Chapter 13 - Third Case

[Author P.O.V]

Kasus penculikan terhadap gadis berusia tujuh belas tahun di wilayah Busan akan diselidiki oleh Tim Detective One: Sakti, L, Song, Oh, Yuda, dan Zieq.

Para detektif segera meninggalkan tempat kerja mereka dan pergi ke wilayah Busan,
karena tempat itu lumayan jauh dari kantor polisi tersebut. Seperti biasa, mereka memakai dua mobil, satu mobil berisi Detektif Sakti—si ketua tim—Detektif
Song—si translator—dan Detektif L, satu mobil lainnya berisi rekan-rekan mereka yang tersisa. Mereka siap menjalani misi ketiga ini.

***

Di mobil pertama, Detektif Sakti, Detektif Song, dan Detektif L saling berbicara satu sama lain.

“Jadi, bagaimana inti dari kasus ketiga ini?” tanya Detektif Song, membuka pembicaraan di dalam mobil.

Detektif L pun hanya menaikkan bahunya, pertanda bahwa ia tidak tahu. Sedangkan Detektif Sakti menjawab pertanyaan rekannya itu sambil menyetir, “Entahlah. Kasus ini memang benar-benar ada, tetapi tempat dia diculik itu tidak jelas, Busan
dimananya? Beda dengan kasus pertama dan kedua sebelumnya, tempatnya jelas di
wilayah, misalnya Hwayang-dong gitu, tetapi kalau ini, tidak jelas. Busan itu lumayan jauh dari Seoul, tempat kita sekarang. Pasti butuh waktu lama untuk bisa mencapainya.”

“Jangan pesimis dulu, Ketua. Aku yakin kita masih bisa menemukan si korban dalam keadaan mati sekalipun.” Giliran detektif wanita itu yang angkat bicara.

“Tapi, L, kau bisa melihat situasi dan kondisi sekarang, kita tidak bisa sampai di
Busan dalam waktu yang sangat cepat,” sahut Detektif Song.

“Kalau begitu, kita harus mencari pesawat atau helikopter darurat yang bisa kita pakai. Bukan hanya kita yang memakainya, tetapi semua yang menjadi anggota Tim Detective One,” usul gadis itu kemudian.

Detektif Sakti dan Detektif Song pun saling pandang. Apakah ia jika mereka harus mencari pesawat ataupun helikopter untuk membantu mereka mencapai tujuan tersebut, Busan?

“Usulmu bagus juga, L, tapi kita susah untuk mencari kendaraan udara tersebut. Susah sekali kita,” kata si ketua tim itu kemudian.

“Jadi kita harus bagaimana?” tanya detektif baru itu kebingungan.

“Bagaimana kalau kita mengebut dengan kecepatan tinggi?” usul si detektif ahli penerjemah itu kemudian.

“Bodoh, Song! Kau mau kita terluka gara-gara kebut-kebutan kita itu?” tolak Detektif
Sakti dengan kasarnya. Ia tidak mau satu diantara mereka ada yang terluka gara-gara hal tersebut. Jadi, mereka harus bersabar agar mereka bisa mencapai
tujuan tersebut. Dan, pembicaraan itu pun kembali dilanjutkan.

“Tadi, Ketua mengatakan kalau tempat penculikannya itu tidak jelas, bukan? Mengapa bisa demikian?” tanya gadis itu.

Detektif Sakti menghela nafasnya sejenak, lalu ia menjawab, “Tentu saja tidak jelas,
kalau pendengaran kalian bagus, pasti kalian menemukan ada yang aneh. Biasanya kasus itu ditentukan tempat awalnya, baru kita pergi ke sana dan kita mulai menyelidikinya dari situ. Tetapi ini tidak jelas. Jika tempatnya tidak disebutkan, kita tidak tahu harus memulai dari mana, yang ada kita malah berpencar dan aku takut jika kalian tidak selamat gara-gara kita harus berpencar. Jadi, aku
sarankan, kita tidak boleh berpisah, meskipun tidak jelas kita harus
menyelidikinya dari mana, oke?”

Kedua rekannya pun hanya menganggukkan kepala mereka, pertanda bahwa mereka setuju atas apa yang dikatakan oleh Ketua. Dan, perjalanan pun kembali dilanjutkan, menuju ke Busan.

***

Sementara itu di mobil kedua, tampak muka-muka berekspresi serius, dari Detektif Oh, Detektif Zieq, dan Detektif Yuda. Mereka awalnya tidak saling bercakap-cakap tetapi akhirnya mereka harus melakukannya, demi kerjasama tim yang lebih baik dari sebelumnya.

“Eh, teman-teman. Kita mendapat kasus yang tidak jelas,” ujar Detektif Yuda, membuka pembicaraan.

“Tidak jelas bagaimana, Detektif Yuda?” tanya Detektif Oh, ia penasaran, apa yang
tidak jelas dari kasus tersebut.

“Tempat penculikannya tidak jelas, jadi kita bingung mau mulai dari mana, padahal tempatnya itu di Busan. Bagaimana cara kita menyelidikinya kalau seperti ini caranya?” sahut Detektif Zieq, padahal pertanyaan dari si detektif wanita itu ditujukan hanya untuk Detektif Yuda, tetapi malah si detektif ahli kode itu
yang menjawabnya.

“Benar juga ya, jadi kita harus bagaimana?” –Detektif Oh.

“Aku tahu caranya. Mengapa kita tidak bertanya saja pada Ketua, kalau tidak, kepada Pak Kim?” usul Detektif Yuda.

“Tapi, tidak mungkin Detektif L, Detektif Song, dan Ketua tahu soal itu, karena yang
tadi mengumumkan sesuatu itu Pak Kim atau yang lainnya, bukan dari kita sendiri. Jadi kita harus tanya pada beliau,” balas Detektif Zieq.

“Kalau begitu, coba Anda tanyakan pada Pak Kim,” usul Detektif Oh pada si detektif
ahli kode itu.

“Apakah benar, kita harus bertanya pada beliau?” tanya Detektif Zieq untuk memastikan.

“Iya,” jawab detektif wanita singkat.

Segera Detektif Zieq mengeluarkan handphone-nya untuk menghubungi Pak Kim. Setelah beberapa saat kemudian, barulah beliau mengangkat telepon anak buahnya dan telepon pun tersambung.

Detektif Zieq  : “Selamat siang, Pak.”

Pak Kim          : “Siang juga, Zieq. Ada apa kamu menghubungi saya?”

Detektif Zieq  : “Anu, Pak, kami ingin bertanya pada Bapak. Dimana lokasi penculikan gadis itu, secara lebih spesifik, Pak? Soalnya kami hanya mendapat informasi bahwa tempatnya itu di Busan, tapi tidak jelas dimananya, Pak.”

Namun, Detektif Zieq harus menunggu jawaban itu selama beberapa saat, barulah kemudian percakapan di telepon itu kembali dilanjutkan.

Pak Kim          : “Tadinya, teman saya menghubungi saya lewat telepon bahwa memang ada kasus penculikan di Busan, tetapi setelah saya tanyakan tempat penculikannya secara lebih spesifik, ternyata dia tidak ingat, makanya dia tidak
memberitahukannya padaku.”

“Yah...,” ujar Detektif Yuda dan Detektif Oh dengan nada kecewa.

“Sudah-sudah, biar kutanya beliau lagi,” ujar Detektif Zieq.

Detektif Zieq  : “Pak, apakah beliau tidak
memberitahu ciri-ciri tempatnya kepada Bapak?”

Mereka harus mendapatkan keterangan sejelas-jelasnya, paling tidak ciri-ciri tempat tersebut, sehingga mereka bisa menemukan tempat yang dimaksud.

Pak Kim          : “Ciri-cirinya, tempat itu sudah lama tertutup dan dibatasi garis police line. Terus, di depannya tergantung
sesuatu yang berwarna-warni. Tempat itu hanya bertingkat dua dan tempat itu
berada di pojok gang. Lokasinya di sekitar situs wisata.”

“Situs wisata?” Detektif Zieq mengernyitkan dahinya. Ia belum pernah mendengar yang seperti ini.

“Detektif Zieq, Pak Kim bilang apa?” tanya Detektif Oh.

“Tempat itu sudah lama tertutup dan ada garis police line. Di depan bangunan itu tergantung sesuatu yang berwarna-warni, dua lantai, dan berada di pojok gang. Lokasi gangnya itu di sekitar situs wisata.”

“Memangnya situs wisata di Busan apa-apa saja sih?” tanya Detektif Yuda kemudian.

“Aku tidak tahu. Maka dari itulah kita harus mencari korban itu sebelum terlambat,” jawab si detektif ahli kode itu. Kemudian ia mengalihkan obrolannya ke percakapan di telepon dengan Pak Kim.

Detektif Zieq  : “Baiklah kalau begitu, kamsahamnida atas informasinya, Pak.
Selamat siang.”

Pak Kim          : “Siang, semoga berhasil ya, Tim.”

Panggilan telepon pun terputus.

***

Detektif Sakti, Detektif L, dan Detektif Song memutuskan untuk menghentikan mobil mereka di pinggir jalan dan beristirahat di sana. Kemudian mereka pun saling berbicara lagi.

“Para detektif sekalian. Apakah ada yang tahu kemana Detektif Oh, Detektif Yuda, dan Detektif Zieq pergi?” tanya Detektif Song membuka pembicaraan.

Detektif L dan Detektif Sakti kemudian saling berpandangan. Tidak ada yang tahu kemana mereka bertiga itu pergi.

“Benar juga, kemana mereka ya?” tanya Detektif L.

“Ya ampun, L, justru itulah aku tanya kalian, kirain kalian tahu mereka ada dimana,” keluh Detektif Song.

“Tapi, bukankah dari tadi mobil kita dan mobil mereka itu searah? Bagaimana bisa jejak mereka jadi tidak bisa ditemukan?” –Detektif Sakti.

“Pasti ada yang aneh, Ketua,” duga Detektif L.

“Tidak ada yang aneh, Detektif L. Semua sama saja. Mungkin saja, mereka berada di
belakang sekali karena kecepatan mobil mereka lambat, atau apa gitu,” duga
Detektif Sakti.

Detektif L pun kemudian hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya secara perlahan. Ada apa dengan Detektif Oh, Detektif Yuda, dan Detektif Zieq? Mereka pun terdiam untuk sementara.

Tetapi tiba-tiba, sebuah suara pun terdengar, kali ini dari suara walkie-talkie yang bergetar, milik Detektif L. Gadis itu langsung mengangkat benda itu dan menghubungi balik siapa saja yang menghubunginya tadi.

“Halo? Halo? Di sini Detektif L!”

“Detektif L! Ada informasi untukmu dan
rekan-rekanmu! Tadi aku berusaha menghubungi walkie-talkie milik Ketua dan Detektif Song tapi tidak bisa. Jadi aku hanya bisa menghubungimu!”

“Tolong katakan padaku apa yang ingin kau sampaikan. Jangan pakai basa-basi lagi.”

Detektif Song dan Detektif Sakti yang melihat rekannya berbicara dengan seseorang lewat walkie-talkie itu, menyimak apa saja yang dibicarakan oleh mereka. Kali saja mereka juga bisa dapat informasi yang berharga dari orang tersebut.

“Jadi, aku mendapat suatu kabar dari Pak Kim. Tadi aku menghubungi beliau lewat telepon. Beliau bilang, dia memang tidak
mendapatkan lokasinya secara spesifik, tapi beliau memberitahukan ciri-cirinya
kepada kami.”

“Ciri-ciri tempat, maksudmu? Kalau begitu apa? Agar kami bisa mencari tahu lokasi
penculikan itu.”

Detektif L kemudian memperbesar suara walkie-talkie-nya agar Detektif Sakti dan Detektif Song juga dapat mendengar suara rekannya yang berbicara, apalagi membicarakan suatu hal yang sangat penting.

“Menurut Pak Kim dengan informasi yang beliau dapat dari temannya, tempat itu sudah lama tertutup dan dibatasi garis police line. Terus, di depannya tergantung
sesuatu yang berwarna-warni. Tempat itu hanya bertingkat dua dan tempat itu berada di pojok gang. Lokasinya di sekitar situs wisata.”

Ketiga detektif itu saling berpandangan. Mereka mencoba memahami apa saja yang disampaikan rekannya itu. Dari suaranya, ketiga detektif itu akhirnya tahu
siapa yang menginformasikan hal itu kepada mereka tadinya.

Detektif Song kemudian langsung mengambil walkie-talkie milik Detektif L begitu saja, kemudian berkata, “Detektif Zieq, beritahukan kepada kami. Situs wisata yang ada di Busan itu dimananya? Bukankah banyak situs wisata di sana? Apalagi, Busan itu kota wisata di Korea Selatan.”

Pernyataan tersebut kemudian diikuti dengan anggukan kepala oleh Detektif Sakti dan Detektif L.

“Sayangnya tidak ada petunjuk lagi yang
diberikan oleh beliau kepada kita. Kita harus bisa mencarinya sendiri.”

“Baiklah, Detektif Zieq, terimakasih banyak atas bantuanmu. Silakan lanjutkan tugasmu. Beritahu kami jika ada apa-apa.” Giliran Detektif Sakti yang angkat bicara.

“Sama-sama, Ketua. Insyaa Allah.”

Panggilan walkie-talkie pun akhirnya terputus.

“Detektif Song dan Detektif L, kalian sudah mendengar kan, apa-apa saja yang diinformasikan Detektif Zieq tadi?” tanya si ketua tim untuk memastikan apakah mereka bisa mendengar dengan jelas atau tidak.

“Siap, sudah!” seru mereka bersamaan.

“Kalau begitu, let’s go!” seru ketua tim itu
lagi. Ia langsung menghidupkan mesin mobil polisinya, tapi sebelum mobil itu jalan, Detektif Song memprotes, “Tunggu sebentar lagi lah, Ketua. Aku masih capek ini....”

“Bertindak cepat, atau si korban tidak akan selamat,” ujar Detektif Sakti lagi.

“Lagipula, kita tidak tahu dimana tempatnya, iya kan?” sahut Detektif L.

“Iya juga sih.... Ya sudah, ayo kita jalan!” seru Detektif Song pada akhirnya.

Maka mereka kembali melanjutkan pencarian korban dalam kasus ketiga ini.

***

“Jadi, bagaimana kata Detektif L?” tanya Detektif Yuda kepada Detektif Zieq.

“Sebenarnya tadi, bukan hanya gadis itu yang berbicara pada kita, tetapi juga Ketua dan Detektif Song,” jawab si detektif ahli kode itu, setelah mendengar tiga suara yang berbeda pada panggilan walkie-talkie-nya itu tadi.

“Apakah mereka paham terhadap informasi yang kita sampaikan tadi?” Giliran Detektif Oh yang bertanya.

“Iya, mereka paham, Oh,” jawab Detektif Zieq singkat.

“Ya sudah, kembali fokus ke jalanan, bro. Jangan pikirkan apapun selain korban
dalam kasus ini!” sahut Detektif Yuda.

“Iya,” jawab Detektif Zieq itu singkat.

Kemudian, perjalanan kembali dilanjutkan dan tidak ada satupun yang mengobrol. Setelah beberapa saat kemudian, tiba-tiba mereka bertemu dengan seseorang di tengah jalan dan segera Detektif Zieq berusaha untuk mengerem mobilnya agar ia tidak
menabrak orang tersebut.

“Zieq, ada orang! Segera rem mobilnya!!!” teriak Detektif Oh.

“Iya, Zieq! Kami takut jika kita menabrak orang itu!” sahut Detektif Yuda.

“Woi, aku sedang berusaha, tahu!”

Setelah beberapa saat, akhirnya mobil itu terhenti. Tidak ada satupun yang terluka.
Orang itu pun tidak tertabrak oleh mobilnya Detektif Zieq. Seketika itulah,
orang itu menggerakkan jarinya, mengisyaratkan kepada mereka untuk turun dari mobil dan pergi menghadapnya. Mereka yang melihat orang itu pun seketika turun dari mobil mereka dan berhadapan dengan orang tersebut.

“Hei, maksud kau apa, sampai menyuruhku turun segala?” sahut Detektif Yuda dengan emosinya.

Tapi naasnya, orang itu tidak menjawab pertanyaan yang baru saja diberikan. Mereka kemudian memandang orang itu dengan saksama. Ternyata, orang itu tidak dikenal oleh mereka, sama sekali. Mukanya masam sekali, rambutnya acak-acakan, dia pakai baju layaknya dia itu mayat.

Tetapi bukannya ia menjawab, ia langsung mencekik Detektif Yuda tanpa ampun.

“AAAAAA!!!!!!”

Apa yang terjadi pada Detektif Yuda berikutnya?

To be Continued.

Mind to Vote and Comment?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top