Bab 17

Halo apa kabare?

Jangan lupa vote abis baca :)
______________________________

Hari yang di nanti-nanti akhirnya tiba. Pagi ini sudah banyak siswa yang datang ke sekolah dengan celana olahraga dan baju kaos orange yang berlogo nama sekolah Galaksi high school. Sekolah ini memang menyediakan baju khusus untuk acara sekolah seperti saat ini, yang bertujuan agar semua siswa terlihat kompak. Kecuali yang mengikuti lomba olahraga.

Karena hari ini acara istimewa sekolah dan baru hari pertama. Maka para siswa di minta untuk berkumpul di lapangan dan mendengarkan sedikit kata sambutan dan pidato dari bapak kepala sekolah juga pembacaan doa lalu pemotongan kue ulang tahun.

Setelah kegiatan itu selesai di lanjutkan dengan perlepasan beberapa balon warna-warni. Semua siswa bersorak gembira sambil bernyanyi lagu selamat ulang tahun begitu lantang dan dilanjutkan lagu mars galaksi high school. Lagu yang di buat oleh anak-anak galaksi untuk sekolahnya.

Siswa dari kelas XI IPS sangatlah heboh, sebab mereka bernyanyi seperti berteriak. Kehebohan itu tentu saja di pimpin oleh kepala tukulnya yang sedang di gendong dua orang temannya. Siapa lagi kalau bukan Lucas yang membuat para guru serta teman lainnya terheran-heran dengan tingkah Lucas yang aneh. Cowok itu duduk dengan anteng sambil memperlihatkan gaya sok cool yang dapat menarik histeris kaum hawa.

"Ya ampun itu Lucas ganteng-ganteng alay banget ternyata," celetuk Nara yang berdiri di bawah pohon untuk berteduh dari terik matahari.

"Biasalah, namanya juga Lucas. Di kasi tau gak bakal nyadar kalo dirinya termasuk salah satu spesies cowok alay." Ucap Yuqi.

"Gak heran sih kalo Achi ngatain dia narsis," sahut Ata ikut-ikutan. Pernyataan itu membuat yang lain ikut tertawa. Seru sekali menggibah salah satu most wanted di sekolah. :')

"Oh iya, Achi kemana? Kok ngilang," ujar Nara.

"Tadi sih ada baris di belakang gue, sekarang, I don't know." Ucap Yuqi sambil menggeleng.

"Mungkin dia sibuk, kan dia anak Osis." Jawab Ata.

Ketiga gadis itu mengangguk lalu duduk di salah satu kursi panjang di pinggir lapangan sambil melihat-lihat para osis yang sibuk menyiapkan panggung untuk acara selanjutnya.

"Eh, Nar gue baru inget lo kan udah gabung sama band Neo Culture ya? Ngapain lo disini, gak siap-siap?" pertanyaan Yuqi sontak membuat Nara menepuk jidat.

"Aduh! Untung lo ngingatin, ke asyikan nyantai disini sih, yaudah deh gue duluan ya guys. Babay!" Nara buru-buru pergi menuju ruang band. Membuat teman-temannya hanya bisa menggeleng heran.

°•°•°•°•°•°

"Lo dari mana sih, Nar?" tanya Rafael ketika Nara baru datang dengan ngos-ngosan.

"Duh! Sorry bang, gue kelupaan, jadi tadi keasyikan ngumpul sama temen."

Rafael menyentil kening Nara pelan. "Makanya hape lo di bawa jangan di tinggalkan dalam kelas."

Nara berdiri tegak, menatap Rafa dengan wajah panik. "Oh iya hape gue masih di kelas!"

Setelah itu Nara hendak pergi ke kelasnya namun urung karena Rafa menariknya kembali.

"Mau kemana lagi?"

"Kelaslah ambil hape. Entar keburu di colong orang, mana banyak file-file penting dalam hape gue."

"Gak perlu, hapenya udah sama gue." Ucap Rafael sambil mengeluarkan Hp Nara dari saku celananya.

"Loh kok??"

"Dari tadi gue nelpon lo tapi gak angkat sampe gue susul ke kelas rupanya cuman ada dering hape lo di dalam laci."

"Astaga!! Thanks banget bang Rafa!" Nara langsung mengambil hp-nya dan memeluk Hp tersebut seperti teman hidupnya saja.

Rafael berdecak, "bisa-bisanya barang berharga lo tinggal dalam kelas. Udah hilang barulah nangis-nangis!"

"Hehe namanya juga lupa," kata Nara sambil nyengir.

"Dasar ceroboh, buruan siap-siap gak lama lagi kita nampil."

"Asyiapp!"

Tak lama kemudian semuanya bersiap dengan peralatan mereka masing-masing. Sebelumnya mereka sudah latihan agar tak gerogi saat naik ke atas panggung. Terutama Nara yang merupakan vokalis band, pengalaman baru untuknya bernyanyi di tonton satu sekolah.

Hingga tiba saatnya MC memanggil anak-anak band Neo Culture untuk naik ke atas panggung. Membuat semua orang bersorak menunggu mereka.

"Nah ini saat nya kita tampilkan
band kita, Neo Culture!" Ucap seorang Mc yang sudah banyak di kenali satu sekolah. Siapa lagi kalau bukan Achi, bersama adik kelasnya di samping, salah satu anggota osis juga.

Semuanya bertepuk tangan dan bersorak gembira menunggu anak band Neo naik panggung. Dan saat anak band sudah naik sorakan semakin berisik dan ramai. Sampai-sampai suara Achi di abaikan mereka. Jelas, karena anggota band rata-rata serbuk berlian. Salah satunya Arkan dan Rafael.

°•°•°•°•°

"Perhatian semuanya! Kalau kalian masih berisik anak band gak akan nyanyi!" Ucap Achi sambil berkacak pinggang.

Semuanya menatap Achi dengan sinis dan tajam. Namun Achi sama sekali tidak peduli tatapan mereka. Toh ini tugasnya untuk jadi Mc yang bijak dan tegas.

"Namanya juga acara Ci, wajar kalo berisik!" sahut salah seorang siswi yang seangkatan dengan Achi.

"Iya tuhh,"

"Nah bener, gimana sih lo."

Hingga sahutan yang lain juga ikut-ikutan. Membuat Mc menghela nafas lelah. Achi melirik adik kelasnya yang bernama Yulli. Sepertinya dia baru pertama kali jadi Mc dan bingung harus mengatakan apa lagi.

Achi menghela nafas lagi, dan bergumam, "bener-bener deh."

"Kalian boleh teriak atau heboh sepuasnya, tapi jangan kelewatan. Gue dapet laporan dari pak Rio kalau suara kalian sampe ke jalan raya sana." Jelas Achi sambil mengangkat telunjuknya.

"Iya benar, nanti yang di tegur Osis, jadi kalian santai aja ya jangan teriak-teriak berlebihan kayak tadi. Suara kak Achi aja sampe terabaikan tadi." Ucap Yulli.

Semuanya mulai diam dan saling bisik-bisik, kemudian beberapa suara saling bersahutan.

"Oke deh kita minta maaf, lanjut dong!"

"Iya lanjut bu Mc! Gak sabarrr."

"Benerr! Janji gak heboh kayak tadi."

"Denger tuh yang lain, terutama buat para ciwi-ciwi! Suara kalian tuh yang paling berisik. Telinga gue ampe sakit dengernya." Ucap Lucas dan langsung di pelototi para cewek.

"Huhhh sadar diri Cas!"

"Tau tuh, padahal dia juga heboh tadi!"

"Huhhhh"

"Udah udah woi! Ini kapan mulainya kalau bacot mulu." Ucap Achi menenangkan.

"Oke langsung saja kita saksikan penampilan dari band ter-hits di sekolah ini," ujar Yuli.

"Neo culture!" Ucap Achi dan Yulli. Kemudian mereka turun ke bawah.

Kini semuanya kembali heboh, tapi tidak seperti awal-awal, mereka memekik tertahan melihat dua orang vokali yang maju ke depan dan di susul pemain musik lainnya.

"Anjir vokalisnya Nara sama bang Arkan?" tanya Yuqi.

"Baru tau lo?" balas Ata.

Yuqi menggaruk tengkuknya, "gue pikir Nara jadi gitarisnya."

"Makin klepek-klepek si Nara, soalnya partner dia mas crush." Ucap Dita, tersenyum.

Jreng....

Nara menghela nafasnya kemudian melirik cowok yang di sebelahnya tengah duduk bersama gitarnya dan mic yang berada di hadapan cowok itu. Berbeda dengan Nara yang hanya memegang mic.

Di atas bumi ini ku berpijak
pada jiwa yang tenang di hariku
tak pernah ada duka yang terlintas
ku bahagia...

Nara menyanyikan lirik demi lirik lagu yang di bawakan nya.

Ingin ku lukis semua hidup ini
dengan cinta dan cita yang terindah
masa muda yang tak pernah kan mendung
ku bahagia....

Sorakan mulai terdengar, semua orang yang berada di tengah lapangan ikut bernyanyi sambil melambaikan tangan.

Saat giliran bagian Arkan, suara histeris para cewek mulai kerasa. Sampai-sampai ada yang dorong-dorongan. Dan disitulah peran anggota Osis untuk menangani siswa siswi yang tidak teratur.

Dalam hidup ini
arungi semua cerita indahku
saat-saat remaja yang terindah
tak bisa terulang

ku ingin nikmati
segala jalan yang ada dihadapku
kan kutanamkan cinta tuk kasihku
agar ku bahagia....

Suara Arkan yang begitu khas dan enak di dengar itu mengundang pekik histeris para siswi, baik yang kelas 10, 11 maupun kelas 12, mereka semua sangat heboh.

"Setdah tuh cewek-cewek pada gak nyadar apa suara mereka cempreng semua. Pake teriak-teriak segala." Ucap Ecan yang duduk di bangku dengan pepohonan, di pinggir lapangan.

"Biasalah, para betina suka gak waras kalo liat cogan. Apalagi si Arkan, siapa sih yang gak kenal dan gak kagum sama ketampanan dia? makin gila tuh betina histerisnya," ujar cowok di samping Ecan yang tak lain adalah Doyon—abang kandungnya.

"Gue aja demen liat Arkan kalau lagi nyanyi sambil main gitar damage nya bukan main euy!" Sahut cowok bernama Hendry.

Plak! Sontak Doyon menempeleng kepala Hendry tanpa perasaan. Membuat sang empunya kesal sambil mengoceh pada Doyon.

"Ingat gender woi!" Ucap Doyon.

"Sialan! Kalo mau nabok tuh kode dikit napa!"

"Lo duluan yang ngode minta di tabok." Balas Doyon.

Ecan geleng-geleng melihat tingkah kedua kakelnya itu. Padahal umur mereka lebih tua tapi bertingkah kekanak-kanakan di depan para adik kelasnya.

"Stress lo bang." Celeguk Ecan.

"Masih gantengan gue kemana-mana," ujar Ecan kemudian beranjak dari tempatnya.

"Pede banget tuh anak." Ucap Doyon sinis.

"Adek lo Doy, pasti turunan dari lo juga." Cibir Hendry dan langsung di tempeleng lagi oleh Doyon.

"Ini kepala buka samsak anjir!!" Geram Hendry.

~~~
Bersambung

Terimakasih udah baca!


❤️

Baca doang tapi follow kagak! Ayok follow author dulu sayangku~

Biar gak ketinggalan update-an hehe

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top