Bab 5

"Kimi No Nawa?"

Dian terlonjak kaget saat tiba-tiba Ali bersuara persis di belakangnya. Untung saja tidak sampai terjadi adegan-adegan berbahaya. Dian jatuh, misalnya. Atau adengan uwu layaknya sinetron Indonesia. Dian bergidik membayangkannya.

Dian meninju lengan atas Ali cukup keras. "Rese banget, heran."

Ali tertawa mendengar balasan itu. "Ali tanpa rese itu bukan Ali namanya."

Dian mendengkus. Lalu diam, mengiyakan dalam hati. Ali tanpa bersikap jahil seperti itu memang bukan Ali. Jiwa jahil Ali sudah mendarah daging sejak kecil, susah dihilangkan. Oleh karena itu, Ali seringkali bertengkar dengan Dean. Kedua anak manusia itu bertolak belakang, yang satu jahil dan yang satu lagi tidak suka dijahili. Jadilah Tom and Jerry versi mereka.

"Bagus tuh, bukunya," komentar Ali saat Dian diam saja dan terlihat berkali-kali membaca blurb buku tersebut.

"Beneran bagus? Udah baca?"

"Belum sih, tapi nonton booktuber banyak yang bilang bagus. Tapi kayaknya memang bagus. Minggu depan kalau kamu jadi beli, aku nonton filmnya baru pinjam. Ya?"

"Belum pasti beli juga. Nih, banyak." Dian menunjukkan beberapa buku di tangan, calon-calon buku yang akan benar-benar ia beli.

"Lihat dulu." Lalu Ali menyerahkan buku yang ia pegang dan mengambil buku di tangan Dian. Membaca blurb buku-buku itu dalam Diam. Hingga tak sadar, Dian perlahan pergi meninggalkannya. Mencari buku-buku lain yang mungkin menarik.

"Ini bagus, nih," kata Ali pelan. Merasa tidak mendapat balasan, ia mendongak. Lalu mendapati Dian tak lagi ada di sampingnya.

Ali berdecak. Selalu saja begitu. Dian suka sekali menghilang tiba-tiba. Padahal, dirinya juga begitu. Ali terkekeh kecil saat mendapati sahabat sejak kecilnya itu berada di depan rak buku yang berisi buku-buku best seller. Mengamati dalam diam satu per satu buku-buku itu.

"Ngilang aja." Dian tersentak, lalu tersenyum saat Ali menyerahkan buku-buku yang tadi ia pilih.

"Jadi gimana?"

"Kayaknya lebih bagus Kimi No Nawa, deh. Eh, tapi nggak tahu, deh. Terserah kamu."

Dian tetap tersenyum. "Oke, berarti beli Kimi No Nawa aja. Pilihan kamu selalu bagus."

Ali mengangguk-angguk saja. Baru sadar jika selama ini, Dian memang membeli novel-novel yang menurutnya bagus. Pantas saja gadis itu selalu ingin dia yang menemaninya pergi ke toko buku. Tapi pergi bersama Dian juga sama menyenangkan. Gadis itu tidak pernah mengeluh saat berjalan dengan Ali. Padahal kalau dipikir-pikir, Ali itu jauh lebih ribet dibandingkan dia. Kadang, saat akan membayar buku yang ia pilih, Ali tiba-tiba berubah pikiran. Lalu kembali ke rak-rak buku yang ia sukai dan Dian tidak mengeluh sedikit pun.

"Masih mau keliling?" tanyanya.

Dian menggeleng. Padahal sebenarnya ia masih ingin memahami seluk beluk gramedia ini. Namun, Dian tak ingin Ali menunggu terlalu lama.

"Ya udah, kembaliin aja novel-novel yang tadi." Lagi, Dian mengangguk.

Entah mengapa Ali merasa Dian jauh lebih pendiam dari biasanya. Gadis itu memang masih terlihat ceria. Namun tidak secerah beberapa waktu lalu. Ali selalu merasa ada yang berbeda sejak berangkat tadi. Biasanya, Dian akan selalu bertindak energik saat pergi ke toko buku. Ke sana-kemari menyusuri berbagai macam rak buku tanpa lelah, dan Ali akan mengekorinya tanpa lelah juga. Tapi sekarang berbeda. Ali tidak melihat binar mata yang biasa ia lihat saat Dian pergi ke tempat favoritnya.

Ali tidak ingin memperkeruh suasana saat ini, jadi ia hanya mengekori Dian mengembalikan novel-novel itu lalu pergi ke kasir untuk membayar. Kali ini ia hanya membeli dua buah komik dan satu novel yang telah menjadi incarannya sejak lama. Dan Dian hanya membawa satu novel.

Setelah beberapa saat membayar, mereka berdua keluar. Ali mengajak Dian ke cafe. Ada yang ingin ia tanyakan sejak tadi dan Ali sudah tidak sabar ingin menanyakannya. Yang pasti, sedang ada yang menganggu pikiran Dian sekarang. Dan itu cukup mengganggu Ali sebagai teman dekatnya.

Ali dan Dian memesan minuman yang sama sejak tiba di cafe ini beberapa saat yang lalu. Sambil menunggu minuman mereka disajikan, Ali memutuskan untuk bertanya.

"Ada masalah?" katanya.

Dian tersentak. Kesekian kalinya cowok di depannya ini membuat Dian terkejut. Tapi Dian hanya diam saja. Ia paham apa yang akan Ali katakan. Cowok itu pasti bingung mengapa Dian tiba-tiba banyak diam tak seperti biasa. Dian sudah menyadarinya sejak Ali mengatakan jika ada masalah, Dian harus menceritakannya.

Sepertinya Dian memang harus jujur. Selama ini, ia diam. Tidak mengatakan pada siapapun tentang apa pun. Dian memilih untuk membungkam semua. Tapi pada remaja di depannya? Jelas Dian tak bisa. Selama ini, Ali lah yang banyak berjasa bagi hidupnya. Mengapa demikian? Karena Dian merasa hanya Ali yang mampu mengerti dirinya. Dian merasa Ali sangat memercayainya dan Dian harus melakukan hal yang sama. Setidaknya ada satu orang yang bisa ia tuju saat semua orang sibuk dengan masalah masing-masing. Dan orang itu adalah Ali.

Ali menatap Dian lurus. Menunggu gadis itu berbicara. Hingga pandangannya terputus lantaran minuman pesanan mereka telah tiba. Ali berbasa-basi sejenak lalu kembali menatap Dian serius.

"Kemungkinan besar aku dan Dean nggak satu sekolah lagi."

Hanya satu kalimat. Tapi berhasil membuat Ali terkejut. Terbukti dari bola matanya yang sedikit melebar dan bahunya yang bergetar. Tentu saja Ali terkejut. Selama ini, Dean dan Dian tidak bisa dipisahkan. Selama yang ia tahu, mereka sama-sama tak bisa berjauhan satu sama lain. Di mana ada Dian pasti ada Dean dan sebaliknya. Dan sekarang Dian mengatakan bahwa ia tidak akan satu sekolah dengan Dean. Itu berarti mereka berpisah, bukan?

Ali menatap lurus Dian yang saat ini menunduk. "Kenapa?" tanyanya.

Dian masih diam. Ia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya pada Ali secepat ini. Ali pasti tidak akan percaya. Dan ia juga terlalu takut membicarakannya dengan orang lain. Dian pikir, cukup dia yang tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Dan berpura-pura baik-baik saja adalah keputusan terbaik.

"Aku nggak bisa bilang alasan terbesarnya apa, tapi salah satu alasannya adalah aku mau mandiri. Selama ini aku merasa selalu bergantung sama Dean, selama ini aku terlalu bergantung sama orang tua dan aku mau setidaknya sekali saja belajar untuk mandiri. Dan mungkin caranya adalah dengan seperti ini."

"Sekolah asrama?"

Dian mengangguk. "Iya, maaf."

Ali tersenyum. Tak apa.

Meskipun Dian tidak mengatakannya dengan jelas apa alasan terbesarnya, Ali tetap menghargainya. Itu berarti ada sesuatu yang tidak boleh orang lain tahu, termasuk dirinya. Ali mencoba untuk memahami Dian. Ia tentu tak ingin berpisah dengan sahabatnya ini. Jujur saja, Ali berharap sampai kapan pun mereka akan terus bersama, meski jarang sekali berada dalam kelas yang sama setidaknya satu sekolah sudah cukup untuk Ali. Tapi ternyata takdir berkata lain, Dian tak menginginkan hal yang sama.

Sebagai sahabat yang baik Ali hanya bisa mendukung, bukan?

🍀🍀🍀

Madura, 051020

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top