4. Shock.
Keringat mengucur deras di pelipis Adam. Napasnya tercekat kala koneksinya dengan Desire terputus tiba-tiba. Lebih tepatnya, Adam tidak mengira bahwa dia mengabaikan peringatan sistem sebelumnya. Adam terlalu fokus pada misinya hingga lupa akan waktu.
Misi yang dia kerjakan sebelumnya cukup menyita perhatian lebih. Adam paham akan hal itu. Pikirannya masih terganggu dan berat akibat terlempar dari koneksi. Apakah hal yang sama akan terjadi saat dia terbunuh dalam gim?
'Aku tak harus memikirkan ini lebih jauh.'
Adam mematikan kapsul yang dia pakai. Masih tersisa dua jam dari total waktu yang dia bayar di awal pada operator. Karena kapsul ini tidak ada gim yang terpasang selain Desire, Adam memutuskan untuk pergi. Setelah berhasil menenangkan diri. Adam meregangkan badan sebelum pergi tinggalkan tempat tersebut.
"Terima kasih telah berkunjung," ucap perempuan yang tengah menjaga server.
Adam mengangguk pelan. Baru kali ini dalam hidupnya dia mendapatkan ucapan terima kasih. Mendengar hal tersebut tentu saja membangkitkan sisi kekanakannya. Apalagi yang barusan dia temui adalah perempuan.
Selama masa remajanya hingga kini di usia 22 tahun. Adam belum pernah merasakan yang namanya cinta layaknya remaja lain. Hari-hari yang dia lalui begitu berat. Pandangannya berkutat pada beton, semen, tumpukan material, dan ocehan mandor. Belum lagi pekerjaan keduanya di restoran. Hampir tiap hari yang dia lihat hanyalah piring, piring, dan piring.
Adam menengadahkan kepala begitu sampai di tepian dermaga. Dengan sejumlah kecil uang hasil ganti rugi polisi yang menangkapnya. Adam berpikir keras. Apa yang harus dia lakukan begitu sampai di Pulau HopeCode?
Memang benar pulau tersebut adalah pulau impian bagi para pemain Desire dari seluruh dunia. Namun bagi orang-orang seperti Adam. Mereka yang memiliki tingkat keberuntungan tak lebih dari biji kuaci. Bertahan hidup di pulau tersebut sama dengan keluar dari hutan hanya untuk jatuh ke jurang. Barang-barangnya yang tercuri pun tidak ada kabarnya.
Semakin dalam dia berpikir. Semakin berat beban di kepalanya. Adam terkadang ingin menuntut, tetapi pada siapa?
Saat Adam masih berkutat dalam buaian. Klakson kapal feri berbunyi cukup nyaring. Melihat kapal feri merapat. Sekumpulan turis mulai memadati pinggiran dermaga. Berdesak-desakan saling berebut kursi kapal feri. Jika tidak, mereka akan tertinggal dan harus menunggu esok hari. Sebab ini adalah jam penyeberangan terakhir.
"Ehem, jika kau tidak ingin menaiki kapal itu sebaiknya kau minggir dari antrian."
Suara pria berumur mengagetkan Adam yang berdiri mematung. Sadar akan posisinya. Adam menepi dan ikut dalam barisan terakhir.
Jika dilihat dari sisi yang lain. Para turis ini seakan sangat bersemangat kala menuju Pulau HopeCode. Banyak dari mereka yang mengabadikan berbagai momen. Entah itu hal-hal receh maupun momen penting seperti menikah di atas menara yang katanya melebihi menara Eiffel.
Kesamaan di antara ribuan turis tersebut adalah sebuah jam tangan. Ya, jam yang mereka pakai merupakan produk terdahulu dari R.K Group. Adam juga memiliki jam tersebut jauh sebelum dia meninggalkan tanah airnya di Asia Tenggara.
Tren jam tangan Key Linguo seakan tidak pernah mati. Selalu ada inovasi serta model baru yang lebih fashionable. Sehingga tiap pemakainya tidak akan merasa ketinggalan zaman. Hal itu menunjukkan betapa kuatnya R.K Group dalam pengembangan masyarakat modern.
'Ini dia!'
Adam berjalan menuju dek kapal. Dia lebih suka duduk di luar daripada harus berdesakan dalam kabin. Baginya udara yang berhembus telah menjadi candu. Candu yang melebihi efek dari morfin atau nikotin dalam taraf tinggi.
Kapal feri segera berangkat menuju HopeCode. Jika dilihat dari desain kapal tersebut. R.K Group seakan tidak main-main dalam menyambut datangnya para turis. Fasilitas kapal feri tersebut layaknya kapal pesiar dalam versi mini!
"Selamat datang di pelayaran menuju HopeCode. Ada baiknya kalian melakukan registrasi Key Linguo pada mesin tiket otomatis yang tersedia. Setelah Key Linguo kalian teregistrasi, kalian bisa menikmati fasilitas dalam kapal maupun saat berada di pulau nanti secara bebas. Kalian tidak memerlukan visa dan paspor. Cukup tunjukkan Key Linguo kalian saja. Menarik bukan? Terima kasih telah memilih perjalanan bersama kami. Dan selamat bersenang-senang."
***
Kesibukan dari tim pengembang nampak jelas di ruangan itu. Sekitar tiga puluh orang tengah bekerja keras dalam menyatukan Space Deleter dengan Desire. Katsuki Minare sebagai ketua tim pengembangan mengurut dahinya. Dia tidak menyangka akan ada lima pemain yang harus menerima penalti akibat mengabaikan peringatan sistem. Lima memanglah bukan angka yang besar jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan pemain Desire. Namun bagi Minare, angka kecil itu cukup membuatnya pusing tujuh keliling.
Tahapan dalam penyatuan Desire dan Space Deleter ada tiga macam yang menjadi catatan. Pertama, pengubahan struktur peta. Kedua, pengubahan budaya dari Desire dan Space Deleter. Ketiga dan yang terpenting adalah pengubahan jalan cerita secara besar-besaran. Andai ada satu variabel yang luput dari pengamatannya, maka bisa dipastikan kalau nantinya dapat menyebabkan bug. Itulah kenapa Minare dan tim pengembangan bekerja sangat ekstra agar tidak ada yang terlewatkan.
Sylphia selaku mesin dengan kecerdasan buatan ikut membantu jalannya perancangan. Kinerjanya cukup mumpuni meski terkadang membuat jengkel Minare. Bagaimana tidak, kalau pekerjaan yang setara dengan ratusan otak manusia mampu Sylphia kerjakan sendiri.
Struktur peta dari Desire sedikit demi sedikit mengalami perubahan di mana-mana. Yang mengalami perubahan signifikan ada di tiga titik. Bagian selatan dari benua selatan, ujung dunia di benua utara, dan munculnya pulau kecil di tengah-tengah Laut Atoranta. Semua titik tersebut mengarah pada terpicunya event menuju luar angkasa. Mungkin jika diperjelas lagi, ketiga titik tersebut adalah pintu menuju dunia di atas galaksi.
Minare menenggak kopi kalengan dengan sedikit gemetar. Dia mengangkat gagang telepon dan menekan nomor menuju ruang direktur. Bunyi sambungan segera berakhir tatkala sang penerima mengangkat teleponnya.
"Jonathan. Sepertinya ada sesuatu yang gawat," ungkap Minare sedikit ragu.
"Apa ini berhubungan dengan quest AD600VR?"
"Ya, benar. Ini tentang quest itu. Pengguna baru dengan nomor 673124bk mengaktifkan quest tersebut tanpa sengaja. Menurut perhitungan yang Sylphia lakukan, seharusnya misi tersebut bisa dicapai dalam waktu dua tahun setelah peluncuran. Namun pemain ini membuka event besar menuju pertempuran tiga ras besar." Minare menjelaskan kala tangannya berusaha memilah informasi pada layar di hadapannya.
"Bukankah itu bagus? Semua akan menjadi menarik."
"Tetapi waktunya kenapa harus sekarang? Itu yang jadi pertanyaanku. Aarrghh!"
"Tenang, Minare. Aku yakin ini adalah perkembangan yang bagus. Cukup melelahkan bagiku melihat para pemain top dengan perkembangan stagnan mereka. Aku menantikan hal bagus ini."
Tut.... Tut.... Tut....
Sambungan telepon tersebut ditutup oleh Jonathan. Minare mendesah panjang. Daftar kerja Minare semakin bertumpuk karena ulah pemain baru tersebut. Setidaknya sekitar empat sampai lima event di seluruh benua akan terpicu. Yang paling buruk adalah kekacauan Dunia Chromez atas pertumpahan darah para penguasa memperebutkan delapan artefak magis.
Jika mengikuti hasil kalkulasi Sylphia tentang terpicunya event artefak magis. Para pemain setidaknya membutuhkan waktu dua tahun sejak perilisan agar dapat memulai dan menjalankan misi yang berhubungan. Tidak pernah terpikirkan di benak Minare, bahwa variabel kecil dapat mengubah alur dari kalkulasi Sylphia. Mencoba tidak mempercayainya, Minare putuskan untuk mengamati perkembangan lima pemain aneh itu.
Tersisa dua puluh jam lagi hingga Desire berhasil menyatukan server Space Deleter. Para pengembang segera beristirahat sejenak agar tidak kehilangan momentum nantinya.
***
Terdapat sebuah rumah sakit di salah satu distrik terkenal di Kota Seoul yang mendukung Desire sepenuhnya. Mayoritas pekerja di rumah sakit tersebut tidak pernah melarang pasiennya dalam memainkan Desire. Menurut mereka, Desire merupakan sarana yang tepat untuk pemulihan pasien dengan gangguan psikologis. Mereka tidak lagi khawatir jika sang pasien akan memporak-porandakan ruangannya. Para penyandang disabilitas pun merasa senang kala mendapatkan kembali impian mereka.
Yoona Park, salah satu pasien rumah sakit tersebut keluar dari kapsul miliknya dengan wajah kisut. Tangannya gemetar hebat kala harus menerima penalti akibat mengabaikan pesan sistem. Keringat dingin mengucur deras. Matanya yang sendu nampak ketakutan.
Melihat hal tersebut melalui cctv, Leona Lu, dokter psikolog yang menangani Yoona bergegas menghampiri gadis tersebut. Leona Lu sedikit berlari kala gadis itu semakin meronta-ronta.
"Ada apa ini?" tanya Dr. Leona begitu sampai di ruangan Yoona.
"Sepertinya pasien Yoona baru saja mengalami hal buruk dari dalam gimnya," balas salah seorang perawat yang berjaga.
Dr. Leona Lu mengambil alih tugas sang perawat. Perempuan itu mendekati Yoona yang menatapnya awas. Dengan tenang dia tersenyum sembari memeluk Yoona. Tangan lentiknya mengusap belakang kepala Yoona dengan lembut.
"Tenang, Yoona. Aku ada di sini. Kamu bisa menceritakan apapun padaku. Memang apa yang terjadi di dalam sana?"
Dr. Leona tahu jikalau pertanyaannya jelas tidak akan mendapat jawaban. Sejak kematian kedua orangtuanya ketika Yoona kecil. Gadis itu menutup diri dari dunia luar hingga melupakan caranya berbicara. Kosa kata sederhana saja dia tidak mampu tuk berucap apalagi kalimat-kalimat kompleks. Pihak keluarganya pun enggan untuk merawat Yoona. Membuat gadis itu semakin terpuruk.
Dr. Leona Lu yang saat itu baru saja menyelesaikan pendidikannya menemukan Yoona terlantar sendirian. Dr. Leona lantas membawa Yoona dan merawatnya di rumah sakit tempat dia bekerja. Membutuhkan waktu sepuluh tahun baginya untuk mempelajari perkembangan psikologis Yoona yang tidak berkembang. Lalu muncullah perwakilan dari R.K Group yang menawarkan kapsul beserta CubeCore untuk memainkan Desire. Keputusan tersebut disambut hangat oleh pihak rumah sakit. Begitu pula Dr. Leona yang mendapatkan titik terang atas kasus Yoona.
Sejak perilisan Desire setahun lalu. Dr. Leona memutuskan agar Yoona mencoba gim tersebut. Meski sedikit ragu, Yoona pun membalas dengan anggukan. Dengan mengaktifkan sistem perekaman otomatis. Dr. Leona memeriksa perkembangan Yoona secara berkala melalui video petualangan gadis itu dalam Desire.
Di dalam Desire, Yoona tumbuh menjadi gadis dengan ras half-elf. Namun sangat disayangkan, ruang lingkup sosialnya hanyalah NPC. Tidak ada satu pun pemain dalam daftar teman miliknya. Hingga di levelnya yang sekarang, level 150. Yoona tidak sedikitpun menunjukkan interaksi dengan pemain lainnya. Dia terus menghindar ketika bertemu dengan seorang pemain. Dia juga tidak segan-segan untuk membunuh pemain yang mengganggunya beristirahat dalam dungeon.
Akibat reputasi buruk Yoona. Dia mendapatkan julukan 'Silence Reaper' dari sejumlah pemain papan atas. Mendengar namanya saja membuat mereka bergidik. Tidak ada yang mau mengusik gadis itu lebih jauh. Mereka lebih memilih untuk bunuh diri di sekumpulan monster daripada dibunuh oleh Yoona.
Melihat hal tersebut melalui komputer miliknya. Dr. Leona hanya menepuk keningnya dengan keras. Dia berharap Yoona menjadi lebih baik, namun efek psikologis yang dia terima jauh lebih dalam. Dr. Leona tidak menyerah akan Desire. Dia yakin dengan bantuan Desire setidaknya Yoona bisa menjadi terbuka pada orang lain.
"Yoona, apa yang kamu rasakan dari kematian barusan?"
Dr. Leona bertanya setelah melihat hasil rekaman dari kapsul Yoona. Karakter gadis itu terbunuh dan dia dikeluarkan dari koneksi gim secara paksa oleh sistem saat menjalankan quest berantai miliknya. Dr. Leona mengusap kembali belakang kepala gadis itu.
"Dengar, kematian memang satu hal yang menakutkan. Aku paham akan hal itu. Tetapi kamu jangan terlalu terpaku di sana, Yoona. Kamu harus bisa bangkit dan punya banyak teman."
Yoona menangis sesenggukan dipelukan Leona. Meski tanpa suara, dia berteriak dalam-dalam. Kenangan masa kecilnya tergambar jelas. Mata Yoona yang takut akan sosok-sosok tersebut, membuat dirinya mencengkeram lebih kuat lengan Dr. Leona.
Yoona, aku tahu kamu merindukanku. Hihihihi.
Jarum suntik berisi cairan penenang menusuk kulit putih Yoona. Tidak butuh waktu lama, reaksi obat tersebut segera menenangkan Yoona. Gadis itu terlelap dalam keadaan menangis.
Dr. Leona merebahkan tubuh gadis tersebut. Dengam lembut bibirnya mengecup dahi Yoona.
"Maafkan aku karena memakai obat tidur untukmu. Kudengar hari ini Desire sedang menyatukan server, ya? Baguslah, kamu bisa berhenti main hari ini. Semoga besok kamu bisa bertemu seorang pemain bukan lagi NPC," bisik Dr. Leona di telinga Yoona.
***
A/N :
Jangan lupa beri vote dan masukkan ke perpustakaan kalian ya~
Nantikan kelanjutan ceritanya.
Semoga harimu menyenangkan.
Ciao~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top