Bab 7 - Overthinking
POV RANGGA
Beberapa minggu berlalu setelah perkenalan saya dengan Aira. Semuanya berjalan dengan sangat baik. Kami semakin dekat. Tak jarang menghabiskan waktu bersama di sela tugas untuk sekadar makan siang bersama, atau dinner dilanjut nonton saat weekend.
Jujur saja saya merasakan kenyamanan saat bersama Aira, satu-satunya wanita yang saya kenal dekat di kota ini. Hari ini saya mendapat jadwal untuk patroli di sekitar jalan Arjuno, Sawahan, tak jauh dari pengadilan negeri Surabaya, di mana Aira sedang mengikuti sebuah sidang kasus pembunuhan salah satu karyawan perusahaan ternama di kota ini.
Wayan Rangga G. Daffa:
Ra, kamu selesai jam berapa?
Aira Anjani:
Kayanya sore, deh. Ini belum kelar sidang. Aku lanjut ikutin sidangnya dulu, ya. Nanti aku kabari kalau sudah selesai. See you.
Wayan Rangga G. Daffa:
Okey. Semangat, ya.
Aira Anjani:
Thank you, Rangga. Kamu juga semangat jaganya.
Selama ini, Aira cukup fast respons membalas pesan atau menghubungi saya. Itu membuat saya merasa sangat dihargai. Namun, ada ketakutan terbesar di hati ini kalau sampai apa yang saya takutkan benar-benar kembali terjadi.
Aira yang sedang sibuk dengan sidangnya, membuat saya mengurungkan niat untuk memintanya bertemu, dan justru kembali ke markas.
Sesampainya di sana, sudah beberapa orang yang juga berseragam sama dengan saya, warna cokelat muda dan tua untuk celana dilengkapi ikat pinggang hitam berlogo tribata. Tak lupa, saya pun meletakkan sebuah senjata laras panjang yang biasa saya gunakan untuk patroli di tempat khusus. Awalnya saya begitu senang mendapat kesempatan memegang senjata, tetapi makin ke sini rasanya semakin ribet karena harus membawanya ke mana pun.
Beberapa teman sedang melakukan live streaming di aplikasi Tiktok, ada juga yang sedang makan siang, nongkrong di bawah pohon sambil mengobrol banyak hal, dan sisanya sibuk menghubungi pasangan masing-masing.
Tiba-tiba seseorang menghampiri saya, memberikan sebuah plastik berisi makanan lengkap dengan minumannya. Rasanya cukup aneh, karena belum pernah jatah makan harian berupa makanan siap saji dari restoran ternama.
“Wah, tumben nih, enak ....”
“Itu tadi ada yang ojek online yang antar. Katanya dari Aira,” ucap teman saya.
“Oh, oke, thank you, Rick.”
“Yoi.”
Setelah Rick kembali, saya langsung mengambil ponsel yang saya letakkan di salah satu saku celana dan langsung mengirimi Aira sebuah pesan singkat.
Wayan Rangga G. Daffa:
Thank you makan siangnya. Kamu jangan lupa makan ya.
Pesan tersebut belum terbaca sama sekali hingga malam tiba. Kesal sekaligus penasaran, kenapa Aira belum juga membuka pesan dari saya? Karena ini baru pertama kalinya dia mengacuhkan saya.
Merasa jenuh, saya pun menghabiskan waktu dengan mengobrol dan menyanyi bersama beberapa teman yang memang mahir bermain gitar. Namun, di tengah keramaian ini, pikiran saya tak sekali pun lepas dari sosok wanita yang pesannya selalu saya cek tiap beberapa menit sekali.
Jam tangan menunjukkan waktu pukul sebelas malam, tetapi pesan yang saya kirim belum juga dibuka. Jempol terasa gatal, ingin sekali memencet tombol panggilan suara, tetapi entah apa yang membuat hati ini mencegahnya dan berakhir overthinking.
Kamu di mana, Ra? Apa kamu belum pulang? Atau kamu sedang bersama orang lain? Atau justru ada kendala dalam pekerjaan? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak, hingga akhirnya meruntuhkan pertahanan saya dan kembali mengirim pesan pada wanita itu.
Wayan Rangga G. Daffa:
Ra, kamu belum pulang? Apa terjadi masalah?
Malam makin larut. Suara teman yang sedang asyik mengobrol dan bernyanyi, sekarang sudah mulai senyap, berganti dengkuran halus bersahutan dengan suara nyamuk. Namun, belum juga ada tanda-tanda wanita yang lebih cantik dengan poni itu online. Mungkin dia benar-benar ada masalah dalam pekerjaan ... atau pria brengsek yang mengkhianatinya kembali? Mereka ada di apartemen?
Mata yang berusaha saya pejamkan, kembali terbuka lebar. Mengingat kejadian pertemuan pertama saya dengan mantan pacarnya sungguh membuat hati ini kembali kacau.
Tak ingin buang-buang waktu, saya pun langsung menelepon Aira, tetapi belum juga ada jawaban. Ingin sekali rasanya saya menghampiri dia ke apartemen malam ini juga. Namun, ini masih dalam tugas. Tidak mungkin saya meninggalkan tugas begitu saja demi wanita.
Sepertinya tidur akan membuat pikiran saya lebih tenang. Sebelum itu, saya menonaktifkan ponsel terlebih dulu, menghindari keinginan terus mengecek pesan dari Aira.
Malam ini sepertinya memang harus berakhir tanpa kabar darinya.
Mata ini berusaha terus terpejam walaupun pikiran tetap entah ke mana, hingga akhirnya fajar menyambut. Seperti biasa, saya akan bangun sebelum azan subuh berkumandang untuk bersiap melaksanakan ibadah.
Sekitar pukul lima pagi, saya kembali menyalakan ponsel, tak banyak berharap apakah Aira akan membalas pesan. Asal centang pesan yang sudah saya kirim berubah warna, sepertinya hati ini bisa sedikit lebih lega.
Begitu ponsel menyala, beberapa notifikasi masuk secara bersamaan. Beberapa dari orang tua yang ada di seberang pulau, mengingatkan saya untuk salat subuh seperti biasanya. Beberapa dari orang yang entah saya kenal di mana, dan satu pesan dari Aira.
Aira Anjani:
Maaf Rangga, kemarin aku capek banget. Begitu sampai di apartemen, langsung tidur. Lupa ganti mode silent juga.
Pesan itu dikirim beberapa menit yang lalu, yang sontak saja membuat saya mengulas sebuah senyuman. Namun, rasanya asyik juga kalau tidak langsung membalas pesannya. Ingin tahu, bagaimana reaksi wanita manis ini saat saya tidak membalas pesannya.
Saya mengalihkan perhatian dengan menghubungi ibu saya yang ada di pulau Dewata. Beberapa kali mencoba menghubunginya, tetapi belum juga diresponsnya. Mungkin sekarang beliau sedang ada di pasar, membeli bahan-bahan makanan untuk disulap menjadi makanan yang enak dan lezat kesukaan semua orang yang ada di rumah.
Sayang sekali, sejak pendidikan, terhitung baru tiga kali saya mencicipi masakan terlezat buatan beliau. Apalagi setelah pindah ke sini, makin sulit mencecap masakan beliau. Tidak hanya saya sebenarnya, ayah saya pun merasakan hal yang sama.
Ayah saya juga berprofesi sebagai polisi aktif dan ditugaskan di NTB. Oleh karena itulah, Aira sempat merasa ragu untuk bertanya kenapa orang tua saya tinggal terpisah. Bukan karena ibu tidak ingin menemani ayah bertugas, hanya saja nenek lebih membutuhkan beliau. Walaupun begitu, ayah tak sedikit pun mempermasalahkan hal itu.
Dering ponsel terdengar, dan segera saya aktifkan mode diam. Itu panggilan dari Aira, sengaja saya tidak mengangkatnya. Ada hal lain yang ingin saya lakukan untuk mengejutkannya hari ini.
Beberapa kali dia menelepon, tetapi saya hanya memandangi wajahnya yang muncul di layar ponsel selama beberapa detik itu, kemudian kembali berganti warna hitam.
Aira Anjani:
Apa kamu marah? Kamu udah baca pesanku tapi nggak bales.
Saya membaca pesan tersebut dari pop up. Entah kenapa rasanya begitu senang saat Aira mulai bertindak menggemaskan seperti ini.
Aira Anjani:
Rangga, bener nih, nggak mau bales pesanku?
Ya Tuhan, kenapa dia bertanya seperti ini? Rasanya ada konsekuensi di balik pesannya. Mau tidak mau, saya meneleponnya setelah menjauh dari beberapa teman.
[Rangga, please maafin aku. Aku beneran capek. Bukan niat untuk cuekin atau nggak ngabarin ....]
“Iya, Ra, saya tahu. Maaf ya. Tadi ibu saya telepon, tapi nggak saya angkat karena lagi solat. Makanya selesai solat, saya telepon beliau.”
[Jadi, kamu nggak marah]
“Nggak, kok. Oh ya, hari ini mau saya antar ke kantor? Atau makan siang?”
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top