20 | good, good night
Digandeng ke kondangan orang tak dikenal sudah tak terhitung jumlahnya. Tapi dianggurin di kondangan orang tak dikenal, ini baru pertama kali bagi Mail.
Begitu tiba di hotel, Trinda langsung izin ke kamar Michelle. Katanya, semua teman-teman cewek mereka mau sleepover untuk terakhir kali sebelum Michelle resmi jadi istri orang.
Paginya, begitu kelar mandi dan makeup, pacar tercinta itu juga langsung ngacir sembari memberi pesan ke Mail supaya tidak lupa menyetrika ulang batiknya dan langsung ketemu di ballroom sesuai jadwal yang tertera di undangan.
Sempat terpikir untuk melewatkan acara akad dan baru akan nongol nanti saat resepsi. Tapi Mail tahan-tahan rasa kesalnya. Dia juga nggak mau kan, semisal lagi sibuk ngurusin nikahan sahabatnya, tapi Trinda malah mengemis-ngemis perhatian? Ntah sahabat yang mana lagi, Mail juga belum kepikiran mana yang masih bisa dianggap sahabat, sampai-sampai dia rela sok sibuk membantu nikahannya.
Jadilah meski malas setengah mati, selepas ditinggal Trinda, dia bangkit juga mengecek batik yang sudah dibongkar dari koper dan digantung di wardrobe. Tentu saja lecek. Bagusnya, Mail pernah jadi mahasiswa ber-budget bulanan terbatas yang nggak mampu laundry satuan. Jadi semua pakaiannya dicuci pakai laundry kiloan, hingga setiap mau menghadiri acara penting kudu setrika ulang sendiri biar bekas lipatan-lipatannya hilang.
~
"Kirain tidur lagi." Begitu memasuki venue akad yang tidak terlalu ramai, Trinda menyambut Mail dengan senyum dari ujung ke ujung wajahnya. Super cerah, seolah-olah dia yang lagi punya hajat.
Kalau tadi Subuh Mail biasa aja melihat makeup-nya dengan mata setengah mengantuk, maka sekarang dengan hairdo, kebaya, kain jarik, dan stiletto yang semuanya bernuansa nude, apalagi dengan penerangan plus dekorasi megah yang memenuhi venue, she looks one hundred percent different, as if she came out of a folktale.
"Manglingi nggak sih?" Perempuan itu bergelayut di lengan Mail sembari mengerling sahabatnya yang masuk digandeng ibu dan saudaranya.
Tapi cuy ... pandangan Mail nggak bisa beralih dari pacarnya itu. Cakep banget—anggun, bersahaja. Glamor, tapi tidak berlebihan, apalagi overshine the bride.
Terlihat dewasa dan bisa diandalkan. Sama sekali nggak ada tanda-tanda kalau ini adalah cewek yang ngambek kalau diingatkan skripsinya belum tersentuh selama setahun lamanya.
"Kamu kali yang manglingi, Babe." Mail sempat-sempatnya ngegombal, membuat wajah pacarnya yang sudah terpoles blush on jadi makin bersemu merah.
"Kalau belum siap ngehalalin, nggak usah muji-muji."
"Di mana korelasinya?"
"Ya ada, lah. Makin Mas nunjukin bucin terang-terangan, makin melambung tinggi harapanku supaya kita berjodoh." Trinda menjawab sok imut. Kalau nggak lagi di tempat umum, sudah Mail cium saking gemas.
Mendengar aba-aba dari MC bahwa acara akan segera dimulai, cewek itu segera menyeret pacarnya menuju ke deretan bangku yang strategis, lalu mengeluarkan ponsel dari clutch dan menyerahkan benda itu ke tripod hidup alias Mail.
"Ambilin video yang bagus ya, Mas. Potrait aja, buat Insta Story."
Jadi, seperti itulah tujuan Mail diajak kondangan. Buat jadi tripod.
~
Kelar akad, Trinda masih sibuk sendiri, karena memang acaranya nggak kelar-kelar sampai malam: undangan resepsi untuk tamu-tamu orang tua diadakan siang hari, sementara tamu kedua mempelai di malam hari.
Gobloknya, Mail ikut-ikutan standby dan mengiyakan semua permintaan pacarnya itu untuk memotret ke sana-ke sini, hingga acara benar-benar berakhir pukul sepuluh malam.
"Sorry. Habisnya udah lama nggak ketemu semuanya. Dan kebetulan lagi pada cakep-cakep semua, kan sayang kalau nggak foto bareng. Mas pasti capek banget, ya?" Ketika akhirnya mereka keluar ballroom untuk kembali ke kamar hotel, cewek itu mohon maaf. Bulu matanya yang lentik mengerjap-kerjap cantik ketika dia bicara. Sambil terus berjalan, kedua tangannya memeluk lengan Mail kuat-kuat, seolah khawatir Mail ngambek dan balik duluan ke Jakarta meninggalkannya.
Padahal mah, nggak mungkin Mail cabut begitu saja setelah jadi kacung seharian. Seenggaknya ... sisa malam ini serta esok hari harus jadi miliknya.
"It's okay. It's your bestfriend's day." Mail sok iye banget demi mendapatkan yang dimau. "Kalau posisinya dibalik, kayaknya kamu malah udah minta putus, deh. Masih mending kamu nggak jadi MC."
Ingat Mail jadi MC di nikahan masnya, Trinda meringis juga. "Sadar nggak sih, pas jadi MC di nikahan masku, Mas kelihatan charming abis?"
"Sadar dong. Kan emang sengaja tebar pesona. Kalau nggak, mana mungkin adiknya mempelai kepincut? Kondangan tuh bukan cuma buat ngasih amplop dan ucapan selamat ke yang punya hajat, tapi juga ajang cari jodoh buat yang belum punya jodoh."
"Ih, dasar."
Di dalam lift, Mail menanyakan hal lain. "Btw, aku nggak lihat Saga seharian."
"Ada kok, tadi ada pas foto bareng yang terakhir-terakhir. Emang kayaknya dateng pas malem doang."
Mail manggut-manggut.. Nggak excited. "Terus jadinya kemarin ke couple spa sama siapa?"
"Astaga, masih aja kepo."
"Siapa ih?" Mail gemes banget, nggak dijawab-jawab.
"Coba tebak?"
"Kalau bukan Saga, berarti siapa tuh temen kuliah yang naksir dan nyium kamu pas di puncak? Aaah, Revan?"
"Radin?" Trinda melotot. "Mas gila kali, masa aku pergi couple spa sama cowok! Mana nebaknya nggak pake cembokur pula!"
Mail terkekeh-kekeh. "Habis siapa dong? Iis, nggak mungkin."
See? He's very annoying.
Trinda bukannya pengen dicemburuin, atau diposesifin. Tapi Mail nih kelewat santuy! "Nggak usah kujawab, ah. Jawabannya nggak seru. Antiklimaks."
"Ih, siapa?? Astaghfirullah. Bikin orang penasaran, dosa lho."
"Dih, yang tadi nggak soljum nggak usah sok-sokan ngitungin dosa orang!"
"Lah? Oscar cepu. Kagak ya, mana ada nggak soljum? Biarpun subuh kadang masih kesiangan, soljum nggak pernah lewat. Kamu kira kantornya Nowness deket masjid biar apa? Biar inget akhirat, lah."
"Pret!"
"Astaghfirullah. Bisa-bisanya pacar sendiri nggak dipercaya."
~
Mail maunya malam ini genre mereka 21+, tapi kelar mandi Trinda malah ngajakin ngobrol. Tok. Dengan pakaian lengkap. Tanpa kontak fisik sama sekali. Sambil sender-senderan di sofa pun enggak!
"Weekend getaway macam apa ini?" Mail ngedumel sembari menuang teh panas ke cangkir.
Trinda bilang, nggak boleh mabok dan nggak boleh ngopi biar malem ini bisa tidur nyenyak setelah capek berdiri seharian. Innallaha ma'ashobirin.
Trindanya cengengesan. Malah masih mengungkit-ungkit obrolan yang sempat terputus tadi. "Tapi pas di Magelang subuhannya nggak telat, kan, Mas?"
Mail meneguk tehnya sampai setengah cangkir, mengabaikan sensasi terbakar di lidah. "Enggak lah, kan nggak bisa tidur. Jadi subuh masih kebangun."
"Hahaha. Kasian banget." Trinda mengulurkan tangan untuk mengacak-acak rambut pacarnya, padahal itu tugas Mail, karena cowok mana yang demen rambutnya diacak-acak?? "Terus Ibu bilang apa?"
"Ini wawancara apa gimana sih? Kayak nggak ada hari lain aja."
"Mas!"
"Tunggu project Bali kelar. Tunggu kamu lulus. Puas?"
"Ish." Kening Trinda berkerut-kerut mendengar jawabannya, kelihatan mau protes keras.
Mail melanjutkan dengan terpaksa. "Kalau nggak ada kendala, semester ini harusnya udah beres dua-duanya, ya kan? Paling lama, setahun. You'll be 21, and that's not much different from now. Masih tetep kawin muda judulnya."
"Maaas." Trinda mulai rewel. "Aku aja deh yang bujuk Bapak-Ibu, oke?"
"No." Tentu saja Mail menolak mentah-mentah ide buruk itu. "Aku sepakat kok sama ibumu. Lagian kalau setelah aku iyain, terus kamu ke sana tiba-tiba protes, mukaku mau ditaruh di mana? Seenggaknya biarin aku kelihatan bertanggung jawab dengan mastiin kamu lulus dulu sebelum minta restu lagi, lah."
It's a non negotiable.
Trinda mendengus pelan, tapi nggak bisa mendebat.
Selama beberapa saat, cewek itu merenung. "Kenapa harus skripsi, sih? Aku bisa gantiin Mbak Iis di Relevent tanpa harus lulus kuliah—atau bahkan bikin usaha sendiri. Going to college is one of the decisions I regret. I'm not even sure if I'll ever be able to complete my undergraduate thesis."
"Menyesal bukan berarti bisa bebas dari tanggung jawab, right?" Nggak kuat menahan kesal karena harus ngotot-ngototan membahas topik ini, Mail meraih pinggang pacarnya dan menyeretnya mendekat biar bisa dia rangkul. At least he could bear to talk about boring topics in this position all night. "Jangan sampai kata-katamu ini nanti diputer balik sama ibumu untuk nolak ngasih restu. Kalau dia nanya, 'Gimana semisal nanti kita ribut dan kemudian kamu bilang menyesal nikah?' Kan mending nggak usah dikasih restu sekalian biar meminimalisasi kemungkinan adanya penyesalan?"
"Nggak gitu, dong, Mas."
"It's a different case, but still the same. Anggeplah ngerjain skripsi sama kayak belajar ngadepin konflik pranikah, biar nanti pas udah nikah makin lancar ngadepin semua masalah. Aku bantuin. I promise."
Trinda masih saja sangsi. Bikin Mail banyak-banyak istighfar.
Sebenernya susahnya ngerjain skripsi tuh di mana, sih? Padahal kalau nggak punya ide judul dan nggak percaya sama Mail, tinggal ikut penelitian dosen, dijamin dapat nilai A.
Lagian, bukannya lebih susah ngerjain project Relevent? Bikin bikin konsep acara itu sama kayak bikin proposal. Presentasi ke klien sama kayak Sempro. Persiapan-hari H-pasca acara sama kayak penelitian. Bikin laporan sama kayak nulis skripsinya. It's just the same, Trinda, IT'S JUST FUCKIN THE SAME.
Sekian lama terdiam, akhirnya Trinda mengangguk juga—sampai-sampai Mail mau sujud syukur. "Senin aku coba ke kampus, deh. Eh, Selasa aja."
Mail balas mengangguk supportive. "Good."
Dia kecup pelipis perempuan kesayangannya itu. Dia peluk lebih erat.
Sudah cukup obrolan malam ini.
Biarlah nggak perlu dia ceritakan bagaimana Bude Hari sebenarnya jelas enggan menerimanya jadi calon mantu.
Sambil menunggu dua syarat tadi terpenuhi, akan dia buktikan kalau dia dan Trinda betul-betul serius.
Dan abis tu ni pasangan penuh dosa naena ampe besok sore.
Ada yang mao ngintip? Ntar w bikinin di karyakarsa.
A. Jangan thor, bertaubatlah.
B. Gpp, yang anget-anget aja, jangan terlalu panas. Kesian yang masi di bawah umur.
C. Yang panasss pol dong, jangan nanggung2. Staycation terakhir sebelom halal nih. [mana gatau halalnya tahun depan apa kapan, keburu balik jadi perjaka lagi si mael :(]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top