Bab 13b
Urusan mengundurkan diri ini selesai dengan lancer. Elena pun meluncur ke LBH Optimus. Dikerjakannya apa pun yang bisa diselesaikan sepenuh konsentrasi hingga sebuah siulan terdengar seantero ruangan. Manusia yang paling tidak ingin Elena temui saat ini adalah Randu Tio Hariman.
Tidak, bukan karena Elena membencinya, namun karena ada rasa yang tak bisa dijelaskan dalam kata menyeruak masuk. Dia tak ingin berpisah, sekaligus takut tersakiti. Banyak pertentangan dalam benak Elena.
Bagi Randu yang pernah menghisap ganja, bahkan putaw, mencium Elena rasanya lebih membuat ketagihan daripada narkoba jenis apapun yang dicobanya. “Jam berapa lo sampai?” Lelaki itu sulit menyembunyikan nada bahagia dalam suaranya ketika melihat bidadari yang muncul dalam mimpi semalam.
“Jam delapan,” jawab sang bidadari.
“Lo kangen banget sama kantor kali ya sampai datang pagi-pagi banget hari ini,” goda Randu. Rindu sekali rasanya dengan perempuan itu.
Gue kepingin nyium lo lagi, El. Suara hati Randu berbisik.
“Bang, rekaman pekerja PT SUCK sudah saya kirim semua ke e-mail Bang Randu dan Firman, ya. Sudah saya ketik dialognya. Buat back up saya kirim ke e-mail Ross juga.” Elena enggan merespon candaan Randu.
“Mau ke mana, sih? Buru-buru amat,” Tanya Randu lembut. Tidak biasanya lelaki yang sehari-hari ngobrol menggunakan bahasa ala preman terminal bersikap dan bersuara lembut.
“Ini hari terakhir saya di sini. Besok saya sudah nggak di sini,” jawab Elena datar, tanpa ekspresi.
Randu mencelos. Dia sadar perempuan itu sedang tidak bercanda. “Kok mendadak?”
Nyala bahagia di mata Randu hilang berganti sinar kepedihan. Semua yang dicintainya hilang. Ayahnya, sosok paling dekat dengannya meninggal tanpa bisa dicegah. Lalu Elena, perempuan yang merampok separuh hatinya juga akan meninggalkannya.
“Iya, saya punya usaha sendiri yang perlu perhatian penuh. Tadi pagi saya juga sudah datang ke apartemen Ross untuk menyerahkan surat pengunduran diri.” Elena tidak mau menatap Randu.
Randu menatap Elena tak percaya. Baru saja mereka berciuman kemarin. Aroma vanilla Elena masih menempel jelas di penciuman Randu. Bagaimana mungkin ini semua terjadi?
“Please, El, jangan pergi.” Seumur hidup Randu paling anti memohon.
Elena menatap mata sedih yang kini memandangnya. Buruknya, Elena merasakan sengatan pedih di hati melihat kesedihan Randu. Tapi tidak! Dia menegarkan dirinya. Ini demi kebaikannya sendiri. Dia ingin melindungi hatinya yang pernah porak-poranda. Belum siap rasanya terluka lagi. “Sorry, Bang.”
“Lo belum menjawab yang kemarin di Taman Tabebuya,” Randu mengingatkan.
Pertanyaan Randu di Taman Tabebuya membuat Elena begadang semalaman. Dikiranya lelaki itu sudah lupa.
“Yang mana?” Elena pura-pura tak ingat.
“Iya soal perasaan gue.” Randu sudah biasa menghadapi aparat, gas air mata, polisi, tentara, semuanya tidak takut. Kehilangan separuh hatinya jauh lebih mengerikan daripada ditangkap polisi.
“Saya nggak punya perasaan yang sama, sorry,” tegas Elena. Bohong! Dia berbohong!
Tatapan lembut Randu berubah lebih kelam. Matanya yang hitam pekat menyorot Elena hingga gadis itu resah. Dia tak melakukan kesalahan apa pun, tetapi kenapa dia merasa tertangkap basah?
“Kenapa lo nyium gue di parkiran mal?” tuntut Randu tanpa melepaskan sorot tajamnya.
Selintas Elena berniat mengatakan yang sebenarnya. Too risky.
“Khilaf,” sahutnya pendek.
Rahang berewokan Randu mengeras. Dia tak bisa lagi menahan kepengapan ini. Sebagai laki-laki matang, dia paham bahasa tubuh perempuan tertarik padanya. Namun, Elena begitu keras kepala menyangkal hati. Randu ingin tahu alasannya.
“Kenapa kemarin lo nggak menolak saat gue cium di taman?!!” Randu berteriak frustrasi. Dia yakin Elena menyimpan perasaan itu tapi terlalu angkuh mengakui.
Meski kaget dibentak dengan suara bariton Randu, Elena berusaha tetap tenang, “Itu tempat umum, Bang. Kalau saya teriak Bang Randu bisa dihajar massa.”
“Lo nggak ada rasa apa pun sama gue?” tanya Randu masih berharap Elena meralat jawabannya.
Diamatinya kepala berbingkai rambut indah itu. Elena menggeleng. Patah sudah, hati Randu remuk redam. Kepalanya bagai dihantam palu. Dia ingin mengabarkan pengunduran diri Elena pada Fadli. Biasanya dia sanggup memendam sendiri masalahnya. Sekali ini tidak mampu. Dibukanya WhatsApp di ponsel. Banyak sekali pesan yang menunggu. WhatsApp grup LBH Optimus memuat pesan baru.
Jeremiah Ross:
Kawan-kawan, hari ini kita kehilangan salah satu personel yang sudah membantu kita. Thank you Elena Mazaya. Good luck in the future.
Ada balasan dari
Aidil Firman:
Good bye pemandangan bagus di kantor. Just kidding, El.
Muhammad Fadli:
El, lo belum sempat dinner sama gue lho.
Ambar Pradnya Rukmini:
Sering main ke Optimus, El.
Gading Hananto:
Lo belum masak buat kita, El.
Masih banyak pesan yang lain di WhatsApp. Berat bagi Randu untuk membacanya. Ketika staf LBH berdatangan satu persatu, semuanya langsung mencari Elena untuk bertanya, minta maaf, dan basa-basi lainnya. Setelah itu mereka kembali bekerja. Hanya Randu yang merasa kegamangan dan kehampaan. Dia ingin mengajak perempuan itu pergi keluar, kalau bisa menculiknya supaya mereka tak perlu berpisah. Setelah dipikirnya lagi, tidak ada gunanya memaksakan perasaan pada orang yang memang tidak memiliki perasaan yang sama.
Randu tidak akan mungkin melupakan hari ketika Elena mengundurkan diri dengan cara seperti ini. Posisi duduk Elena yang tepat berseberangan dengannya membuat Randu terpaksa harus menatap ke arah gadis itu dan merasakan detik demi detik sesuatu menyayat hatinya. Diliriknya terus Swiss Army di pergelangan tangan dan merasakan waktu berlalu begitu cepat, tetapi Elena sama sekali tidak melirik ke arahnya layaknya tak ada rasa apa pun.
Gadis itu menyelesaikan sisa kewajibannya dengan cepat dan sempurna. Dia pamit pada semua staf tepat pukul lima sore. Ambar memeluk Elena. Tanpa acara tangisan, farewell party, atau potong tumpeng. Semuanya begitu mendadak.
“Thanks, El and good luck,” kata Ambar.
“You too, Mbak.” Lalu Elena keluar.
Randu setengah berlari menyusul gadis itu. “El, gue mau ngomong.” Disambarnya lengan Elena. Sorot matanya penuh rasa kehilangan. Kenapa perih sekali dada ini? Rasanya seperti berlubang. “Tolong pertimbangkan lagi keputusan lo,” bisik Randu lirih.
Sampai tadi pagi sebelum berangkat ke LBH, dia masih merasa matahari bersinar ceria, awan berarak menyambut hari baru. Randu merasa bunga bermekaran secantik hatinya, embun menetes sesejuk perasaannya. Tapi kini, seluruh imaji indah itu remuk. Sebagaimana jantungnya yang seperti dicabut paksa oleh perempuan ini. Apakah Elena tak menyadarinya?
Elena mengembuskan napas kemudian tersenyum. “Thanks banget sudah ngasih saya banyak ilmu selama di Optimus. Kita masih bisa berteman. Dunia nggak kiamat, kok!”
“El, gue antar sampai rumah,” Randu seperti biasa dengan gaya jagoan, mendesak.
Gadis itu menghela napas lagi menghadapi kegigihan Randu. Lelaki itu selalu saja memaksa.
“Saya sudah pesan Go-Jek. Tuh sudah nunggu.”
“Batalin. Gue yang bayar.” Randu masih mencengkeram lengan Elena.
Gadis itu menggeleng. Randu melepaskan tangannya dari Elena, diiringi tatapan kasihan dari Ambar, Fadli, dan Gading. Punggung Elena menjauh, lalu menghilang di balik pagar LBH. Fadli maju selangkah menghampiri Randu.
“Man, dunia belum kiamat. Lo kan tahu rumahnya.” Dia meremas bahu Randu.
Randu tidak pernah mengharapkan mereka akan berpisah dengan cara ini.
***
Elena memang jagonya bersandiwara. Padahal dia juga nyesek.
Gimana lanjutannya? Baca di Karyakarsa sudah sampai bab 30!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top