Bab 9
Berbeda dengan apa yang sedang Dian pikirkan, Dean kini kembali melamun di kamar. Tentu tidak mudah untuk bersikap tak ada yang terjadi seperti yang tadi ia lakukan kepada Dian. Semua terasa sulit untuknya. Meskipun Dean tidak mengetahui alasan pasti di balik keputusan Dian, ia yakin ada sesuatu yang terjadi.
Tapi tetap saja ia merasa penasaran. Apa yang membuat Dian dengan berani mengambil keputusan yang bahkan tidak pernah terbesit satu detik pun di dalam otak Dean. Atau mungkin selama ini ia terlalu percaya diri, menganggap Dian selalu ingin bersamanya padahal nyatanya tidak.
Dean tentu tidak bisa menemukan jawabannya. Dian bukan tipikal orang yang dengan mudah menyuarakan masalah yang sedang ia hadapi. Dian akan memberitahunya setelah masalah itu selesai ia hadapi. Menunggu Dian untuk terus terang, sama saja membiarkan gadis itu untuk pergi dari sisinya.
Membayangkan saja Dean tidak sanggup.
Selama ini, bangun tidur hingga akan tertidur lagi ia selalu melihat Dian. Berada di sisi saudaranya itu kapanpun. Dean meluapkan semua perasaannya pada Dian. Tanpa terlewat satu patah kata pun. Lalu tiba-tiba Dian mengatakan ia ingin pergi. Lalu bagaimana dengan dirinya yang terbiasa bersama Dian hampir 24 jam lamanya?
Apakah Dian juga memikirkan bagaimana nasibnya ke depan? Mengurus segala keperluan rumah, menggantikan peran mama yang setiap hari sibuk bekerja? Dean tentu saja tidak bisa. Ia bukan Dian yang dengan senantiasa mengerjakan tugas itu karena memang ia senang melakukannya. Lantas bagaimana jika Dean menemukan kesulitan saat masuk SMA nanti? Tak ada lagi Dian yang akan membantunya, tak ada lagi Dian yang setia menemaninya mengerjakan tugas hingga larut malam.
Apa Dian tidak ingin merasakan kebersamaan mereka lebih lama?
Dean tidak mengerti jalan pikiran kakaknya itu. Ia tidak mengerti dan tak akan pernah paham selama Dian tidak ingin bersuara. Semua keputusan mendadaknya itu sangat membuat Dean terpukul, ia tak lagi memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk saat masuk SMA nanti. Kemungkinan tidak diterima misalnya. Kepalanya penuh dengan dugaan-dugaan tak pasti.
Tentang ini dan itu yang belum terpecahkan kebenarannya.
Dean menarik selimutnya untuk lebih dekat dengan dagu. Tak ada lagi ritual girls time yang biasa ia lakukan bersama Dian dua malam terakhir. Tak ada lagi seruan kehebohan yang ia suarakan menjelang tidur mereka. Semua terasa sepi dan Dian belum kembali entah sedang melakukan apa di luar sana.
Semalam ia berpikir, kalau keputusan Dian bukan hanya semata-mata keinginannya, atau mungkin memang ada yang salah dari Dean sehingga saudara kembarnya itu enggan menikmati kebersamaan mereka lebih lama. Jika boleh, Dean ingin memaksa agar Dian tetap di sini. Mengurung gadis itu di kamar ketika hari keberangkatannya tiba, misalnya. Tapi sayang, Dean tidak sejahat itu. Meski bisa mungkin ia hanya akan memengaruhi Dian agar tetap di sini meski itu susah.
Dean buru-buru membalikkan badan ke samping kanan menghadap tembok ketika mendengar suara langkah kaki semakin dekat. Bisa dipastikan, orangnya adalah Dian. Dean sungguh tak ingin bicara lebih lama dengan Dian untuk sekarang, karenanya ia memilih untuk pura-pura tertidur.
Benar saja, beberapa detik setelahnya kamar mereka terbuka, lalu diiringi dengan suara pintu tertutup. Langkah Dian semakin dekat hingga akhirnya tiba di samping Dean. Ranjang mereka berdecit pelan, dan kasur sedikit terguncang. Tak ada suara dan Dean memilih untuk tetap pura-pura terlelap. Hingga akhirnya, suara Dian memecah keheningan malam di antara mereka.
"Maafin aku," katanya pelan.
Dean bersiap, takut tiba-tiba Dian menyentuh kepalanya dan membuatnya menegang. Dian bisa saja curiga dan berhenti bercerita.
"Kamu pasti tahu alasanku memilih pergi, tapi nggak sekarang. Biarkan waktu yang menjawab semua kebingungan kamu. Selamat malam."
Hanya itu, tak ada lagi yang Dian ucapkan, membuat Dean sedikit kecewa. Tapi tak apa, setidaknya ia tahu. Memang benar ada yang tengah Dian sembunyikan dan ia yakin, hal itu adalah alasan utama Dian memilih untuk sekolah asrama.
🍀🍀🍀
Entah berapa lama, Dean tetap tidak bisa terlelap. Sedangkan Dian di sampingnya telah pergi ke alam mimpi. Terdengar dari suara dengkuran halus yang sejak tadi bersuara. Banyak hal yang sedang ia pikirkan sekarang. Bukan lagi tentang bagaimana nasibnya ke depan, atau tentang bagaimana Dean tanpa Dian di sampingnya.
Yang sejak tadi berkumpulan di otaknya hanyalah memori-memori lama yang diisi oleh ia dan Dian. Momen ketika pertama kali mereka masuk sekolah dasar, di mana ibu-ibu yang mengantarkan anak mereka gemas sekali melihat Dean dan Dian yang terlihat begitu mirip, sampai dengan bagaimana teman-teman baru mereka sering kali salah memanggilnya, persis seperti yang mama lakukan sebelumnya. Dean masih mengingat saat itu, meski tidak begitu jelas.
Lalu tiba-tiba teringat saat mereka keringat dingin menanti pembagian kelas di waktu pertama kali memasuki masa putih biru. Dean dan Dian saling bergandengan saat itu. Pasrah jika mereka tak lagi bersama dalam satu kelas setelah selama enam tahun berada dalam kelas yang sama. Tapi ternyata, takdir kembali memihak mereka. Dean dan Dian disatukan dalam satu kelas tiga tahun lamanya.
Akankah kisah itu akan terulang? Dean yakin itu tidak. Tapi setidaknya setelah ini ia akan mencoba kembali meyakinkan Dian. Kendati nanti keputusannya akan tetap sama, Dean akan berusaha keras untuk menerima.
🍀🍀🍀
Pagi-pagi sekali, Dian pergi entah ke mana. Saat membuka mata tadi, Dian tak lagi ada di sampingnya. Dean berusaha berpikir positif, mungkin Dian sedang lari pagi bersama sahabat sejatinya itu. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak berpikir bahwa Dian sedang menjauhinya.
Jikalau memang iya, hanya Dean yang patut disalahkan karena memang, semua itu berawal dari dirinya. Tapi Dean tidak peduli, selagi usahanya mendapatkan hasil ia akan melakukannya. Setidaknya keputusannya semalam dengan memberi satu kesempatan dan risiko yang akan Dian hadapi, itu saja sudah cukup.
Omong-omong tentang Ali, semalam Dean berpikir mungkin cowok rese itu bisa dimintai pertolongan. Ya, siapa tahu Dian curhat padanya dan ia bisa mendapat informasi dengan sedikit mengancam cowok itu.
Maka setelah menunggu beberapa saat hingga Dian pulang, ia pamit keluar. Tidak mengatakan ke mana tapi tentu saja tujuannya sudah jelas. Rumah Ali. Cowok itu sedang membenarkan sepedanya di halaman rumah. Entah apa yang rusak Dean tidak peduli. Kebetulan sekali, Dean jadi tidak perlu susah payah untuk berteriak dan meminta Ali membuka pagarnya.
"Ali!"
Ali tentu saja terkejut melihat Dean sudah berada di depan pagarnya. Awalnya ia kira Dian kembali ingin mengambil kertas yang ketinggalan. Tapi ternyata si mulut rombeng, siapa lagi kalau bukan kembaran sahabatnya. Sembari berdecak, Ali berlari kecil menghampiri Dean, lalu membuka gerbangnya lebar-lebar.
"Lu kalau bertamu ke rumah orang yang sopan kek, main teriak aja. Untung cuma sekali."
"Ya, aku teriak sekali juga karena kamu ada di halaman."
"Cih, aku-kamu. Nggak cocok sama suara. Kurang lembut."
"Dasar playboy."
🍀🍀🍀
141220
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top