16 - Back

Keputusan yang diambil Hesti sudah sangat tepat. Ia menyesali segalanya dan dengan tulus meminta maaf pada Olivia; wanita yang telah kehilangan banyak hal akibat tulisannya. Melihat hal itu, tentu saja Olivia memaafkan. Sifat baik yang memang telah tertanam dalam dirinya membuat ia mampu berlapang dada dan menerima segalanya.

Takdir memang terkadang tidak adil. Akan ada penderitaan sebelum bahagia. Maka, ketika Hesti menjanjikan bahwa ia tak akan lagi menulis penderitaan pada karakternya, Olivia memilih percaya. Tidak ada sirat kebohongan dari Hesti yang tampak dari matanya.

"Ini semua rencanamu?" Olivia bertanya dengan pelan pada Mahendra yang duduk di sampingnya.

Pria itu tidak memberikan jawaban. Melainkan hanya tersenyum kecil dan melanjutkan acara makan malam bersama di depan tenda kecil mereka.

Olivia teringat pada perkataan Mahendra sebelumnya. Bahwa pria itu memiliki sebuah rencana yang jalan pertama harus dilewati adalah kembali ke dimensi Olivia. Rupanya membuat Hesti berada dalam dimensi ini dan menyaksikan segala penderitaan yang terjadi di dalamnya, juga menyaksikan kematian yang mengenaskan, serta menggoyahkan mentalnya mampu untuk membuat gadis itu berubah pikiran.

Haruskah Olivia berpikir bahwa segala hal yang terjadi kali ini adalah rencana Mahendra? Lalu, apa rencana berikutnya?

"Aku harus kembali ke dimensiku. Aku perlu itu untuk mengubah outline yang ada. Jika aku tetap berada di sini, takdir dunia ini akan selalu sama dengan outline yang telah aku tulis sebelumnya." Hesti membuka obrolan di tengah-tengah mereka. Yang mengerti tentang pembicaraan itu hanyalah Olivia dan Mahendra. Sedangkan Albert, ia memegang daging dan menyantap sambil mendengarkan meski tak paham maksud pembicaraan mereka.

"Bukankah takdir akan berubah jika ada campur tangan orang luar yang tidak termasuk ke dalam karakter dunia ini?" Olivia bertanya dengan serius.

"Aku membunuh Archer. Pria itu seharusnya tidak mati dilihat dari outline kasar yang kubaca." Mahendra ikut dalam obrolan.

"Itu benar. Tetapi, keberadaan kalian di dunia ini tidak akan memberikan dampak besar. Jika hanya dari kalian kesempatan menang melawan Raymond, maka diri kalian yang sekarang tidak akan mampu untuk melawannya." Olivia berpendapat.

"Satu bulan dari sekarang, kalian harus menemukan orang yang bisa memihak pada kalian. Memperbanyak jumlah pasukan dan melakukan penyerangan ke istana sebelum Raymond menaklukkan kerajaan berikutnya," kata Hesti.

Kali ini, atensi Albert yang semula fokus pada makanan pun teralihkan. Rencana dari gadis berpakaian minim itu menarik perhatian.

"Lalu?" Albert yang tak sabaran pun bertanya.

"Dikarenakan upeti tidak seimbang dengan pemberian Kerajaan terhadap rakyat, Wisteria akan mengalami kehancuran dalam waktu dekat. Raymond akan memindahkan pusat kerajaan ke Istana Kerajaan Lotus karena kerajaan itu sudah berada di tangannya sekarang. Penyerangan kalian harus terjadi sebelum Raymond berhasil memindahkan pusat pemerintahan ke Istana Lotus." Hesti menjelaskan, lebih tepatnya ia hanya menjabarkan tentang isi outline yang akan dituliskan untuk bab-bab ke depan. Sesuatu yang tidak mungkin bisa ia ubah di masa sekarang.

"Kalau begitu kita harus menggagalkan itu!" Olivia berseru seketika. Sesuai dugaan Hesti bahwa wanita itu akan berkata demikian.

"Dengan apa, Olivia? Mau melawan Raymond dengan apa? Dua kerajaan sekaligus bersatu sehingga para prajurit mereka dan kekuatan militer dari para bangsawan mereka pun semakin bertambah juga semakin kuat. Kita yang hanya sekelompok orang mau melawan mereka dengan cara apa? Selain itu aku tak bisa membuka portal sesukaku sehingga tak bisa menyiapkan jalur kabur." Pertanyaan Hesti membungkam Olivia.

Hesti melanjutkan perkataannya, "Di outline, kita akan mendapatkan kekuatan dari orang-orang yang memihak pada Raja Edward. Mereka adalah orang yang memilih untuk keluar dari kerajaan karena enggan patuh pada Raymond. Kalian akan bertemu dengan mereka dan menggabungkan kekuatan."

"Kita tidak akan menang jika hanya mengandalkan kekuatan itu, kan?" Albert berbicara.

Secara logika memang benar. Tetapi itulah yang terjadi. Mereka menggabungkan kekuatan dan menyerang Raymond di istana Lotus lalu berakhir dengan kekalahan. Rencana Hesti untuk kisah mereka yang bahkan telah diketahui Mahendra juga Olivia. Ketiga individu tersebut saling pandang, lalu fokus atensi hanya pada Hesti seorang.

"Aku bisa membuat rakyat berpihak pada kalian." Jawaban sederhana yang mampu membuat Olivia dan Albert sama-sama membulatkan mata.

"Kau mau membuat rakyat ikut dalam peperangan?" Olivia bertanya.

Tidak ada cara lain selain hanya itu untuk menambah jumlah pasukan mereka sebagai pihak pemberontak. Hesti melirik pada sang Kakak yang tampak mengangguk seolah perkataannya adalah benar.

"Itu benar, Olivia. Jika hanya kita dan pihak Lotus, kita kalah jumlah dan kekuatan. Jangan lupakan tentang kebutuhan senjata." Mahendra ikut bersuara.

"Lalu kenapa kau tidak menuliskan kemenangan saja? Tuliskan bahwa pihak kami menang meski hanya dengan satu pasukan." Olivia mendesak.

Hesti menggeleng dengan pelan, ia memberikan pengertian pada Olivia bahwa cara itu tidak akan berhasil. Sewaktu ia pertama kali kembali ke dunia nyata setelah dari dimensi fiksi, Hesti melakukan eksperimen dengan hanya menuliskan pada bab terbaru ceritanya bahwa Lotus menang dalam perang.

Tidak ada alur runtut dalam bab tersebut, hanya beberapa paragraf perang berakhir dimenangkan Edward tanpa ada pertarungan atau sesuatu masuk akal untuk memenangkan peperangan itu. Alhasil, bab tersebut tidak dapat dimuat.

Sebagaimana portal yang tidak bisa dibuka, dimensi dan kehidupan di antara mereka benar-benar masih misteri. Sejauh ini, rangkaian kisah mereka hanya bisa berubah dengan campur tangan Mahendra. Yang berarti, hanya bantuan dari luar dimensi yang mampu untuk mengubah takdir dari dunia Olivia.

Bahkan Hesti sendiri yang menuliskan kisah tersebut, tidak memiliki kekuatan untuk mengubah sesuatu yang sudah ada dalam outline. Lalu bagaimana Hesti akan memenuhi janjinya pada Edward untuk mengubah takdir buruk Olivia dan membuat happy ending?

Hesti berpikir dengan keras. "Itu tidak bisa, Olivia."

Pernyataan singkat. Namun, Olivia bisa mengerti bahwa gadis itu sudah pernah melakukannya dan gagal. Tampak dari sorot matanya yang tak bisa berbohong.

"Lalu, bagaimana dengan dunia ini? Apa aku akan gagal lagi seperti outline yang kau buat?" Olivia bertanya, sorot maniknya kini menyiratkan sedikit keputusasaan yang jelas bisa terbaca.

Hesti menghela napas lalu berkata, "Orang dari luar, hah?" Ia melirik pada Mahendra. "Kau sudah punya rencana kan, Kak? Aku tahu kau memikirkan itu di belakangku," tebak Hesti.

Mahendra tertawa kecil. Adiknya itu sangat cerdas. "Pulanglah ke duniamu. Ada kemungkinan mengapa kau tidak bisa membuka portal adalah karena Olivia tak menginginkannya. Jika sudah waktunya tiba untuk kau datang ke sini, Olivia akan menjemputmu."

"Apa maksud Kakak?" tanya Hesti dengan penasaran.

"Bantuan dari luar. Kau harus mencari bantuan dari dimensi kita." Mahendra menjawab.

Seketika, Hesti tersenyum kecil. Merasa dirinya telah mendapatkan jawaban atas apa yang berat di pikiran.

"Tapi siapa orang di dunia kita yang mau untuk membantu dunia ini?" Hesti bertanya.

Mahendra rupanya telah merencanakan banyak hal dan Hesti tak mengetahui itu. Terbukti dari pertanyaan Hesti ini, Mahendra tersenyum seolah ia telah menyiapkan jawaban untuk itu. Kapan kakaknya itu membuat rencana sematang itu?

"Sudah ada. Sekarang waktunya untuk kembali," kata Mahendra dengan santainya.

"APA?!" Hesti dan Olivia berkata serempak.

"Sudah ada? Siapa?" Hesti mendesak dengan pertanyaan.

"Lebih baik kita buka dulu portalnya," kata Mahendra.

Hesti agak ragu pada awalnya karena telah gagal membuka portal pada waktu masih bersama Edward. Tetapi, Mahendra tiba-tiba berkata, "Saat kita kembali ke dunia kita, bukankah aku juga menginginkan hal yang sama?"

Ibarat kabel putus yang tersambung kembali, Hesti terkesiap mengiyakan. Meski hanya teori dan belum tentu benar-benar seperti cara kerja membuka portal, tapi patut dicoba.

Maka dari itu, mereka bertiga berdiri. Untuk pertama kalinya mereka saling berpegangan tangan dan menfokuskan pikiran pada hal yang sama; terbukanya portal antar dimensi.

Dan benar saja, portal terbuka lebar di antara mereka. Kehadiran portal yang sangat tiba-tiba membuat setiap orang di tempat itu menjadi siaga. Terutama Albert, sang mantan jenderal Kerajaan Wisteria. Ia langsung mengeluarkan pedang dan mengarahkan pada pusaran portal.

"Jangan khawatir. Itu adalah portal dimensi. Akan kujelaskan nanti," kata Olivia menenangkan Albert dan para prajurit di sana sehingga mereka kembali menyampirkan pedangnya.

"Kalau begitu pergilah, Hesti." Ucapan Mahendra mengejutkan.

"Kakak?" Mahendra menggeleng.

"Aku harus di sini untuk mencegah hal buruk dalam outline. Jangan khawatir. Tentang orang-orang yang akan membantu kita, sudah ada di dalam sakumu." Hesti buru-buru menyentuh saku celananya saat Mahendra mengatakan itu.

Sejak kapan sang Kakak menyelipkan kertas di dalam saku celananya tanpa disadari?

Bukan waktunya untuk memikirkan itu berlama-lama. Hesti tak ingin lagi menunda waktu dan memilih untuk segera masuk ke dalam portal tanpa Mahendra.

.
.
.

| T B C |

'Just believe, everything will be fine.'

❤️🌹❤️

- Resti Queen -

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top