UTANG?
Arlen sangat menikmati pelajaran di sekolah khusus jauh melebihi sekolah formal. Jika pelajaran sekolah formal ia pelajari karena suatu keharusan, pelajaran di sekolah khusus ia pelajari karena ia menikmatinya.
Selain karena pelajaran di sekolah khusus merupakan pelajaran menakjubkan yang seringkali diluar nalar, Arlen menyukainya karena ia bisa menemukan cara baru. Ia bisa membuat suatu kombinasi yang sempurna dalam suatu proses pengeksekusian. Kombinasi yang memuaskan bagi siapa pun yang melihatnya.
Begitulah cara Arlen menggunakan kekuasaan dan keuntungan yang ia miliki saat ini. Sekolah formal adalah tempat untuk mengolah pikiran agar bisa membuat suatu rencana yang matang, sedangkan sekolah khusus adalah tempat pengembangan diri untuk pengeksekusian yang sempurna.
Jika dilihat dari sifat Arlen dalam kehidupan sehari-harinya, tidak akan ada anak yang menuduh Arlen melakukan hal-hal keji seperti membunuh. Kepribadiannya yang tenang dan terlihat seperti hanya mengikuti alur membuatnya terlihat seperti anak penurut yang hanya fokus pada pengembangan diri, tapi tidak ada yang tahu isi hati manusia sebenarnya kan?
***
Di suatu hari yang tenang, seminggu setelah kematian Grey.
Jam pulang sekolah sudah berbunyi dan Arlen sedang dalam perjalanannya menuju ruangan perkumpulan khusus. Penampakan yang lazim ia lihat sehari-hari terlihat di sepanjang lorong sekolah yang ia lalui. Tidak ada perubahan yang signifikan walaupun sudah ada 4 anak yang terbunuh dalam beberapa bulan terakhir.
Tidak ada satu pun anak yang terlihat terganggu, resah, takut ataupun sedih setelah hilangnya nyawa empat orang anak itu. Arlen tidak terlalu kaget dengan respon anak-anak sekolahnya. Saking banyaknya beban tiap anak konglomerat yang ada di sekolahnya, tidak ada waktu bagi mereka untuk bergosip hal yang tidak berguna atau berlarut dalam kesedihan dan merusak suasana di sekolah.
Merusak suasana sama saja dengan menurunkan performa mereka dalam melakukan sesuatu. Karena suasana suatu tempat sangat berpengaruh dengan keadaan dalam pengerjaan suatu projek atau kegiatan.
Memang benar, pertemanan yang dilandasi karena keinginan untuk menguntungkan diri sendiri tidak memiliki perasaan sama sekali di dalamnya. Selama menguntungkan, mereka akan tetap berhubungan. Jika tidak ada hal khusus, hubungan itu perlahan akan menghilang dengan sendirinya. Tidak ada satu pun yang akan mulai berbicara atau sekadar menyapa satu sama lain.
Setelah melewati beberapa lorong dan sampai di depan ruangan perkumpulan khusus, Arlen langsung masuk tanpa ragu. Ia langsung disambut oleh anggota perkumpulan lainnya yang sudah datang lebih dulu dari Arlen dan seperti biasanya, mereka tersebar di seluruh bagian ruangan.
"Bagaimana persetujuan kerjasamanya? Sudah dikomunikasikan kan?" tanya Arlen langsung ke intinya sambil berjalan mendekati sofa.
"Aman, tinggal tunggu tanggal mainnya," jawab Clarissa, putri tunggal dari pemilik perusahaan mebel terbesar di kerajaan. Ia masuk di perkumpulan khusus ini karena kekuatan relasinya. Di antara semua anak yang ada di ruangan ini, relasi Clarissa termasuk yang paling besar.
Kedudukan Clarissa adalah yang paling menguntungkan dibandingkan yang lainnya karena keluarganya menyediakan mebel untuk keluarga konglomerat lainnya selama bertahun-tahun. Ada banyak kerjasama yang dijalin keluarga Clarissa dengan keluarga konglomerat lainnya.
Bahkan Clarissa merupakan salah satu anak yang diketahui hampir semua anak di sekolah karena kerjasama sehat yang dilakukan orang tuanya. Kerjasama keluarga Clarissa belum pernah mengalami kegagalan, semuanya selalu berimbas baik bagi kedua pihak, sehingga banyak yang terus melanjutkan kerjasamanya.
"Baguslah kalau begitu, apakah ada pembicaraan terkait rencana setelahnya?" tanya Arlen lagi. Ia sudah duduk di sofa dan melihat lurus ke arah pintu.
"Ada, mereka meminta untuk percepatan pelaksanaannya agar lebih mudah untuk menyelesaikannya. Bagaimana?" Clarissa meminta pendapat Arlen.
"Kapan?" Arlen bertanya balik sebelum menjawab pertanyaan Clarissa. Anggota perkumpulan lainnya yang ada di dalam ruangan hanya diam dan mendengarkan percakapan mereka sambil menghentikan kegiatan yang sedang mereka lakukan sebelumnya.
"Dua hari setelahnya."
"Kenapa?" tanya Arlen lagi tanpa memberi jeda setelah Clarissa menjawab.
"Seharusnya mereka belum mempersiapkan diri karena sebelumnya selalu ada jeda panjang," jelas Clarissa sambil menunjuk kalender besar yang ada di salah satu dinding ruang perkumpulan khusus. Kalender tersebut digunakan untuk menandai apa saja kegiatan yang telah mereka lakukan terkait kesepakatan yang pernah dibuat.
"Oke, boleh," jawab Arlen setelah berpikir selama beberapa saat.
Setelah menjawab pertanyaan Clarissa, Arlen melihat sekeliling dan menunggu sebentar. Tidak ada yang menyanggah perkataan Arlen, yang artinya mereka semua setuju dengan keputusan Arlen.
"Oke, sepertinya hari ini sudah cukup? Ada lagi?" Arlen menunggu selama beberapa saat setelah ia bertanya.
Tak ada yang menjawab, sehingga Arlen menyimpulkan bahwa tak ada yang perlu dibahas lagi untuk pertemuan kali ini. Ia beranjak dari sofa dan berjalan keluar ruangan. Seperti biasa, keheningan menyelimuti ruangan itu.
***
Arlen sudah kembali ke kamarnya. Ia duduk santai sambil melihat langit malam. Tidak ada yang Arlen lakukan hingga beberapa jam kedepan, tidak ada yang ia rencanakan dan tidak ada yang perlu dia lakukan.
Di keheningan malam itu, tiba-tiba dering telepon memenuhi kamar Arlen. Ia menengok ke arah telepon yang ada di atas nakas. Alih-alih langsung bergerak menjawab telepon itu, Arlen justru terdiam selama beberapa saat lalu menghembuskan napasnya dengan kasar.
Drrrttt! Drrrtttt!
Telepon itu terus berdering, seakan-akan tidak akan berhenti hingga ada yang mengangkatnya. Hal itu berlangsung selama dua menit, lalu keadaan tiba-tiba menjadi senyap. Tak berapa lama kemudian, telepon kembali berdering.
Kali ini Arlen berjalan perlahan menuju nakas dan mengangkat telepon itu.
"Halo tuan muda Arlen." Suara dari dalam telepon itu langsung terdengar dengan jelas di seluruh penjuru kamar Arlen, suara khas seorang pria tua yang menjengkelkan. Arlen duduk perlahan di dekat nakas sambil menyenderkan badannya di samping tempat tidur.
"Halo juga tuan Xaver, ada apa menghubungiku malam-malam?" tanya Arlen perlahan. Ia tahu bahwa kapan pun ia berbicara dengan pria tua itu, nada bicaranya harus selalu terkontrol. Seberapa pun menjengkelkannya nada pria tua itu, Arlen harus tetap mengontrol emosinya agar apa yang dilakukannya selama ini tidak sia-sia.
"Tidak apa-apa, tidak ada masalah besar. Kamu masih ingat utangmu kan?" tanya Xaver dengan suara tertawa yang khas.
Arlen menarik napasnya dalam-dalam sebelum menjawab, "Tentu."
Setelah itu pembicaraan mereka hanya berisi basa-basi yang basi. Jika Arlen tidak memiliki keterkaitan dengan Xaver, mungkin dari awal ia akan memilih untuk tidak mengangkat telepon itu. Sayangnya Arlen sudah terlanjur bekerja sama dengannya, dan ia hafal watak pria itu. Jika Arlen tidak mengangkat telepon itu, Xaver akan terus menelpon dan menganggu Arlen, bahkan bisa saja tiba-tiba mengirimkan benda-benda aneh ke rumah Arlen agar Arlen menghiraukannya.
Setelah satu setengah jam berbincang-bincang, akhirnya Xaver menutup teleponnya. Arlen menghela napas dengan kasar, ia merasa seperti anak kecil yang diceramahi selama satu setengah jam. Padahal apa yang dikatakan Xaver adalah hal dasar yang sudah pasti diketahui semua orang, dan Arlen wajib merespons setiap ucapan Xaver.
Sebenarnya Arlen bisa saja tahan dengan omelan-omelan itu, tapi ia tida suka Xaver mengatakan kesepakatan kerja sama antar mereka sebagai 'utang'. Bukankah ada perumpamaan lain yang lebih baik? Seperti tugas atau sejenisnya. Arlen kesal karena Xaver pernah menyebut 'utang' di depan pelayannya.
Konglomerat mana yang tidak malu jika penyebutan utang dikatakan tepat didepan pelayan mereka sendiri. Sifat pria tua dengan nada bicaranya itu memang sangat menjengkelkan.
Arlen langsung memilih untuk tidur karena energinya sudah terserap habis untuk merespons pria tidak jelas.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top