gadis itu tampak kedinginan. Ia memberikan jaket biru yang ia pakai dan dipakaikan ke gadis yang duduk di sampingnya.
"Gue Dhirga, kelas IX IPA 2. Kalau lo mau balikin, dateng aja ke kelas gue," katanya. Gadis itu mengangguk-angguk.
"Aku pulang duluan, Kak Dhirga," katanya, sedikit mengeja kata 'Kak Dhirga' mungkin karena takut salah menyebutnya. Belum sempat Dhirga jawab, ia sudah pergi menjauh.
"Heyy?? Nama lo siapa?" panggil Dhirga.
"Apa?" tanyanya, setengah berteriak.
"Hmm---" gumam Dhirga. "Nama lo siapa?" Mengulangi pertanyaannya yang sama.
"Nadhira,"
Drabble write by lydiaindria
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top