Part 24
Pria yg memakai seragam hitam itu membuka pintu pagar yg tingginya menjulang, saat mendengar mobil tuan nya membunyikan suara klakson dari luar.
Mobil Diftan segera memasuki halaman rumah. Diftan keluar dan menutup pintu mobil nya, lalu berjalan masuk kedalam rumah mewah berlantai dua dengan bergaya eropa.
Bangunan itu bewarna putih tampak megah dan kokoh, membuat siapa pun ingin tinggal disana. Walaupun hanya bisa untuk sekedar ber-selfie ria dan memamerkan nya di akun sosial media.
Diftan tadi siang mendapat telpon dari William, yg menyuruhnya untuk datang ke rumah. Tapi sebelumnya, dia sudah mengantar Bella terlebih dahulu.
"Kak Diftan!"
Dealova langsung menerjang tubuh kakak nya dengan cepat. Diftan hampir saja terjatuh kebelakang, karena mendapat serangan pelukan mendadak seperti itu. Tapi untungnya dia langsung dapat menyeimbangkan badan nya kembali.
"Kau ingin membunuhku?" Ucap Diftan dengan nada kesal.
Dealova tidak memperdulikan ucapan kakak nya itu. Sambil tersenyum dia berkata. "Ich vermisse dich Bruder."
"Papa dimana?" Tanya Diftan untuk mengganti topik pembicaraan.
"Di ruang kerja." Dealova melepas pelukan nya, lalu menggandeng lengan kakak nya itu. "Ayo, papa udah menunggu kakak dari tadi."
"Bisa kau lepaskan tanganmu dariku?" Ujar Diftan.
"Tidak mau." Balas Dea dengan semakin mengeratkan pegangan nya.
"Kau?!" Diftan berusaha melepas tangan adiknya itu tapi tidak bisa, dia baru sadar jika adiknya itu punya tenaga yg kuat.
"Kakak kenapa seperti anti sekali sama Dea?"
"Aku tidak suka melihatmu!" Jawab Diftan dengan nada penuh penekanan.
"Apa yg tidak kakak suka?"
"Semuanya. Matamu, hidungmu, bibirmu, semua yg tampak diwajahmu aku tidak suka!"
Dealova melepas gandengan nya dan menghadap ke depan Diftan.
"Apa yg salah dari wajahku kak? Katakan apa?" Suara Dea terdengar parau.
Diftan berjalan satu langkah kedepan untuk menutup jarak diantara mereka. Lalu tangan nya memegang dagu gadis itu, supaya mata mereka dapat saling memandang satu sama lain. "Wajah ini sangat mirip dengan wanita yg sudah melahirkanku. Aku benci akan hal itu. Kau, satu-satu nya anak yg dia akui. Dan aku juga benci akan hal itu. Jadi aku akan terus membencimu sampai kapan pun!" Ujarnya dengan penuh pekenanan pada setiap kalimat. Setelah itu dia melepaskan tangan nya dari wajah Dealova. Diftan dapat melihat air mata yg jatuh dari kelopak mata adik nya.
Dealova menangis tanpa bersuara. Hanya air mata nya yg terus berjatuhan ke pipi nya.
"Jadi ini semua karena Dea mirip dengan mama?" Terdengar suara tawa getir dari bibir nya. Lalu dia berkata lagi. "Jika Dea melakukan operasi wajah, apa kak Diftan tidak akan membenciku lagi?"
"Apapun yg akan kau lakukan, itu tidak akan merubahnya. Kau dan mama mu! Aku benci pada kalian berdua!" Ujar Diftan dengan tegas.
"Dan aku akan terus melampiaskan kebencian ini pada mu. Agar wanita itu dapat melihatnya dari atas sana, kalau aku juga bisa memperlakukan anak kandung nya seperti yg pernah dia lakukan padaku dulu!" Tampak rahang Diftan yg mengeras karena menahan amarah. "Dan sakit yg kau alami saat ini, belum sebanding dengan apa yg aku rasakan dulu." Imbuhnya lagi.
"Apa kak Diftan akan puas jika melihat Dea tersakiti? Begitu? Apa semuanya akan kembali lagi jika kakak melakukan ini? Demi Tuhan kak, kejadian itu sudah belasan tahun lalu. Dan Dealova sama sekali tidak tahu apapun tentang mama yg membenci kak Diftan." Ucapnya sambil menghapus air mata yg terus berjatuhan di kedua pipi nya.
"Dea selalu sayang sama kakak." Lalu dia menarik tangan kanan Diftan ke sebelah pipi nya. "Kakak yg seharusnya menghapus air mata ini, saat Dea menangis." Kemudian tangan Diftan di arahkan lagi keatas kepala nya seperti mengelus. "Dan kakak juga yg harus mengelus rambut Dea untuk membujuk dan menenangkan saat sedang bersedih." Ujar nya lagi.
Diftan menarik tangan nya dari pegangan Dealova. "Jangan berharap. Aku tidak akan melakukan itu. Bahkan di dalam mimpimu sekalipun!"
Dia pergi ke ruangan papa nya setelah mengucapkan kalimat itu.
Diftan terus saja melangkah, tidak memperdulikan adik nya yg menangis disana.
Sebenarnya Diftan tidak sanggup melihat Dealova menangis. Jauh dilubuk hati nya, Dealova adalah adik yg sangat dia sayangi. Hanya saja rasa benci nya, jauh lebih mendominasi untuk saat ini.
Diftan berdiri saat berada di depan pintu ruang kerja papa nya. Dia menatap telapak tangan kanan nya.
Itu pertama kali nya dia menyentuh pipi dan mengelus rambut adik nya setelah sekian tahun tidak bertemu.
Dia menutup mata nya sejenak. "Ich vermiss dich auch." Ucap nya dalam hati.
Setelah perasaan nya tenang kembali, tangan nya pun mengetuk pintu dan sembari masuk ke dalam ruangan William.
Papa nya tampak sedang duduk di kursi kebesaran nya dengan pakaian santai, yaitu kemeja putih yg bermotif garis-garis hitam.
"Hai Pa." Sapa Diftan.
William tersenyum melihat Diftan datang. "Papa tadi menelpon ke kantor, tapi kata sekertarismu, kau tidak masuk." Sembari menutup laptop yg ada didepan nya.
"Ya itu benar." Jawab nya sambil duduk di kursi.
William hanya mengangguk mendengar penjelasan putra nya itu. "Papa dengar dari Troy, kemarin kau diserang oleh kelompok mafia lain. Apa yg sebenarnya terjadi?"
"Ya. Seperti nya ada orang yg iseng dibalik penyerangan kemarin. Diftan curiga pada satu orang, tapi aku akan memastikan nya terlebih dahulu. Dan jika ternyata dia adalah dalang nya, Diftan sendiri yg akan turun tangan untuk memberi nya pelajaran."
"Biar papa coba tebak, Juan Benito?"
"Mungkin. Tapi ini hanya firasatku saja."
"Papa ingin kau berhati-hati. Juan Benito tipikal orang yg susah ditebak karakter nya. Sangat berbahaya."
Diftan hanya mengangguk sambil menatap ruangan papa nya yg di dominasi bewarna cokelat gelap. Dimana ada beberapa banyak lukisan terkenal di pajang pada dinding ruangan itu. "Apa ruangan ini di dekorasi ulang? Semua nya tampak baru." Diftan berdiri dari kursi dan berjalan mengamati tempat itu.
"Diftan, ada yg ingin papa bicarakan dengan serius."
"Apa itu?" Mata biru nya langsung memandang dengan mata biru yg sama di miliki oleh William juga.
"Ini tentang perjodohan antara kau dan Rachel."
Diftan mengerutkan dahi nya sembari berfikir sejenak. "Seingat Diftan, bukankah perjodohan itu sudah batal?"
"Ja, das ist richtig."
"Und dann?"
"Rachel ingin melanjutkan nya kembali." William dapat melihat penolakan dari ekspresi wajah Diftan.
"Papa pasti tahu apa jawaban dari Diftan."
"Papa harap, kau tidak menolak Diftan. Kau hanya perlu menikahi nya, itu saja. Bukan kah kau juga butuh perempuan untuk kebutuhan biologismu?" William berdiri dari kursi nya dan mendekati Diftan yg berada berdiri di dekat kaca jendela yg menampilkan pemandangan hijau dari halaman itu.
"Dengar, Rachel adalah wanita baik dan terhormat. Dia wanita yg cocok untuk menjadi pendampingmu. Dia juga sangat tergila-gila padamu. Itu satu point penting, yg menandakan dia akan setia padamu. Kau tak perlu mencintai nya, anggap saja dia...."
"Tidak." Diftan langsung memotong ucapan William.
"Diftan?"
"Tidak, itu adalah jawaban mutlak dariku."
"Jangan membuat ini menjadi rumit."
"Bagian yg mana papa katakan rumit? Bukan kah dari dulu papa tahu, kalau Diftan tidak suka dengan hal seperti itu. Katakan pada Diftan, apa yg sedang papa coba sembunyikan?"
William tampak terkejut mendengar pertanyaan dari mulut Diftan. Dia tidak berfikir, kalau putera nya itu akan menanyakan hal tersebut.
"Tidak ada yg papa yg sembunyikan." Jawab William dengan tenang, agar Diftan tidak mencurigai nya.
"Kalau begitu tolak saja lamaran nya, beres kan? Lagian dia itu wanita atau bukan? Mengapa dia yg melamar pria? Benar-benar menggelikan."
"Tidak bisa. Papa sudah menerima lamaran nya. Mau tidak mau, suka tidak suka. Kau harus bertunangan dan menikah dengan nya."
"Diftan tahu persis, perusahaan kita jauh lebih berkuasa dibanding om Rendra Marwan. Dan itu berarti bukan masalah harta yg papa takutkan disini." Mata biru Diftan menatap tajam ke arah William dengan aura mengintimidasi. "Apa om Rendra mengetahui sebuah rahasia papa?"
"A-pa yg kau bicarakan Diftan? Rahasia apa?" Ucapan William terdengar gugup.
Diftan mengedikkan bahu nya. "Hanya menebak. Dan ternyata hasilnya cukup membuat papa menjadi gugup."
William berbalik badan membelakangi Diftan. Pria itu berjalan ke arah meja nya dan meminum segelas kopi nya. "Oke, papa memang memiliki rahasia. Ini hanya masa lalu papa semasa muda dulu. Tapi ini tidak ada hubungan nya dengan itu."
"Sungguh?"
"Ya."
"Diftan sayang sama papa, tapi bukan berarti Diftan harus menuruti semua perintah bukan?"
"Apa yg harus papa lakukan agar kau mau menurut?"
"Tidak ada."
"Papa yakin pasti ada. Akan papa cari tahu itu."
Diftan melirik jam ditangan nya. "Diftan rasa pembicaraan ini sudah selesai. Jadi Diftan pulang dulu." Dia bergerak dari tempatnya.
"Besok kau harus antar adikmu untuk mendaftar di kampus baru nya." Ujar William saat melihat Diftan hendak membuka pintu.
Diftan berbalik. "Kenapa harus aku?"
"Karena Dealova adikmu, dan dia ingin kakak laki-laki nya yg mengantar nya kesana."
"Tidak bisa. Diftan ada janji dengan Chris Franklin."
"Jangan menolak, kau janji dengan Chris di sore hari bukan pagi hari."
"Lihat besok saja. Akan Diftan kabari." Jawab nya sembari membuka pintu.
****
Dengan cepat Diftan mengendarai mobil sport Ferrari hitam nya itu. Dia merasa kesal pada William.
Dia yakin, kalau papa nya punya rahasia besar yg diketahui oleh Rendra Marwan. Itu sebabnya, papa nya memaksa nya untuk menikah dengan Rachel.
"Oh shit!" Umpat Diftan sambil menginjak rem mobil nya secara tiba-tiba, karena ada sebuah mobil sedan yg bewarna hitam berhenti di depan, ah lebih tepat nya menghadang jalan mobilnya.
Suasana jalan yg Diftan lewati juga cukup sepi karena hari sudah mulai gelap. Hanya ada beberapa motor dan mobil yg lewat melintas di sana.
Diftan melihat ada tiga orang pria dengan berbadan besar dan kekar yg turun dari dalam mobil sedan.
Dia segera melepas seatbelt dari tubuhnya dan mengambil sebuah senjata genggam revolver bewarna grey berjenis WG M701 dari dalam dashboard mobil nya. Jangan tanya mengapa dia menyimpan benda itu atau membawa nya kemana-mana, dia merupakan seorang mafia. Dan senjata genggam adalah barang yg wajib dia bawa dimanapun dia berada.
Namun melihat tiga pria tadi tidak membawa senjata apapun ditangan nya, Diftan mengembalikan lagi senjata revolver itu ke dalam dashboard.
Kalian tahu? Diftan itu pria sangat gentleman kan?
Diftan membuka pintu mobil nya dan berdiri di sisi samping mobil. Dia terus menatap tiga pria yg berdiri tidak jauh dari diri nya.
Badan dan tinggi nya sama, bahkan jaket kulit hitam yg mereka pakai juga sama. Yang membedakan mereka adalah pria pertama dengan rambut gimbal hitam, yang ke dua dengan kepala botak dan ke tiga rambut gondrong dengan banyak tindik ditelinga nya.
Terlihat sangat menyeramkan sekali.
Namun Diftan tidak takut ataupun terintimidasi dengan penampilan ke tiga pria itu.
"Terlalu tampan untuk menjadi mayat." Ujar si pria botak saat memandang Diftan.
"Tidak usah basa-basi. Langsung saja hajar!" Seru si pria bertindik.
Diftan refleks mundur ke belakang untuk menghindar saat melihat si pria botak melayangkan tendangan kaki ke arah nya. Pria botak itu seperti nya sangat bernafsu untuk menghajar nya. Tampak dari gerakan nya yg selalu mengumbar tendangan bertubi-tubi ke tubuh Diftan.
Diftan kewalahan menghadapi pria itu. Ternyata lawan nya sangat kuat kali ini. Melihat Diftan lengah, pria botak langsung melayangkan tinju ke wajah tampan itu.
Ouch!
Diftan menyentuh pipi nya dan sedikit meringis. Diftan sadar, bahwa lawan nya ini bukan seorang preman. Melainkan orang suruhan, yg sudah sangat terlatih. Seperti benar-benar sudah dirancang dan dilatih untuk membunuhnya. Tapi siapa orang dibalik semua itu?
Pria botak itu menyeringai ke Diftan. Dia kembali melayangkan tendangan nya ke tubuh itu, tentu saja Diftan tidak tinggal diam. Diftan menangkap kaki si botak dan dengan keras dia membenturkan tulang kering pria itu dengan siku nya. Alhasil si botak pun mengerang kesakitan.
Kali ini Diftan yg menyeringai, seolah mengejek pria itu dengan seolah berkata 'gimana? Sakit kan? Maka nya jangan terlalu sering mengumbar tendangan mu bodoh!'
Tanpa basa-basi lagi, Diftan langsung melayangkan pukulan yg keras pada telinga lawan nya.
Ngiiiing....
Pria botak merasa telinga nya berdengung keras dan langsung sempoyongan. Telinga adalah pusat keseimbangan. Diftan tahu teori itu, dia sering menonton para petinju yg selalu mengincar rahang lawan, karena bagian itulah yg paling dekat dengan telinga (karena pada tinju, memukul telinga itu sangat dilarang).
Si botak kalak telak!
Dia sudah terkepar di atas aspal jalan. Melihat teman nya kalah, pria yg berambut gimbal pun menggeram. Dia marah tak terima.
Dengan berteriak lantang si gimbal menghampiri Diftan dan mendorong nya ke arah mobil. Diftan yg belom siap sepenuhnya pun terkejut bukan main.
Bruk!
Diftan merasakan sakit pada punggung nya karena terbentur pada sisi mobil. Benar-benar agresif pikir nya. Si rambut gimbal itu memukul bertubi-tubi ke perut dada dan wajah Diftan. Dia yakin wajah nya pasti akan memar besok hari, yah itu pun kalau dia hidup dan selamat.
Dengan menahan rasa sakit pada tubuh nya, Diftan mendorong kuat pria itu menjauh dari tubuh nya. Pria itu pun terjatuh kebelakang dan langsung saja diterjang oleh Diftan. Dia naik dan duduk di atas tubuh si gimbal sambil membalas pukulan nya.
Beugh!
Beugh!!
Beugh!!!
Seperti menuangkan amarah nya, Diftan memukul perut dan hidung si gimbal secara bertubi-tubi dengan kekuatan penuh. Di hidung terdapat bagian saraf yg berhubungan langsung dengan mata, dan sekarang lawan nya sudah mengeluarkan air mata karena kesakitan. Percayalah Diftan memukul hidung si gimbal dengan sangat keras sekali, terlihat dari kepalan tangan Diftan saat meninju.
Banyak darah keluar dari hidung si gimbal, bahkan Diftan dapat merasakan cairan merah hangat itu di kepalan tangan nya.
Tiba-tiba Diftan merasa tubuhnya terhempas ke jalan. Ternyata si pria yg bertindik menarik nya dari tubuh si gimbal.
Diftan langsung membalikkan badan nya dan berguling ke sisi kiri jalan saat melihat pria bertindik itu ingin menginjak kepala nya. Dia segera bangun dari posisi nya dan berdiri. Akan sangat berbahaya jika dia terlalu lama dengan posisi tersebut.
Si pria bertindik mengeluarkan sebuah pisau dari dalam jaket nya.
Diftan bergemelatuk dan nafas nya bergemuruh karena pertarungan itu, rahang nya juga ikut mengeras. Dia menatap tajam lawan nya yg memegang sebilah pisau ditangan nya. Dia pun langsung mengambil posisi dengan mengepalkan ke dua tangan di di depan dada sebagai pertahanan diri.
Diftan mencoba mengintimidasi lawan nya dengan tatapan membunuhnya. Tampak si pria bertindik sedikit terpengaruh dengan tatapan dari mata biru itu. Saat situasi lengah, dengan sigap Diftan melayangkan tendangan secara cepat pada pergelangan tangan lawan nya untuk menjatuhkan pisau itu.
Pisau pun terjatuh ke aspal jalan. Si pria bertindik terkejut dan langsung membungkuk ingin mengambil pisau nya kembali. Dengan cepat Diftan langsung menjauhkan pisau nya dengan cara menendang nya ke arah lain, agar si pria bertindik itu tidak dapat menggapai nya.
Lawan nya pun menegakkan badan nya kembali. Wajah nya memerah memandang Diftan, seperti akan mengeluarkan asap dari ke dua telinga nya karena menahan emosi.
Diftan memandang mata lawan nya, lalu ke lutut dan kemaluan di bawah. Dia pun melakukan serangan tipuan dengan berganti-ganti antara serangan atas dan bawah.
Diftan berpura-pura akan menyerang ke arah kepalanya, dan si pria bertindik langsung menyiapkan double cover layaknya petinju. Nah, itulah saat yang tepat untuk Diftan menyerang lutut dan kemaluan lawan nya.
Ouch!!
Pria itu melompat kesakitan sambil memegang junior nya yg terkena tendangan. Diftan dapat mendengar suara erangan sekaligus umpatan dari pria tadi.
Diftan ingin menyelesaikan semua ini, dia pun menarik kepala pria itu ke bawah dan memegang tengkuk nya, sebenarnya bukan tengkuk, tapi di bawah leher. Karena ada syaraf yg berhubungan disana. Diftan memukulnya dengan keras dan membuat lawan nya pingsan ditempat.
Jangan ragukan kepintaran dan bela diri Diftan dalam bertarung. Ini merupakan bidang nya, dia sangat tahu dan hafal mana saja bagian tubuh yg paling fatal untuk melemahkan lawan.
Diftan mundur ke belakang dan menyandarkan tubuh nya ke mobil. Seluruh badan nya terasa sakit, seperti remuk. Dia memperhatikan tiga pria yg bertubuh kekar itu yg sudah tergeletak tak berdaya disana.
Kening Diftan tampak berkerut melihat sesuatu, dia pun memperhatikan satu per satu dari tiga pria tadi. Jari kelingking tangan kanan mereka terpotong dan mereka juga memiliki tato kecil dengan gambar matahari pada pergelangan tangan.
Tubuh Diftan menegang di tempat. Dia ingat gambar tato dan lambang jari kelingking yg di potong itu.
Diftan bergumam dan menyebutkan sebuah nama yg ada dipikiran nya. "Max? Dia masih hidup?" Ucapnya tak percaya.
Dia menggeledah sesuatu dari ke tiga pria itu untuk menemukan petunjuk lain. Namun tidak ada apa pun disana. Kemudian dia melihat sesuatu yg lengket pada telinga si pria bertindik tadi. Di sibakkan nya rambut gondrong itu dari telinga nya, ternyata ada bluetooth headset yg terpasang disana. Itu tanda nya pria ini terhubung dengan seseorang yg Diftan tidak tahu.
Diftan menyadari suatu hal, kalau ternyata dia sudah di mata-matai sedari tadi.
Kemudian Diftan tersadar, dia meninggalkan Arabella sendiri di penthouse nya tadi siang.
Pria bermata biru itu mengumpat kesal dan langsung masuk ke dalam mobil nya sambil membanting pintu nya saat menutup. Dengan kencang mobil itu melaju cepat, dia bahkan hampir menginjak pedal gas sampai sejajar dengan lantai mobil agar cepat sampai di apartement nya.
Dia tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan gadis itu. Walaupun Diftan tahu, kalau pengamanan di apartement nya sangat ketat. Mustahil bagi siapapun bisa masuk ke dalam penthouse miliknya. Tapi yg nama nya penjahat, apapun akan dilakukan untuk menyakiti lawan nya.
Diftan berlari ke arah lift khusus begitu memarkirkan mobil nya di basement. Dia menekan tombol menuju penthouse nya.
Dia melihat ke atas lift dan menghitung pergerakan nomor lantai yg terus berjalan. Sial, rasa nya terasa sangat lama berada didalam sana pikir Diftan.
Ting....
Pintu lift terbuka dan langsung menampilkan ruangan penthouse miliknya. Diftan dapat bernafas lega begitu mendengar suara tv dan suara gadis itu bergema dari ruangan tengah. Itu artinya dia baik-baik saja.
Diftan berjalan dengan pelan ke sana dan melihat Arabella yg sedang meniru gaya Anggun dalam sebuah iklan televisi.
"Aku? Jadi duta shampoo lain? Hahaha... aku sama pantene saja." Ucap Bella sambil tertawa.
Dia tidak menyadari kalau ada orang yg sedang memperhatikan nya. Dia terlalu fokus dan asik dengan iklan shampoo lain nya.
Kini giliran mie sedap white curry ala Syahrini yang glamour dia tirukan sambil berdiri dan menjadikan tangan nya sendiri sebagai microfon.
"Yea Yea Yeaahhh... ada kelezatan baru, mie sedap white Kawriiyyy. Dengan belasan rempah nya begitu fenomenal creamy membuat lidah menari-nari mie sedap white curry sedap sedaaap gurih nya creamy nya lezat nya mie sedap white curry...."
Tampak ada tarikan di sudut bibir nya, yg menandakan Diftan sedang tersenyum tipis melihat tingkah aneh dari Bella. Sekarang dia berdiri di samping gadis itu sambil menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada. Diftan bahkan melupakan rasa sakit yg ada ditubuh nya tadi.
Arabella terus mengikuti iklan yg ada di tv itu.
"Apa yg berkilau kuat dan wangi? Rasa lembut lebat mengembang? rambut kita rambut kita inilah 5 pertanda rambut sehat kinclong... ASTAGA!! Tuan??" Arabella terkejut sampai terduduk langsung di kursi. Mata nya membulat sempurna saat melihat Diftan berdiri disamping nya.
23-Agustus-2016
* Ich vermisse dich Bruder :
Aku merindukanmu abang.
* Ich vermiss dich auch :
Aku juga merindukanmu.
* Ja, das ist richtig : ya, itu benar.
* Und dann? : lalu?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top