Bab 7
Sarapan pagi ini terasa berbeda dari biasanya. Entah apa masalahnya, Dean merasa ada yang tidak baik-baik saja. Semuanya terdiam khidmat memakan makanan masing-masing. Bahkan ayah tidak berceloteh seperti biasa. Mama juga terasa berbeda, lebih diam dari biasanya. Dan Dian, saudara kembarnya itu sering kali terlihat melamun.
Pagi ini benar-benar membuat Dean bingung. Mulai dari saat subuh tadi, tak ada satu pun orang yang membangunkannya seperti biasa. Dean terbangun saat mendengar grasak-grusuk dari kamar sebelah, kamar orang tua mereka. Entah apa yang sedang mereka debatkan, Dean tidak bisa mendengar. Lalu beralih ke Dian yang sejak bangun tadi lebih sering melamun.
Keluarganya senang ada masalah? Tapi Dean merasa selama ini mereka baik-baik saja. Tidak ada yang salah. Ayahnya tetap seperti ayah pada umumnya, bedanya memang dari mama. Mama sangat suka bekerja. Berangkat bersama ayah lalu pulang malam hampir setiap hari entah dengan siapa. Semuanya masih terasa baik-baik saja kemarin-kemarin, atau memang hanya perasaannya saja? Dean tak tahu.
Saat ingin menyuarakan perasaannya, Dean terdiam ketika di saat yang sama sang ayah bersuara terlebih dahulu. Memecahkan hening sejak tadi lalu menyita perhatian mereka.
"Kalian sudah memutuskan akan lanjut sekolah di mana?" Mendengar pertanyaan dari ayah, Dean langsung mengangguk. Berbeda dengan Dian yang hanya diam saja.
"Ayah harap kalian mendengarkan saran Ayah tempo lalu. Nggak boleh memaksakan sesuatu. Kalau emang nggak bisa sekolah di sekolah favorit, terima aja. Mungkin rejeki kalian memang di sana. Yang penting belajar yang rajin, jangan nakal dan banggakan diri kalian sendiri." Dean mengangguk lagi.
Ia sudah mendengarkan petuah ayah itu berulang kali. Jangan memaksakan sesuatu jika memang tak bisa. Peraturan Zona sekarang memang tidak membebaskan Dean untuk memilih sekolah favorit seperti keinginannya dulu. Tapi sekolah yang dekat dengan rumahnya tak kalah bagus dibanding sekolah-sekolah favorit itu. Jadi, Dean sudah memantapkan hatinya pergi ke sana. Melanjutkan pendidikannya seperti yang beberapa waktu lalu ia inginkan. Lalu pandangannya beralih pada Dian yang masih diam saja. Perasaannya menjadi tidak enak tiba-tiba.
Ketakutan itu sepertinya akan menjadi nyata.
"Kalian memutuskan satu sekolah, 'kan?" Mama bertanya. Dean hanya bisa mengangguk dan Dian masih terdiam.
Sepertinya ini waktu yang tepat untuk Dian menyuarakan keinginannya.
"Dian ... milih buat sekolah asrama, Ma, Yah."
Seperti tersambar petir, Dean terkejut hingga tak sadar sendok yang semula digenggamnya kini jatuh di atas piring yang mulai kosong.
Dian serius? Dia sedang tidak bercanda 'kan? Sekolah asrama? Kenapa tiba-tiba?
Saat itu, Mama hanya diam saja, ayah mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan Dean tentu masih terperangah tidak percaya.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu? Berpisah dari Dean, yakin?" Ayah bertanya saat suasana mendadak terasa semakin tegang.
"Dian yakin, Yah," jawabnya pelan.
Dean yang masih terkejut tiba-tiba bangkit berdiri. "Gue tunggu penjelasan lo di kamar. Sekarang." Gaya bicaranya berubah, kemudian berlalu dari meja makan.
Jika ditanya bagaimana perasaan Dean saat ini, jawabannya adalah Dean sangat marah. Ia marah karena sejak awal Dian tidak mengatakan apa-apa. Kemudian dengan mudahnya menyatakan bahwa ia yakin dengan keputusannya itu. Yakin berpisah dengan Dean. Lalu bagaimana dengan Dean?
Mendadak Dean merasa ingin menangis.
Semua ini terasa sangat mengejutkan. Bagaimana tidak? Selama ini ia percaya bahwa Dian akan selalu berada di sisinya kapan pun dan di mana pun. Sekarang apa? Bahkan saudara kembarnya itu mengatakan dengan mudah ia siap berpisah dengan Dean. Itu berarti posisi Dean tidak sepenting Dean menganggap Dian selama ini.
Sungguh tidak bisa dipercaya.
Pantas saja Dian selalu terlihat menghindar jika ia membahas tentang ini. Atau selalu mengatakan 'InsyaAllah' dengan raut wajah tak yakin. Awalnya Dean merasa itu semua hanya perasaannya. Namun saat Dian benar-benar mengatakan bahwa ia ingin bersekolah asrama tentu saja Dean merasa terkejut.
Ia merasa seperti telah dikhianati sekarang.
Kenapa harus sekarang? Bukankah saat mereka kuliah Dian bisa mengambil universitas yang menyediakan sistem asrama alih-alih mengambilnya sekarang? Mereka masih SMA dan Dean tidak bisa membayangkan bagaimana hari-harinya tanpa Dian nanti.
Sedangkan Dian melangkah perlahan. Dalam langkah pelannya, Dian memikirkan segala macam alasan yang sekiranya bisa membuat Dean mengerti. Ia tidak mungkin mengatakan alasan sejujurnya. Ia tidak akan mungkin mengatakannya. Biar Dean mengetahuinya sendiri nanti. Sepandai-pandainya tupai melompat, ia pasti akan jatuh juga, bukan?
Dengan hati-hati, Dian membuka pintu kamar mereka. Dan terlihatlah Dean di sana. Gadis itu hanya diam, memandangnya dengan pandangan yang sulit Dian artikan. Mungkin terlalu kecewa atau masih berharap Dian mengubah pilihannya.
Dian mengambil kursi meja belajarnya lalu diletakkan di depan Dean dan duduk di sana. Tangan mungilnya mencoba meraih jemari sang saudari. Mencoba meyakinkan bahwa meski tanpanya, Dean akan tetap baik-baik saja. Tapi sepertinya memang sulit, Dean berkali-kali menepis tangannya.
"Gue nggak mau denger alasan basi," katanya pelan.
"Please. Dengerin dulu." Dian berhasil meraih jemari saudara kembarnya.
"Aku tau ini susah banget buat kamu terima. Tapi please Dean, aku punya pilihanku sendiri. Aku punya sesuatu yang ingin aku perjuangkan dari sana. Kita memang anak kembar, tapi bukan berarti kita harus selalu sama-sama. Ada yang pengin aku kejar yang nggak ada di sekolah yang kamu tuju. Ada mimpi yang harus aku capai sejak dini di sana. Kamu tahu itu." Dian menghela napas sejenak. Membiarkan kakaknya itu berkomentar.
"Kenapa harus sekarang? Kita masih punya waktu tiga tahun lagi untuk mencapai mimpi masing-masing. Kalau di saat itu tujuan kita berbeda, aku terima. Nggak sekarang, Dian. Kamu tega ninggalin aku sendiri? Aku masih butuh kamu di sini. Aku masih butuh kebersamaan kita. Apa jadinya aku tanpa kamu nanti. Please. Kita masih mau masuk SMA, semua nggak akan terlambat kalau kamu memulai setelah itu."
"Nggak, Dean. Aku nggak bisa batalkan keputusanku. Tolong mengerti, kita udah sama-sama beranjak dewasa sekarang. Aku punya mimpi sebagaimana kamu punya mimpi. Dan aku berhak mencapai mimpi itu meski aku baru SMA."
Dean mendadak merasa ingin marah. Mengapa Dian meminta ia mengerti sedangkan dirinya tidak mengerti Dean sepenuhnya? Dean hanya ingin Dian ada di sampingnya, itu saja. Terlalu beratkah permintaannya yang satu itu?
"Terus gimana sama aku, Dian?! Kamu selalu minta tolong mengerti aku, tolong mengerti aku, tapi kamu nggak pernah ngerti aku. Aku cuma minta kamu tetap di sini! Cuma itu! Apa berat banget buat kamu sekedar stay di sini dan menunda sedikit aja mimpi kamu itu? Setelah SMA kamu bebas pergi ke mana pun yang kamu mau, pergi ke Cairo? Silakan. Aku nggak bakal larang. Cuma tiga tahun, Dian. Tiga tahun."
"Kamu tau sebesar apa keinginanku untuk lanjut sekolah di sana. Aku perlu jembatan yang bagus untuk mencapainya. Dan sekolah di sekolah yang pengen kamu tuju bukan jembatan yang bagus. Tolong ngerti, sekali aja. Aku sekolah di sana bukan berarti ninggalin kamu selamanya. Kita masih bisa telfonan, kita masih bisa ketemu setidaknya satu minggu sekali kalau kamu mau."
Dean menghela napas dalam-dalam, berusaha untuk tidak benar-benar emosi. "Oke kalau itu mau kamu. Tolong keluar. Aku nggak mau satu kamar lagi sama kamu."
🍀🍀🍀
Madura, 131020
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top