Bab 9

"Popo, duduk!"

"Popo, cium!"

Sohyun bertepuk tangan takjub menguji kepintaran Popo mengikuti setiap perintahnya. Anjing itu berguling-guling, bertingkah manja pada Sohyun, lalu Sohyun akan memberinya snack sebagai reward karena Popo telah menghiburnya. Di saat penat, memang memelihara anjing adalah pilihan yang terbaik.

Malam ini Sohyun ingin memanjakan diri dengan segelas wine pemberian Vernon di balkon sisi timur apartemennya. Di seberang sana, ada gedung B dari apartemen yang sama seperti yang ia huni. Terdapat dua unit penthouse yang menghadap tepat ke balkonnya. Samar-samar, Sohyun mengamati ada pergerakan dari salah satu penthouse gedung tetangga itu.

Sohyun hampir tersedak minumannya saat seorang pria mendekati jendela kaca yang transparan sekadar untuk menutup tirai. Pemandangan Jimin yang shirtless pun membuat Sohyun sampai kehilangan jati diri. Bahkan, celana lelaki itu yang pendek dan ketat, tampak menonjolkan bagian yang seharusnya tidak Sohyun lihat. Pahanya yang berotot, juga abs sixpack lelaki itu. Bukankah Dokter Jimin terlalu hot untuk ukuran dokter hewan berwajah imut? Sohyun tidak percaya apa yang matanya lihat. Wanita itu tak langsung beranjak. Dari tirai apartemen Jimin yang tertutup rapat, bayangan seseorang tengah melakukan push up tercetak jelas. Ini baru yang namanya pemandangan.

Di atas tempat tidur, karena begitu penasaran dengan Jimin, Sohyun sampai membuka instagram untuk men-stalking pria itu. Tidak sulit untuk menemukan instagram Jimin karena ia lumayan terkenal di media sosial. Sebuah akun dengan nama parkjm_ dengan foto profil Jimin berjas putih yang tengah menggendong seekor kucing langsung menarik perhatian Sohyun. Tanpa ba-bi-bu, Sohyun mem-follow akun Jimin yang rata-rata isi posting-annya mengenai kesehatan hewan peliharaan. Beberapa termasuk foto diri atau selfienya bersama teman-teman dokter.

"300k followers, tidak heran. Orang tubuhnya sekeren itu," komentar Sohyun.

Saat meng-scroll ke bawah, satu foto menyita fokusnya. Membuatnya membelalakkan mata dan menelan ludahnya susah payah. Seorang Park Jimin tanpa jas putihnya, hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaos singlet hitam press body dengan caption yang tertulis "Fitlicious Gym Grand Opening. Thanks for coming today."

"Gym?"

Sohyun menerka-nerka, apa mungkin tubuh berotot itu karena Jimin sering olah raga di sana? Kalau begitu, kapan-kapan Sohyun harus berkunjung. Siapa tahu mereka berpapasan. Tengah asyik melanjutkan aktivitas stalking, Sohyun terganggu suara berisik dari apartemen di sebelahnya. Awalnya ia mengabaikan hal itu, kemudian ia teringat sesuatu dan langsung menelepon Hyanggi.

"Iya, Eonni?"

"Hyanggi, bukankah kau bilang apartemen di sebelah kosong, ya?"

"Bukannya kosong, tapi jarang ditempati."

"Ka-kalau gitu, suara apa ini? Apa iya ada hantu?"

"Eonni, kau bicara apa?"

"Tidak—"

Prang. Suara pecahan keramik tepat dari balik dinding kamar Sohyun terdengar keras. Sohyun langsung mematikan ponselnya dan terperanjat. Ia turun dari kasur seketika, lalu memojok di dekat jendela. Suara berisik itu kian jelas.

Tidur di ruang tamu aja lah, udah malem. Nggak mungkin aku minta jemput Hyanggi sekarang, pikir Sohyun. Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Terlalu larut untuk meninggalkan apartemennya.

***

"Ah, shit! Aku mengacaukan semuanya!" Taehyung menggeram marah.

Ia sedang berusaha menurunkan sebuah lukisan wajah peninggalan pemilik sebelumnya yang terpasang di dinding kamar. Setiap menatap lukisan itu, Taehyung dibuat merinding. Pria itu membayangkan kalau kedua mata wanita yang ada di lukisan itu akan menelannya hidup-hidup ketika ia tidur. Mengintainya di setiap malam seperti di film horor. Bodohnya, saat hampir menjangkau lukisan tersebut, Taehyung malah tak sengaja menyenggol sebuah guci keramik yang ada di atas meja. Menimbulkan kerusuhan di dalam sana.

"Harus beres-beres, deh," keluhnya.

Kim Taehyung adalah tipikal pria yang tak bisa hidup mandiri. Selama ini, Seojun selalu mengurusnya seperti keluarga. Selain Seojun, Namjoon menjadi salah satu sahabat yang turut andil membantu Taehyung kapanpun dan di manapun. Sehingga ia tumbuh menjadi cukup manja. Apa-apa minta suruh kepada kedua orang itu, mulai dari minta disiapkan makanan oleh Seojun sampai minta ditemani Namjoon kalau-kalau perasaan hatinya kalut.

Kesal, di saat penting begini, baik Seojun maupun Namjoon tak bisa diandalkan. Taehyung telah menghubungi Seojun sebelumnya dan meminta tolong untuk membawakan semua barang-barangnya dari rumah ke apartemen baru. Tapi sampai sekarang, tidak ada kabar. Ia juga meminta Namjoon untuk menemaninya di sana, tapi katanya Namjoon sedang kencan dengan wanita serta tidak ingin diganggu. Setelah itu, ponsel pria dengan lesung pipi itu malah tak bisa dihubungi.

Taehyung menjatuhkan diri di atas kasur. Ia lelah sekali hari ini. Meskipun begitu, ia menikmati profesinya sebagai model. Setelah lulus SMA, Taehyung masuk ke agensi kecil yang menaungi orang-orang berparas tampan sepertinya untuk berkiprah di dunia model. Ia tidak begitu tersorot pada masanya, hanya menjadi model sampul di salah satu majalah yang sepi peminat. Usianya 19 tahun saat itu, Taehyung sampai menunda pendidikannya demi mengejar apa yang ia suka. Berkat dukungan sang mama, Taehyung berhasil bertahan. Bahkan namanya semakin melambung sekarang dan ia masuk ke salah satu agensi model terbesar di Seoul. Di tengah-tengah kesuksesannya, justru papanya menentang keputusan Taehyung untuk melanjutkan karier.

Memang kenapa kalau umurku 27 tahun? Aku masih muda, masih tampan. Banyak wanita yang antre menungguku di luar sana. Kekhawatirannya terlalu berlebihan!

Hubungan Taehyung dengan papanya terbilang renggang. Mereka jarang menghabiskan waktu bersama sejak Taehyung memulai debutnya sebagai model. Mungkin karena sangat mencintai istrinya, papa Taehyung tak bisa menolak ketika mama Taehyung mendukung penuh dan mengizinkan Taehyung menjadi model. Tetapi sekarang, tidak ada alasan lagi untuk papanya tetap diam. Taehyung sudah dewasa, sudah saatnya memikirkan bagaimana membangun keluarga. Itulah pikiran yang memberatkan Taehyung akhir-akhir ini. Berhenti menjadi model lalu menikah.

"Apa salahnya jadi model? Gajiku besar, aku dicintai banyak orang. Papa memang menyebalkan."

***

"Arggh!!" Suara teriakan bernada berat menggema dan membangunkan Sohyun dari tidurnya.

Cukup semalam ia insomnia, setelah berhasil memejamkan mata, tiba-tiba saja sebuah suara mirip monster membangunkan tidurnya. Panik, Sohyun hendak menelepon Hyanggi dan meminta jemput. Namun, baterai ponselnya habis dan akhirnya mati.

Karena balkonnya dan balkon apartemen sebelah saling terhubung, Sohyun memberanikan diri mengecek. Apakah di apartemen tersebut memang ada orang ataukah tidak. Semoga saja itu manusia, karena kalau hantu, nggak tau lagi. Mungkin aku akan secepatnya pindah dari sini.

Hening. Setelah muncul suara mengerikan itu, semuanya kembali seperti semula. Sohyun berprasangka, apa iya dirinya berhalusinasi? Begitu akan kembali menuju apartemennya, pintu balkon apartemen sebelah tiba-tiba terbuka. Sohyun membeku di tempat. Napasnya tercekat. Sepasang kaki keluar dari arah pintu, disusul sebuah badan dan wajah yang rasanya tidak asing.

"Kim Taehyung?!"

"Miss Elena?"

"Kau tinggal di sini?" tanya mereka bersamaan.

Lagi-lagi mereka dipertemukan. Tidak dalam hubungan bisnis, tidak dalam hubungan sosial yang lain. Sepertinya Sohyun salah, ia menerima penawaran Elise untuk bekerja di Seoul tanpa pikir panjang. Ia tidak tahu kalau harus menghadapi pria ini setiap hari adalah salah satu risiko yang akan ia tanggung. Batinnya tersiksa. Sebaliknya, pria dengan nama Taehyung itu justru cengar-cengir setelah mengetahui kalau Sohyun adalah tetangga apartemennya.

"Sejak kapan kau tinggal di sini?"

"Tolong bicara formal padaku," protes Sohyun.

"Ayolah, kita di luar urusan kerja. Kau sendiri yang bilang, kalau selama bekerja aku harus bersikap sopan dan formal padamu. Berarti di luar itu, boleh bicara santai, kan?"

Pemikiran Taehyung tidak salah. Sohyun bahkan tidak bisa mengelak. Tidak ada alasan bagi wanita itu untuk berbicara formal pada Taehyung, apalagi mereka sedang tidak di kantor.

"Ngomong-ngomong, apa kau ada obat merah?"

"Untuk apa?"

"Kau tidak lihat, telapak kakiku terkena pecahan keramik?"

Sohyun melirik ke bawah. Darah sudah berceceran di lantai, tapi ekspresi pria itu masih tetap menyebalkan. Sohyun tidak habis pikir.

"Tunggu di sini."

Taehyung mendudukkan diri di sebuah bangku yang terbuat dari rotan. Masing-masing apartemen mereka, memiliki sepasang bangku yang lengkap dengan bantalnya itu. Diam-diam, Taehyung memperhatikan kepergian Sohyun. Dia pakai baju apapun, tetap kelihatan seksi. Aku benar-benar bisa gila tinggal di sini. Aku harap, dia mengunci pintu balkonnya setiap malam.

Tak lama kemudian, Sohyun kembali. Seakan lupa bagaimana sifat mesum Kim Taehyung, Sohyun tanpa sadar masih mengenakan piyama dengan rok pendek dan bahan kain yang tipis. Di musim dingin begini? Ketika Sohyun menunduk, Taehyung dapat mengintip sesuatu yang ada di balik piyama itu. Sial, bisa-bisa aku dibuatnya tegang.

"Kenapa kakimu bisa terluka? Ini parah sekali. Bukankah lebih baik ke rumah sakit?" Sohyun mendongakkan kepalanya setelah selesai mengobati dan memperban luka Taehyung.

"Kau mengkhawatirkanku, Miss?"

"Jangan bercanda! Sudah kubilang, kau model utamaku. Kalau sampai kau kenapa-napa, aku kesulitan mencari pengganti."

"Yakin?"

"Sudahlah! Kalau tidak mau menjawab pertanyaanku, sebaiknya kau diam saja!"

Taehyung berhenti menggoda Sohyun. Ia mulai serius, menjawab kejadian yang menimpanya di pagi buta.

"Aku tidak sengaja menginjak pecahan keramik, semalam aku lupa membereskannya."

"Jadi itu kau ...."

"Kenapa?"

"Bukan apa-apa. Baiklah, urusan kita selesai. Aku pergi."

"Eh, mau ke mana? Ini masih sangat pagi. Masih ada banyak waktu sebelum siap-siap berangkat bekerja."

"Aku bukan pengangguran sepertimu, aku harus memasak, membersihkan apartemenku, memberi makan anjingku, dan melakukan yoga. Oops, aku sibuk sekali," ujar Sohyun sinis.

Taehyung dapat mendengar decihan wanita itu. Lalu, suara pintu yang tertutup keras cukup mengagetkannya. Untung cantik.

"Semakin galak kau padaku, semakin aku menginginkanmu, Miss," gumam Taehyung.

***

Sohyun mengangkat kepalanya. Sinar matahari yang terik, menyilaukan mata. Membuatnya kesusahan membaca papan nama dari sebuah gedung fitness.

"Benar ini, kan? Fitlicious?"

Di dalam, Sohyun bertemu dengan seorang resepsionis. Tampak beberapa pria mondar-mandir di belakangnya dan diam-diam mencuri pandang ke arah Sohyun—yang mengenakan legging hitam dan sport bra dengan warna hitam-pink menyala. The Goddes of Beauty merupakan julukan yang diperoleh Sohyun karena penampilannya yang modis dan ia pandai memadu–padankan apa yang ia pakai di tubuhnya. Membuatnya semakin menarik.

"Apakah Anda member baru?"

"Iya, saya member baru di sini."

Resepsionis wanita itu lalu menunjukkan jadwal kelas yang harus diikuti. Mulai dari 5-20 sesi dalam sebulan. Sohyun tidak tahu, Jimin ada di kelas mana. Ia merasa kecewa.

"Oh, apa Anda tahu, Dokter Jimin ada di kelas pagi atau malam?" Iseng, Sohyun bertanya pada si resepsionis.

Resepsionis itu tersenyum mendengar pertanyaan Sohyun. Maklum, ia telah menangani ratusan member baru yang juga merupakan wanita. Kebanyakan dari mereka pasti menginginkan kelas dan sesi yang sama dengan yang diikuti Jimin.

"Maaf, Nona. Kelas pagi yang biasa diikuti Dokter Jimin sudah penuh. Tersisa kelas malam. Tapi tenang saja, Dokter Jimin sering datang ke mari di malam hari meskipun tidak ada kelas."

"Yah, apa boleh buat. Baiklah, aku ambil kelas malam, ya."

Sudah datang ke sini, tidak mungkin aku pulang dengan tangan kosong. Sekalian saja lah mendaftar sebagai member. Lagian untuk kesehatanku juga.

"Permisi, Nona. Apakah masih ada kelas kosong untuk member baru?"

Beberapa saat kemudian, seorang pengunjung datang. Sohyun tidak menyadarinya, namun secara tanpa sengaja mata mereka bertemu. Seketika, Sohyun menyesali pilihannya datang ke tempat gym itu, apalagi mengambil kelas malam. Satu-satunya kelas yang bisa diisi.

***

Tbc

Kenapa Hyun? Wkwkwk

Pertemuan pertama, itu kebetulan. Pertemuan kedua, kesialan. Pertemuan ketiga, hm ... jodoh kali, ya?


Tunggu update bab selanjutnya ^^

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top