Part 7
Diftan memasuki gedung tua bersama lima orang bawahan nya. Hari ini dia akan bertemu dengan seseorang untuk bertransaksi jual beli senjata dan narkoba.
"Akhirnya datang juga yg ditunggu-tunggu. Dan apa gerangan seorang Diftan ikut juga datang kesini?" Ucap Pria tua itu dengan rokok ditangan nya.
"Tidak usah basa-basi Baron, langsung saja. Serahkan uangnya dan akan kuberikan barangnya." Diftan menatap tajam.
Baron pun memanggil anak buahnya untuk menyerahkan koper yg berisi uang itu kepada Diftan.
"Sekarang mana barang nya? Aku sudah menyerahkan koper itu padamu."
Diftan membuka koper itu, lalu dilihatnya tumpukan uang didalam. Dia mengambil satu ikatan uang itu dan mengamatinya dengan teliti.
Dan beberapa detik kemudian uang yg ada ditangan Diftan tadi langsung dilemparkan ke wajah Baron secara kasar.
Baron sangat terkejut dan marah karna diperlakukan oleh Diftan seperti itu.
"Apa-apaan kau!!!" Bentak Baron.
"Jangan pernah membentakku!" Ucap Diftan dengan penuh penekanan. "Kau kira aku bodoh? Ini semua uang palsu brengsek!! Kau mungkin bisa menipu bawahanku, TAPI TIDAK DENGANKU!!!" Ucap Diftan dengan Lantang.
Baron terkejut karna Diftan tahu kalo dia sudah memberikan uang palsu. Padahal itu uangnya sudah sangat mirip dan percis dengan uang asli. Tapi kenapa Diftan bisa tahu kalo itu palsu.
Diftan adalah kategori bos mafia yang kenyang akan pengalaman dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Walau masih muda dan dikatakan masih hijau dalam kelompoknya, tapi dia sudah bisa menjadi bos yang sangat disegani.
Diftan sangat marah, dia pun mengarahkan pistol kearah Baron. Namun diliriknya dari arah kiri ada anak buah baron yg hendak menembak nya juga. Dalam hitungan detik, dengan cepat Diftan menembak dua kaki pria itu sehingga tidak dapat berkutik.
DOR... DOR....!!
Melihat hal itu, anak buah Baron yg lain jadi ikut mengambil peranan. Sehingga mau tidak mau terjadi baku tembak di antara dua kubu itu.
Lima anak buah Diftan dengan gesit menembaki segerombolan geng Baron. Jika dilihat dari sudut pandang, mungkin Diftan akan kalah karna dia hanya membawa lima pasukan. Sementara baron dikelilingi oleh 30 pasukan. Tapi jangan salah, lima orang pasukan yg dibawa oleh Diftan adalah yg sudah mahir dan terlatih dalam menghadapi situasi genting seperti ini.
Ruangan gedung itu sangat gelap, dan dipenuhi dengan karton-karton kosong. Sehingga mereka bisa berpencar dan bersembunyi disana.
Sebagian bawahan Baron sudah banyak yg mati dan mau tidak mau darah pun berceceran dilantai itu.
"Bos, tinggal tersisa 12 orang lagi." Ucap Reza.
"Berapa orang yg menjaga Baron?" Tanya Diftan.
"Sepertinya lima, dan sisa nya sedang berpencar."
"Biar aku yg menangani Baron, kau dan Troy berbagilah untuk menghadapi sisanya."
"Tidak, aku akan bersama Bos. Biar Troy, Fian, Aldo dan James yg akan membereskan nya."
"Kau melawan ucapanku?" Mata biru itu menatap tajam.
"Tapi...." Ucapan Reza terhenti saat ditatap seperti itu. "Maafkan saya Bos." Reza menundukkan kepala nya.
"Sudah berapa kali aku katakan, jangan perduli padaku! Kau bukan keluargaku, jadi kau tidak perlu khawatir!! Kau dengar itu??!!" Bentak Diftan.
Bagaimana mungkin Reza dan teman-teman nya yg lain tidak peduli pada pria itu. Mereka sudah bersama selama 10 tahun. Semua bawahan Diftan sangat peduli padanya, walaupun pria itu sering marah ataupun memukul mereka. Bahkan Diftan pernah menghajar Reza sampai babak belur karena melakukan kesalahan sedikit. Tapi Reza tidak dendam padanya, dia malah mengakui kalo dia telah lalai dalam melaksanakan tugas.
"Baik Bos, saya akan menyusul yg lain." Ucap Reza.
Reza dengan berat hati pergi meninggalkan Bos nya itu.
Lalu Diftan pergi mencari Baron kebelakang gedung itu. Dia sudah sangat ingin membunuh pria tua itu. Ternyata benar yg dikatakan oleh Reza, kalo Baron dilindungi oleh lima pengawalnya.
Diftan mengarahkan pistolnya tepat kearah jantung dua pria yg memegang senjata itu.
DORR...! DORR....!!
Baron dan ketiga pengawalnya terkejut dan melihat dua teman nya mati seketika karna peluru itu langsung menembus jantung.
"Today, you will die!!" Ucap Diftan pada Baron.
Baron melihat ketiga pengawalnya. "Kenapa kalian diam saja, bodoh!! Cepat hajar dia!!!" Teriak nya.
Ketiga pria itu mencoba untuk menghajar Diftan, tiga lawan satu.
"Terlalu cepat mati, kalau aku membunuh kalian dengan pistol ini. Akan ku tunjukkan bagaimana itu kesakitan pada kalian." Desis Diftan.
Mereka pun menyerang Diftan namun pria itu tidak nampak sedikit pun kewalahan. Dengan tenang dia melawan tiga pria yg berbadan hampir sama besarnya dengan tubuhnya.
Terdengar suara patah tulang pada bagian pergelangan tangan, ternyata Diftan mematahkan tangan pria itu. Mau tidak mau pria itu menjerit kesakitan sampai hampir menangis dan wajahnya sudah memerah menahan kesakitan nya.
Lalu dia melirik dua pria lagi, dan seketika dua pria itu gemeter karna tatapan Diftan.
"Ampun tuan!!"
"Tolong jangan bunuh kami."
Mereka berdua berlutut dihadapan Diftan. Baron terkejut melihat anak buahnya yg menghianatinya.
"Dasar manusia tidak berguna!! Brengsek!" Baron mengumpat pada dua pria itu.
"Kau lihat? Bos pengecut sudah pasti bawahan nya juga pengecut." Ucap Diftan dengan nada mengejek.
Lalu Diftan melihat dua pria yg ada berlutut dihadapan nya. Dia memegang satu kepala pria itu. "Aku tidak suka manusia yg berkhianat." Setelah mengucapkan itu Diftan mematahkan leher pria tadi.
KRETAK..!!
Diftan senyum tersungging melihat orang yg didepan nya mati tak berdaya.
Kemudian Diftan melirik pria yg satunya lagi dan memegang kepala pria itu, supaya bisa bertatap wajah dengan nya.
"Tolong jangan bunuh saya, saya mohon tuan Diftan. Saya memiliki istri dan anak, tolong." Dia menundukkan kepalanya dan menyembah dikaki Diftan.
"Benarkah? Kau kira aku perduli?!!" Ucap Diftan dengan bentakan. "Kau mau pamer padaku? Kalau kau punya keluarga bahagia? Begitu maksudmu?"
Ternyata ucapan pria tadi sangat menyinggung perasaan Diftan.
"Kalau begitu ucapkan selamat tinggal untuk anak dan istrimu!!"
KRETAKKK!!
Pria itu mati dalam sekejap dengan posisi leher yg tidak normal.
Lalu Diftan menembak dua pria yg sudah mati itu tadi dengan sangat sadis. Sampai kepala pria-pria itu bolong dan hampir hancur.
Baron yg melihat darah itu seketika mual ingin memuntahkan isi dalam perutnya. Dia mencoba berlari dari Diftan, namun suara tembakan di kaki nya menghentikan nya.
DORR!
Diftan menembak kaki kiri Baron. Pria bermata biru itu berjalan mendekati pria tua yg sudah kesakitan menahan luka dikaki nya.
Saat berada di depan tubuh Baron, Diftan menginjak kaki yg terkena luka tembak itu.
"Aakhhh!!!" Teriak Baron kesakitan.
"Sakit?"
"Dasar brengsek!!!" Umpat Baron pada Diftan.
DOR!! DORR!!
Diftan menembak kaki kanan dan bahu Baron.
"Aaakhhh... aakhhh." Baron menjerit karna tembakan itu.
"Itu pelajaran untuk pria tua nakal sepertimu!! Inilah alasan mengapa aku datang kemari, aku ingin mencabut nyawamu."
"Bunuhlah aku, aku tidak takut padamu!! Cuihh!!" Baron membuang ludahnya ke lantai.
Diftan langsung memegang mulut Baron dengan kasar. "Mulut ini sangat perlu dikasih pelajaran!!" Diftan mengarahkan pistol itu ke mulut Baron.
Namun tiba-tiba terdengar suara tembakan dari dalam gedung. Satu yg disadari Diftan, itu bukan dari tembakan anak buahnya. Terdengar seperti suara tembakan peringatan.
"Bos!" Panggil Troy, salah satu bawahan Diftan.
Diftan tahu apa yg ingin dikatakan oleh bawahan nya itu. Pasti polisi yg sudah datang ke gedung itu.
"Apa kalian ada yg terluka?" Tanya Diftan.
"Tidak ada Bos, kami baik-baik saja. Kita harus pergi Bos, polisi akan datang kebelakang gedung ini. Teman-teman yg lain sudah menunggu Bos." Ucap Troy.
Tiba-tiba Baron tertawa ditengah kesakitan ditubuhnya.
"Ayo bunuh aku, setelah itu kalian akan tertangkap. Tidak ada yg bisa melarikan diri dari gedung ini. Polisi pasti sudah mengepung kalian." Baron sangat menantang Diftan.
"Maybe, but not today!" Ucap Diftan sambil menembak mulut dan kedua mata Baron.
DORR! DORR!! DORR!!!
Setelah puas menembak, Diftan dan Troy pun pergi dari gedung itu.
Ternyata mereka benar-benar sudah dikepung oleh polisi. Sehingga mau tidak mau, Diftan mengeluarkan sebuah granat dari dalam jas nya.
"Tutup kuping kalian, ini akan sangat keras." Ucap Diftan pada bawahan nya.
Dia melempar granat itu kearah polisi itu, sehingga polisi yg melihat itu pun pergi lari untuk menghindari nya.
Dan dalam hitungan detik....
BOMM!!!!!!!!
Ledakan besar terjadi diluar gedung itu. Dan disaat seperti itu, Diftan dan bawahan nya pergi melarikan diri dari polisi.
****
Diftan tiba di penthousenya sekitar pukul satu dini hari. Didengar nya suara TV yg menyala tetapi yg menonton malah ketiduran di kursi.
Lalu pria itu membuka Jas nya dan meletakkan nya dikursi. Dia pergi kearah pantry dapur untuk mengambil minum.
Setelah minum, Diftan membawa satu gelas air ditangan nya ke arah ruang TV itu. Kemudian Diftan memercikkan air ditangan nya kewajah Bella.
Bella yg sudah tidur pun terasa terganggu dengan air itu. Dia merasa kalo itu adalah air hujan, jadi dia pun membuka matanya.
"Rumah secantik ini kok bisa bocor sih...." Gerutu Bella.
Saat dia benar-benar tersadar dari tidurnya, barulah dia terkejut melihat Diftan.
"Astagaa!! Tuan sudah pulang?"
Melihat Bella sudah bangun, Diftan pun duduk dikursi itu.
"Mengapa tidur disini?" Tanya Diftan tanpa menjawab pertanyaan Bella tadi.
Dia membuka dasi dan melepas kancing kemeja nya satu per satu.
Gadis itu tidak mendengar ucapan Diftan. Dia terfokus dengan kegiatan Diftan yg membuka kancing kemeja.
Diftan yg tadi melihat layar TV pun menoleh Bella karna tidak menjawab pertanyaan nya.
"Kau tidak mendengarku, gadis kecil?"
Bella tersadar dari lamunan nya.
"Oh, aku menunggu tuan tadi."
Diftan mengernyitkan dahinya. "Untuk apa menungguku? Bukan kah tadi pagi aku sudah katakan, jangan menungguku." Sambil melepas kemeja nya di atas kursi.
"A-ada yg i-ingin aku sampaikan tu-tuan.." Ucap Bella dengan gugup. Dia menelan ludah nya melihat tubuh Diftan yg hanya mengenakan kaos dalam saja. Tapi Bella melihat ada banyak kemerahan ditubuh pria itu.
"Apa itu penting? Tidak bisa menunggu pagi mengatakan nya?"
"I-iya, ini penting tu-tuan."
"Ada apa dengan suaramu?"
Bella memalingkan wajahnya dari Diftan dan menunduk. "Tuan tidak memakai baju, aku tidak bisa fokus tuan."
Pria itu menyipitkan mata nya lalu melihat tubuhnya. "Kau buta? Aku masih memakai kaos dalam ditubuhku."
"Ta-tapi bahu dan lengan anda terlihat keren." Ucap Bella jujur.
Diftan hampir tertawa melihat gadis kecil yg lugu itu, namun dia menahan nya. "Kau bergairah melihat tubuh pria dewasa?"
"A-aku tidak tahu tu-tuan. Hanya saja aku merasa panas dan gerah setiap melihat tubuh tuan."
"Berapa usiamu?"
"18 tahun."
"Kau sudah pernah pacaran?" Tanya Diftan.
"Hah?"
"Sudah pernah pacaran?" Tanya Diftan lagi.
Bella menggelengkan kepala nya.
Diftan tertegun mendengar jawaban Bella. Lalu dia menoleh kearah TV lagi dan tidak melihat Bella.
"Jadi apa yg ingin kau bicarakan?" Ucap Diftan tanpa melihat Bella.
"Aku belum menemukan kontrakan rumah pagi ini."
"Kau hanya ingin mengatakan itu?" Diftan heran.
"Iya tuan."
"Baiklah, kau sudah mengatakan nya kan? Jadi pergilah ke kamar dan tidur."
"Tuan tidak tidur?"
"Tidak."
"Tuan mau aku pijit, agar bisa tertidur?" Tanya Bella polos.
Diftan menoleh kearah Bella. "Kau ingin menggodaku?"
Bella menggelengkan kepala dan tangan nya nya. "Tidak, tidak tuan. Aku hanya ingin mem...."
Diftan langsung memotong ucapan nya Bella. "Baiklah, ayo ke kamarku. Aku ingin lihat, apa aku yg tertidur atau kau yg tidak bisa tidur nanti."
Pria itu berdiri dan menarik tangan gadis kecil itu kedalam kamarnya.
28-Juni-2016
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top