Prolog
“Kak Haiyan! Jangan main-main!”
Tawa puas si pengganggu menyusul teriakan Naya. Sembari tetap menancapkan tatapan kesal pada laki-laki di depannya, Naya menyibak selimut tebal yang membungkus tubuhnya seperti mumi. Mau memberi perhatian dalam bentuk apa pun, Haiyan tidak akan melupakan bumbu ledekan seperti yang dia lakukan sekarang pada Naya.
“Hadap sana!” perintah Haiyan setelah kekehannya mereda.
Dia mendorong pelan bahu Naya, mengarahkannya supaya duduk memberikan punggung. Setelah menyodorkan secangkir teh hangat, yang langsung Naya terima dengan kedua tangan, Haiyan meraih handuk kecil yang tersampir di lengan sofa. Tanpa mengucap izin, Haiyan mulai mengeringkan rambut Naya penuh kehatian-hatian.
Awalnya tidak ada kecanggungan berarti yang gadis itu tunjukkan melalui bahasa tubuh, seolah sudah terbiasa dengan tindak-tanduk Haiyan serupa ini. Sambil menyesap minuman, Naya tanpa sengaja menangkap samar-samar pantulan bayangan di kaca jendela. Adik-adik Haiyan perlahan mundur menjauh. Kasak-kusuk ketiganya tidak begitu jelas terdengar, tetapi Naya tahu mereka tengah menggunjingkan keakraban Naya dan Haiyan.
Seketika Naya merasakan kehangatan tidak hanya dari teh yang dia cecap. Hangat kali ini berbeda, terasa di dada dan menjalar membentuk pusaran ke perut. Tanpa bisa mencegah, percakapan minggu lalu menggema dalam benak. Sejujurnya, Naya akhir-akhir ini susah tidur karena terus memikirkan ucapan Haiyan berikut: “Kamu mau kita jadi apa? Aku nggak mau kita pacaran kalau ujung-ujungnya putus, kecuali kamu mau mutusin aku untuk dijadikan suami. So, I’ll leave it up to you.”
Naya berani bersumpah. Dia menanyakan kejelasan status mereka semata-mata untuk memenuhi rasa penasaran. Banyak sekali penggemar dari channel Youtube Haiyan yang salah paham dengan kedekatan mereka. Kalau Haiyan tidak meninggalkan jawaban ambigu seperti itu, sampai sekarang pun Naya akan terus memandang Haiyan sebatas sahabat kakaknya. Tidak kurang, tidak lebih.
“Kok, nggak habis? Kurang manis, ya?” Sekonyong-konyong Haiyan merebut minuman Naya dan menyesapnya.
Naya nyaris melotot. Dia manatap nyalang pinggiran gelas yang tadi menempel di bibirnya, kini ganti menempel di bibir Haiyan. Sejak dulu mereka terbiasa saling tukar minuman, bahkan memakai sedotan yang sama. Mengapa hari ini Naya justru menganggapnya sebagai sebuah hal yang tak wajar? Apakah ada perasaan lain yang tumbuh dalam hati tanpa sepengetahuan Naya?
“Manis. Enak.” Haiyan berkomentar riang, masih tidak menyadari perubahan air muka Naya. Laki-laki itu justru terkekeh melihat ke dalam gelas. “Tinggal sedikit. Nanti aku bikin lagi.”
Naya menahan batuk kecil, lantas menyambar gelasnya. Dia berusaha menutupi kegugupan dengan merajut obrolan santai. “Tadi adik-adik Kak Haiyan kelihatan kaget lihat aku datang ke rumah ini. Memang selama ini Kak Haiyan nggak pernah bawa cewek ke rumah?”
“Nggak pernah.”
“Berarti nggak pernah pacaran?” pekik Naya keheranan seraya menoleh cepat.
Haiyan tenang sekali saat mendorong pipi Naya pakai telunjuk supaya kembali menghadap depan. Dia lanjut mengeringkan ujung-ujung rambut Naya. “Aku dekat doang sama cewek. Pacarannya justru pas masih zaman cinta monyet, SMP.”
Naya manggut-manggut. “Terakhir sama kakak senior itu, kan? Ratna? Kak Nana?” Area di antara kedua alis Naya berkerut tanda sedang mengingat keras. “Waktu kuliah, Kak Haiyan pernah nangis bombai gara-gara ditolak.”
“Iya, sama yang itu. Setelahnya, aku fokus kerja dan kuliah.”
Naya lagi-lagi tercenung. Dia adalah saksi mata kejadian Haiyan menangisi kisah cinta yang kandas. Sejauh pengetahuan Naya, Haiyan lebih sering tertawa daripada menangis. Betapa beruntungnya perempuan yang bisa membuat Haiyan terpuruk begitu. Dengan kata lain, perempuan itu benar-benar membekas di hati Haiyan.
Apakah suatu saat nanti Haiyan akan menangis sekeras itu untuk Naya? Ah, Naya tidak bisa berandai-andai. Untuk saat ini, mengetahui isi hati Haiyan yang sesungguhnya jauh lebih penting ketimbang merajut mimpi yang belum pasti.
“Tipe cewek kesukaan Kak Haiyan yang lebih tua, ya?” tembak Naya setelah mengumpulkan segenap keberanian.
“Iya.” Haiyan segera menahan kepala Naya supaya tidak menoleh untuk kedua kalinya. Belum sempat Naya menyerukan rasa ingin tahu, Haiyan keburu bicara, “Aku selalu cari yang lebih tua biar bisa manja-manjaan. Kamu tahu sendiri, aku anak pertama. Kadang aku kepingin ada seseorang yang bisa bikin aku merasa dituntun. Aku bisa istirahat dulu bersikap dewasa. Tapi, sebenarnya, sebagai cowok, aku juga suka dijadikan sandaran.”
Naya ingin sekali mengobrol sambil bertatapan. Namun, kali ini dia tidak berani bertindak demikian. Naya khawatir reaksi hatinya yang sedikit retak tertangkap mata awas Haiyan.
“Terus? Belum ketemu yang tepat?”
Haiyan mengangguk, meski Naya tidak melihatnya. “Iya, sih, aku dimanja kayak seorang adik, tapi malah jadi diremehkan juga. Paling parah sama Kak Nana. Aku sudah berharap lama, sampai bantu dia mengerjakan skripsi. Eh, ujung-ujungnya dicampakkan.”
Naya tertawa lega mendengar jawaban santai Haiyan. Dia berganti haluan, jadi duduk bersila berhadapan. Tangan kanannya terulur menepuk kepala Haiyan layaknya seseorang yang lebih tua.
“Cie! Kasihan banget nasibnya. Pantas saja para adik sampai heboh begitu.”
Haiyan terdiam. Sorot matanya melembut. Haiyan sama sekali tidak keberatan Naya bertindak sedikit tak sopan dengan menyentuh kepalanya tanpa izin.
“Aku sadar, umur itu cuma masalah angka,” balas Haiyan.
Naya menarik tangan ke pangkuan dan tersenyum. “Iya, cuma angka. Ada yang sudah tua, tapi kekanak-kanakan. Paling enak, sih, dapat pasangan yang benar-benar nyaman. Bisa saling manja, bisa saling menuntun.”
“Kayaknya sekarang aku sudah ketemu.”
Naya seketika terdiam. Dia memilih merapatkan kedua tangannya pada permukaan gelas keramik. Gadis itu sengaja menyesap isinya perlahan sampai habis, seraya menenangkan diri. Namun, Haiyan malah ikutan diam.
“Kak Haiyan suka sama aku?” tanya Naya pada akhirnya.
Kelopak mata Haiyan berkedut sepersekian detik. Dia sedikit kaget, tetapi juga sudah menduga cepat atau lambat pembicaraan ini akan terjadi. “Kalau aku jawab jujur, bagaimana?”
“Kenapa nggak mau jawab jujur?”
“Kalau aku jawab jujur, takutnya hubungan kita rusak.”
“Rusak?” Naya menelengkan kepala, lalu mengangkat bahu. Gadis itu sengaja bicara berputar. “Bukannya justru berkembang?”
Alis Haiyan menyatu. Keningnya berkerut. Pria itu masih tidak bersuara.
“Nggak masalah kalau Kak Haiyan nggak mau jawab.” Naya meletakkan gelas ke meja. Wajahnya telah benar-benar memerah. Keberaniannya untuk bertanya duluan tersia-siakan oleh tanggapan Haiyan yang tidak jelas. “Aku pulang saja.”
“Tunggu!” cegah Haiyan seraya menahan pergelangan tangan Naya. “Berkembang? Maksudnya?”
“Ya … berkembang,” sahut Naya gemas. Dia sebenarnya jengah. Demi menjaga harga diri dan suasana, Naya melontarkan lelucon khas Haiyan. “Otak Kak Haiyan menciut, nih! Nanti aku bikinin resep vita–”
“Kamu suka sama aku?”
Naya memutar bola mata. Rasanya dia ingin sekali menangis karena malu.
“Perlu aku perjelas? Okay, today is our first day. Kalau Kak Haiyan nggak mau pacaran, aku putusin sekarang. Terus, Kak Haiyan bakal jadi suami aku.”
Haiyan menutup separuh wajah dengan tangan kiri, kemudian tertawa-tawa. Naya yang menyaksikannya kebingungan. Apa yang lucu? Tidak tahukah Haiyan saat ini Naya tengah mempersiapkan hati apabila perasaannya tertolak?
Sebelum Naya sempat merajuk, Haiyan tiba-tiba menyampirkan handuk hingga menutupi muka Naya. Pria berkulit sawo matang itu hanya menyisakan bagian bibir Naya yang masih terbuka. Namun, Naya melancarkan protes. Dia tidak bisa melihat. Dia ingin menarik lepas handuk dari atas kepala, tetapi Haiyan menahan tangannya.
“Bodoh,” rutuk Haiyan setengah berbisik.
Saat penglihatan Naya dihalangi, indra lainnya bekerja lebih keras sebagai efek kompensasi. Naya merasakan dua jari Haiyan menempel di bibirnya. Tak lama kemudian, deru napas Haiyan menerpa wajahnya. Ada tekanan tambahan di bibir Naya.
Di balik handuk, Naya membeliak. Gadis itu sadar Haiyan baru saja mencium bibirnya dengan pembatas jari telunjuk dan jari tengah. Jantung Naya hampir meledak mendengar bisikan Haiyan berikutnya.
“Ayo kita menikah!”
Luar biasa! Haiyan benar-benar melamarnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top