♔♔ | danger

-- PROLOGUE
❝ I'LL RULE THIS WORLD WITH MY OWN WAY ❞

----------

"Kau yakin ingin melakukan ini? Kau tau kan tindakan mu sangat mengancam keamanan dunia?" ucap seorang pria paruh baya yang berdiri dibalkon kerajaannya.

"Saya yakin tuan, bukan kah ini yang terbaik untuk kerajaan?" tanyanya. Pria itu hanya menatap penasehatnya sambil tersenyum tipis.

"Baiklah, lakukan rencana mu itu" ucap pria tersebut sembari menyungging seringaian diwajahnya. Penasehatnya menatap kaget pria tersebut. "K-kau mau melakukannya? Bagaimana dengan sepuluh kerajaan itu?" tanya sang penasehat.

"Bukan kah kau yang menyuruh ku melakukannya? Lagi pula~"

"Dunia ini... Aku akan memerintah dunia ini dengan cara ku sendiri"

----------

ROAAAR-!

"Skill Adjudicate mu belum sempurna Ren" ucap Lysa sambil memakan kuenya. Rena menyeka keringatnya dan duduk disamping Lysa. "Aku tau, ah~ aku lelah sekali~"

Lysa bersweatdrop ria saat mendengar ucapan Rena. "Kau baru melatih skill Adjudicate mu 5 menit Ren..."

"Tapi itu melelahkan tau!" ucap Rena kesal. "Lagi pula kenapa wujud Adjudicate mu singa? Ku kira dinosaurus" ucap Lysa ngaco. Rena memukul pelan kepala Lysa.

"Itu malah terlihat tidak keren Lysa, tanya kan saja pada bintang Libra kenapa wujudnya singa" ucap Rena. "Kau tau kan itu tidak mungkin? Dan kau belum mendapat semua kekuatan mu kan?" Rena menganggukkan kepalanya.

Rena memperlihatkan gelangnya yang memiliki dua belas liontin kecil. Empat dari dua belas liontin itu terlihat mengeluarkan warna. "Aku baru dapat empat" lirih Rena.

Lysa menepuk pelan pundak Rena. "Tidak apa-apa, kau sudah berusaha" ia pun berdiri dari tempat duduknya dan merentangkan badannya. "Jaa~ aku akan mulai berlatih"

Lysa mengambil pedangnya dan berjalan ke arena pelatihan. Lysa mulai mengayunkan pedangnya dan menyerang kayu tak berdosa itu.

Rena menatap temannya yang sedang mengasah fast skillnya. "Uhh... Dia sangat hebat, aku iri" ucap Rena sambil mengelus Judicator miliknya. Singa putih itu menatap majikannya sekilas sebelum menghilang dari hadapannya.

"Ah~ Judicator meninggalkan ku" ucap Rena ngenes (:v). Tiba-tiba sebuah troli makanan meluncur ke arah Lysa.

"Awas Lys!!"

Lysa menengok kearah troli itu dan memberhentikan troli itu dengan slow skillnya. Lysa pun memegang troli itu dan mencabut skillnya dari troli tersebut.

"Maaf Lys!" ucap Yuru yang ngos-ngosan. Rena pun menghampiri mereka. "Ada apa?" tanyanya.

"Tadi sebenarnya aku berniat untuk membawakan kalian beberapa cemilan, namun ntah ada angin apa Aurora memeluk ku dan membuat ku mendorong troli itu sampai sini" ucap Yuru sembari menatap Aurora tajam. Aurora mengerucutkan bibirnya.

"Bukan salah ku tau! Kau saja yang tidak becus membawa troli makanan!" ucap Aurora. "Sudah-sudah, kalian tidak melatih skill?" tanya Lysa yang membuat tanaman rambat di dinding kastil Rena dengan tangannya.

"Oy oy! Nanti susah membersihkannya!" ucap Rena. "Ups, maaf" Lysa terkekeh kecil dan menghilangkan tanaman rambat itu.

Yuru berfikir sejenak. "Latihan skill ya? Aku belum memikirkannya" Aurora menyenggol pelan pinggang Yuru. "Skill mu itu keren! Kau harus mengembangkannya!" ucap Aurora.

"Ya ya ya, lagi pula aku bingung bagaimana cara melatihnya, kalian tau kan kekuatan ku membaca pikiran orang lain?" ucap Yuru. Mereka pun menganggukkan kepala mereka. "Susah sih, kau harus berlatih dengan manusia sungguhan" ucap Lysa.

Aurora memiringkan kepalanya. "Memang biasanya kalian berlatih dengan apa?" ucapnya. "Boneka atau kayu" ucap Rena.

"Bagaimana dengan skill snap mu? Sudah dilatih?" tanya Yuru. "Ah~ sama dengan mu aku bingung cara melatihnya! Saat aku menjentikkan jari ku-" Aurora pun hendak menjentikkan jarinya namun dihentikan oleh Lysa.

"Jangan! Nanti kita semua mati karna mu!" ucap Rena. Aurora hanya tertawa dengan tidak berdosanya.

"Bagaimana jika kau melatih string slash mu? Kami belum pernah melihatnya" ucap Yuru. "Kalian tidak mau melihat skill lainnya?" tanya Aurora. Mereka menggelengkan kepalanya.

"Dance puppet?"

"Tidak"

"Take control?"

"Tidak"

"Bloody rosè?"

"Tidak"

"Click atau Dream Control?"

"Tidak Aurora"

Aurora mendengus kesal. "Ah~! Kalian tidak seru~!" ucapnya. "Kau gila kah? Kalau kau salah target gimana? Nanti kita semua mati tak terhormat" ucap Yuru.

Aurora pun memakai jarinya untuk memotong kayu dihadapannya dengan malas. Kayu-kayu tersebut terbelah dan terpotong menjadi serpihan kecil.

'Aku heran orang sepolos dia diberkati kekuatan yang berbahaya' batin mereka.

----------

Dikerajaan V. Fenture Kingdom

Seorang gadis bersurai pirang tersebut sedang merenung diatas balkon kamarnya. Gadis itu menatap kertas lusuh ditangannya.

"Yang mulia?"

Victory memalingkan pandangannya ke arah pembantunya. "Ah Olivia , ada apa?" tanyanya.

Olivia menggelengkan kepalanya. "Tidak, apa kau baik-baik saja yang mulia?" tanya Olivia.

Victory terkekeh kecil. "Aku baik-baik saja Oliv, jangan panggil aku dengan sebutan 'yang mulia' saat kita berdua ne? Kau sudah menemaniku dari kecil Oliv"

Olivia hanya tersenyum kearah Victory. Manik ungu terangnya menatap kertas yang dipegang Victory. "Apa itu Tory?" tanyanya.

"Ah, ini... Kertas ramalan" ucap Victory. "Ramalan? Ku kira kau benci cenayang" ucap Olivia.

Victory menggelengkan kepalanya. "Ini mempengaruhi kerajaan bahkan dunia Oliv" ucap Victory dingin. Olivia pun terdiam saat mengetahui temannya sedang dalam mode serius.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang Tory?" tanya Olivia. "Kita harus memperketat keamanan dan juga, kita harus bertemu dengan kesepuluh ratu..." ucap Victory.

Olivia terkejut saat mendengar ucapan temannya. "Apa kah... Perang?" tanya Olivia. Victory hanya menganggukkan kepalanya. Ia membalikkan badannya dan berjalan keluar.

"Aku harus pergi, jaga kastil ini ya?" ucap Victory sebelum pergi meninggalkan Olivia.

"Pasti Tory" balasnya.

Victory berjalan terburu-buru kearah kereta kudanya, ia menaiki kereta kuda tersebut dan duduk ditempat duduknya.

"Anda siap yang mulia?" ucap seorang pria yang bertugas mengendalikan kereta kuda.

"Saya siap"

Kereta kuda itu pun dipacu cepat keluar dari kerajaan V. Fenture Kingdom. Victory meremas kertas digenggamannya.

"Kita pergi ke kerajaan Valerie..."

"Baiklah yang mulia"

Setelah dua jam perjalanan, mereka pun sampai di kerajaan Valerie. Pria tersebut membuka pintu kereta kudanya dan mempersilahkan Victory untuk turun.

"Ah... Jadi ini kerajaan Valerie" ucapnya sembari melihat sekeliling. Kerajaan itu terlihat sangat menarik karna memiliki teknologi yang jauh lebih pesat dari kerajaan lainnya.

"Kau sudah datang?" tanya seorang perempuan berambut pirang kecoklatan. Victory menoleh kearah perempuan itu dan tersenyum tipis. "Halo Raissa"

Raissa membalas senyum Victory dengan senyum manis andalannya. "Tumben kamu berkunjung, ada apa?"

Victory memperlihatkan kertas ramalan yang ia temukan tadi kepada Raissa. "Bagaimana jika kita berbicara didalam?"

Mereka pun duduk diruangan pribadi milik Raissa yang terlihat sangat canggih. Raissa menatap kertas lusuh itu dengan raut wajah khawatir.

"Kau yakin tentang ini? Apa benar?" tanya Raissa. Victory hanya menganggukkan kepalanya. "Aku yakin sekali"

Raissa membaca ulang isi surat itu.

"๔เรคคt รє๖єlคร ק๏ђ๏ภ ๓คtเ, คкคภ tย๓๖ยђ รє๖єlคร ק๏ђ๏ภ lคgเ. ๔คภ ๔เรคคt кєรє๖єlคร ק๏ђ๏ภ เtย ๖єг๔เгเ, คкคภ ค๔ค รє๖єlคร קєภє๖คภg ץคภg ๓єภgђคภςยгкคภ รє๖єlคร ק๏ђ๏ภ เtย. jเкค ק๏ђ๏ภ เtย ђคภςยг, ๓คкค ๔ยภเค คкคภ ђคภςยг."

"Ah... Benar-benar..." keluh Raissa sambil memijat pelipisnya. Victory hanya diam dan meminum teh nya.

Victory menaruh cangkirnya dan bersender ke kursi yang ia duduki. "Kita harus bertemu dengan mereka ya?"

Raissa menganggukkan kepalanya. "Ya, kita berangkat sekarang?" tanya Raissa. Victory bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke luar di ikuti oleh Raissa.

"Kita akan kemana?" tanya Raissa. Victory masuk kedalam kereta kudanya yang diikutin oleh Raissa.








"Crystaling kingdom"

----------

Yak~! Selesai~! Gimana prologuenya? Bosenin yah? Kependekan?

Maaf lama update, ku usahakan gak lama-lama:v /gak janji:v

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top