Bab 12

"Miaww~"

Suara eongan dari Millo—kucing Julio—saat datang ke majikannya yang sedang bermain game komputer di dalam kamar membuat dua cowok di sana mengalihkan pandangan mereka sejenak.

Dengan gemas, Kevin mengangkat Millo dan menggendongnya seperti seorang bayi karena Julio masih harus menyelesaikan permainannya yang begitu sengit saat ini. Bulu halus kucing tersebut membuat Kevin suka menggesekan pipinya di badan Millo layaknya kucing tersebut ia anggap bayi.

Millo sangat anteng jika sudah digendong Kevin, keduanya sudah seperti memiliki ikatan batin yang terikat entah sejak kapan. Memang Kevin adalah majikan kedua setelah Julio yang sangat baik kepada kucing tersebut, karena memang Millo sering dirawat oleh Julio dan jarang diurus oleh orang tuanya.

"Millo cantik jodohnya siapa?" Kevin melanturkan kata-kata tersebut dengan nada sebuah lagu sambil mengelus bulu-bulu Millo.

"Dia cowok, Kev," koreksi Julio.

"Kucing lo mukanya cantik banget sih. Takutnya pas dapet jodoh malah dapet sesama jenis gitu," celetuk Kevin yang masih menatap Millo.

"Anjing." Julio mengumpat.

Masa iya kucing gak bisa bedain lawan jenis? Kalau manusia sih memang lumrah karena mereka berkata bahwa cinta tak mengenal umur dan gender. Berbeda dengan hewan meskipun tak memiliki akal namun mereka masih bisa mengenali lawan jenisnya.

Kalau Millo dapet jodoh kucing sesama jenis, Julio amit-amit bilang kucingnya punya mental tak beres tak seperti kucing pada umumnya. Kalau benar terjadi, Kevin akan dia hajar karena berani menyeletuk hal itu duluan.

"Sabar, Bro. Di sini gak ada anjing, adanya kucing lo," ucap cowok bermata sipit itu.

"Dahlah, gue jadi kalah main. Sial banget," terang Julio lalu ia membanting mousenya dan melepaskan headphone dari telinga.

Ia berdiri lalu melemparkan tubuhnya ke kasur hingga menciptakan guncangan besar dan nyaris membuat tubuh Kevin melayang ke udara. Kepalanya pening karena terlalu lama menatap layar komputer dan ditambah dengan tugas-tugas sekolah yang semakin bertambah banyak.

Melihat majikannya terlihat kacau, Millo pun meloncat dari gendongan Kevin dan menghampiri Julio. Ia langsung naik ke dada Julio dan tidur manja di sana dengan melingkarkan badannya.

"Lah, mpus sini mpus. Gak mau main lagi sama Aa ganteng yang satu ini apa?" Kevin memasang ekspresi pura-pura sedih setelah ditinggal main dengan Millo.

"Tolong rasa percaya diri lo jangan terlalu over ya, Vin. Kucing gue cowok bukan cewek, kenapa lo godain kucing gue kayak ngegoda anak perawan sih," kata Julio memperingatkan padanya agar tidak menganggap kucingnya sebagai kucing betina lagi.

"Lo lagi stress ya? Tadi pas belum ada Millo juga muka lo agak kusut gitu."

Julio langsung membuang napas panjang. Ia lalu menatap Millo yang anteng di atas dadanya sambil mengusap bulu Millo dan berkata, "Mood gue lagi gak bagus. Kayaknya gue lagi stress sama tugas sekolah. Jarang juga gue pusingin tugas-tugas kek gini, biasanya juga dibawa santuy. Efek kelas 12 mungkin?"

"Coba lo hilangin stress kek gitu lewat Relaxation song. Gue direkomendasi sama Kesya dan lumayan manjur," saran Kevin dengan yakin.

Mendengar nama 'Kesya' membuat Julio lupa untuk mengirimkan pesan email kepada cewek tersebut. Sejenak ia menyingkirkan Millo dari tubuhnya dan mengambil ponselnya dengan cepat. Ia hampir lupa kalau sekarang jadwalnya mengirimkan pesan semangat terakhir kepada Kesya. Iya, dia memutuskan hanya mengirimkan dua pesan saja—satu pesan sudah ia kirim saat Kesya di rumah Jihan.

Ia duduk di belakang cermin kamarnya yang cukup besar. Sambil tersenyum saat mengetik, perasaan Julio mulai membaik ketika kata demi kata ia rangkai di badan email.

"Kayak orang gila aja nih anak," heran Kevin melihat tingkah laku kawannya sekaligus penasaran. Sebenarnya apa yang sedang Julio ketik? Apakah pesan untuk seseorang? Siapa? Dan kenapa tak memberitahunya? Deratan pertanyaan mulai datang dalam pikiran cowok bermata sipit tersebut.

Julio masih mengetik, ia pun menyelesaikan kalimatnya dan memberi sebuah emoji hati di akhir sana. Ia merasa geli namun nekat untuk mengirimkannya.

Isi pesannya :

To : [email protected]

Dear, Kesya.
Gimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya. Hari-hari diet apakah masih terasa berat? Jika berat, tutup matamu dan rileksasikan pikiran. Bayangkan jika satu persatu masalah terangkat hingga membuat pikiran tenang, maka tubuh kamu juga akan terasa lebih ringan juga. Trust me, it works.

Hei, jangan paksakan segalanya untuk mencapai kesempurnaan oke? Sayangi tubuhmu. Tubuhmu akan sempurna jika kamu mencintai dirimu sendiri selagi menjalankan diet ini. Apapun hasil dietmu nanti, aku akan tetap senang dan tetap menyukaimu. Jadi, jangan berpikir tak ada yang menyukaimu. Ada aku, pengagum rahasiamu.

Ini pesan terakhir, semoga kamu tidak risih mendapatkan pesan dariku. Love and take a care youe self. I still waiting you ♡

from : imyourcrush

Setelah mengirim tombol send barulah Julio merasa lega. Bebannya ikut berkurang sedikit. Ia tanpa sadar bahwa sedari tadi Kevin memperhatikannya.

Kevin tersenyum. Dalam hatinya ia meruntuki kebodohan Julio yang tadi sempat pending memikirkan kata-kata hingga layar ponsel terlihat melalui pantulan cermin. Memanfaatkan keadaan tersebut, mata tajam Kevin melihat sesuatu yang membuat ia tersenyum seperti tadi.

Sudah ia duga kalau Julio ini menyukai adiknya dan Julio adalah oknum yang mengirimkan email kepada Kesya. Meskipun geli dengan isi pesan dan nama email sang pengirim, Kevin justru sangat kepo pada saat itu. Tebakannya tidak salah, memang Julio lah yang mengirimkan pesan tersebut.

"Ekhem. Bro, gue denger kalau kita suka sama orang tapi masih takut bilang ke orangnya mending coba deketin abang atau orang tua doi dulu," kata Kevin dengan pandangannya menatap ke langit-langit kamar Julio.

"Kalau gue tau ada orang yang suka sama Kesya, gue bakal lihat orangnya. Kalau orangnya gue kenal dan sikapnya baik sama dia, gue pasti restuin buat pacarin adik gue yang spesial itu," sambungnya masih pada pandangan yang sama.

Julio sedikit salah tingkah. Maksudnya ini Kevin ngode apa gimana? Masa kedoknya kebongkar sih. Pikiran Julio jadi kalang kabut kalau beneran keciduk sama abang gebetannya sendiri.

"Lo kenapa dah? Gue 'kan cuman bilang. Sebagai abang keduanya Kesya, gue juga pengin lihat adek gue bahagia sama orang yang tepat aja. Bang Devan juga udah nitip gitu ke gue, makanya gue jadi protektif ke Kesya pas SMA ini."

"Kesya pasti bangga punya kakak dan kembaran kayak lo meski modelannya agak ngeselin dikit."

"Hahaha, gue emang nakal. Tapi bukan berarti gue bakal tega lihat adek gue nangis karena orang lain. Orang yang bikin adek gue nangis bakal gue hajar sampai gak bisa ngomong apa-apa lagi."

Julio pun bangga memiliki teman seperti Kevin. Ia mantap untuk bisa membuktikan pada Kevin bahwa ia pantas untuk merebut hati Kesya. Kevin sudah mengenalnya dan itu menjadi poin tambahan. Tinggal membuktikan bahwa ia memang pantas menjadi lelaki keempat yang dicintai Kesya selain Papa Kesya, Bang Devan dan juga Kevin.

Dalam hati Julio berdoa semoga dewi keberuntungan bisa berpihak padanya saat masa PDKT berlangsung.

***

D

i depan cermin seukuran badan, Kesya menatap wajahnya dengan cemberut dan memperlihatkan perutnya hingga lipatan perutnya tereskpos. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena lemak di perutnya seolah tak kunjung hilang.

"Duh, sumpah jadi kelihatan gendut di bagian sini. Kenapa sih susah hilangnya?" dumalnya kesal pada diri sendiri.

Kevin yang tadi sempat lewat depan kamarnya pun melihat Kesya bolak balik memegang perut dan mengeluhkan perihal bentuk tubuhnya. Lantas, ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk dan menghampiri Kesya. Cewek tersebut buru-buru menurunkan kaos yang ia kenakan untuk menutupi perutnya.

Dengan semangkuk apel potong yang ia bawa dari dapur, ia menawarkan apel tersebut pada Kesya namun cewek tersebut menolaknya.

"Gak mau makan, Aa. Aku keliatan gendut," kata Kesya.

"Lo gak gendut. Udah keliatan kurusnya. Coba ngaca sekali lagi dan perhatiin diri lo," balas Kevin.

Kesya kembali menatap dirinya dipantulan cermin dan lagi-lagi ia merasa masih dalam pikiran yang sama. Wajahnya justru semakin tertekuk dan kekesalannya bertambah.

"Tuh 'kan! Aku keliatan gendut."

"Ck." Kevin kesal dan menaruh mangkuknya di atas meja kemudian kembali menghampiri cewek itu.

Tangannya kini memegang bahu Kesya dan membuatnya kembali memperlihatkan sosok tersebut lewat pantulan cermin. "Perhatiin baik-baik. Sampai kapan lo mau bilang gendut sama diri sendiri? Katanya mau love your self! Tapi nyatanya lo belum bisa mencintai diri lo."

"Aa, tapi beneran aku—"

"Kalau lo ngerasa kek gini, lo artinya gak ngehargai usaha diet lo sendiri. Mental lo harus dibangun saat pertama kali lo diet karena itu bakal ngebantu kedepannya. Sekali lagi kalau gue denger lo ngeluh masalah bentuk badan, gue gak mau bantu. Titik!"

Kevin benar-benar terlihat marah, wajar saja karena dia memang tidak suka cara Kesya merendahkan dirinya sendiri. Padahal sudah sejauh ini, Kevin tidak ingin Kesya kembali ke sosok yang dulu—sosok yang selalu mengejek dirinya sendiri.

Meskipun keras dalam berbicara, Kevin melakukan semua ini juga demi kebaikan Kesya sendiri. Ia tak mau menjadi abang yang pengecut seperti dulu. Tanggung jawab Devan sedang ia pikul untuk menjaga adik kesayangan mereka ini.

"Dengar ... jangan kayak gini lagi, oke? Mulai sekarang dan seterusnya, Aa mau denger kamu bisa terus tersenyum dan gak mengeluhkan hal ini lagi. Kuncinya adalah sabar," ujar Kevin dengan nada yang begitu lembut dan berbeda dari sebelumnya.

"Sekarang, istirahat aja. Besok kita masih harus sekolah. Daripada pikiran kamu tambah kacau, lebih baik tidur aja biar rileks."

Kesya mengangguk. Tak ada ucapan yang dia bisa balas untuk Kevin, karena semua yang diucapkan kembarannya itu adalah benar. Mungkin karena masih terus menerus diejek oleh beberapa teman kelasnya, pikirannya jadi tambah kacau.

Setelah Kevin keluar dari kamarnya, Kesya mulai berbaring di kasur dan memejamkan mata. Berharap besok semua pikiran negatifnya bisa hilang dan berganti dengan semangat yang biasa ia tunjukan.

***

To be continue

• Matcha-Shin

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top