Bab 1 - Selingkuh

Beberapa kali aku melihat arloji yang melingkar cantik di pergelangan tangan. Rupanya sudah tiga puluh menit aku duduk di salah satu bangku Aluama Cafè. Waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar saat menunggu seseorang.

Wangi kopi mengambang di udara. Cukup menenangkan walau lidahku tak begitu menyukai rasanya. Namun, hal itu tak cukup untuk menambah tingkat kesabaranku dalam menunggu Adit, kekasih yang mengajakku bertemu hari ini.

Sesekali jari ini mengetuk meja, menciptakan irama mengikuti alunan musik yang diputar untuk menghibur pengunjung kafe. Aku menarik napas dan mengembuskannya dengan kasar, saat melihat ke arah pengunjung yang baru masuk ke kafe ini. Bukan dia yang kuharapkan. Ya Tuhan, ke mana dia?

Tak terasa Aren Latte yang kupesan sudah tinggal separuh gelas. Entah aku yang terlalu cepat datang, atau memang orang itu yang tak pernah bisa menghargaiku, apalagi waktuku, tapi ini rasanya sangat menjengkelkan. Waktuku terbuang sia-sia hanya untuk menunggu seseorang yang aku sendiri tidak yakin apakah dia akan datang atau tidak. Sepuluh menit lagi. Ya, hanya sepuluh menit lagi batas toleransiku padanya, setelah itu aku akan pergi.

Sesak. Kecewa pada diri sendiri, kenapa aku tidak pernah bisa tegas padanya? Rasanya ingin menangis saat aku berusaha sekeras mungkin untuk menghargai waktu orang lain, tetapi dia tidak bisa melakukan hal yang sama terhadapku.

Aku mengaduk minuman, lalu menyeruputnya dengan cepat sampai habis dan segera pergi dari tempat ini. Percuma saja, dia tidak akan datang dengan berbagai macam alasan. Kadang aku sendiri bingung padanya, dia sendiri sulit membagi waktu, tetapi memaksa untuk bertemu dan sialnya aku justru menuruti.

Setelah memastikan tak ada satu pun barang yang tertinggal, aku langsung keluar dan pulang ke apartemen dengan menggunakan taksi online yang tentu saja sudah aku pesan sebelumnya. Namun, di tengah perjalanan aku melihat Adit sedang bergandengan mesra dengan wanita lain keluar dari salah satu butik ternama di Surabaya, Secret Boutique.

Aku meminta sopir taksi untuk menepi tak jauh dari sana, agar bisa memastikan penglihatanku tidaklah salah. Kupastikan nomor polisi mobil, jenis dan warnanya, itu memang benar milik Adit. Tapi, siapa wanita itu? Lima tahun aku menjalin hubungan dengannya, dan aku sudah mengetahui semua anggota keluarganya, bahkan om, tante, dan sepupu, aku mengenal mereka semua.

Perasaanku sangat kacau, tapi enggan untuk turun dan melabrak mereka. Aku bukan wanita yang dengan mudah meluapkan emosi di depan umum.

Gemuruh terasa menyesakkan dada, bahkan tangan ini gemetar hebat saat meraih ponsel yang ada di dalam tas. Kucari kontak bernama Adit dan meneleponnya. Cukup lama dia mengangkat teleponku, hingga akhirnya memang tak ada jawaban.

Mobil SUV bermerek Honda H-RV warna putih mulai meninggalkan parkir butik secara perlahan. Aku pun meminta sopir taksiku untuk mengikutinya, jangan sampai kehilangan jejak. Sambil lalu aku tetap berusaha menghubungi Adit.

Mobil Adit terus melaju hingga akhirnya memasuki sebuah komplek perumahan elit di Surabaya, Greenlake Citraland. Mereka berhenti di depan sebuah rumah mewah, dan wanita asing itu turun dari mobilnya lalu melambaikan tangan pada Adit sebelum mobil di hadapanku kembali melaju keluar dari komplek tersebut.

Seketika mobil itu menepi, dan ponselku berdering. Panggilan dari Adit. Rasanya amarahku sudah menumpuk di ubun-ubun. Kecewa sekali padanya. Aku begitu memercayainya, tetapi dia mengkhianatiku. Ya, sekarang aku yakin dia berkhianat. Kalau tidak, mana mungkin dia tidak mengangkat teleponku saat bersama dengan wanita lain dan meneleponku setelah berpisah?

Setelah merasa yakin bisa mengendalikan emosi, aku pun menerima panggilan tersebut. Sekuat tenaga juga aku menahan agar suara ini tidak bergetar. Sekarang bukan saatnya untuk marah, karena pasti dia akan mengelak.

[Halo, Sayang, maaf ya aku telat banget hari ini. Lagi padat di kantor.]

Shit! Dia berbohong. "Iya nggak pa-pa. Aku udah pulang. Kita ketemu lain waktu lagi. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan, Dit."

[Kamu udah pulang? Aku samperin ke apartemen, ya?]

"Jangan, deh. Aku ada di rumah tante. Kebetulan tadi beliau telepon aku. Ya udah, aku langsung ke sini."

[Tante Sekar? Wah, aku udah lama banget nggak ketemu beliau. Aku samperin ke sana deh. Kangen dibawelin tante kamu itu.]

"Jangan."

[Kenapa?]

"Aku ...," otakku terus berpikir, mencari alasan yang tepat agar aku tidak bertemu dengannya hari ini, "maksudku, Tante Sekar bentar lagi mau ke Malang. Ini cuma nemenin packing aja sih."

[Oh gitu? Ya udah kalau gitu. Titip salam sama beliau, ya. Aku lanjut kerja lagi kalau gitu. Nanti pulang kerja, aku mampir ke apartemen.]

Adit lantas mematikan telepon sebelum aku menyetujui ucapannya. Nada bicaranya terdengar sedikit kecewa. Namun, apa boleh buat? Lebih kecewa aku, bukan?

"Pak, ke pantai Kenjeran, tapi kita keliling dulu ke Jembatan Surabaya, apa bisa?" tanyaku pada sopir taksi.

"Bisa, Mbak," jawabnya yang kemudian kembali melajukan mobil le tujuan yang kuminta.

Melewati komplek pantai Kenjeran, lalu masuk ke area jembatan Surabaya yang menghubungkan kawasan pesisir Kenjeran. Di tengah-tengah jembatan, ada seorang penjual es krim yang sedang duduk di trotoar jembatan, seperti menunggu pembeli dari kalangan pengunjung yang lewat.

"Pak, berhenti sebentar, ya. Saya mau beli es krim dulu." Sang sopir menepikan mobil sesuai keinginan. Ya, sejak tadi melihat pengkhianatan Adit, aku mengubah rute perjalanan di aplikasi. Dan, kata orang cokelat mampu memperbaiki mood yang rusak.

"Pak, beli es krimnya satu. Yang rasa cokelat," pintaku. Pria tua penjual es krim dengan antusias mengambil pesananku dari dalam kotak yang dibawanya. Dia lalu menyerahkan sebungkus es krim cokelat kacang dan aku langsung membayarnya.

Aku berjalan menuju pagar pembatas jembatan, mencoba menenangkan hati dan pikiran dengan menikmati sejuknya angin laut yang berembus agak kencang diiringi debur ombak yang selalu kembali ke bibir pantai.

Tubuh ini makin deket dan rapat ke pembatas jembatan. Dengan mata terpejam aku mulai berjinjit, perlahan tanganku terangkat hendak membentang. Namun, sebuah tarikan keras membuat tubuhku terhempas ke belakang menimpa tubuh seseorang.

"Au ... sakit," lirihku kemudian berusaha bangkit sambil menepuk-nepuk telapak tangan menyingkirkan debu dan kerikil kecil yang menempel. "Loh, es krimku ...." Alih-alih menegur orang tersebut, aku justru menoleh ke sembarang arah, mencari es krim yang rencananya kunikmati setelah ini.

"Mbak, tolong ya, jangan bunuh diri di sini. Kasihani para polisi dan tim SAR yang harus mencari jasad Anda di bawah laut itu nantinya. Lagi pula, di sini dangkal, Anda nggak akan mati. Mungkin mentok patah kaki atau tangan, atau bisa juga gegar otak," cicit pria yang membuatku melongo karena omong kosongnya.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top