Bab 6a
Randu melewati daerah yang cukup sepi. Berbatasan dengan taman kota yang ditumbuhi pephonan besar, jarang sekali pengguna jalan melewatinya.
“Gue sering menghindari macet, makanya lewat sini. Jam pulang kantor begini parah.” Motor tua Randu sudah sehat saat dia mengambilnya di bengkel Koh Aciau sepulang dari persidangan dan jalan-jalan ke Pasar Santa bersama Elena.
Elena otomatis mencengkeram bagian belakang jok motor boncengannya. Kalau tidak terpaksa, dia lebih suka menggunakan rute biasa. Tampaknya Randu senang berpetualang.
Karena diamnya Elena, Randu bertanya pada Elena, “Tadi lo bilang bisa masak?” Perempuan zaman sekarang sangat jarang bisa masak.
Elena membuka kaca helm agar lebih leluasa menyahut, “Bang Randu sukanya makanan apa?”
Sejak ibunya meninggal, Randu begitu merindukan masakan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kelezatannya. Dulu ibunya sering memasak ketika nilainya bagus atau ulang tahun. Sayangnya, Randu lebih sering mendapatkan nilai jelek.
“Sop iga. Bisa?”
Merasakan sikap Randu yang begitu baik padanya seharian ini, Elena tak akan menampik permintaan itu. “Yah, gampanglah kalau sop aja.”
Randu terbahak. Bisa sombong juga Elena Mazaya. “Ya udah, gue tunggu masakan gampang lo.”
Tidak mengantarkan Elena sampai rumah karena harus mengembalikan dokumen yang dibawanya, Randu mengarahkan motor ke LBH Optimus.
Elena baru saja melepaskan helm ketika mendengar panggilan, “El.” Katya melambai dengan gerakan ala Putri Charlene dari Monako. Mudah ditebak Katya mendadak anggun karena berhadapan dengan Muhammad Fadli. Pengacara senior yang menurut mata Katya ganteng luar biasa.
Dasar Katya!
“Kit-Kat.” Elena menaiki undakan yang membatasi parkiran dengan teras. “Bentar ya, gue balikin ini,” katanya sambil menunjuk dokumen tebal yang dibawanya.
“Sidang gimana, Man?” Fadli mengepulkan asap rokok. “Lancar jaya, kan?”
“Beres. Minggu depan putusan.” Randu mengembalikan toga Fadli ke laci.
Keterkejutan Elena bertambah ketika keluar lagi ke teras, Katya menyapanya dengan suara dibuat-buat.
“El, aku sudah nunggu kamu dari tadi.” Suara Katya yang biasanya sama berisik dengan botol jatuh dari lantai sepuluh, secara drastis berubah mendesah mirip kucing manja. Sampai sakit perut Elena melihatnya.
Dasar Katya!
“Karena nggak balik-balik, aku sama Mas Fadli nyari makan deh.” Suara manja Katya masih bertahan.
What?!
Mas Fadli? Mesra sekali dia menyebut kata itu. Elena mencuri pandang pada Fadli. Tidak bereaksi, pria incaran Katya tetap asyik merokok di ambang pintu.
“Kok kamu lama sih, El? Kata Mas Fadli jam empat paling lambat sidang sudah selesai. Ini sudah hampir setengah sepuluh, lho. Ke mana aja?” Katya merajuk.
Elena ingin mencubit sobatnya supaya bertingkah normal seperti biasa. Seekor tokek melintasi ujung sepatu Katya. Elena membayangkan menjumput reptil tadi lalu meletakkan di kepala Katya. Mungkin kewarasan Katya bisa kembali. Kalau Revan tahu Katya menggoda Fadli, wah....
“Gue ngopi sama Bang Randu. Terus makan malam. Lo udah makan?” Elena membiarkan si tokek kabur, menghilang di balik tumpukan daun sisa bakaran Mang Karyo.
Katya tahu Elena memperhatikannya. Namun, manik matanya terlalu bandel untuk tidak terus-terusan menelusuri sosok jangkung terbungkus kemeja kuning gading.
“Udah barusan sama Mas Fadli. Makan nasi goreng tek-tek. Enak lho.” Katya nyengir hingga bibir berpulas L'Oreal merah drakula miliknya terangkat. Tatapannya tetap melekat pada Fadli.
Hampir seperempat abad mengenal Katya, Elena hafal selera sobatnya. Nasi goreng gerobak abang-abang tidak pernah masuk dalam daftar menu kesukaan Katya.
“Kamu harus sering main ke sini, Katya. Nanti kita makan nasi goreng lagi.” Nada suara bersahabat Fadli ditanggapi dengan wajah berbinar Katya.
“Oh ya, Bang Randu, ini Katya sahabat saya. Dan Katya, ini Bang Randu,” Elena segera mengenalkan Katya. Keduanya pun berjabatan tangan basa-basi. Bulan purnama besar bercahaya, seolah menertawakan dua pasang manusia dengan niat nakal masing-masing.
“Oke, sudah malam. Yuk kita pulang, Kat. Lo ke sini jemput gue kan?” Meskipun Elena tahu tujuan Katya seratus persen bukan untuk dirinya, namun saat ini dia berbaik hati menyelamatkan muka sobatnya, agar Katya tidak dicap cewek agresif pengejar pria.
Katya tak juga melepaskan pengawasan dari Fadli yang mengepulkan asap rokok. “Mas Fadli gimana?”
Elena batuk-batuk memberi kode agar Katya tak kelewatan, tetapi Katya tak menghiraukannya.
“Saya?” Fadli heran dengan pertanyaan Katya. Dimatikannya rokok yang sudah pendek itu lalu menggulung lengan kemeja kuning gadingnya. Dia merasa kepanasan.
Masih berharap Fadli mau menumpang Ayla putihnya, Katya bertanya lagi, “Iya, mau bareng?”
Fadli dan Randu bertatapan lalu tertawa. “Saya bawa mobil, Katya. Tuh.” Fadli menunjuk Volvo 264 silver yang terparkir di luar pagar. Mobil tua itulah yang menumbuhkan ketertarikan Katya.
Katya tak mampu menutupi kekecewaannya sampai Elena ingin tertawa. Cupid si Dewa Cinta membidikkan panahnya pada Katya. Tepat sasaran. Apakah Fadli merasakan hal yang sama?
“Ok, karena sudah malam saya duluan Bang Fadli, Bang Randu,” Elena pamit sebelum Katya minta menginap di Optimus. Dengan gerakan halus, Elena mendorong punggung Katya agar segera bergerak.
“Itu tadi apa?” Elena bertanya setelah mobil berada jauh dari LBH Optimus. Katya bisa menggagalkan permainan mereka.
“Apanya yang apa?” Katya pura-pura tidak mengerti ucapan Elena. Dengan santai dia menyetir.
“Iya, lo sama Bang Fadli,” tegur Elena tak suka.
Katya tidak langsung menjawab, dia membiarkan Taylor Swift bernyanyi dalam audio mobil.
“Apa yang salah? Gue emang mau ngejar Mas Fadli,” ucapnya ketika lampu merah menyala. “Dia itu micin buat gue. Tapi micin yang nggak bikin o’on,” imbuh Katya. Elena menampilkan mimic bertanya hingga Katya menjelaskan, “Micin, Mas Idaman Cinta.”
Elena tertawa dengan pernyataan Katya. Sahabatnya tetap tidak ikut tertawa.
“Revan nggak pinter. Gue pilih Mas Fadli.” Katya sudah berkenalan dengan pria Jawa tulen itu. Tidak ada alasan memanggilnya Bang.
“Ck! Otak lo udah gesrek, Kit-Kat. Revan itu dokter ya. Dan sekarang lagi ambil spesialis jiwa.” Nah Cupid juga bisa membuat siapa pun yang terkena panahnya jadi tidak waras. See?
Lalu lintas malam di Jakarta tidak sepi meski sudah lewat jam sembilan. Hanya beberapa detik mendapat jatah lampu hijau, lampu merah kembali menyala. Katya menginjak pedal kopling hingga mobil berhenti di belakang truk bergambar perempuan seksi dengan posisi berbaring. Elena membaca tulisan TAK ENTENI TRISNOMU besar-besar di atas gambar perempuan itu.
“Lo sendiri, ada kemajuan sama Randu?” tanya Katya penuh minat. Katya jauh lebih bersemangat atas proyek ini. Setelah berkenalan dengan Randu, dia melihat target mereka sangat menarik.
“Tadi kita sidang, terus minum kopi dan makan malam di Pasar Santa,” sahut Elena singkat karena beberapa pedagang asongan menyela obrolan. Mereka mengetuk-ngetuk jendela mobil menawarkan barang jualan seperti tisu dan air mineral.
Anak-anak berpakaian kumal bernyanyi diiiringi kecrekan terbuat dari tutup botol. Pandangan Elena soal kaum marjinal kini sedikit membaik. Padahal dulu, makhluk kumuh jalanan membuatnya mual.
“Good, Darling. Next step!” Katya antusias melihat kemajuan itu.
“Next step apa? Kan gue nggak boleh jatuh cinta apalagi bercinta sama dia. Lupa dengan syarat yang lo buat itu?” Elena menyahut sinis.
Dua aturan Katya atas permainan ini; Dilarang jatuh cinta dan bercinta dengan Mr. Target Operasi.
“Emang lo ada rasa kepingin bercinta sama dia?” tanya Katya kembali melajukan mobil. Diliriknya Elena sekilas dari kaca persegi panjang.
Elena tidak langsung menjawab.
Kilasan wajah Randu serta suaranya yang dalam terngiang di telinga ketika tadi di ruang sidang Randu membaca pledoi. Lelaki itu juga membayarinya minum kopi dan makan malam. Sikap yang dirasakannya sangat berbeda dengan sikap Rimba. Hari ini Randu menggenggam tangannya. Meski tanpa sengaja, membuat sekujur tubuhnya ingin menjeritkan ketertarikan.
“Kok diem? Lo kepingin bercinta sama Randu?” ulang Katya.
Elena menghela napas. “Nggak.” Bahkan Elena sendiri tidak yakin dengan jawabannya.
***
Jadi Elena maunya gimana yaaa? Tunggu kelanjutannya besok.
Love,
💋 Bella 💋

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top