Chapter 8

Peringatan: Fanfiction ini berisi fiksi dan imajinasi belaka dari Author. Author hanya mencampurkan unsur ilmiah secara garis besar dengan imajinasi milik Author.

222

Fang berjalan kaki dengan pikiran yang tidak tenang.

Ia sedikit menyesal karena telah memarahi— bahkan membuat malu— Yaya. Salahkan pikirannya yang kacau karena memikirkan adiknya. Salahkan BoBoiBoy. Salahkan dirinya yang terlalu emosi. Salahkan...

Fang menjambak rambutnya dengan keras. Tidak sepantasnya ia marah kepada perempuan, apalagi berteriak. Fang benar-benar hancur ketika melihat Yaya-yang selalu cerewet, ceria, dan tegas-menangis di depannya. Fang merasa bahwa ia sudah keterlaluan.

Sejujurnya, dalam hati Fang, ia sudah tidak tahan dengan kelakuan menyebalkan Yaya. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Fang selalu menemukan murid-murid sekolahnya sedang membicarakan Yaya. Sebagian ada yang berbicara positif tentang Yaya, tapi lebih kebanyakan murid-murid membicarakan sisi menyebalkan Yaya. Yaya sok ngatur lah, Yaya cerewet lah, Yaya mulut emberlah, Yaya ...

Terkadang Fang ingin menyerang orang-orang yang cerewet itu dengan tusukan bayangnya. Fang tidak suka orang lain membicarakan kejelekan keluarganya bahkan sahabatnya sendiri.

Sebetulnya, Fang sedikit sakit hati ketika teman-temannya yang lain menggosipkan Yaya.

Seharusnya mereka berterima kasih kepada Yaya. Karena Fang yakin perempuan itu sudah sangat berjasa di sekolah ini.

Fang memang sengaja berbicara bahwa ia tidak suka dengan kelakuan Yaya yang menyebalkan. Sebelum orang lain berbicara kepada Yaya. Sebelum orang lain merendahkan Yaya. Sebelum orang lain memaki Yaya.

Fang yakin masih banyak murid-murid lain yang ingin mengutarakan perasaan jengkelnya kepada Yaya dengan lebih kejam.

DUK!

"Aww!"

Fang meringis. Lalu mengusap bagian kepalanya yang sakit. Ia mendongakkan kepala, mendapati pintu rumah sudah ada di depannya.

Ternyata ia melamun saat perjalanan pulang dari sekolah.

Baru saja tangannya ingin menyentuh kenop, pintu sudah terbuka lebar dan menampilkan Ochobot.

"Fang? Kau tidak pulang dengan BoBoiBoy?" tanya Ochobot dengan sedikit terkejut.

Fang mengerutkan dahinya. Lalu memasuki rumah.

"BoBoiBoy belum ada di rumah, Fang." Ada nada khawatir di perkataan Ochobot.

"Mungkin dia lagi di rumah sakit, Ochobot." Fang meraih telepon wireless.

Fang memencet beberapa tombol angka. Setelah beberapa angka digital terkumpul di layar, Fang menempelkan telepon di kupingnya.

"Halo... Ini aku Fang, Dok... Apakah BoBoiBoy ada di sana?... Apa?... Sudah keluar dari rumah sakit sejam yang lalu?... Tidak, Dok... Terima kasih banyak." Fang menutup telepon. Sedetik kemudian, raut wajahnya berubah menjadi serius.

"BoBoiBoy sudah meninggalkan rumah sakit satu jam yang lalu?" tebak Ochobot setelah mendengar percakapan Fang dengan dr. Tadashi melalui telepon.

Fang tetap tidak bergeming. Berbagai spekulasi muncul di pikiran Fang. Kemana anak itu pergi?

Apa jangan-jangan ia nyasar lagi seperti waktu itu? Tapi seharusnya tidak selama ini ia nyasar. Ini sudah satu jam ia nyasar.

"Ochobot, apakah di jam tangan kuasa kita ada GPS¹?" tanya Fang.

Ochobot menggaruk kepalanya. Ia tidak pernah tahu apakah jam tangan kuasa tersedia GPS atau tidak. Jam kuasa hanya bisa mengeluarkan kuasa dan tentunya dilengkapi dengan video call  untuk berhubungan dengan satu sama lain.

"Aku rasa tidak. Coba hubungi BoBoiBoy dengan video call di jammu, Fang."

Ada nada keraguan di perkataan Ochobot. Namun Fang tidak terlalu memedulikannya. Ia segera mengatur jam kuasanya untuk menghubungi BoBoiBoy.

BoBoiBoy tidak kunjung merespons panggilan Fang.

"Dia tidak menjawab panggilanku," ucap Fang resah lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa.

Ochobot bingung untuk merespons Fang. Seandainya saja ia tahu ada pelacak GPS di jam kuasanya. Tapi rasanya itu terlalu canggih. Tidak mungkin jam kuasanya ada GPS.

"Setidaknya kita coba dulu, Ochobot. Kita buat saja GPS sendiri atau kau selidiki jam kuasaku untuk memastikan adanya GPS," ucap Fang lalu melepaskan jam kuasanya.

Fang meletakkan jam kuasanya di atas meja. Ochobot mulai men-scanning jam tersebut. Sinar biru menyelimuti jam kuasa Fang.

"Jam kuasa ini dilengkapi dengan fasilitas video call. Tidak menutup kemungkinan adanya GPS di dalam jam kuasa," jelas Ochobot mantap.

Wajah Fang langsung berseri-seri. Itu artinya sebentar lagi ia akan mengetahui keberadaan BoBoiBoy.

"Kalau begitu, tolong munculkan pelacak GPS-nya, Ochobot!"

"Baiklah. Sekaligus aku akan meng-upgrade jam kuasamu."

Ochobot segera memunculkan aplikasi GPS lalu meng-upgrade sistem jam kuasa Fang. Ochobot sangat bersyukur sekaligus lega bahwa jam kuasa ini memang sangat canggih.

"Kau seharusnya bersyukur mempunyai robot canggih sepertiku, Fang," canda Ochobot.

"Tch. Terserah kau," balas Fang cuek.

Dalam hati, Fang memang bersyukur ia bertemu dengan robot kuning itu. Ochobot sangat berjasa kepada keluarganya. Fang selalu menganggap Ochobot sebagai adiknya sendiri.

Pokoknya, tidak boleh ada yang mengambil Ochobot dari tangannya. Titik.

Layar hijau terpampang di depan Fang. Ia melihat lima kotak. Masing-masing kotak dilengkapi dengan title bar yang berisi nama pemilik jam kuasa.

"Dua kotak di atas dan dua kotak di bawah. Satu kotak di tengah. Diantara dua kotak atas dan dua kotak bawah. Kotak tengah ini punyamu, Fang. Dua kotak di atas punya Yaya dan Ying. Dua kotak di bawah punya BoBoiBoy dan Gopal," jelas Ochobot seraya menunjukkan apa yang dibicarakannya ke arah layar tersebut.

Fang mengangguk mengerti sambil terus memperhatikan layar di depannya.

"Setiap kotak ada bulatan merah, menandakan bahwa itu adalah si pemilik jam kuasa. Kita lihat kotak lacak milik BoBoiBoy."

Ochobot menyentuh salah satu bagian di jam kuasa Fang.

Kotak lacak BoBoiBoy membesar lalu memenuhi layar. Terlihat denah Pulau Rintis disertai nama jalan. Bulatan merah terlihat di salah satu tempat yang tidak asing bagi Fang.

Setelah membaca nama jalan di dekat bulatan merah, Fang menggeram kesal lalu mematikan jam kuasanya.

Fang memasang jam kuasanya ke pergelangan tangan, bangkit dari sofa, memakai sepatu, menyambar jaket ungunya yang tergantung di stand hanger, lalu membanting pintu setelah ia keluar rumah.

222

"Hohoho... rupanya kau jago memainkan PS, BoBoiBoy."

Probe terus berbicara girang sembari memainkan stik PS di tangannya. Mata merahnya fokus kepada monitor di depannya, menampilkan game pertandingan sepak bola.

"Tentu saja! Ini menyenangkan, Probe," balas BoBoiBoy seraya fokus terhadap monitor dan tangannya yang mengontrol stik PS.

"Kita harus melakukan ini setiap hari."

"Hahaha, bisa saja."

Dari kejauhan Adu Du hanya merengut melihat mereka berdua. Adu Du sedang berpikir keras untuk melenyapkan BoBoiBoy, sedangkan Probe malah keasikan main dengan target Adu Du. Si Probe ini bukannya bantuin bosnya ...

BoBoiBoy dan Probe bermain PS hampir dua jam. Mereka sangat dekat layaknya kawan yang sudah berteman lama.

Adu Du lalu menghampiri mereka berdua yang masih bermain PS.

"Sepertinya kau senang sekali bermain PS. Apa kau sering bermain PS di rumah tipe duel?" Adu Du bertanya dengan ramah-yang dibuat-buat.

"Tidak. Aku biasanya bermain sendiri. Menyebalkan sekali tidak ada yang menemaniku bermain di rumah," balas BoBoiBoy.

"Hahaha. Sering-seringlah kau main di sini, BoBoiBoy. Kita akan melayanimu selama 24 jam," celoteh Probe.

"Terima kasih, Probe! Huh, aku sudah lama sekali tidak bermain game se-lama ini. Waktuku selalu dihabiskan untuk menolong orang-orang," keluh BoBoiBoy.

"Kasihan dirimu. Lebih baik kau habiskan waktu bersama kami. Lebih menyenangkan! Hehehe," ucap Adu Du meyeringai.

"MENYENANGKAN APANYA, HUH?!"

Sontak Adu Du dan Probe menengok ke sumber suara.

Fang berdiri di ambang pintu dengan aura horornya. Matanya menatap tajam ke arah Adu Du dan Probe.

"Oi! Sejak kapan kau di situ?" tanya Adu Du dengan tatapan tidak suka.

"Kau menculik adikku!" gertak Fang.

"Wohohoho, tenang dulu, Fang! Nah, mari kita tanyakan kepada BoBoiBoy. BoBoiBoy, apakah kau mempunyai kakak?" ucap Probe dengan kikikannya yang jahat.

BoBoiBoy tidak menjawab Probe. Ia tetap fokus pada game di depan matanya.

"Untuk apa kau tanyakan itu, Probe?! BoBoiBoy, ayo, pulang!" perintah Fang.

BoBoiBoy tidak menjawab sahutan Fang dan terus menatap layar di depannya, seakan-akan dia terhipnotis oleh game pertandingan tersebut.

"Lihat? Dia tak menjawabmu, Fang. Kau memang kawan baik aku, 'kan, BoBoiBoy?" Adu Du bertanya kepada BoBoiBoy seraya menyeringai.

Anehnya, BoBoiBoy merespons jawaban Adu Du dengan sekali anggukan. Matanya masih fokus menatap layar monitor dan tangannya yang cekatan mengontrol stik PS.

"Sekarang, kalau kau memang ingin BoBoiBoy pulang, aku bisa membujuknya. Tetapi dengan satu syarat," cetus Adu Du.

Fang menggertakkan giginya. Ia memandang tajam ke arah Adu Du.

"Serahkan Ochobot kepadaku."

"Dalam mimpimu. TUSUKAN BAYANG!"

Bayangan hitam berbentuk jarum menjalar di tanah menuju Adu Du. Namun dengan cepat, Adu Du mengeluarkan senjatanya.

"LASER PEMUSNAH!"

'Sial, sejak kapan dia pegang senjata!' batin Fang.

Laser mengenai bayangan milik Fang lalu menimbulkan suara gemuruh. Terganggu dengan suara itu, akhirnya BoBoiBoy melepaskan pandangannya dari layar monitor.

"Berisik sekali! Aku tidak bisa main dengan tenang," gerutu BoBoiBoy. Tangannya tidak lepas dari stik PS.

Fang berjalan menghampiri BoBoiBoy. Menarik tangannya lalu berkata, "Ayo, pulang!"

"Tidak mau. Aku masih mau main!" balas BoBoiBoy seraya berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Fang.

"Kau ini! Ini sudah sore! Untuk apa kau bermain di rumah musuhmu?!" balas Fang tidak sabaran.

"Aku mau main! Sudah lama aku tidak main dengan senang," balas BoBoiBoy enggan.

Fang merebut stik PS yang ada di tangan BoBoiBoy. Lalu melempar ke tempat yang jauh.

"HEI!" tiba-tiba BoBoiBoy menatap tajam Fang.

"Pulang!"

"Sudah kubilang aku tidak mau! BEBOLA API!"

Fang refleks menjauh dengan kecepatan yang lumayan untuk menghindari BoBoiBoy. Ketika matanya kembali fokus ke arah adiknya, matanya melotot.

"WUIH! BOBOIBOY API!"

Probe berteriak kegirangan seaya bertepuk tangan melihat perubahan BoBoiBoy. Anak itu mengenakan jaket tanpa lengan berwarna merah. Topi yang diangkat agak ke atas dan matanya yang menyala-nyala layaknya kobaran api.

Sejak kapan BoBoiBoy bisa berubah menjadi BoBoiBoy Api?

Fang memikirkan hal itu. Tak henti-hentinya ia memandang BoBoiBoy Api dengan tampang shock.

"Bagus, BoBoiBoy! Serang dia! Dia akan mengganggu kesenanganmu," ucap Adu Du seakan-akan BoBoiBoy memang sudah berpihak kepadanya.

'BoBoiBoy mudah ditipu,' batin Adu Du seraya menyeringai kejam.

"Kau akan terima rasanya mengganggu kesenanganku. BOLA TAMBANG BERAPI!"

BoBoiBoy Api melemparkan api yang berbentuk bola dalam jumlah yang banyak ke arah Fang.

"ELANG BAYANG!"

Fang segera menaiki burung elang yang berbentuk bayang. BoBoiBoy Api terus melancarkan serangannya ke arah Fang. Fang terus menghindari sebisa mungkin.

Namun, ada satu bola api mengenai elang bayang Fang. Elang bayang itu menghilang dan Fang terjatuh di atas tanah.

Satu bola api datang lagi dan mengenai lengan Fang secara tepat.

"ARRRGHHH!"

Rasa panas langsung menjalar ke seluruh tubuh Fang. Fang menjerit sekuat tenaga. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya. Bercak merah muncul di lengan Fang.

BoBoiBoy Api berjalan mendekati Fang. Disertai tatapan tajam, mulut melengkung, dan bola api di tangannya.

"Berhenti, BoBoiBoy! Sadarlah! Aku adalah kakakmu," ucap Fang disertai rintihan sakit.

"Huh?"

"Jangan kau percayai dia, BoBoiBoy! Kau tidak pernah mempunyai seorang kakak. Hahahaha!" teriak Adu Du disertai tawa jahat.

"Jangan percaya dengan Adu Du! Ia sedang menipumu! Ingat siapa musuhmu, BoBoiBoy," ujar Fang berusaha meyakinkan BoBoiBoy Api.

Namun, BoBoiBoy Api hanya meresponsnya dengan tatapan kurang percaya.

Fang mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Berharap perih luka bakarnya segera hilang.

"Kau pikir kami tidak mengetahuinya, huh?"

Fang membulatkan matanya. Ia menatap ke arah Adu Du, mengabaikan BoBoiBoy Api yang berada di depannya. Apa maksud perkataan Adu Du?

"Alzheimer sangat berbahaya bukan?" Adu Du tersenyum licik kepada Fang.

DEG!

Jadi, inikah alasan Adu Du menculik BoBoiBoy? Dari mana ia tahu bahwa BoBoiBoy mengidap alzheimer?

Sekarang jantung Fang berdegup tidak karuan. Ia takut Adu Du akan menggunakan serangan melalui kelemahan yang dialami adiknya.

"BoBoiBoy akan lupa ingatan untuk selamanya. Ia akan menjadi rekanku! Hahaha!" ucap Adu Du puas.

"JARI BAYANG!"

Fang mengeluarkan jurus bayangnya. Jari bayang itu menjatuhkan barang-barang di sekeliling Adu Du dan Probe. Barang-barang itu kemudian dilemparkannya ke arah Adu Du dan Probe. Seketika Adu Du dan Probe tenggelam dalam barang-barang mereka.

"HOI! APA YANG KAU LAKUKAN?! BOBOIBOY, SERANG DIA!" perintah Adu Du.

"Jangan serang temanku!" BoBoiBoy Api mengeluarkan gelang apinya.

Gelang api mengikat kedua kaki Fang. Beruntung Fang mengenakan sepatu dan celana panjang. Panas masih berada di lapisan pakaiannya, belum sampai ke kulitnya.

"Berhenti, BoBoiBoy! Aku Fang! Kakakmu!"

"Dia berbohong, BoBoiBoy! Jangan mau ditipu!" teriak Probe.

"ARRRGHHH! DIAM KAU! KUKUN BAYANG!"

Setelah puas berteriak kesakitan, Fang melancarkan serangannya ke arah Adu Du dan Probe. Kubah hitam lalu mengurung mereka.

'Sadarlah, BoBoiBoy!' batin Fang seraya menatap ke arah mata BoBoiBoy Api.

Fang sudah tidak mampu lagi menggerakkan mulutnya. Ia terlalu capek berteriak dan merintih kesakitan.

Fang berharap, BoBoiBoy cepat mengingatnya dan menghentikan serangannya. Fang tidak mau membalas serangannya terhadap adiknya itu.

Sontak gelang api di kaki Fang menghilang drastis. BoBoiBoy Api membelalak kaget melihat Fang, kemudian bocah itu menarik napas syok.

Anak bertopi itu membeku seketika. BoBoiBoy Api lalu berubah menjadi BoBoiBoy normal.

"BoBoiBoy?" tanya Fang dengan serak.

BoBoiBoy tidak bergerak. Ia terus memandang Fang dengan tatapan kosong.

Sejurus kemudian, tubuh BoBoiBoy roboh di atas tanah.

Fang dengan cepat memeriksa BoBoiBoy. Punggung tangannya ia letakkan di dahi BoBoiBoy. Dingin. Lalu jari telunjuk ia letakkan di bawah hidungnya. Masih bernapas. Kemudian telinga ia tempelkan di dada BoBoiBoy. Masih berdetak.

"BoBoiBoy? Bangun!" Fang menepuk-nepuk pipi bocah yang tak sadarkan diri itu.

Sadar bahwa ini bukanlah keadaan bagus, Fang segera memeluk BoBoiBoy.

"Bertahanlah," bisik Fang di telinga BoBoiBoy.

Fang berusaha sekuat tenaga untuk tidak panik maupun menangis. Saat ini ia hanya pasrah dengan keadaan.

Fang tahu ia harus membawa BoBoiBoy kemana. Jantung berdetak dan pernapasan normal bukan berarti BoBoiBoy baik-baik saja.

Fang kemudian menggendong BoBoiBoy ala bridal style. Ia sedikit merintih kesakitan karena lengannya masih perih akibat luka bakar. Namun, ia berusaha untuk mengabaikannya.

Dengan kekuatan bayangnya, ia berlari menuju Rumah Sakit Pulau Rintis.

Sampai di rumah sakit, Ms. Elsa dan suster Rini dengan sigap langsung membawakan ranjang dorong begitu melihat Fang menggendong BoBoiBoy yang tidak sadarkan diri.

Fang meletakkan tubuh BoBoiBoy di atas ranjang dorong. Kemudian bersama Ms. Elsa dan suster Rini, Fang mendorong ranjang menuju ruang UGD.

Fang terus fokus melihat ke depan, memandang tajam siapa saja yang akan menghalangi jalannya. Jantungnya masih berdegup tidak karuan memikirkan BoBoiBoy.

"Fang, sebaiknya kau tunggu di luar, kita akan membawanya masuk. Di dalam sudah ada dr. Tadashi. Suster Rini sudah mengubunginya," ucap Ms. Elsa.

"Baiklah," ucap Fang pasrah.

Sebenarnya ia ingin ikut masuk ke ruangan UGD. Memastikan bahwa adiknya baik-baik saja.

Fang menghentikan langkahnya ketika melihat sesuatu yang familiar di depan matanya.

Pintu UGD lalu ditutup ketika Ms. Elsa dan suster Rini beserta BoBoiBoy— yang tidak sadarkan diri di atas ranjang— sudah masuk ke dalam ruangan.

Fang membeku melihat sosok dua orang yang berada di depannya.

Ayahnya tengah merangkul ibunya yang sedang menangis di depan ruang UGD.

222

"APA YANG TERJADI DENGAN BOBOIBOY, FANG?!"

Ibu menangis meraung-raung di depan ruang UGD. Mengucapkan kalimat itu berulang kali sampai— mungkin —suaranya habis. Kedua tangannya tak henti-hentinya terus menarik kerah seragam Fang. Fang hanya diam diperlakukan seperti itu. Ia berpikir bahwa ia pantas menerima kemarahan ibunya.

Air mata Ibu tak henti-hentinya turun semenjak kedatangan Fang. Sesekali Ibu sesegukan.

Dokter Tadashi muncul dari balik pintu ruang UGD, tempat BoBoiBoy ditangani sekarang. Ekspresinya sangat datar dan ia melirik Fang sekilas.

Menyadari dokter yang menangani BoBoiBoy sudah keluar dari ruangan, Ibu segera melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah seragam Fang. Ibu menatap dr. Tadashi dengan sendu.

"Alzheimer... Apa itu benar?!" tanya Ibu dengan suara gemetar.

Fang tidak terkejut ketika sang ibu sudah mengetahui itu. Fang memang sadar semua ini akan terjadi. Yang ia lakukan sekarang ialah menunduk dengan penuh dosa.

"DOKTER! JAWAB AKU! APA BOBOIBOY BENAR-BENAR MENDERITA KANKER ALZHEIMER?!" teriak Ibu seraya memukul lemah lengan dr. Tadashi.

"Ibu! Tenanglah!"

Ayah segera menarik Ibu lalu mendekapnya di pelukannya. Ibu lalu teriak menangis sambil sesegukan di dekapan Ayah. Badannya terus gemetar.

"Anak Anda, Fang, dia juga butuh penanganan pertama. Fang, lebih baik kau ikut dr. Seok Jin dan suster Rini untuk mendapati pengobatan," ucap dr. Tadashi sambil menatap lurus ke arah Fang.

Tepat setelah dr. Tadashi mengucapkan kalimat itu, dr. Seok Jin dan suster Rini keluar dari ruangan UGD. Mereka berdua segera menuntun Fang menuju ruang penanganan pertama.

Fang menunduk sambil berjalan. Ia sudah melihat reaksi ibunya. Tapi, mengapa ayahnya hanya diam?

Fang menggigit bibir bawahnya dengan keras. Ayahnya mungkin akan bereaksi keras lebih dari Ibu. Ya, setelah ini.

222

Fang memandangi lengannya yang sudah terbalut perban. Lengannya sudah tidak sakit seperti sebelumnya.

"Istirahatlah terlebih dahulu. Aku tahu, kau pasti mengalami hari yang panjang," ucap suster Rini lembut.

Fang tidak merespon perkataan suster Rini. Ia tetap duduk di atas ranjang dan meratapi lengannya.

Dokter Seok Jin memegang pundak Fang dengan hangat.

"Kuharap kau tetap semangat, Fang," ucap dr. Seok Jin.

Dokter Seok Jin dan suster Rini lalu mengobrol. Posisi mereka memunggungi Fang. Topik pembicaraan mereka tidak dimengerti oleh Fang.

Rasanya, ia ingin tidur di kasur empuk yang didudukinya. Matanya sudah lelah dan badannya sudah pegal-pegal.

Namun, otak Fang tak berhenti memikirkan kondisi sang adik.

Fang turun dari ranjang dan segera keluar dari ruangan penanganan pertama. Ia berjalan menuju ruang UGD tempat BoBoiBoy dirawat.

Fang melihat pintu ruang UGD terbuka. Ia segera masuk dan menemukan BoBoiBoy yang sedang terduduk di atas ranjang. Di samping kiri BoBoiBoy ada Ayah dan Ibu— yang masih sesegukan sekali. Di samping kanan ada dr. Tadashi yang sedang memegang kertas berisi data.

Fang mengulas senyum tipis dan mengembuskan napas lega melihat BoBoiBoy.

Namun, melihat semua ekspresi orang-orang di ruangan tersebut, ada sesuatu yang janggal.

"Kak Fang!" seru BoBoiBoy senang.

Fang segera memeluk BoBoiBoy sekilas.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Fang memastikan.

"Aku tidak apa-apa, Kak."

Ibu lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah BoBoiBoy.

"BoBoiBoy sayang?" ucap Ibu dengan suara bergetar.

Sontak BoBoiBoy mencengkeram bahu Fang. Lalu ia menyembunyikan kepalanya di balik punggung Fang.

"Kak Fang, itu siapa?" tanya BoBoiBoy dengan nada agak takut.

Ibu lalu membekap mulutnya dengan kedua tangan. Ia tidak percaya anaknya sudah lupa dengan dirinya. Air mata kembali turun membasahi pipinya.

Fang mengerutkan keningnya. Lalu ia menatap ke arah BoBoiBoy.

"Ini Ibu kita, BoBoiBoy," balas Fang.

"Benarkah?"

BoBoiBoy masih memandang ragu ke arah ibunya.

"Kondisinya lumayan membaik. Alzheimer hilang sementara. Ia belum bisa memulihkan ingatannya secara total," jelas dr. Tadashi.

"Apa?"

Mata Ibu lalu menatap tajam ke arah mata Fang. Kedua tangannya ia turunkan.

"Ini semua gara-gara kau, Fang," bisik Ibu dingin disertai tangan mengepal.

Fang memalingkan wajahnya dari Ibu. Sorot matanya terlihat takut. Jantungnya berdegup kencang.

Fang siap ditampar oleh Ibu.

"Tenang, Bu. Ingatannya akan kembali. Kita tunggu lima belas menit dari sekarang," ucap dr. Tadashi.

"Lima belas menit tidaklah cukup," balas Ibu tajam.

Melihat hubungan Ibu dan Fang dalam kondisi yang tidak baik, Ayah segera turun tangan.

"Begini saja, Bu. Kau temani BoBoiBoy di sini. Sedangkan aku akan berbicara dengan Fang di luar. Bagaimana?" tawar Ayah.

Berbicara? Di luar?

'Mati aku!' jerit Fang.

"Ya. Keluarlah dengan anakmu, Yah," balas Ibu dingin sambil melipat kedua lengannya di depan dada.

"Ayo, Fang!" ajak Ayah tegas.

"Baiklah, Yah," balas Fang lesu.

Baru satu langkah ia jalan, BoBoiBoy menahan bahu Fang.

"Kak Fang, jangan pergi. Aku takut," pinta BoBoiBoy.

Fang lalu memegang kedua bahu BoBoiBoy.

"Kau di sini saja sama Ibu. Aku mau berbicara sebentar dengan Ayah. Aku akan ke sini lagi, BoBoiBoy," jelas Fang hangat.

"Tapi..."

"Ssst, percayalah." Fang menatap manik hazel BoBoiBoy dengan dalam lalu ia senyum.

"Okey," balas BoBoiBoy mencoba senyum.

Fang menatap Ilibunya. Tetapi Ibu hanya menatap tak acuh ke arah Fang.

"Terima kasih, Dok," ucap Fang sebelum keluar dari ruang UGD.

Dokter Tadashi mengangguk dan melempar senyum ke arah Fang.

222

Seragam sekolah masih melekat di tubuh Fang walaupun hari sudah malam.

Pasangan ayah-anak itu tengah berada di area pintu masuk rumah sakit. Ayah duduk di kursi tunggu, sedangkan Fang berdiri di samping ayahnya.

Fang mencoba membuka mulutnya, " Ayah, a-aku-"

"Siapa yang menyuruhmu berdiri?" ucap Ayah dengan nada dingin.

Fang merapatkan mulutnya keras.

Ayah menengok ke arah Fang.

"Fang!"

Fang menengok ke arah ayahnya dengan takut-takut. Mata mereka saling bertemu.

"Duduklah di samping Ayah!" perintah Ayah dengan lembut.

Fang lalu duduk di samping Ayahnya. Hawa ketakutan masih menyelimuti Fang.

Keheningan masih menyelimuti mereka berdua. Sudah sepuluh orang berlalu lalang di depan mereka.

"Ayah tidak marah kepadamu, Fang,"

Fang membulatkan matanya. Ia masih tidak mempercayai kata-kata ayahnya.

"Ayah, maafkan aku," ujar Fang dengan suara serak.

"Untuk apa kau minta maaf?"

Fang mendongak kepalanya untuk melihat Ayah.

"Ayah dan Ibu masih kesulitan menerima penyakit BoBoiBoy. Tapi, apa daya. Kita memang harus menerima kenyataan," ucap Ayah. Seolah-olah ia meminum kopi paling pahit.

"Ayah tidak marah kepadamu, Fang. Sama sekali. Tidak ada gunanya memarahimu. Toh, ini semua sudah terlanjur terjadi."

"Ayah sangat mempercayaimu. Ayah tahu, kau sudah menjaga adikmu dengan sangat baik."

"Tapi Ibu membenciku, Yah," ujar Fang dengan nada bergetar.

"Ibu masih belum bisa menerima ini dengan cepat, Fang. Ayah yakin suatu hari, Ibu akan membaik. Kau bisa menjelaskan semua ini dengan baik-baik. Ibu hanya kaget saja. Perempuan memang susah dimengerti," ujar Ayah lalu ketawa garing.

Fang mengembuskan napas, lalu tertawa kecil.

"Omong-omong, dari mana Ayah dan Ibu tahu semua ini? Maksudku, Ayah dan Ibu tahu BoBoiBoy menjadi pasien di rumah sakit ini dan lain-lain."

"Mudah saja. Dari kartu ATM kalian berdua."

Fang mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

"Kartu ATM?"

"Ayah dan Ibu mengecek daftar riwayat transaksi kalian. Di situ tertera jam, hari, tanggal, dan bulan kalian transaksi di tahun ini. Ibu merasa janggal karena kalian terus melakukan transaksi membayar uang kepada Rumah Sakit Pulau Rintis. Apalagi kondisi keuangan di ATM kau, Fang. Semua uangmu hampir bablas untuk pembayaran rumah sakit," jelas Ayah.

Wajah Fang memerah sekilas. Ya, uangnya hampir habis untuk membayar biaya pengobatan dan pemeriksaan BoBoiBoy. Ia hampir saja menelepon ayah dan ibunya untuk meminta sejumlah uang.

"Ibu mengatakan bahwa belakangan ini ia merasakan firasat tidak enak. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Malaysia saat itu juga. Untungnya pekerjaan kami sebagian sudah selesai, sisanya bisa dikerjakan di rumah. Setelah menaiki pesawat dan kereta, kami sampai di Pulau Rintis. Barang-barang kami masih di bandara, Fang. Ibu dan Ayah langsung pergi ke rumah sakit ini. Lalu Ibu meminta penjelasan secara paksa kepada Ms. Elsa dan dr. Tadashi. Dan beginilah yang terjadi sekarang."

Fang hanya mengangguk-angguk mengerti.

"Kenapa kau tidak memberitahu Ayah dan Ibu yang sebenarnya, Fang?"

Ayah menatap mata Fang, mengharapkan penjelasan.

"Aku takut akan membuat khawatir dan mengganggu pekerjaan Ayah dan Ibu di sana. Aku juga tidak bisa memberitahu secara sembarangan karena aku yakin, BoBoiBoy tidak mau Ayah dan Ibu mengetahuinya, termasuk diriku," ujar Fang pilu.

"Memang benar," respons Ayah.

Fang kembali mengernyitkan dahinya.

"BoBoiBoy memang tidak ingin kita semua tahu. Dokter Tadashi bilang begitu kepada Ayah dan Ibu."

"Arghh, anak itu! Asal Ayah tahu, aku juga meminta penjelasan paksa kepada dr. Tadashi," geram Fang sambil mengepalkan tangannya.

"Oooh. Yang penting sekarang, kita harus menjaga BoBoiBoy. Kita harus selalu berada di sampingnya. Ayah yakin ia pasti sembuh."

Ayah memeluk Fang dengan hangat. Aroma khas bandara masih melekat di jas ayahnya, menyeruak masuk ke indera penciuman Fang. Fang membalas pelukan ayahnya.

"Iya, Yah," ujar Fang serak lalu menutup matanya.

222

"BoBoiBoy rindu sekali sama Ibu!"

Tangan kecil yang diinfus tengah memeluk sang Ibu yang sedang membelai rambut anaknya yang tertutupi topi dinosaurus.

"Ibu juga, sayang,"

"Ibu baru pulang hari ini?"

"Iya. Ayah juga."

Pintu ruang rawat BoBoiBoy telah terbuka, menampilkan wajah Fang yang masih kusut dan Ayah yang sedang merangkul Fang.

BoBoiBoy membelalakkan mata dan tersenyum lebar.

"Ayah! Kak Fang!"

Sambutan BoBoiBoy begitu heboh. Namun, begitu mata BoBoiBoy turun ke arah lengan Fang yang terbalut perban, ekspresinya berubah menjadi khawatir.

"Kak Fang, lenganmu kenapa?" tanya BoBoiBoy.

Mendadak otak BoBoiBoy memutar kejadian yang ia ingat sebelumnya.

Ketakutan muncul dari BoBoiBoy. Ia tahu, ialah yang menyebabkan tangan Fang seperti itu. Elemen api menguasainya begitu saja. Ia berteman dengan Adu Du. Lalu menganggap Fang sebagai pengganggu.

"KAK FANG, MAAFKAN AKU!" ucap BoBoiBoy histeris.

"Tenang, BoBoiBoy. Tenang." Ayah segera menghampiri BoBoiBoy dan mengelus pundaknya.

"Apa yang terjadi sebenarnya?" ujar Ibu.

"A-aku menyerang Kak Fang. A-aku-"

"Tidak! Itu tidak benar!"

Ayah menatap Fang dengan bingung. Ibu memandang Fang dengan tajam. BoBoiBoy memandang Fang dengan tatapan apa-yang-salah-dengan-perkataanku?.

"A-aku menyerangmu dengan bola api."

"Bola api?!" tanya Ibu dengan nada tajam.

Fang rasa, ini bukan saat yang tepat mereka mengaku mempunyai kuasa.

"Engh... Tadi kami membakar sampah, Bu. BoBoiBoy tidak sengaja melempariku korek api yang sudah ada apinya," jawab Fang berbohong.

"Tapi-"

"Benar, 'kan, BoBoiBoy?" ucap Fang penuh penekanan dan menatap tajam BoBoiBoy.

Melihat tatapan tajam yang dilemparkan oleh Fang, membuat nyali BoBoiBoy ciut.

Seperti telepati, BoBoiBoy akhirnya mengerti apa maksud sang kakak bertingkah seperti ini. Ayah dan Ibu tidak boleh mengetahui mereka mempunyai kuasa. Belum saatnya.

"Ah, iya benar. Ini kecerobohan BoBoiBoy," ujar BoBoiBoy sambil menyengir dan menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Huh, ada-ada saja. Lain kali kau harus hati-hati, BoBoiBoy," omel Ibu.

"Baik, Bu."

"Baiklah. Saatnya kau istirahat, BoBoiBoy. Bu, ayo, kita ke kantor untuk mengambil barang-barang," ucap Ayah.

"Kau saja yang pergi, Yah. Aku masih mau bersama BoBoiBoy di sini," tolak Ibu.

"Baiklah. Ayah akan ke kantor dan pulang ke rumah bersama Fang."

"Uhm, aku rasa tidak, Yah. Aku mau di sini saja," ucap Fang.

"Baiklah, baik. Terserah kalian semua," ujar Ayah mengangkat kedua tangannya, mengundang gelak kecil Ibu, BoBoiBoy, dan Fang.

"Ayah akan tidur di rumah, sekaligus menemani Ochobot. Fang, sebaiknya kau istirahat juga," ucap Ayah lalu ia memeluk Fang sebelum menghilang dari balik pintu.

222

Fang mengira, bahwa minta maaf adalah sesuatu yang mudah.

Ini sudah hari ketiga Yaya mendiamkan Fang. Tingkah Yaya juga sudah berubah. Ia menjadi pasif dan agak menjauh dari teman-teman di kelasnya. Yaya hanya melakukan tugas seperlunya.

Bahkan saat mereka latihan untuk perpisahan, mereka tidak pernah berpandangan satu sama lain.

Setiap kali Fang ingin membuka mulut untuk mengucapkan maaf, Yaya selalu menghindarinya. Namun itu tidak membuat Fang cepat menyerah.

"Kak Fang!"

Gopal membuyarkan lamunan Fang. Seperti biasa, Fang selalu melamun dengan menumpu pipinya di atas tangan dan melihat pemandangan di luar jendela.

"Apa?"

"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan," ujar Gopal serius.

"Kita?"

Tatapan Gopal tidak seperti biasanya. Ekspresi anak itu datar dan tidak ada nada gurauan di perkataannya.

Fang sedikit terkejut melihat perubahan Gopal. Ditambah Gopal menarik paksa lengan Fang— yang baru saja sembuh dari luka bakar —lalu mereka berjalan untuk keluar dari kelas 6 Jujur.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Catatan kaki:

1. GPS = Global Positioning System. Sistem untuk menentukan letak di permukaan Bumi dengan bantuan sinyal satelit. (Wikipedia) [Fakta]

A/N: Kenapa? Makin lebay? Yaiyalaaaah, namanya juga drama wkwkwk.

Ini udah panjang bet loh. Maaf kurang memuaskan. Saya terlihat cepat-cepat menyelesaikan chapter ini. Soalnya saya tidak bisa tenang mengerjakan tugas kuliah kalau chapter ini tidak segera dipublis di FFN. Tapi akhirnya selesai jugaaaaa! *yeay*

Semoga kalian semua tidak bosan dengan ff ini dan mengambil sisi positifnya. Semoga Monsta tidak membuat jalan cerita BoBoiBoy seperti ini *plak.

Review lagi, please! Author bukan apa-apa tanpa review kalian :"D

Silent reader, enjoy this ff. Saya tahu kalian tidak tahan untuk review cerita ini~

——————————
K O L O M  N U T R I S I
——————————

1. Bagaimana solusi Fang untuk bisa meminta maaf kepada Ibu?

2. Apakah kamu pernah bertengkar dengan orang tua? Masalahnya karena apa?

3. Apa pendapatmu terhadap Chapter 8 di Do I Remember You ini?

***

Mari terapkan budaya baca cermat, memberi masukan dengan santun juga bijak, serta menghargai keberagaman dalam berkarya dan perbedaan pendapat. Be wise.

***

Sudahkah kamu vote bab ini dan follow penulisnya?

Scroll/Swipe untuk membaca bab selanjutnya dari fanfict Do I Remember You?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top