CHAPTER V
Ada hening yang panjang setelah umpatan itu terlontar. Seperti, baik Bunga maupun Elang, tidak menyangka hal itu terjadi. Khususnya dari Bunga yang tidak pernah mengatakan hal seperti itu pada kekasihnya selama enam tahun mereka menjalin hubungan. Fakta bahwa Bunga mengatakan hal tersebut, membuat rasa bersalah tiba-tiba menyelinap di hati Bunga. Bunga kalah. Tidak seharusnya ia terbawa emosi, namun wanita waras mana yang bisa bersikap tenang setelah dicampakkan selama tiga bulan?
Maka, Bunga memilih langkah mundur. Ia membuka pintu mobil dan segera turun. Gerakannya begitu tangkas sampai Elang tidak sempat untuk mencegahnya. Bunga berjalan, bukan ke arah gedung pernikahan, tetapi ke arah gerbang di mana mobil-mobil tampak masuk ke area parkir.
"Bunga, tolong jangan begini."
Suara Elang terdengar beriringan dengan tiap langkah Bunga yang menjauh.
"Bunga, aku akan antar kamu pulang bila itu yang kamu mau."
Suara Elang seperti kaset rusak yang mengganggu.
"Bung—"
"Kamu ngerti rasanya jadi aku, Lang?"
Kali ini, Bunga berbalik, menatap kedua mata Elang dengan nyalang. Pikirannya berkabut, namun anehnya, Bunga bisa mengeluarkan semua emosinya dalam kata-kata seolah sebelumnya telah ia rangkai.
"Kamu nggak tau rasanya nunggu pesan. Kamu nggak tau rasanya bertanya-tanya apa yang salah dalam diri kamu. Kamu nggak tau rasanya merasa nggak berharga karena semua itu. Mana janji kamu kalo kita akan terus bersama? Mana janji kamu tentang rumah di mana kita hidup bersama-sama? Mana janji kamu, Lang?"
Seraya mengatakan semua hal itu, Bunga memukul pelan dada Elang. Air matanya yang sejak tadi tertahan, juga mengalir begitu saja. Suaranya begitu terdengar pilu, seolah telah kehilangan orang terkasih, atau selama ini, Bunga memang telah kehilangan, tapi selalu ia sangkal. Beberapa orang yang lewat melihat ke arah mereka, namun Bunga tidak peduli. Siapa yang harus peduli dengan semua itu di saat hatinya sekarang berdarah-darah?
"Jadi, tolong jangan tiba-tiba datang kembali ke hidup aku seolah nggak ada apa-apa, seolah nggak ada yang perlu kamu jelaskan, dan seolah—"
"Minggu depan aku ke Aceh."
Pukulan itu berhenti. Begitu pula isak Bunga.
Aceh?
"Tiga bulan yang lalu ada tes di kantor. Akan ada kantor cabang di Aceh. Mereka butuh posisi kepala manager. Aku ikut tes."
Dan diterima?
"Dan diterima," lanjut Elang.
Bunga menarik tangannya dari udara. Ia mundur beberapa langkah, namun gerakannya limbung, sehingga Elang segera menangkap bahunya.
"Bunga, aku minta maaf. Aku butuh posisi itu. Untuk aku. Untuk keluargaku."
Kepala Bunga terlalu berkabut. Semua hal aneh yang terjadi, kini bisa ia sambungkan titik-titiknya. Bunga pernah mengira ada perempuan lain, tetapi ia terlalu mempercayai Elang, sehingga tidak mungkin lelaki itu berpindah hati. Bunga selalu menang perkara perempuan lain, karena seperti Bunga, Elang juga begitu menggilainya. Namun, apakah Bunga bisa menang dari impian Elang? Dari keluarganya?
"Terus untuk aku?" tanya Bunga, parau, terluka. "Apa kamu memikirkan aku selama membuat keputusan itu? Apa kamu tidak berpikir untuk melibatkan aku di rencana masa depan kamu?"
Elang diam. Elang diam dan Bunga tahu jawabannya. Elang diam dan Bunga tahu ini akhir. Elang diam dan Bunga tahu kesimpulannya.
Bunga sudah tidak ada di dunia Elang. Mungkin, sudah sejak lama.
"Ini tuh artinya kamu akan menikah dengan aku atau enggak, Lang?" tanya Bunga, masih dengan bodohnya meminta penjelasan. "Aku perlu ke Aceh ikut dengan kamu, gitu? Meninggalkan semua karier aku di Jakarta? Kamu tau pekerjaan aku di sini. Mama di sini. Kamu tau itu."
"Aku tau."
"Terus gimana?"
Elang diam.
Kemudian hati Bunga remuk.
"Kita udah jalan enam tahun, Lang. Enam tahun." Bunga terkekeh singkat. Aneh sekali. Mengapa dia malah tertawa? "Aku memang nggak bisa menang dari keluargamu, ya, Lang? Oh, enggak. Jangankan menang. Aku bahkan nggak ada di dalam daftar hidup kamu, kan? Aku hanya sosok Bunga, seseorang yang pernah kamu sukai saat SMA, dan sampai sekarang tetap setia di samping kamu. Aku seseorang yang dengan gampangnya kamu ganti, kan?"
"Bunga, kamu nggak akan ngerti, karena kamu berasal dari keluarga yang berkecukupan."
"IYA!" seru Bunga, muak. "Iya, memang selalu itu yang jadi alasan kamu. Keluarga kita beda. Kamu dan beban yang kamu tanggung. Aku dan semua keegoisan aku. Aku yang nggak akan pernah ngerti kesulitan kamu. Tapi, seharusnya, kalau kamu tau kita beda, dari awal seharusnya kamu nggak usah mendekati aku. Nggak usah membuat aku menyukai kamu. Nggak usah menjadikan kondisi kamu sebagai alasan perlakuan kamu ke aku."
Elang diam.
"Kamu tau, Lang? Ayo putus."
Mata Elang kini melebar.
"Bunga—"
"Kamu berharap aku mau LDR? Setelah apa yang kamu lakukan ke aku selama tiga bulan ini? Kamu ngerti nggak perasaan aku gimana didiamkan selama itu?"
"Aku ... butuh waktu untuk berpikir sendiri, Bunga."
"Silakan berpikir sendiri untuk ke depannya. Dari awal memang kamu nggak ada niat untuk memikirkan hal ini bersama aku."
"Bunga," tegur Elang. "Ini yang bikin kita beda. Kamu selalu berpikir aku nggak memikirkan kamu, tapi selama tiga bulan itu, aku berpikir tentang kita. Tentang kamu. Tentang hubungan kita ke depannya."
Bunga menghela napas berat. Tangannya gemetar. Kakinya juga. Dan kepalanya? Kepalanya terasa ringan, seolah tidak sanggup memikirkan apa pun lagi.
"Lalu apa yang kamu dapat? Bahwa aku perlu menunggu kamu untuk kembali ke Jakarta? Itu pun kalau kamu kembali. Atau kamu berpikir bahwa aku akan ikut denganmu?"
Elang terdiam, cukup lama, hingga ia berkata. "Yang aku dapat adalah ... bahwa kita memang mungkin seharusnya berhenti di sini."
Brengsek.
***
Dari nakas tempat tidur, Bunga bisa melihat jam telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Usai subuh, Bunga naik kembali ke tempat tidur, masih bermukena. Bunga tidak memejamkan mata. Ia hanya ... melihat menit demi menit berlalu, dan dari menit demi menit tersebut, suara di kepalanya tidak juga berhenti mengusik. Seharusnya, Bunga sudah bangkit dari jam setengah enam, menuntaskan jogging paginya di sekeliling kompleks. Seharusnya, setelah itu, Bunga menyiapkan sarapan, sebelum akhirnya bergumul dengan laptopnya. Tapi, sejak tadi, Bunga hanya diam.
Kepalanya benar-benar berisik.
Jam tujuh lewat empat puluh dua menit, pintu kamar Bunga diketuk. Mama muncul dari balik pintu.
"Bunga sakit?"
Bunga mendongak sedikit. "Iya, Ma."
Bohong lagi.
"Mau dibeliin bubur sama Bi Dinah?"
"Boleh."
"Ya udah, nanti buburnya dianterin ke kamar, ya. Hari ini kamu istirahat aja."
"Iya, makasih, Ma."
"Oh, iya. Una tanya, hari ini kamu ada di rumah atau nggak? Una katanya sore sepulang kerja mau dateng."
Bunga melirik ponselnya yang ada di meja kerja. Ponsel itu masih mati. Padahal, Bunga ingin mengaktifkannya kembali hari Senin ini, tapi ia malah ... mengabaikannya. Bunga bisa membayangkan pesan yang berdatangan, tapi, sesaat ia juga berpikir, tidak ada yang begitu peduli padanya untuk mengirimkan pesan. Seperti seseorang yang tidak memedulikan Bunga di tengah keputusan besar yang orang itu ambil.
"Bunga?"
"Nggak dulu, Ma. Unga mau ... sendiri."
Kali ini, pintu terbuka lebih lebar, menampilkan Mama secara keseluruhan dengan daster berwarna cokelat cerah dan rambut yang sudah memutih digelung menjadi satu.
"Dari sepulang acara pernikahan Vira, Unga diam di kamar terus. Mama kira Unga kecapean jadi Mama biarin Unga istirahat kemarin. Ada apa? Apa kamu berantem sama Elang?"
Bunga sedikit berjengit mendengar nama itu. Namun, ia berhasil memasang senyum kecil ke arah Mama. "Nggak, Ma. Nggak ada berantem. Unga cuma beneran cape aja ... mungkin karena minggu kemarin banyak kerjaan juga."
"Bener?"
"Bener."
Bohong lagi.
Ada kelegaan di raut Mama walau hanya sedikit. "Ya udah ... tapi nanti kamu makan buburnya, ya. Mama kemarin ke rumah Tante Cika sama Papa, jadi nggak merhatiin kamu makan atau enggak di rumah. Kamu makan, kan?"
"Iya, aku makan kok."
Bohong lagi.
Mama pergi, meninggalkan Bunga kembali menatap jam di nakas tempat tidur. Masih dengan kepala berisiknya. Bunga tidak ingin turun dari tempat tidur. Bunga ingin ... ada di sini saja. Bunga ingin waktu berhenti. Namun sejak tadi, waktu terus bergulir, hingga akhirnya ketukan kembali terdengar di jam delapan lewat tujuh belas. Bi Dinah. Membawakan bubur. Menaruhnya di nakas. Membuat jam di nakas terhalang oleh mangkuk berisi bubur dan kerupuk di atasnya. Di sebelah mangkuk, gelas berisi teh hangat juga tersidang.
"Cepat sembuh, ya, Teh."
"Makasih, Bi."
Bi Dinah pergi. Bunga menatap bubur tersebut. Dari Sabtu malam, perut Bunga kosong, namun ... Bunga tidak ada keinginan untuk mengisinya dengan apa pun. Namun, Mama menyuruhnya makan, dan pasti Mama tau apakah Bunga menghabiskan makanannya atau tidak, maka Bunga meraih mangkuk tersebut, menyuap sesendok bubur ke dalam mulut.
Satu suapan itu ternyata mampu menimbulkan satu titik air mata di pelupuk mata kanan Bunga. Titik air mata yang terus mengalir seiring suapan demi suapan masuk ke dalam mulut dan menghangatkan perut.
Bunga berhenti makan di suapan ketujuh.
Ia sudah kenyang.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top