Chapter 10
"Sudah berapa kali aku peringatkan kau untuk tidak melakukan aktivitas berat?"
Dokter Tadashi memandang BoBoiBoy yang duduk di pinggir ranjang pasien. Bocah itu baru saja selesai melakukan kemoterapi.
Dokter Tadashi tengah mengomel kepada BoBoiBoy. Ya, BoBoiBoy harus menerima itu semua seusai latihan sepak bola. Selalu.
"Main bola tidaklah berat, Dok. Itukan hobiku," balas BoBoiBoy seraya senyum.
"Hah, terserah kau. Tapi kuperingatkan kau karena alzheimer itu semakin kuat, BoBoiBoy," ucap dr. Tadashi sambil mendorong troli yang berisi bermacam-macam alat kesehatan.
"Iya. Aku tahu itu," balas BoBoiBoy lemas. Ia menundukkan kepala dan mengayunkan kedua kakinya secara bergantian. Mata karamelnya memandang keramik putih di bawahnya.
Setelah meletakkan troli di pojok ruangan, dr. Tadashi menepuk pundak BoBoiBoy.
"Jangan sepelekan hal itu, BoBoiBoy. Kau harus melihat ini."
Dokter Tadashi menyodorkan sebuah kertas berisi tulisan dan beberapa gambar yang BoBoiBoy sama sekali tidak mengerti. Anak itu mengambil kertas dan dr. Tadashi duduk di sampingnya.
"Ini gambar perbandingan otak normal dengan otak alzheimer," jelas dr. Tadashi sembari menyentuh gambar yang dimaksud.
BoBoiBoy hanya memandang lesu terhadap gambar itu. Sudah terlihat jelas sekali perbedaan antara kedua gambar otak manusia bagian dalam itu.
"Ya, aku tahu, Dok. Otakku sekarang cacat, 'kan?" ucap BoBoiBoy lalu menghela napas. Bau obat-obatan menyeruak masuk ke indra penciuman begitu BoBoiBoy menghirup napas.
"Sel-sel yang berada di otakmu lama-kelamaan berkurang, BoBoiBoy. Diikuti dengan penghapusan memori dalam otak. Maaf jika aku hanya memberimu obat pencegah," sesal dr. Tadashi lalu membetulkan letak stetoskopnya.
"Hahaha. Tak usah minta maaf segala, Dok. Obat yang diberikan malahan sangat membantuku," balas BoBoiBoy lalu tersenyum, matanya masih memandang keramik putih.
"Tapi aku akan terus membantumu, BoBoiBoy. Bertahanlah."
"Akan kuusahakan, Dok. Apapun akan kulakukan demi perlombaan itu. Ah, aku tidak sabar sekali jika aku akan menang nantinya," ucap BoBoiBoy. Anak itu mengadahkan kepalanya ke atas, matanya melihat langit-langit ruangan yang berwarna putih, kemudian tersenyum. Membayangkan semua itu terjadi di benaknya.
BoBoiBoy mengayunkan kakinya bergantian. Ia sudah tidak sabar untuk bertanding sepak bola nanti. Mewakili sekolahnya dan ditonton ribuan orang. Menyoraki namanya yang lebih populer dari Fang. Ups, untung tidak ada Fang di sini. BoBoiBoy terkekeh geli.
"BoBoiBoy, aku mendapat kabar bahwa sebentar lagi ayahmu akan datang menjemputmu," ucap dr. Tadashi yang memecah imajinasi bocah elemental itu.
Kepala BoBoiBoy menunduk sebentar, kemudian ia menatap dr. Tadashi.
"Dok, tolong katakan saja kepada ayahku kalau... uhm... aku baik-baik saja... Jangan beri hasil ronsen otakku tadi," ucap BoBoiBoy pelan.
"Kenapa?" Dokter Tadashi mengerutkan keningnya.
"Uhm, otakku semakin parah, Dok. Aku tidak mau selalu dikhawatirkan orang-orang."
"Alasanmu selalu sa—"
Ucapan dr. Tadashi berhenti begitu pintu di ruangannya terbuka. Menampilkan sosok ayah BoBoiBoy yang mengenakan kemeja dan dasi orang kantoran serta menenteng jas di tangannya.
"Hai, BoBoiBoy. Bagaimana kemoterapinya?" ucap Ayah lalu mencium puncak kepala anaknya.
"Baik-baik saja, Yah. Baru pulang kantor?" balas BoBoiBoy sedikit berbasa-basi.
BoBoiBoy berharap setelah ia bertanya hal itu, ayahnya segera mengajaknya untuk cepat-cepat angkat kaki dari rumah sakit ini.
"Tentu saja. Nah, dr. Tadashi, bagaimana keadaan anakku?"
BoBoiBoy menggerutu kesal di dalam batinnya.
"Oh, keadaannya..."
Mata dr. Tadashi bertemu dengan mata BoBoiBoy. BoBoiBoy menggeleng kepalanya. Memberi isyarat jangan-beri-tahu-hasilnya.
"... ehm... baik. Dia hanya perlu kemo, makan secara teratur, dan minum obat," jawab dr. Tadashi.
"Oh, begitukah? Baiklah terima kasih, Dok. Ayo kita pulang, BoBoiBoy."
BoBoiBoy mengangguk semangat dan melempar senyum ke arah dr. Tadashi.
222
Suara derit pintu terbuka membuat Ibu mengalihkan pandangannya dari majalah yang ia baca. Ibu menarik tangan yang ia gunakan untuk merangkul bahu Fang yang sedang menikmati donat buatan wanita tersebut.
"Kami pulang!"
Suara ceria Ayah dan BoBoiBoy mengiringi mereka memasuki rumah. BoBoiBoy segera duduk di lantai dan membuka tali sepatunya.
Ibu menghampiri Ayah lalu mencium pipinya.
Mata Ayah melihat Fang sedang memakan donat kesukaannya dengan nikmat di sofa. Di sebelah Fang, ada majalah wanita dan beberapa kertas bergambar sketsa desain pakaian. Sudah ditebak itu semua punya Ibu.
"Wow, aku tak pernah lihat hal semacam ini. Kau sudah berbaikan dengan Fang?" goda Ayah sambil melonggarkan dasi di kerahnya.
"Yah, begitulah. Hihihi," balas Ibu. Matanya lalu beralih ke anak di samping suaminya, "BoBoiBoy, bagaimana keadaanmu?"
Kedua tangan Ibu terulur, hendak memeluk anak keduanya. Namun, sebelum satu jari pun menyentuh tubuh BoBoiBoy, anak itu sudah mundur ke belakang dengan ekspresi sedikit takut di wajahnya.
"BoBoiBoy?" Ibu mengerutkan keningnya. Bingung melihat respons anaknya yang sedikit menjauh darinya.
BoBoiBoy mengerutkan kening melihat sosok wanita di depannya. Rasanya BoBoiBoy tidak mengenali siapa yang ada di depannya.
"Maaf, Tante siapa?"
Ibu menarik napas kaget. Saat itu juga perasaannya langsung berkecamuk. Ia ingin sekali marah kepada BoBoiBoy karena ia menganggap kalimat itu sangat kurang ajar, ditambah dengan ekspresi seperti itu.
Namun, pikirannya langsung menyadarkan Ibu. Anaknya sedang terkena penyakit pikun—ah itu terlihat kasar sekali, seharusnya lupa ingatan. Jadi, mau tidak mau Ibu harus rela menerima keadaannya yang seperti ini.
"Kau ... tak ingat? Ini Ibu, Nak," ucap Ibu lalu bersimpuh di hadapan BoBoiBoy, menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan tinggi tubuh BoBoiBoy.
BoBoiBoy menggeleng kepala dengan perlahan. BoBoiBoy terus mengingat-ingat siapa sosok wanita di depannya. Anak itu memperhatikan penampilan detil dari atas sampai bawah.
Apakah BoBoiBoy yakin ia pernah melihat wanita yang mengakui bahwa ia adalah ibunya?
"BoBoiBoy, ini ibumu. Balas pelukan dia!" perintah Ayah masih dengan mimik bingung melihat tingkah laku anaknya.
Fang meneguk teh sebentar, lalu berjalan menghampiri Ayah, Ibu, dan BoBoiBoy.
Fang berdiri di belakang BoBoiBoy. Kedua tangannya lalu mengangkat kedua lengan BoBoiBoy setinggi pundak Ibu.
"Kak Fang, a—" ucap BoBoiBoy dengan setengah kaget setengah ingin protes karena tiba-tiba Fang menggerakkan tubuhnya seenaknya. Persis seperti dalang yang memainkan wayang.
"Itu ibumu, BoBoiBoy. Jangan pernah berani memanggil dia dengan panggilan lain," ucap Fang dingin.
Fang mendorong perlahan tubuh BoBoiBoy. Adiknya menurut. Kemudian Fang beralih menuju Ibu, mendaratkan tangannya di pundak Ibu, lalu mendorong pelan Ibu agar bisa lebih dekat dengan BoBoiBoy.
Akhirnya BoBoiBoy memeluk Ibu. Tapi masih dengan sedikit keraguan.
Perlahan kehangatan muncul di antara mereka berdua. Ibu semakin memeluk erat BoBoiBoy. Seakan-akan baru bertemu setelah berpisah bertahun-tahun.
"Ingat, BoBoiBoy. Aku adalah ibumu yang selalu berada di sampingmu. Matamu adalah mata Ibu. Wajahmu adalah wajah Ayah. Kita memiliki warna mata yang sama, sayang. Jika kau lupa dengan Ibu, cukup kau lihat mata Ibu," ucap Ibu dengan sedikit bergetar.
Suara itu. Ya, suara wanita itu terdengar familier. Memasuki indra pendengarannya. Otaknya seakan-akan sedang menerjemahkan suara yang dikeluarkan Ibu.
'Apa? Ibu? Ya ampun! Ternyata benar ini adalah ibuku', jerit BoBoiBoy dalam batinnya.
BoBoiBoy memeluk erat Ibu. Sangat erat. Sehingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
"Maafkan BoBoiBoy, Bu. Maaf," ucap BoBoiBoy diakhiri segukan kecil.
BoBoiBoy merasa sedikit demi sedikit sel-sel di otaknya berusaha memperbaiki memori tentang Ibu.
Ibu mengelus punggung BoBoiBoy dengan begitu lembut, membuat BoBoiBoy tambah bersalah dan semakin menunduk kepalanya.
"Bu, aku benci alzheimer," ucap BoBoiBoy pelan, yang hanya bisa di dengar oleh sang ibunda.
Apa daya, sekarang BoBoiBoy hanya bisa menyalahkan penyakitnya itu. Yang tidak membantu sama sekali untuk membuat pikiran BoBoiBoy menjadi normal.
"Kita akan sama-sama melewati ini, Sayang," hibur Ibu lalu mengelus rambut anaknya.
Ayah menepuk pundak Fang dengan pelan. Pandangan mata mereka berdua masih terpaku dengan Ibu dan BoBoiBoy yang asyik berpelukan.
"Fang, apa BoBoiBoy sering seperti ini? Aneh sekali. Padahal ia sudah kemoterapi," ucap Ayah datar.
"Sering. Ia bahkan selalu memanggil namaku dengan nama yang salah," balas Fang datar.
Fang dapat menerima jika BoBoiBoy sering salah memanggil namanya, bahkan nyaris tidak mengenalnya. Namun, jika BoBoiBoy lupa dengan Ibu dan Ayah, Fang tidak akan pernah membiarkan hal itu.
Dari kejauhan, sepasang mata berwarna biru memandang keluarga itu dengan perasaan sedih dan bersalah. Ochobot tidak berani bergabung dengan keluarga yang sedang sedih itu. Karena memang, mungkin ia adalah pihak yang salah dan menyebabkan semua ini terjadi.
"Akan kuberi tahu sesungguhnya nanti."
222
Hari ini adalah hari terakhir Fang menginjak Sekolah Dasar Pulau Rintis. Bel berbunyi menandakan UN telah berakhir dan murid-murid kelas 6 Disiplin bersorak bahagia.
Fang mengembuskan napas lega dan tersenyum seusai mengerjakan UN. Ia lalu berdoa agar hasilnya memuaskan dan sesuai standar sekolah yang diimpikannya.
Tapi, UN selesai, belum tentu 'urusan' di sekolah ini ikut selesai.
Masih ada lagi tanggung jawab yang harus ia hadapi. Menyiapkan pentas seni untuk perpisahan dan ...
Meminta maaf pada Yaya.
Mata di balik lensa nila itu menatap punggung Yaya dari kejauhan. Yaya keluar dari kelas tanpa mengucapkan apa-apa kepada Fang. Biasanya, setelah ujian, Yaya selalu cerewet bahwa ia akan menjadi nomor satu di kelasnya, mengalahkan Fang.
Fang tahu gadis itu masih marah kepadanya.
Fang berjalan santai ke luar kelas. Ia tahu kemana perginya Yaya setelah meninggalkan kelas.
222
Fang berdiri di depan pintu ruang serba guna milik sekolahnya.
"Bersamamu kuhabiskan waktu"
Terdengar suara nyanyian Yaya di balik pintu tersebut.
"Senang bisa mengenal dirimu"
Fang sudah menyiapkan mental sejak lama. Ia siap ditampar Yaya (lagi) dan dicaci maki.
"Rasanya semua begitu sempurna"
Fang harus berusaha minta maaf kepada Yaya hari ini. Ia harus dimaafkan Yaya hari ini. Harus.
"Sayang untuk mengakhirinya"
KREK!
Pintu terbuka dan Fang masuk ke dalam ruangan itu. Tidak ada siapa-siapa, selain mereka berdua. Yaya menghentikan nyanyiannya, lalu kepalanya beralih untuk melihat siapa yang masuk.
Yaya menatap sekilas ke arah Fang. Tanpa basa-basi lagi, Yaya segera melangkahkan kakinya untuk menuju pintu keluar lainnya.
"Yaya, tunggu!"
Kaki Fang segera berlari untuk menyusul Yaya.
"Aku ke sini untuk meminta maaf."
Yaya tidak memedulikan Fang. Ia terus saja berjalan menuju pintu keluar yang lumayan jauh darinya.
"Aku tahu aku salah meneriakimu di depan semua orang. Maafkan aku, Yaya," ucap Fang setengah teriak sambil mengejar Yaya.
Yaya semakin mempercepat langkahnya. Ia ingin segera menghilang dari pandangan Fang.
Fang akhirnya berlari menggunakan kuasa bayangnya. Melompat dan mendarat di depan Yaya sebelum perempuan itu menyentuh kenop pintu.
"Maaf aku telah meneriakimu. Maaf telah membuatmu malu di depan semua orang. A-aku hanya tidak bisa mengontrol kemarahanku. Maaf, Yaya."
Kedua teman kelas itu saling berdiri berhadapan dan saling menatap satu sama lain.
"Aku tidak memaafkanmu," balas Yaya dingin.
Fang sudah menebak apa jawabannya.
"Aku tidak akan pergi dari hadapanmu sebelum kau memaafkanku, Yaya," balas Fang tak kalah dingin.
"Aku tidak akan memaafkanmu."
"Arrrghhh baiklah, baik. Lakukan sesukamu, Yaya. Asal kau memaafkanku," ucap Fang dengan pasrahnya.
Yaya mengangkat tangan setinggi wajahnya. Lingkaran berwarna merah muda transparan mengelilingi tangan Yaya. Yaya mengepalkan tangannya dan mengarahkannya ke wajah Fang.
"Wo... wo... woah. Kau boleh menonjokku. Asal tidak menggunakan kuasa gravitimu," ucap Fang gelagapan seraya mengacungkan kedua telapak tangannya.
Lingkaran merah muda hilang sekejap. Saat itu Fang menghela napas lega karena Yaya tidak akan menyiksanya dengan kuasa gravitasi perempuan itu.
Yaya menarik kepalan tangannya hingga melewati batas tubuhnya. Kemudian mendorong kepalan tangannya hingga sampai di wajah Fang.
DUAGH!
Perkiraan Fang ternyata salah total.
Fang terkena tinjuan Yaya. Seketika pemuda itu jatuh tersungkur di lantai.
"Fyuuuh~ Leganya. Sekarang aku memaafkanmu, Fang," ucap Yaya seraya nyengir kuda.
"Aku akui kau hebat juga walaupun tidak menggunakan kuasa."
Yaya terkekeh geli. Namun, kekehan geli itu berhenti ketika melihat Fang yang sudah berdiri di hadapannya dengan setetes darah muncul dari sudut bibir Fang.
"Ah, Fang! Kau berdarah. M-maaf aku tak bermaksud sampai melukaimu. Sakit kah?" Yaya buru-buru mengeluarkan sapu tangan dari tas selempangnya.
Yaya hendak mengusap darah yang ada di sudut bibir Fang. Tapi Fang menghentikan aksi Yaya dengan mencengkeram pergelangan tangannya yang memegang sapu tangan.
Padahal jarak antara sapu tangan dengan wajah Fang tinggal lima jari.
"Aku pantas mendapatkannya. Tidak perlu minta maaf kepadaku. Terima kasih sudah memaafkanku, Yaya," ucap Fang seraya tersenyum.
"Sama-sama, Fang. Tapi lukamu perlu diobati segera. Nanti infeksi!"
"Masa bodo. Nah, ayo, kita lanjutkan latihan kita yang tertunda selama dua minggu," ujar Fang lalu menarik tangan Yaya.
"T-tapi, Fang..."
Fang menarik tangan Yaya sampai mereka tiba di panggung. Di tengah-tengah panggung, terdapat kursi dan gitar yang menyender di sisi kursi itu. Tangan Fang kemudian melepaskan pergelangan tangan Yaya untuk mengambil gitar. Fang duduk di samping Yaya yang sedang berdiri dengan tampang speechless.
"Baiklah, kita lanjutkan saja nyanyianmu yang tadi," ucap Fang.
Yaya pun mulai benyanyi.
"Melawan keterbatasan"
"Walau sedikit kemungkinan"
Fang memetik gitar sesuai dengan nada yang dikeluarkan Yaya melalu nyanyiannya.
"Tak akan menyerah untuk hadapi"
"Hingga sedih tak mau datang lagi"
"Ternyata hebat juga permainan gitarmu," celetuk Yaya setelah berhenti menyanyi.
"Tentu saja hebat! Aku berlatih setiap hari di rumah tau. Memangnya cuma kau yang bisa berlatih setiap hari di ruangan ini?" jutek Fang sambil terus memainkan gitarnya.
"Iya... Iya...," balas Yaya memutar bola matanya.
"Eh, Ya, teman-teman yang lain pada kemana? Kok ga latihan?"
"Sebentar lagi mereka akan di sini. Tadi pagi aku sudah memberitahu mereka semua bahwa hari ini dan jam segini kita semua latihan."
Fang membulatkan matanya setelah mendengar perkataan Yaya.
"Apa?! Kau memberitahu yang lain sedangkan aku tidak?!"
"Kan waktu itu aku sedang marah padamu," jawab Yaya enteng.
"Cish!"
Mereka berdua pun melanjutkan latihan yang tertunda tadi.
222
Matahari memancarkan sinar cerahnya, tetapi terhalang oleh awan. Coach Namjoon beserta tim didiknya sedang mengadakan rapat kecil di bawah pohon rindang di taman samping sekolah. Mereka duduk dialasi tikar. Di samping mereka ada bola dan beberapa makanan serta minuman. Mereka baru saja menyelesaikan latihan.
"Ah, akhirnya ini adalah latihan terakhir kita. Saya sangat puas dengan kemampuan yang sudah kalian latih selama sebulan terakhir ini," ujar Coach Namjoon seraya menatap murid-muridnya secara bergantian.
"Terakhir?"
"Besok saya liburkan kalian. Gunakan satu hari besok untuk istirahat dan bersantai."
BoBoiBoy beserta teman-temannya langsung bersorak gembira begitu mendengar kata libur. Melihat murid-muridnya kelewat batas santai, pelatih yang tegas itu langsung meninggikan suara.
"Hei, tapi dengar dulu!"
Seruan dari Coach Namjoon sontak membuat murid-murid Pulau Rintis itu bungkam. Mereka sedikit takut melihat wajah tegas dari sang coach.
"Pertandingan diadakan lusa di Stadion Kuala Lumpur pada pukul 9 pagi. Ingat, kalian harus sampai di stadion itu selambat-lambatnya pukul setengah 9 pagi. Jangan sampai terlambat!"
"Siap, Coach!" Murid-murid lalu mengangguk kepalanya.
"Keluarkan kemampuan kalian yang terbaik. Kita sudah dipercaya oleh pihak sekolah untuk mengikuti lomba itu. Jangan sampai mengecewakanku dan mencemarkan nama baik sekolah. Mengerti?"
"Mengerti!"
"Jangan sampai latihan kita sia-sia selama ini. Jangan sampai waktu dan tenaga kita terbuang sia-sia. Datang tepat waktu oke? Capkan kedisiplinan kalian. Karena perilaku kita akan dilihat oleh seluruh sekolah di Pulau Rintis," ucap Coach Namjoon berapi-api.
"Oke, Coach. Kita tidak akan mengecewakanmu," ujar BoBoiBoy.
Coach Namjoon pun tersenyum ke arah BoBoiBoy.
222
"Bu, Yah, izinkan aku mengikuti pertandingan itu."
BoBoiBoy memandang Ibu dan Ayah yang sedang menonton televisi di atas kasur dengan nikmat. Ruangan serba warna coklat itu menjadi saksi bisu adegan mereka bertiga.
"Sudah lama aku tidak santai sambil menonton film James Bond," ujar Ayah seraya meregangkan badannya.
"Hihihihi. Terakhir kali kita nonton ini berdua kapan, ya, Yah?" ucap Ibu sambil tersenyum. Mendadak flashback ke masa mudanya bersama suaminya.
Merasa didiamkan begitu saja, akhirnya BoBoiBoy berjalan menuju televisi dan menutupinya dengan cara merentangkan tangan, Ayah dan Ibu menatap BoBoiBoy sedikit kesal.
"Bu, Yah, pertandingannya besok, loh," ucap BoBoiBoy. Mengabaikan tatapan protes dari sang ayah dan ibu.
"Humm, baiklah. Baik. Ayah mengalah. Ayo, kita bicarakan ini!" ucap Ayah lalu mematikan televisi dengan remote control.
"Yeay!"
BoBoiBoy segera naik ke atas kasur. Posisi Ibu dan Ayah berhadapan dengan BoBoiBoy.
"Ayah, sih, sudah setuju aja kamu ikut pertandingan itu. Tinggal pendapat Ibu, nih," ujar Ayah sambil menyenggol lengan Ibu.
Ibu menggerak-gerakkan matanya ke segala arah, terlihat sedang menimbang-nimbang sesuatu.
"Bu?" ucap BoBoiBoy menyadarkan lamunan Ibu.
"Ah, BoBoiBoy. Ibu sangat setuju kau mengikuti pertandingan itu. Bahkan Ibu bangga... "
BoBoiBoy tersenyum bahagia mendengar pernyataan Ibu.
"... Tapi hati Ibu tidak tenang. Ibu khawatir akan terjadi sesuatu denganmu. Ibu merasakan firasat tidak enak pada hari pertandinganmu besok," ucap Ibu murung.
Senyum bahagia BoBoiBoy luntur seketika. Diganti dengan mimik cemberut.
"Serius, BoBoiBoy. Entah kenapa firasat Ibu tidak enak. Ibu merasa kalau—"
"Cukup, Bu! Jangan diteruskan!"
Ibu berhenti bicara dan menatap BoBoiBoy. BoBoiBoy lalu meraih tangan Ibu dan menggenggamnya di kedua tangannya yang kecil.
"Aku takut jika Ibu meneruskan, itu akan menambah daftar panjang kekhawatiran Ibu. Bu, yakinlah dengan BoBoiBoy." BoBoiBoy menatap mata sang ibunda dengan intens.
"BoBoiBoy janji akan menjaga kesehatan. BoBoiBoy tidak akan lupa minum obat dan kemoterapi setelah pertandingan nanti. BoBoiBoy akan terus memantau dan mengawasi jiwa dan raga BoBoiBoy." ucap BoBoiBoy dengan nada percaya diri.
Ayah mendengus kasar. "Berlebihan sekali."
BoBoiBoy hanya menertawakan dirinya setelah mendengar kata Ayahnya.
"T-tapi BoBoiBoy... Ini bukan soal—" ucap Ibu ragu dan perkataannya langsung berhenti karena dipotong oleh BoBoiBoy.
"Ibu, ayolaaaaah! Please! Ini adalah pertandingan besar, sekali dalam seumur hidupku. Boleh, ya? Ya? Ya?" bujuk BoBoiBoy dengan puppy eyes-nya.
Ibu memalingkan wajah dari anaknya. Setelah diam beberapa saat dan menghela napas panjang, akhirnya Ibu memandang mata BoBoiBoy.
"Baiklah. Apa boleh buat. Demi anak Ibu. Ibu mengizinkanmu untuk mengikuti pertandingan," putus Ibu.
"YEAAAAAYYY!" sorak BoBoiBoy dengan kencang seraya mengacungkan kedua tangannya yang mengepal ke atas.
"Tapi dengan catatan kau harus memegang janjimu!" ucap Ibu tegas.
"Pasti. Makasih, Bu!" BoBoiBoy melompat ke pelukan Ibu lalu mencium pipi Ibu sekilas.
BoBoiBoy kemudian beralih untuk memeluk Ayah di sampingnya.
"Makasih, Yah!"
BoBoiBoy segera turun dari kasur dan berlari sampai keluar dari kamar orang tuanya.
BoBoiBoy menaiki sofa di ruang tamu dan meloncat-loncat heboh. Sesekali ia berjoget tidak jelas. Ochobot yang sedang melayang, tangannya pun ditarik oleh BoBoiBoy untuk mengikuti gerakannya.
"Wihiii! Aku senang sekali hari ini, Ochobot!" ucap BoBoiBoy riang sambil terus meloncat-loncat di atas empuknya sofa.
"Eh, kenapa nih?" tanya Ochobot kebingungan.
Fang baru saja keluar dari kamar mandi. Handuk putih tersampir di lehernya. Rambut ungunya sedikit basah. Fang melihat BoBoiBoy joget kegirangan sambil menggenggam tangan Ochobot.
"Ada apa?" tanya Fang datar.
"Akhirnya Ibu dan Ayah mengizinkanku mengikuti pertandingan sepak bola!"
"BENARKAH?!" teriak Ochobot dengan heboh.
"IYA, OCHOBOT! Doakan aku semoga menang! Aku janji akan mengajakmu juga untuk bertemu para pemain sepak bola Malaysia di gala dinner nanti!"
"APA?! YEEAAAH! TERIMA KASIH, BOBOIBOY!"
Akhirnya, kedua maniak bola tersebut, saling berpelukan.
Fang hanya menatap datar ke arah mereka berdua sambil sweatdrop.
222
Fang merebahkan badannya di kasur.
Jam menunjukkan pukul 10. Suasana langit malam di luar cukup ramai ditemani para bintang yang bersinar sangat indah. Suhu malam itu tidak terlalu dingin. Cukup adem.
Badan Fang masih saja terasa segar, mungkin efek sehabis mandi tadi. Matanya tak kunjung menutup. Padahal Fang ingin sekali tidur di malam yang sejuk ini.
BRUK!
Mendadak tubuh Fang yang tadinya rebahan, menjadi bangun dan posisinya tegap. Suara apa itu tadi?
Fang menajamkan indera pendengarannya. Berharap mendengar suara aneh itu lagi. Apa di luar sana ada maling?
Well, daripada penasaran, kenapa tidak mencari tahu sendiri?
Fang menurunkan kedua kakinya ke lantai kemudian berjalan menuju pintu kamarnya. Fang memutar kenop pintu. Pintu terbuka dan Fang keluar kamar. Hal yang pertama kali ia lihat adalah kamar BoBoiBoy yang tidak jauh dari kamarnya.
Pintu berwarna cokelat itu tertutup begitu rapat. Fang melihat cahaya lampu yang keluar melalui ventilasi di atas pintu. Lampu di kamar BoBoiBoy masih menyala terang dan itu artinya adiknya belum tidur.
Fang berjalan sampai di depan pintu kamar BoBoiBoy, lalu mengetuknya secara perlahan.
"BoBoiBoy? Kau belum tidur?"
Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar tersebut.
Tanpa basi-basi lagi, Fang memutar kenop pintu dan mendorong pintu. Terlihat BoBoiBoy tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"BoBoiBoy?!"
Fang dengan cepat menghampiri BoBoiBoy.
"Hei?! BoBoiBoy! Kau baik-baik saja?"
Ada nada panik di perkataan Fang. Pemilik kuasa bayang itu mengangkat kepala BoBoiBoy dan meletakkannya secara perlahan di pangkuan.
"BoBoiBoy?! A-astaga. B-badanmu panas sekali," ucap Fang setelah menempelkan punggung tangannya di kening BoBoiBoy.
Perlahan BoBoiBoy membuka kelopak matanya. Hati Fang langsung lega.
"Kak Fang?" ucap BoBoiBoy lemah.
"Apa yang kau lakukan, huh?! Dan kenapa kau belum mengenakan piyama tidur?!" ketus Fang.
BoBoiBoy memang masih mengenakan kaus hitam, jaket armless berwarna jingga, dan topi dinosaurus terbalik seperti biasa.
"Ehehe, tadi aku lagi asyik main bola," balas BoBoiBoy seraya mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf v.
Fang melihat bola bercorak hitam putih yang tidak jauh dari keberadaan mereka berdua. Fang tahu bola itu biasanya terletak manis di pojok kamar jika BoBoiBoy tidak memainkannya.
"Arghh! Kau seharusnya tidur tahu!"
Fang langsung menggendong BoBoiBoy ala bridal style, kemudian meletakkan BoBoiBoy di atas kasur yang terbalut seprai bergambar roket. Fang menyelimuti BoBoiBoy sampai dadanya.
"Kak, jangan bilang-bilang ke Ayah dan Ibu, ya," ujar BoBoiBoy lemah.
"Kau demam bodoh! Ayah dan Ibu harus tahu! Supaya besok mereka tetap di rumah dan tidak pergi ke kantor," balas Fang dingin.
"Jangan! Tolong, Kak. Besok adalah pertandingan. Kak Fang tahu, 'kan?"
"Tidak usah ikut pertandingan. Digantikan saja dengan pemain cadangan. Nanti aku telepon Coach Namjoon untuk meng—"
Omongan Fang terhenti begitu kedua tangan BoBoiBoy menyergap lengannya.
Fang sedikit terkejut begitu lengannya disergap. Kedua tangan BoBoiBoy begitu panas.
"Kak, aku harus bertanggung jawab sebagai kapten di tim Sekolah Rendah Pulau Rintis," ucap BoBoiBoy dengan suara serak.
"Sudah tahu kau sakit kenapa kau menjadi kapten?!" ucap Fang sedikit marah.
"Karena itu keinginanku. Lagipula Coach Namjoon memercayaiku."
"Hah! Kau begitu keras kepala."
"Tolong, Kak. Palingan besok juga demamku menghilang. Jangan beri tahu siapa-siapa kalau malam ini aku demam. Aku tidak mau Ayah dan Ibu cemas dan berubah pikiran," ujar BoBoiBoy dengan suara tercekat.
Fang menundukkan kepalanya. Sudah jelas-jelas BoBoiBoy masih dalam kondisi lemah dan adiknya itu tetap kekeh ikut pertandingan besok. Memang apa pentingnya sih ikut pertandingan itu? Namun, Fang segera sadar bahwa ini adalah mimpi BoBoiBoy sejak ia mengikuti ekskul sepak bola di sekolah. Jadi, apa lebih baik Fang memberi kesempatan dan mengizinkannya untuk mengikuti pertandingan? Tapi, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?
"Kak Fang?"
BoBoiBoy memecahkan lamunan Fang dan itu membuat Fang kesal.
"Sekali lagi kau berbicara, kau akan kulempar keluar jendela," ucap Fang dengan nada mengancam.
BoBoiBoy hanya nyengir. Ia tahu kakaknya tidak akan menyakitinya.
Fang menarik napas dari dalam dan mengembuskannya secara perlahan.
"Baiklah. Akan kujaga rahasia ini," ucap Fang pasrah.
Percuma Fang melawan lagi. Adiknya selalu mempunyai alasan yang kuat.
"YEAAAY! MAKASIH, KAK FANG!" jerit BoBoiBoy pelan dan segera memeluk sang kakak.
"Ish. Iya iya. Tapi dengan syarat, aku tidur di sini untuk menjagamu."
BoBoiBoy mengangguk. BoBoiBoy melepaskan pelukannya terhadap Fang. Fang berjalan ke arah pintu lalu menutupnya.
"Dimana obatmu, BoBoiBoy?"
"Heh? Dokter Tadashi tidak pernah memberiku obat penurun demam."
Akhirnya Fang kembali membuka pintu kamar dan keluar. Beberapa menit kemudian, Fang kembali ke kamar BoBoiBoy dengan membawa botol obat penurun panas dan segelas air putih.
Fang meletakkan gelas yang berisi air putih di meja samping kasur BoBoiBoy. Lalu Fang melepaskan gelas plastik bening kecil yang menempel pada tutup obat. Fang membuka tutup botol lalu menuangkan cairan obat ke gelas plastik tersebut.
"Nih, minum," ucap Fang seraya menyodorkan gelas plastik yang sudah terisi cairan obat penurun panas.
"Suapiiiiin~" ucap BoBoiBoy manja sambil memposisikan dirinya untuk duduk tegak.
Fang hanya menatap datar BoBoiBoy.
"Hehehe, iya iya. Aku cuma bercanda saja." BoBoiBoy mengambil gelas plastik tersebut dan meminumnya sampai habis.
Fang menyodorkan gelas yang berisi air putih dan segera disambut oleh BoBoiBoy.
"Sekarang tidur!" perintah Fang setelah BoBoiBoy menghabiskan air putih.
BoBoiBoy mengangguk. "Terima kasih, Kak!"
Fang membereskan botol obat dan BoBoiBoy segera membaringkan tubuhnya. Fang mematikan lampu kamar. Kamar menjadi gelap, tetapi tidak gelap total karena ada cahaya. Cahaya bulan yang menerobos masuk ke ventilasi di atas jendela.
Fang melihat wajah BoBoiBoy di bawah cahaya bulan. Wajahnya memerah karena demam, tetapi ekspresi di wajahnya begitu polos dan damai. Terlihat sedikit senyuman di bibirnya.
Fang menarik kursi belajar BoBoiBoy dan meletakkannya di samping kasur. Fang menarik selimut—yang tadinya berantakan—sampai dada BoBoiBoy. Kemudian pemuda itu duduk.
Fang menatap adiknya yang sudah tertidur pulas. Jam sudah menunjukkan pukul 11 kurang 20 menit.
Ada sesuatu firasat tidak enak di hati Fang ketika menatap adiknya. Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang tidak beres pada hari pertandingannya nanti.
Fang segera menepis pikiran-pikiran buruk yang ada di kepalanya. Ia yakin semuanya akan berjalan dengan baik dan BoBoiBoy akan memenangkan pertandingan itu.
Namun, begitu ia melihat adiknya tidak berdaya seperti tadi, mendadak pikirannya kacau dan perasaannya berantakan. Ia sempat panik dan gugup menghadapi BoBoiBoy yang drop karena penyakitnya.
Emosi Fang memang tidak bisa dikontrol kala ia marah ataupun ketakutan seperti tadi. Untung saja Fang bisa mengandalkan keadaan tadi. Bagaimana kalau ia tidak tenang, kemudian ia panik, lalu BoBoiBoy bisa lebih parah lagi?
Tanpa Fang sadari, perlahan air mata turun membasahi pipinya dan ia sesegukan kecil.
222
Matahari masih belum menampakkan diri di atas langit. Terlihat kakak beradik yang sedang tidur dengan pulas di kamar. Adiknya terbaring manis di atas kasur, sedangkan kakaknya berada di sampingnya, duduk di kursi dan menjadikan kedua lengannya bertumpuk di pinggir kasur sebagai bantal kepalanya.
KRRRRIIINGGG!
KRRRIINNGGGG!
Fang mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian dia berusaha mengangkat kepalanya yang terasa berat. Fang meraih kacamatanya, memakainya, dan menengok ke arah jam.
Jam menunjukkan pukul 6!
Siapa yang menelepon pagi-pagi begini?
KRRRIIINGGG!
"Iya, sebentar," gerutu Fang.
Fang beranjak dari kursi. Ia melihat BoBoiBoy yang masih tertidur pulas di dekatnya. Fang menempelkan punggung tangannya yang terbalut sarung tangan fingerless pada kening BoBoiBoy.
Badannya tidak panas lagi seperti tadi malam.
"Huh, syukurlah." Fang mengelus dadanya.
KRIIING!
Kesabaran Fang sudah hilang. Akhirnya ia turun ke lantai satu—tempat telepon berada—dengan menggunakan kekuatan bayangnya. Untung saja Ayah dan Ibu masih tidur di kamar mereka.
"Halo?" desis Fang setelah mengangkat telepon.
"Halo. Maaf sebelumnya mengganggu. Apa benar ini nomor telepon BoBoiBoy?" ucap seseorang dari seberang sana.
"Ya. Saya sendiri kakaknya. Ada apa?"
"Ah, kau pasti Fang, ketua basket di Sekolah Rendah Pulau Rintis. Saya Coach Namjoon. Kau pasti tahu, 'kan, siapa saya?"
"Hmm," balas Fang acuh tak acuh.
"Begini. Ada perubahan jadwal Pertandingan Sepak Bola Nasional yang diselenggarakan di Stadion Kuala Lumpur hari ini. Pertandingan akan dimulai pada pukul setengah 8 pagi. Aku harap BoBoiBoy dan yang lainnya sudah ada di tempat pada pukul 7 pagi," ucap Coach Namjoon.
"Baiklah."
"Harap segera disampaikan kepada BoBoiBoy. Terima kasih, Fang!" ucap Coach Namjoon lalu memutus sambungan.
Fang meletakkan telepon wireless pada tempatnya, kemudian kepalanya menoleh ke arah kamar BoBoiBoy yang tertutup rapat.
Tidak. Ia tidak tega membangunkan adiknya yang sedang tidur pulas.
Ayah muncul dari balik kamarnya. Rambutnya berantakan dan tangannya masih memeluk bantal.
"Siapa yang menelepon, Fang?" tanya Ayah dengan setengah sadar.
"Pelatih BoBoiBoy, Yah," balas Fang datar.
Ayah membalasnya hanya dengan ber-oh ria, lalu ia memasuki kamarnya.
"Urrghhh, padahal aku mau tidur lagi," rutuk Fang seraya mengacak-acak rambut ungunya.
Well, daripada tidur lagi, lebih baik Fang menyalurkan energinya lewat olahraga kesukaannya, yaitu basket. Fang segera menyambar handuk dan memasuki kamar mandi. Setelah mandi dan memakai kaus basket sekolahnya, ia segera ngacir keluar rumah.
"Tunggu, Fang!"
Suara Ochobot segera menghentikan langkah kaki Fang.
"Kau melupakan tasmu. Aku sudah mengisinya dengan roti, botol berisi air putih, dan handuk kecil. Oh ya, masa kau mau bermain tanpa bola?"
Fang membalikkan badannya. Ia lalu berjalan menuju Ochobot yang sedang menenteng tas selempangnya dan bola basket miliknya.
"Makanya kalau sedang ngantuk, gak usah maksain main basket," cibir Ochobot.
Fang hanya mendengus kasar setelah mengambil kedua barangnya tersebut. Akhirnya, Fang menuju lapangan Pulau Rintis.
222
BoBoiBoy perlahan membuka matanya.
BoBoiBoy segera meregangkan badannya. Ia merasa segar di pagi ini.
"Ah, jam berapa yaa sekarang?" ucap BoBoiBoy seraya melihat jam di dinding.
"Jam... 8? Kurang 10 menit?"
BoBoiBoy berusaha melihat dan membaca angka pada jam dinding tersebut. Memang benar jarum jam hampir menunjukkan pukul 8 tepat.
"Ah ya, pertandingannya kan jam 9. Yesss, aku bisa mengingatnya," ucap BoBoiBoy sambil beranjak dari kasurnya lalu memasuki kamar mandi dengan riang.
Hari ini adalah hari yang BoBoiBoy tunggu-tunggu. Jelas sekali ia sangat excited karena ia akan bermain pada pertandingan yang cukup bergengsi di Malaysia. Ia tak sabar namanya akan masuk koran dan beberapa media online. Yah, selain kerjaannya melawan alien tidak jelas alias Adu Du, seenggaknya ia punya prestasi yang dibanggakan.
Selesai mandi, BoBoiBoy mengenakan seragam olahraga sekolahnya. Saat ia bercermin, ia begitu bahagia karena mengenakan seragam olahraga yang mewakili Sekolah Rendah Pulau Rintis. Sentuhan terakhir, ia memakai topi dinosaurusnya secara terbalik.
KRING! KRING!
BoBoiBoy segera keluar kamar dan berdiri di balkon. Ia melihat telepon rumah menyala di lantai satu.
"Kak Fang! Angkat teleponnya!"
BoBoiBoy lalu menuruni tangga.
KRING KRING!
"Ochobot! Angkat telepon, dong!"
Tidak ada seorang pun yang merespon panggilan BoBoiBoy. Rumah itu terlihat sepi. Mau tidak mau, BoBoiBoy lah yang mengangkat teleponnya.
"Halo?"
"Halo? BoBoiBoy?" ucap seseorang dari seberang sana to the point. Sepertinya penelepon ini memang mencari BoBoiBoy.
Ah, sepertinya BoBoiBoy mengenal suara ini.
"Iya. Coach Namjoon?" tanya BoBoiBoy memastikan.
"APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN, HAH?!" teriak Coach Namjoon di telepon.
"Eh?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A/N: Nahloh, BoBoiBoy kenapa tuh :> ?
Ciaaaaa, adakah yang kangen ff ini? Kayaknya ga ada ya? Wkwkwk. #apaansihran
Banyak juga yaa yang menginginkan kemunculan BoBoiBoy Air? Tenang sajaaaa BoBoiBoy Air bakal muncul kok di chapter selanjutnya. Tunggu saja yaaa, Misairy ^^
Seperti biasa, bagaimana menurut kalian chapter ini? Kepanjangan sampai enek? Atau seru banget?
Kritik dan sarannya saya tunggu. Suwer saya butuh banget keduanya.
Terima kasih banyak udah mau membaca Do I Remember You. Semoga dapat menghibur kalian semua.
Silent reader(s), review dong jangan diem bae. Hahahaha.
——————————
K O L O M N U T R I S I
——————————
1. Coba tebak, di manakah letak kesalahan Fang dan BoBoiBoy di chap ini?
2. Misalkan orang tuamu tak setuju dengan keinginanmu, biasanya karena apa alasannya?
3. Apa pendapatmu terhadap Chapter 10 di Do I Remember You ini?
***
Mari terapkan budaya baca cermat, memberi masukan dengan santun juga bijak, serta menghargai keberagaman dalam berkarya dan perbedaan pendapat. Be wise.
***
Sudahkah kamu vote bab ini dan follow penulisnya?
Scroll/Swipe untuk membaca bab selanjutnya dari fanfict Do I Remember You?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top