🌼 Berisik 🌼

"Sesuatu yang tak terduga, sering kali bikin sakit kepala."

•••

    Alex gila. Sama gilanya dengan Paras yang membuat kesepakatan konyol dengan Pras sebagai pacar pura-pura. Tapi Paras tahu, Alex jauh lebih gila lagi karena meminta pertolongan pada orang yang tidak dikenalinya. Parahnya, dia adalah seorang pekerja di club, yang setelah diulik-ulik lagi, telah menipu Alex.

   "Namanya Jesica, rambutnya merah kayak Merida di film Brave."

   "Nggak ada, Bro. Seumur-umur aku nggak pernah liat yang begitu. Adanya sih Juanda, dia rambutnya merah juga, tapi kulitnya sawo mateng, bukan putih kayak yang kamu deskripsiin."

   Alex memijat pelipisnya, pening. "Masa, sih, nggak ada? Dia ngakunya kerja di situ."

   "Sumpah. Nggak ada. Kalau pun ada, harusnya aku kenal sama dia."

   "Kamu nggak lagi bohong, 'kan?"

   "Ya enggaklah. Gila aja. Andai dia beneran kerja di sini dan aku tahu dia, jelas aku bakal ngasih tahu kamu tempat tinggalnya."

   Alex mendesah gusar. Suara musik di seberang alias di tempat Doni berada semakin membuatnya pening. "Oke. Oke. Makasih. Tolong bantuannya kalau dapet info tentang tuh cewek."

   "Yoi. Ntar coba aku nyari info. Kalau dapet, aku kabarin kamu."

   "Iya. Makasih lagi."

  "Yooo. Aku tutup, ya, Lex. Makin ramai di sini. Besok pagi aku kabarin lagi."

   Alex mengiyakan, membiarkan Doni mematikan sambungan telepon. Lelaki itu mendengus keras, melirik Paras yang duduk di sampingnya. "Sorry. Aku nggak tahu semuanya bakal begini."

   Paras menggeleng pelan. "Nggak akan ada yang bisa nebak takdir."

   Alex mengacak rambutnya gemas. "Kalau aja Marlina nggak mutusin aku tadi pagi, aku nggak akan bertingkah konyol begini, Ras."

   Paras mendengarkan.

   "Pergi ke club dan minta bantuan orang yang nggak dikenal?" Alex menertawakan dirinya sendiri, "ya meski ini salah aku juga karena nggak bayar sesuai kesepakatan kita."

    Paras tersenyum miris. Meksipun dia kesal juga, tetapi melihat Alex semenyedihkan ini? "Sebenernya bukan cuma kamu yang pura-pura punya pacar," Paras menunduk, "aku juga."

   Alex sama kagetnya. "Jadi ... Pras itu?"

   "Tetangga." Paras tersenyum masam. Tetangga baru yang tiba-tiba dia teror untuk menjadi pacar pura-pura. "Kebetulan dia mau nolongin."

   Alex ikut prihatin. Dia dan Paras sama-sama menyedihkan malam ini. "Harusnya aku nggak nyari gara-gara."

   "Nggak apa kali. Sekarang tinggal nyari cara gimana kita bisa ketemu sama Jesica."

   "Kita tunggu aja kabar dari Doni."

   "Kalau Doni nggak berhasil nemuin dia?"

   "Doni bukan orang sembarangan. Aku yakin, cepat atau lambar dia akan nemuin Jesica. Tangan kanan sama koneksinya banyak."

   Paras mengamini dalam hati. Dia tidak bisa dengan mudah merelakan ponsel dan dompetnya. Apalagi, di dalam dompet itu terdapat kartu-kartu penting yang tidak bisa dibuat hanya dengan mengucapkan, "Bimsalabim!"

   Paras harus mendapatkannya kembali. Lengkap dengan dompet dan ponsel Pras. Entah apa yang akan terjadi nanti jika lelaki yang sedang berceloteh dalam mobil itu sadar dari kobamnya.

   "Sekarang kamu pulang aja. Udah malem, Ras," suruh Alex.

   "Terus kamu?" tanya Paras. Sudut hatinya sedikit iba. Bagaimana Alex akan pulang jika mobil Audi A8 lelaki itu saja dibawa kabur Jesica?

   "Gampang, ada taksi online."

   Paras mengangguk. Benar juga. Jam segini taksi online masih ada yang berkeliaran. Lagi pula, Paras juga tidak ingin berbaik hati menawarkan tumpangan. Mengingat, Alex adalah dalang dari semua hal tak terduga ini. Dan lagi, Alex adalah orang yang sangat Paras hindari. Orang berlabel mantan yang pernah menyakiti Paras sedalam-dalamnya.

   "Oke. Aku tunggu kabar baiknya. Semoga aja besok udah ada titik terang." Paras beridiri dari duduknya. Gadis itu menepuk-nepuk roknya yang kotor.

   "Besok kalau ada info, aku kabarin Meyra lewat IG. HP kamu ilang, 'kan?"

  Paras mengangguk. "Iya."

   Alex tersenyum kecil, berpamitan pada Paras, berjanji akan mengganti semuanya jika Jesica tidak ditemukan, kemudian berjalan menjauh menuju jalan besar.

   Paras menatap kepergian Alex dengan perasaan amburadul. Makin hari, ada saja kesialan yang menimpanya setiap berurusan dengan mantannya itu.

   Paras mendengus keras, memilih kembali ke mobil, menemui Pras yang tidak bisa diam.

•••

    "Dia tuh emang bandel banget dibilangin! Disuruh nggak makan pedes, masih aja bebal!"

   "Mana jailnya luar biasa! Sok-sokan polos bikin tangan pengin jotos!"

   Paras menutup kuping bagian kirinya. Pras kelewat berisik. Entah apa yang lelaki itu minum tadi, Paras pikir Pras tidak sengaja meminum obat seperti LSD atau Lysergic Acid Dietilamaida yang bisa membuat seseorang berhalusinasi dan terus mengoceh tiada henti.

   Tapi Paras yakin, itu tidak pernah terjadi. Hanya saja, beginilah ini Pras dalam keadaan mabuk.

   "Kakak bisa diem nggak?"

   "Nggak bisa," racau Pras menyahut.

   "Tapi-"

   "Kejar itu, Ras! Gue nggak bisa diginiin! Sakit rasanya."

   Pras malah seperti orang gila.

   "Ngoceh mulu sih kayak burung kutilang!" kesal Paras.

   "Mumpung masih diberi umur panjang." Pras melendot, menyandar pada bahu Paras membuat gadis itu hampir saja membuat mobilnya menabrak pembatas jalan.

   "Kak Pras!" Paras memekik. Secara spontan mendorong tubuh Pras sampai menabrak jendela mobil.

   Pras hanya meringis. "Gatel."

   "Udah gila!"

   Paras menahan luapan emosi. Gadis itu menepikan mobil di pinggir jalan. Kalau begini terus, dilendoti dan diganggu sampai Pras melingkarkan lengannya di pinggang Paras, menganggapnya bantal guling, Paras tidak bisa berkonsentrasi. Jangankan berkonsentrasi, hendak mengambil persneling saja tidak bisa.

   Paras meracau. Menunjuk langit-langit mobil seperti hendak mengajak orang tawuran. "Mainannya!"

   "Mainan apa, sih?" kesal Paras.

   "Mainannnn." Pras merengek, menendang-nendang kakinya ke bawah dan berakhir membenturkan kepalanya ke dashboard.

   Paras memijat kening, pusing.

   "Enaknya diapain, ya?"

   Paras melongokkan kepala ke belakang. Melihat, adakah benda yang bisa digunakan untuk mengikat Pras?

   Ketemu. Paras melihat syalnya di belakang.

   Dengan harapan besar syal itu bisa dipakai, Paras mencondongkan tubuh ke kursi belakang, mengambil syal yang berada di sana bersama sebuah boneka Hello Kitty yang sering dia jadikan bantal.

   Paras tersenyum senang, kembali duduk normal. Gadis itu menyerong, menghadap pada Pras.

   Dia memegangi lengan Pras, menyandarkan lelaki itu pada sandaran kursi. Setelah selesai, dia taruh tangan Pras supaya rapi di sisi tubuh. Seperti hendak menculik seseorang, Paras melilitkan syal ke tubuh Pras dengan kursi.

   "Hahaha. Pinter juga aku."

   Akan tetapi, baru saja hendak mengikat syal itu dengan pola mati, Pras mendorong tubuhnya, membuat syal itu lepas, terjatuh ke karpet mobil.

   Paras menelan ludah kasar. Pras telah membuka mata. Lelaki itu menatapnya tajam, dengan mata yang berkabut dan ada sesuatu di dalam sana yang membuat dada Paras berdentum tidak karuan.

    Alarm tanda bahaya berbunyi nyaring. Apalagi, ketika Pras mendekat, mengurung Paras di pojokan, dan memegangi kedua lengannya agar tidak bergerak.

   Paras panik. Sangat panik. Tetapi dia bisa apa? Ketika dengan tidak berperiketetanggaan, Pras menjatuhkan bibirnya di atas bibir Paras. Awalnya menempel biasa. Kemudian, tanpa disangka-sangka lelaki itu menggerakkan bibirnya, menciumnya. Jenis ciuman yang menuntut, menggebu, dan melemaskan semua persendian Paras.

   "Berisik." Pras menjauhkan wajahnya.

   Paras bergeming, menatap nanar Pras yang masih berada di dekatnya.

   Gadis itu memegang bibirnya sendiri, melirik Pras yang bersandar pada sandaran kursi dan mendengkur seperti tidak pernah terjadi apa pun beberapa detik yang lalu.

     "Barusan ... Kak Pras ngapain?"

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top